Senin, 22 Oktober 2018

Wawancara Lengkap Billy, Jawa Pos dengan AbahIhsan untuk Edisi Minggu, 20 Nov 2016

**

*1. Bapak saat ini menjadi salah satu tokoh parenting pria terkemuka di Indonesia. Apakah masa kecil bapak juga berperan atas pengetahuan bapak saat ini? Boleh diceritakan bagaimana bapak tumbuh hingga saat ini.*

Ya tentu saja masa pengasuhan berperang besar untuk setiap orang. Saya ditumbuhkan di desa dengan masa kecil yang secara umum penuh petualangan dan menyenangkan.

Lingkungan yang mendukung yang saya rasakan positif dan akhirnya berdampak positif untuk kehidupan saya puluhan tahun kemudian:

1. Kebebasan bermain di alam
2. Latihan kemandirian dan tanggung jawab
3. Penanaman agama dari orangtua yang sangat intens (santri)
4. Kekerabatan keluarga besar yang sangat erat
5. Figur ayah yang begitu kuat

Lingkungan desa dan pola asuh keluarga saya membantu saya untuk menjadi anak yang mandiri, memiliki daya survival positif dan tanggung jawab.

Kegiatan yang begitu berkesan di masa kecil adalah bermain bebas di alam pedesaan, dipercaya menggembala kambing dengan sistem paroan (bagi hasil) dengan orangtua dan belajar berjualan sudah dilakukan sejak kecil.

Tingkat kehangatan keluarga besar juga sangat mempengaruhi. saya anak ketiga dari 5 bersaudara. Karena lingkungan di desa beberapa rumah berdekatan semuanya keluarga besar, dengan kekerabatan yang sangat erat, menyebabkan hubungan antarkeluarga begitu dekat.

Tidak berarti bebas konflik sama sekali, tidak, tetapi kehangatan, keakraban dan kekompakkan keluarga besar yang dominan, menyebabkan peran keluarga begitu menyenangkan. Itu yang berakibat saya dan hampir semua anggota keluarga besar itu termasuk orang yang dalam istilah sunda disebut dengan "apet ka budak" atau "mudah nempel dengan anak" atau menyukai anak-anak.

Peran Bapak (panggilan ayah saya)  yang hadir dalam kehidupan saya juga membuat saya menjadi pribadi yang harus bertanggung jawab dengan keluarga apapun kesulitan hidup sebagaimana Bapak saya sudah memerikan kesan mendalam dalam kehidupan saya. Saya merasa banyak kenangan indah hidup dengan Bapak.

*2. Sejak kapan bapak punya tekad untuk mempelajari ilmu parenting dan apa saja yang akhirnya bapak lakukan terus meperdalam ilmu?*

Sebenarnya saya tidak bermaksud dan berniat sama sekali untuk menjadi pembicara parenting, narasumber parenting dll. Berawal tahun 2004-2005 saya punya projek "sok idealis" membuat majalah parenting sebagai bentuk project untuk semacam saluran "zakat" atau dana sosial dari penghasilan saya dari usaha yang saya lakukan.

Kenapa majalah parenting? karena waktu itu menurut pribadi saya belum banyak majalah parenting "orisinal" Indonesia apalagi dengan referensi islamic value. Ada banyak majalah parenting tapi sebenarnya sebagian besar  itu "lisensi" dari luar negeri, bukan orisinal Indonesia. Anda dapat memeriksanya di bagian halaman susunan redaksi biasanya di bagian bawah susunan redaksi dicantumkan lisensinya. Ada AyahB*** dari Jerman, ada ParentsG** dari Singapura dll.

Saya namakan majalah saya itu AULADI dengan harga murah meriah, 1500 rupiah, karena disubsidi. Alhamdulillah laris manis, sering ludes. Auladi itu sendiri artinya "anak-anakku" dari bahasa Arab. Sebagai pendiri dan redaktur majalah saya sering diundang kesana kemari ngomongin soal pendidikan anak.

