Senin, 22 Oktober 2018

Wawancara Lengkap Billy, Jawa Pos dengan AbahIhsan untuk Edisi Minggu, 20 Nov 2016

**

*1. Bapak saat ini menjadi salah satu tokoh parenting pria terkemuka di Indonesia. Apakah masa kecil bapak juga berperan atas pengetahuan bapak saat ini? Boleh diceritakan bagaimana bapak tumbuh hingga saat ini.*

Ya tentu saja masa pengasuhan berperang besar untuk setiap orang. Saya ditumbuhkan di desa dengan masa kecil yang secara umum penuh petualangan dan menyenangkan.

Lingkungan yang mendukung yang saya rasakan positif dan akhirnya berdampak positif untuk kehidupan saya puluhan tahun kemudian:

1. Kebebasan bermain di alam
2. Latihan kemandirian dan tanggung jawab
3. Penanaman agama dari orangtua yang sangat intens (santri)
4. Kekerabatan keluarga besar yang sangat erat
5. Figur ayah yang begitu kuat

Lingkungan desa dan pola asuh keluarga saya membantu saya untuk menjadi anak yang mandiri, memiliki daya survival positif dan tanggung jawab.

Kegiatan yang begitu berkesan di masa kecil adalah bermain bebas di alam pedesaan, dipercaya menggembala kambing dengan sistem paroan (bagi hasil) dengan orangtua dan belajar berjualan sudah dilakukan sejak kecil.

Tingkat kehangatan keluarga besar juga sangat mempengaruhi. saya anak ketiga dari 5 bersaudara. Karena lingkungan di desa beberapa rumah berdekatan semuanya keluarga besar, dengan kekerabatan yang sangat erat, menyebabkan hubungan antarkeluarga begitu dekat.

Tidak berarti bebas konflik sama sekali, tidak, tetapi kehangatan, keakraban dan kekompakkan keluarga besar yang dominan, menyebabkan peran keluarga begitu menyenangkan. Itu yang berakibat saya dan hampir semua anggota keluarga besar itu termasuk orang yang dalam istilah sunda disebut dengan "apet ka budak" atau "mudah nempel dengan anak" atau menyukai anak-anak.

Peran Bapak (panggilan ayah saya)  yang hadir dalam kehidupan saya juga membuat saya menjadi pribadi yang harus bertanggung jawab dengan keluarga apapun kesulitan hidup sebagaimana Bapak saya sudah memerikan kesan mendalam dalam kehidupan saya. Saya merasa banyak kenangan indah hidup dengan Bapak.

*2. Sejak kapan bapak punya tekad untuk mempelajari ilmu parenting dan apa saja yang akhirnya bapak lakukan terus meperdalam ilmu?*

Sebenarnya saya tidak bermaksud dan berniat sama sekali untuk menjadi pembicara parenting, narasumber parenting dll. Berawal tahun 2004-2005 saya punya projek "sok idealis" membuat majalah parenting sebagai bentuk project untuk semacam saluran "zakat" atau dana sosial dari penghasilan saya dari usaha yang saya lakukan.

Kenapa majalah parenting? karena waktu itu menurut pribadi saya belum banyak majalah parenting "orisinal" Indonesia apalagi dengan referensi islamic value. Ada banyak majalah parenting tapi sebenarnya sebagian besar  itu "lisensi" dari luar negeri, bukan orisinal Indonesia. Anda dapat memeriksanya di bagian halaman susunan redaksi biasanya di bagian bawah susunan redaksi dicantumkan lisensinya. Ada AyahB*** dari Jerman, ada ParentsG** dari Singapura dll.

Saya namakan majalah saya itu AULADI dengan harga murah meriah, 1500 rupiah, karena disubsidi. Alhamdulillah laris manis, sering ludes. Auladi itu sendiri artinya "anak-anakku" dari bahasa Arab. Sebagai pendiri dan redaktur majalah saya sering diundang kesana kemari ngomongin soal pendidikan anak.