Nah tapi setelah beberapa bulan dijalani saya merasa "kok begini-begini saja" banyak pembicara parenting banyak kajian parenting itu bagus. Tapi saya merasa kok gak lengkap. 3-4 jam belajar parenting setelah itu orangtua yang belajar dari kajian parenting memiliki perasaan bersalah, tapi sampai rumah bingung aplikasi bagaimana karena hanya disalah-salahkan. Sejak tahun 2006 itu lah survei, observasi, riset kecil-kecil, membuat banyak modul agar orangtua percaya diri jadi orangtua sehingga mereka dapat lebih banyak mempengaruhi hidup anaknya sebelum anaknya dipengaruhi orang lain.

Jadilah akhirnya saya membuat kajian-kajian parenting lengkap dengan kurikulum yang saya buat sendiri. Ada yang 3 jam. Ada yang 10 jam ada yang 20 jam. Ada yang runut berhari-hari. Meski untuk ukuran Indonesia parenting coaching ini belum banyak berkembang, baru yang "pendek" karena umumnya orangtua di Indonesia soal parenting ini sering lebih banyak ingin instan cepat terlihat hasilnya dibandingkan harus belajar secara bertahap.

Ini butuh perjuangan. Kita tahu sebagian besar karakter itu dibentuk dikeluarga. Bahkan saya berani katakan "bagaimana anak menjadi jahat atau baik setelah di dewasa itu ditentukan bagaimana mereka dibesarkan di masa kecil". Sedangkan umumnya orang menikah di Indonesia tidak disiapkan jadi orangtua. Jadilah mereka membesarkan anak seadanya.

Saya, sebulan paling banter dapat mengajarkan orangtua keliling Indoensia tiap akhir pekan, 1000 orang. Setaun paling 10 ribu orang. Masih banyak orangtua yang belum mendapatkan rejeki ilmu agar mereka memiliki skill jadi orangtua betulan, bukan orangtua kebetulan.

Belajar tidak boleh berhenti. Perintah Tuhan pertama di agama saya "iqro" adalah soal belajar. Untuk membesarkan ayam, bebek, agar menjadi berkualitas saja butuh ilmunya. Apalagi membesarkan anak.

Saya pun manusia biasa, yang imannya dapat turun dan naik. Dengan belajar terus menjaga dan menambah ilmu, itu salah satu ikhtiar yang dapat menjagi "iman" mendidik 6 anak saya sendiri (sementara) dan berbagi dengan orang lain. Maka bagi saya belajar itu wajib. Saya tetap ikuti kajian-kajian agama sepekan sekali. Saya harus punya guru meski mungkin bukan guru parenting. Para ulama saja punya guru, apatah lagi saya.

Sedangkan soal ilmu parenting, tak berhenti baca buku dan terus-terusan banyak melakukan observasi riset akan menambah kekayaan ilmu parenting saya. 

*3. Kabarnya bapak sudah menerapkan ilmu 1821 sejak kelahiran anak pertama. Apakah hal tersebut bisa bapak jalankan tanpa hambatan? Apakah saat itu bapak juga sudah punya waktu kerja fleksibel?*

Siapa yang kabari? Kabar burung mungkin, hehe

Mungkin secara tidak langsung iya. Tapi saya merasa bahwa waktu saya benar-benar berkualitas dengan keluarga ketika justru saya punya anak kedua. Anak pertama kan masih merintis perusahaan  (konsultan komunikasi) jadi lagi sibuk-sibuknya.

*4. Saat awal-awal memulai karir, apakah bapak sering menemui cibiran soal status bapak sebagai laki-laki yang dinilai tidak peka terhadap anak?*

Mungkin bukan cibiran ya, tapi ketikdafahaman yang lengkap soal pengasuhan anak membuat mereka menganggap saya tidak peka terhadap anak.

Contoh yang sudah belajar ilmu pengasuhan pasti faham bahwa TEGA-S itu pasti wajib, tapi bukan kasar. Lembut itu wajib, tapi bukan lembek. Seumur-umur saya tak pernah menentuh tubuh anak saya untuk saya sakiti, tapi ketika saya tega-s wajar lah anak saya bakal menangis ketika keinginannya tidak selalu dipenuhi karena saya pikir sudah berlebihan. Nah ketika saya tega-s itu lah sebagian keluarga besar saya yang tidak faham menganggap "saya kejam".

Tapi seiring dengan berjalannya waktu dan anak saya sudah besar-besar lama kelamaan mereka faham sekarang justru terlihat hasilnya. Anak-anak yang mandiri, peduli, bertanggung jawab. Dakwah pada keluarga sendiri kan sebetulnya lebih sulit daripada pada orang lain. Kenapa? Karena mereka tahu kita dari nol. Tapi dengan izin Allah,  Justru akhirnya sekarang secara perlahan mereka menjadikan saya referensi jika terjadi sesuatu dengan anak-anaknya.

*5. Menurut bapak, apa ayah juga punya peran yang sama persis dengan ibu? karena masyarakat awam masih berpendapat bahwa peran ayah pasti berbeda dengan ibu tapi saling melengkapi?*

Ini pertanyaan masih terlalu ambigu ya.  Bagaimana pun masing-masing ayah dan ibu punya peran. Apakah perannya berbeda? Ya tentu saja.

Saling melengkapi dalam hal tertentu adalah benar misalnya sehebat apapun ayah, mereka tidak punya ASI, maka mereka tak bisa menggantikan Ibu. Demikian juga serempong apapun ibu, sehebat apapun ibu, mereka tak bisa menggantikan ayah. Anak-anak butuh sosok ayah.

Tapi jika yang dimaksud saling melengkapi adalah bahwa ayah hanya mencari nafkah dan hanya ibu yang mendidik anak, dan sehingga akhirnya mendidik anak hanya diserahkan pada ibu, itu tidak benar. Saya tidak setuju.

Bagi laki-laki mencari nafkah adalah salah satu kewajiban, bukan satu-satunya kewajiban. Dalam Islam, ketika Anda sholat, bukan berarti gugur kewajiban Shaum Ramadhan. Ketika sudah melakukan kewajiban shaum ramadhan bukan berarti gugur kewajiban untuk mencari nafkah. Ketika sudah mencari nafkah bukan berarti gugur kewajiban mendidik anak.

Tidak ada satu pun argumen ilmiah apalagi argumen (dalil) agama bahwa urusan pendidikan adalah urusan perempuan. Urusan mendidik anak adalah urusan laki-laki dan perempuan (ayah ibu).

Ada orang yang mengatakan bagaimana dengan dalil "Ibu adalah madrasah pertama". Saya jawab, bahasa arabnya "al umm madrasatul ula" itu bukan perkataan Nabi, bukan hadits, Itu hanya pepatah arab, yang ngomong namanya "sayyid ibrahim" penyair arab. Jadi tidak bisa dijadikan dalil bahwa urusan anak adalah urusan ibu doang. Kalau pun iya ibu adalah madrasah, bapak tetaplah kepala sekolahnya.

*6.Bagi orang tua yang sering lembur atau yang akhirnya pulang malam, apa saran yang bisa bapak berikan?*

Semua orang punya batas. Tidak ada orang yang mampu kerja terus-terusan. Tidak ada orang yang juga bisa libur terus-terusan.

Sesekali lembur itu boleh saja. Tapi jika terlalu sering lembur, maka saran saya harus dibenarkan visi kehidupannya. Kecuali tidak punya tujuan jelas hidup.

Jika ada hak keluarga diabaikan sekarang maka mereka akan menyusahkan hidup kita di belakang. Jika kita tidak mau bayar di depan, mungkin Allah suatu saat akan memaksa kita bayar di belakang.

Tubuh kita punya hak, kerjaan kita punya hak, Tuhan punya hak, keluarga kita punya hak. Jika ada salah satu yang tidak dipenuhi, ketidakseimbangan yang mungkin membuat kita jatuh berpeluang menimpa kita.