Nah tapi setelah beberapa bulan dijalani saya merasa "kok begini-begini saja" banyak pembicara parenting banyak kajian parenting itu bagus. Tapi saya merasa kok gak lengkap. 3-4 jam belajar parenting setelah itu orangtua yang belajar dari kajian parenting memiliki perasaan bersalah, tapi sampai rumah bingung aplikasi bagaimana karena hanya disalah-salahkan. Sejak tahun 2006 itu lah survei, observasi, riset kecil-kecil, membuat banyak modul agar orangtua percaya diri jadi orangtua sehingga mereka dapat lebih banyak mempengaruhi hidup anaknya sebelum anaknya dipengaruhi orang lain.

Jadilah akhirnya saya membuat kajian-kajian parenting lengkap dengan kurikulum yang saya buat sendiri. Ada yang 3 jam. Ada yang 10 jam ada yang 20 jam. Ada yang runut berhari-hari. Meski untuk ukuran Indonesia parenting coaching ini belum banyak berkembang, baru yang "pendek" karena umumnya orangtua di Indonesia soal parenting ini sering lebih banyak ingin instan cepat terlihat hasilnya dibandingkan harus belajar secara bertahap.

Ini butuh perjuangan. Kita tahu sebagian besar karakter itu dibentuk dikeluarga. Bahkan saya berani katakan "bagaimana anak menjadi jahat atau baik setelah di dewasa itu ditentukan bagaimana mereka dibesarkan di masa kecil". Sedangkan umumnya orang menikah di Indonesia tidak disiapkan jadi orangtua. Jadilah mereka membesarkan anak seadanya.

Saya, sebulan paling banter dapat mengajarkan orangtua keliling Indoensia tiap akhir pekan, 1000 orang. Setaun paling 10 ribu orang. Masih banyak orangtua yang belum mendapatkan rejeki ilmu agar mereka memiliki skill jadi orangtua betulan, bukan orangtua kebetulan.

Belajar tidak boleh berhenti. Perintah Tuhan pertama di agama saya "iqro" adalah soal belajar. Untuk membesarkan ayam, bebek, agar menjadi berkualitas saja butuh ilmunya. Apalagi membesarkan anak.

Saya pun manusia biasa, yang imannya dapat turun dan naik. Dengan belajar terus menjaga dan menambah ilmu, itu salah satu ikhtiar yang dapat menjagi "iman" mendidik 6 anak saya sendiri (sementara) dan berbagi dengan orang lain. Maka bagi saya belajar itu wajib. Saya tetap ikuti kajian-kajian agama sepekan sekali. Saya harus punya guru meski mungkin bukan guru parenting. Para ulama saja punya guru, apatah lagi saya.

Sedangkan soal ilmu parenting, tak berhenti baca buku dan terus-terusan banyak melakukan observasi riset akan menambah kekayaan ilmu parenting saya. 

*3. Kabarnya bapak sudah menerapkan ilmu 1821 sejak kelahiran anak pertama. Apakah hal tersebut bisa bapak jalankan tanpa hambatan? Apakah saat itu bapak juga sudah punya waktu kerja fleksibel?*

Siapa yang kabari? Kabar burung mungkin, hehe

Mungkin secara tidak langsung iya. Tapi saya merasa bahwa waktu saya benar-benar berkualitas dengan keluarga ketika justru saya punya anak kedua. Anak pertama kan masih merintis perusahaan  (konsultan komunikasi) jadi lagi sibuk-sibuknya.

*4. Saat awal-awal memulai karir, apakah bapak sering menemui cibiran soal status bapak sebagai laki-laki yang dinilai tidak peka terhadap anak?*

Mungkin bukan cibiran ya, tapi ketikdafahaman yang lengkap soal pengasuhan anak membuat mereka menganggap saya tidak peka terhadap anak.

Contoh yang sudah belajar ilmu pengasuhan pasti faham bahwa TEGA-S itu pasti wajib, tapi bukan kasar. Lembut itu wajib, tapi bukan lembek. Seumur-umur saya tak pernah menentuh tubuh anak saya untuk saya sakiti, tapi ketika saya tega-s wajar lah anak saya bakal menangis ketika keinginannya tidak selalu dipenuhi karena saya pikir sudah berlebihan. Nah ketika saya tega-s itu lah sebagian keluarga besar saya yang tidak faham menganggap "saya kejam".