@abahihsanofficial

*Kiat Praktis Melatih Anak Lelaki Menjadi Qowwam Yang Dicintai Allah*



Oleh : Iin Savitry, *Bunda Bidadari*

Serial Kulwa Pengasuhan Anak Muslim

Materi 2 : *Tahapan Perkembangan Anak Berdasarkan Fitrah - Mempersiapkan Tumbuh Kembang  Anak Bintang*

Secara umum, ada dua hal yang perlu kita pahami sebagai orangtua SEBELUM kita berusaha menyusun kurikulum belajar keqowwaman bagi anak,khususnya anak lelaki.

Kita sangat paham bahwa pelatihan ibadah shalat menjadi tolak ukur pelatihan keqowwaman seorang anak lelaki kelak.

Menumbuhkan rasa cinta shalat kepada anak 'hanyalah'  satu target pembelajaran kepada anak yang harus kita tanamkan ke anak. Namun kurikulum ini sangat krusial, karena menentukan proses belajar anak selanjutnya, sebagai QOWWAM.

Apa dua hal itu?
Sebagai orangtua beriman tugas utama kita 'hanya' dua:

*1. Menumbuhkan FITRAH (QS Ar Rum 30:30)* 

Fitrah adalah software yang Allah beri di setiap jiwa. Dibawa sejak lahir. Ibarat benih, fitrah ini membawa DNA kebaikan sebagai pembawa peran khalifatullaah fil 'ardh.

Sifat dasar fitrah adalah _lembut, halus, feminin_ . Jadi harus *ditumbuhkan dengan kelembutan* . Karena fitrah identik dengan cinta. Harus ditumbuhkan dan dipelihara dengan baik.

Prinsipnya *inside out* .
Artinya: benih kebaikan yang sudah ada di jiwa anak harus kita coba tumbuhkan dengan optimal. Karena bicara tentang _hari lahir(modal dasar dari Allah)_  tentu harus dilakukan dengan cara yang *menumbuhkan RASA SYUKUR* . Dengan kelembutan.

*2. Menanamkan ADAB ( QS At Tahrim 66:6)*

Sifat dasar adab adalah _tega_ .  Sangat maskulin. Karena dalam penanaman adab, kita sedang _mempersiapkan hari akhir/kematian_  .
Targetnya adalah untuk *menyempurnakan akhlak* .  Hingga kualitas amal sangat menentukan tingkat kualitas adab seseorang.

Prinsipnya adalah *outside in*. Jadi kita harus melatih adab ini secara bertahap kepada anak. Dan ada tolak ukur keberhasilannya.

SHALAT adalah bentuk ADAB KEPADA ALLAH. Bentuk ketundukan kita kepada Allah, DIPERCAYA sebagai khalifah di bumi ini.

Jika kita rujuk hadits nabi saw, 'Innamal a'malu binniyat...', kita bisa paham bahwa *niat (buah dari iman)*  lah yang harus kita tumbuhkan ke anak dahulu. BARU  kita ajak anak untuk beramal soleh.

*Niat* didapatkan dari *penumbuhan fitrah yang benar* .
*Amal solih* didapatkan dari *penanaman adab yang tepat dan sesuai tahapan yang Rasul saw contohkan* .

Nah, jadi, sebagai orangtua beriman yang cerdas, kita harus
~ paham APA ITU FITRAH dan ADAB. 
Kita juga harus
~ paham KAPAN dan BAGAIMANA kita bisa menumbuhkan dan menanamkan kedua hal itu kepada anak.

Dari sekian banyak fitrah yang harus kita tumbuhkan, berikut garis besar FITRAH yang wajib kita pahami:

*1. Fitrah KEIMANAN*
Dibangkitkan dengan *keteladanan/kesolihan*.

*2. Fitrah BELAJAR*
Dibangkitkan dengan *Inspirasi* . Setiap anak memiliki model inspirasi yang berbeda-beda. Ada yang dengan dikisahkan, ada yang dengan diajak ke masjid, ada yang dengan dituntun oleh ayah, ada yang dengan diajak melakukan sesuatu. Kita orangtua harus berusaha _menemukan model inspirasi_  masing-masing anak.

*3. Fitrah PERKEMBANGAN*
Kita harus paham tujuan penciptaan masing-masing jenis kelamin dan paham *tahapan perkembangan anak*  yang sesuai dengan anjuran Rasulullaah saw.

*4. Fitrah BAKAT*
Ini adalah salah satu cara untuk menemukan peran khusus  (identitas dan potensi kesuksesan) masing-masing anak di dunia. Merupakan petunjuk untuk menemukan MISI HIDUP seseorang.  Namun fitrah bakat ini hanya bisa optimal dimanfaatkan jika minimal ketiga fitrah utama di atas sudah bertumbuh dengan baik dan benar.  Jika tidak, maka akan menjadi bumerang dan tidak bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia.

Nanti, akan berkembang berbagai fitrah lain. Diantaranya fitrah peradaban. Di sinilah akan muncul tanggung jawab orangtua untuk menanamkan fitrah adab. Dengan cara * dicontohkan* dan *dikisahkan*. ( Perhatikan juga  cara fitrah keimanan dan belajar ditumbuhkan).

Lalu, bagaimana cara kita menumbuhkan berbagai fitrah dan menanamkan adab itu?

Ilmu Tahapan Perkembangan Anak wajjb kita pahami dengan baik. Agar skala prioritas mengasuhnya jelas. Prinsip *First Things First* berlaku di setiap fase pengasuhan anak.

*Tahapan Perkembangan Anak Muslim*

0-2  thn.  Fase menyusui (anak-ibu)
2-7  thn.  Ayah-Ibu seimbang
7-10 thn  Satu gender (ibu-anak perempuan, ayah-anak lelaki)
10-14 thn. Beda gender (ibu-anak lelaki, ayah-anak perempuan)

Lalu, bagaimana *Proporsi Fitrah vs Adab?*

Ini porsi idealnya:

* a. 0-7 thn.Full Fitrah-90% fitrah, 10% adab*       
Ini fase penanaman KASIH SAYANG. Orangtua optimal memberikan *teladan/inspirasi* melalui kisah contoh ajakan  dll. Fase ini _BUKAN fase memberikan perintah_ .
Di fase ini *syariat agama tak usah dipaksakan/dihukum jika tak mengerjakan*
Kegiatan belajar anak  optimalkan  dari ALAM (eksplorasi lingkungan sekitar) dan contoh terbaik dari orangtua (lingkungan terdekat) .

*b. 7-10 thn. Fitrah 60%< adab 40%.*
Ini *fase parent's guidance*. Anak mulai dikenalkan berbagai aktivitas baik dan dibangun kesadarannya. Anak DIAJAK melakukan  berbagai aktivitas yang kita/guru contohkan. Adab mulai diajarkan perlahan, masih dengan kasih sayang dan mulai diperkenalkan konsekuensi. Tak boleh ada hukuman.

Anak DILATIH dengan agar TERBIASA melakukan berbagai pelaksanaan syariat agama.
Anak mulai diajarkan dan dipahamkan  fiqih dasar beragama.
Orangtua rutin MENJAGA proses belajar anak dengan pendekatan kasih sayang.

*c. 10-14 thn. Fitrah 30%, adab 70%*
Ini fase TEGA dan TEGAS.
Orangtua sudah memberlakukan konsekuensi optimal (yang tidak melemahkan fitrah belajar, iman, perkembangan,dll anak) dan memberlakukan target pembelajaran yang bisa diukur.
Anak diajak menyusun dan mengerjakan target pembelajaran sendiri. Juga mendiskusikan konsekuensi jika tak mencapai target pembelajaran.
*Fase Self Guide*  pun dilatih di usia ini.
Inilah fase paling krusial dari tahapan perkembangan anak.
Jika anak berhasil berlatih kemandirian dan membangun kesadaran beribadah di usia ini, insyaAllah ia akan mudah menuju fase dewasa muda dengan modal kesadaran penuh dan rela mendirikan ibadah shalat wajib dan sunnah.

*d. 14 thn > . Adab 90% , fitrah 10%*
Di fase manusia dewasa ini, ADAB sudah berkembang menjadi SELF VALUE.

Jika kita simak semua penjelasan di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa tahapan pembelajaran syariat SHALAT pun harus mengikuti prosedur belajar anak di atas.