Tapi seiring dengan berjalannya waktu dan anak saya sudah besar-besar lama kelamaan mereka faham sekarang justru terlihat hasilnya. Anak-anak yang mandiri, peduli, bertanggung jawab. Dakwah pada keluarga sendiri kan sebetulnya lebih sulit daripada pada orang lain. Kenapa? Karena mereka tahu kita dari nol. Tapi dengan izin Allah,  Justru akhirnya sekarang secara perlahan mereka menjadikan saya referensi jika terjadi sesuatu dengan anak-anaknya.

*5. Menurut bapak, apa ayah juga punya peran yang sama persis dengan ibu? karena masyarakat awam masih berpendapat bahwa peran ayah pasti berbeda dengan ibu tapi saling melengkapi?*

Ini pertanyaan masih terlalu ambigu ya.  Bagaimana pun masing-masing ayah dan ibu punya peran. Apakah perannya berbeda? Ya tentu saja.

Saling melengkapi dalam hal tertentu adalah benar misalnya sehebat apapun ayah, mereka tidak punya ASI, maka mereka tak bisa menggantikan Ibu. Demikian juga serempong apapun ibu, sehebat apapun ibu, mereka tak bisa menggantikan ayah. Anak-anak butuh sosok ayah.

Tapi jika yang dimaksud saling melengkapi adalah bahwa ayah hanya mencari nafkah dan hanya ibu yang mendidik anak, dan sehingga akhirnya mendidik anak hanya diserahkan pada ibu, itu tidak benar. Saya tidak setuju.

Bagi laki-laki mencari nafkah adalah salah satu kewajiban, bukan satu-satunya kewajiban. Dalam Islam, ketika Anda sholat, bukan berarti gugur kewajiban Shaum Ramadhan. Ketika sudah melakukan kewajiban shaum ramadhan bukan berarti gugur kewajiban untuk mencari nafkah. Ketika sudah mencari nafkah bukan berarti gugur kewajiban mendidik anak.

Tidak ada satu pun argumen ilmiah apalagi argumen (dalil) agama bahwa urusan pendidikan adalah urusan perempuan. Urusan mendidik anak adalah urusan laki-laki dan perempuan (ayah ibu).

Ada orang yang mengatakan bagaimana dengan dalil "Ibu adalah madrasah pertama". Saya jawab, bahasa arabnya "al umm madrasatul ula" itu bukan perkataan Nabi, bukan hadits, Itu hanya pepatah arab, yang ngomong namanya "sayyid ibrahim" penyair arab. Jadi tidak bisa dijadikan dalil bahwa urusan anak adalah urusan ibu doang. Kalau pun iya ibu adalah madrasah, bapak tetaplah kepala sekolahnya.

*6.Bagi orang tua yang sering lembur atau yang akhirnya pulang malam, apa saran yang bisa bapak berikan?*

Semua orang punya batas. Tidak ada orang yang mampu kerja terus-terusan. Tidak ada orang yang juga bisa libur terus-terusan.

Sesekali lembur itu boleh saja. Tapi jika terlalu sering lembur, maka saran saya harus dibenarkan visi kehidupannya. Kecuali tidak punya tujuan jelas hidup.

Jika ada hak keluarga diabaikan sekarang maka mereka akan menyusahkan hidup kita di belakang. Jika kita tidak mau bayar di depan, mungkin Allah suatu saat akan memaksa kita bayar di belakang.

Tubuh kita punya hak, kerjaan kita punya hak, Tuhan punya hak, keluarga kita punya hak. Jika ada salah satu yang tidak dipenuhi, ketidakseimbangan yang mungkin membuat kita jatuh berpeluang menimpa kita.

@abahihsanofficial

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bukan Untuk Bermain, Aku Diciptakan

Jelas sekali, ada hasil yang luar biasa dari ketidakbermainan Yahya di usia kecilnya untuk mendapatkan sejak awal: pemahaman, ilmu, kesunggu...