Jika kita memahami dengan baik tahapannya, maka kita akan mudah mengajak anak *menyukai semua latihan kepemimpinan di dalam rumah*  tanpa perlu teriakan apalagi pukulan. Karena kita selalu memulainya dengan CINTA. Dengan HARAPAN untuk bisa menjadi lebih baik, dan mampu melakukan kebaikan.

Karena secara fitrah semua orang diberi modal SENANG MENJADI PEMIMPIN, senang DIBERI KEPERCAYAAN untuk melakikan sesuatu dan SENANG DIHARGAI atas usahanya itu. Jika fitrahnya tumbuh dengan benar. Inilah tugas utama kita sebagai orangtua.

Allahu a'lam bishshawab.

Aslmkm. Ukh... Jikalau anak laki2 terlalu dekat dg ibu, apakah baik untk perkembanganya kdepan. Misalny dlm mengasah Qowwam..

๐Ÿ’๐Ÿ’

Lalu bolehkah share time scedjule untul dayli activity anak laki2 mulai umur 2.5 tahun..

๐Ÿ’ silakan baca dg tenang materi kedua yang saya share hari ini ya mba.

InsyaAllah pertanyaannya terjawab.

Ttg
skedul saya dg anak2, tentu berbeda jdwl dg yang lain. .Karena saya bisa  memilih menjadi IRT, saya jadi bisa fokus dg mendampingi anak2 belajar.

0-7 thn saya berusaha fokus melibatkan 100% diri saya. ( hati, jiwa, akal, raga) ketika berinteraksi dnegan anak.

Urusan rumah saya kerjakan di waktu sy tidur.
Saya tak mau menggantikan waktu saya bersama anak dengan pekerjaan yang menurut saya ga urgen.

Mengasuh anak bicarnya urgensi waktu.

Jadi, saya sengaja permudah segala urusan dapur, rumah, dll..saya minim perabotan rumah. Makan saya atur dominan protein (berkuah) agar anak ga dikit2 minta makan,. saya latih anak shaum agar kuat, tenang dan makin  cerdas, waktu belajar saya dominan di luar rumah..main bwrsama anak...Jika di rumah, ketika mengurus rumah, saya setting jadi progrma bajar mereka.
Seperti yang saya jelaskan di materi awal.

Sejak bayi anak2 saya biasakan mandikan subuh. Tidur stlh isya. Usia mulai 3 thn saya biasaman bangunkan sebelum subuh dna saya mandikan..


Smeua dg pendekatan kasih sayang.  Karena saya ga memburu2 waktu. Saya MENIKMATI SETIAP MOMEN SAYA BERSAMA ANAK. Saya sering ngobrol dg anak sejak m ereka masih bayi๐Ÿคญ. Saya berusaha sabar nendengar celoteh  dan segala tingkah mereka. Jadi  alhamdulillaah mereka sangat cerewet ke saya sampai sekarang And I love it๐Ÿ˜

Bagaimana cara mengatur waktu istrahat siang anak n tidur malam (brapa jam wktu tdur dlm sehari) brdasarkan usia anak..krna di lihat padat sekali jadwal anak di rmh n di luar rmah...sya msih mewajibkn ank tdur siang kurang lbih 1 jam di umur 5 th...n tdur mlm lbih awal supaya pagi bngun lbih awal..itu bagaimana ya bund?.

..
๐Ÿ’Itu udah bener mba.
Mgkin jadwal anak2 kami ketika usia 0-7  thn bisa jadi masukan:

04.30 Bangun dan mandi.Anak2 sudah wangi siap diajak shalat subuh (walau hanya tidur di sisi kita yg sedang shalat). Yang laki diajak ke masjid oleh ayah, walau cuma ditidurkan di sisi ayah
04.30-05.00 shalat sembari cerita/murojaah
05.00- 06.00 Mendengar ortu tilawah (biasanya sambil tiduran di paha atau smbil main boneka)  dilanjutkan dengan cerita ttg is Alquran.
06.00 ajak anak sarapan di teras rumah..sembari melihat orang2 sibuk berkativitas pagi. Ajak anak beberes bekas sarapan dan siap2 main
07.00-10.00 waktu main ke luar rumah. Bawa minuman byk, camilan sehat (sy biasa bawa sayuran dan  tlur rebus, keju), buku dan alquran

10.00 - 12.00 : mandi istirahat main di rumah, makan siang shalat

12.00-15.00 denger tilawah, cerita dan TIDUR
15.00- 15.30 mandi sore dan shalat, makan
15.30-17.00 main ke luar lagi. Eksplorasi alam
17.00-18.00 mandi sdh pakai baju tidur. makan malam, shalat
18.00- 19.00 tilawah murojaah,   cerita imani, siap2 isya
19.00-19.30 hafalan sambil bahas rasa syukur hari ini ( ini momen saya membahas semua kegiatan hari itu berterima kasih atas semua kebaikan yang nerrka lakukan hari itu, minta maaf jika saya melakukan kesalahan/marah dll, menjelaskan alasan saya marah, minta mereka mnyampaikan RASA ttg hari itu. mengajak mereka bersyukur ke Allah krn sdh dibsri kesmpatan bajar banyak
19.30-20.00 sya biasa ajak nereka murojaah smp tertidur.

Mulai 7 thn mulai latih mereka bangun lbh pagi buat tahajud. Tak tidur siang, tpi istirahat tenang di dlm rumah...ga aktivitas fisik tinggi

Allahu a'lam

mau sdkit brtnya, utk org tua yg bekerja(karir), pulang2 sdh sngat sore, Quality time brsama anak apakah hrus stiap hari?(kalo iya d waktu kpn) ?



๐Ÿ’
Quality Time menurut Alquran dan assunnah

1. Waktu tahajud
2. Setelah Subuh
3. Jelang Magrib
4. Antara Magrib-Isya
5. Jelang tidur


Dari semua itu, yang paling istimewa adalah waktu *setelah subuh*

Keberkahan waktu seharian ditentukan dari waktu subuhnya
Ortu yang visioner akan serius melatih anak agar terbiasa *segar* ketika subuh.

Menjadi nilai lebih jika anam sejak usia 7-10 thn mulai dibiasakan dg bangun malam sekali2... Ini syarat jadi pemimpin yang kuat jiwanya kelak..orang yang biasa istighfar dan munajat ke Allah di akhir malam.

Buat ortu bekerja, bisa buat :
1. Daily Love call. Tentukan waktu istirahat mba untuk video call atsu kirim voice note berisi pesan cinta/nyanyian khusus/ rekaman membacakab buku ke anak.

Beri tantangan2 agar anak2 mau terus menantikan masa video call itu

Bahkan saya smp skearnag msh memaksakan diri untuk melakukan itu krn anak2 terbiasa ddkat dg saya secars fisik..jadi mereka sllu ingin tahu saya sdg apa di jalan kalai hrs keluar rumah. Saya bisa mudah menyuruh mereka tilawah karena mereka MELIHAT saya juga sedang tilawah di perjalanan melalui video itu....
We walk the talk.

2. Buat special time tiap akhir pekan..
.Khusus ortu baca quran di depam anak dan bahas sedikit satu-dua ayat.

Terus makan bareng di teras sambil saling membacakan cerita. Usahakan ortu yng masak sendiri..khususnya ayah

Ini kami lakukan hampir tiap pekan..sarapan atau nakan siang. Ayahnya yang masak nasi liwet, makan pake daun pisang. Sederhana, murah tapi nyantol di hati...Habis itu bacain buku siroh.
.Terus ajak anak beberes rumah sembari menjelaskan pesan2 qowwamah. ..

Sampai skrg kami masih terus coba lakukan itu lho.

Saya menyebutnya *Our Precious Time With Alquran*

Kan berkisah ttg nabi, ajarab Islam dll, itu bagian dr memahamkan isi Alquran๐Ÿ˜ญ

JANGAN-JANGAN KITA BELUM TERLUKA



Jujur, membaca tulisan singkat Ustadz Agung Waspodo di Majelis Iman Islam (Manis) dada saya seketika bergemuruh. Langsung tertampar. Berapa luka kita membela agama Allah?

Jangan-jangan kita belum terluka. Ya, iya, ngajar TPA ya deket rumah saja.  Nggak jauh dan harus mengeluarkan peluh. Ini pun masih galau kalau ngajar sendirian, mending nggak usah ngajar saja. Nggak bisa ngatasin anak-anak, begitu merasanya. Padahal Allah kan di samping kita.

Sedang dulu, Rasulullah berhijrah ke Madinah melalui beberapa hari, lelahnya luar biasa. Abu Bakar pun rela digigit ular di dalam gua.

Iya, nih. Jangan-jangan kita belum terluka. Kita masih repot dengan urusan rumah kita.

Sedang para sahabat ketika hijrah meninggalkan rumah dan hartanya. Meski rindu kampung halamannya, ditahan-tahan hingga Fathu Mekah terjadi di depan mata. Bahkan seperti Abu Salamah dia hijrah tidak bersama anak dan istrinya. Anaknya dimana, istrinya dimana.

Ah Ya Allah, jangan-jangan kita memang belum terluka. Sakit yang diderita rata-rata karena kelalaian semata. Lalai makan dengan benar, lalai kurang istirahat karena asyik begadang urusan dunia, lalai kurang memperhatikan hak badan. Bahkan karena sakit ini pun, kita ijin mundur dari medan juang. Memang sah diijinkan, namun kita pun mengulangi kesalahan yang sama.

Sedang Abdullah bin Mas'ud berniat akan tetap membacakan Al Quran di Ka'bah meski sebelumnya sudah disakiti hingga berdarah kala dia melakukan itu.

Padahal, Ja'far ibnu Abu Thalib ketika terbunuh dalam perang Mu'tah, tidak tersisa daging dalam tubuhnya. Semua penuh luka sabetan pedang dan tusukan tombak.

Jangan-jangan kita belum terluka. Di jalan Allah, di dakwah ini dengan kondisi minus kontribusi. Ya Allah, mohon ampuni. Moga kita bisa lebih baik lagi.

- henny -

#muhammasawteladanku
#kisahhijrah

Harapan setiap orangtua terhadap anaknya

Mau tidak mau, suka ataupun tidak.
Kita semua pasti akan kembali pada Allah, Rabb semesta alam.

Tak perduli siap atau tidak siapnya kita.
Allah telah tetapkan garis takdir tiap manusia.

Ya Allah...
Izinkan hamba mengisi sisa waktu yang Engkau beri untuk menanamkan nilai keimanan dan Islam yang baik kepada anak-anakku.

Ya Rabb...
Izinkan hamba mengajarkan aqidah yang lurus untuk mereka, buah hati yang Engkau anugerahkan dari rahimku.

Karena, tiada lain yang diharapkan seorang manusia, ketika sudah tidak lagi di dunia, selain doa anak yang sholeh/ sholehah.
๐Ÿ˜ข

Nak...
Allah tak meminta kami untuk mendidik kalian hebat dalam semua bidang.
Allah hanya menginginkan kami mendidik kalian agar menjadi anak yang sholeh, taat kepada Allah, dan berusaha agar kita semua selamat dari api neraka.

Nak...tiada kebahagiaan yang lebih indah, selain bahagianya kita ketika berkumpul kembali di surga, bersama keluarga kita. ๐Ÿ˜ข

Semoga Allah mudahkan keluarga kita meraih surga Firdaus kelak.

Ditulis oleh seorang ibu yang sedang belajar menjadi orang tua yang sholehah.

-Merna Noviarni-

#BukuPintarImanIslam

#SNC

*ANAK ANAK PEWARIS PERADABAN*



Anak anak kita sekarang ini,  adalah pewaris peradaban dimasa yang akan datang bukan?

Lalu apakah yang sudah kita persiapkan sebagai ibu dari pewaris peradaban tersebut,  sebelum datang masa itu?

Masihkah kita galau memikirkan jerawat yang tak kunjung hilang dengan mencari kosmetik paling cocok dan terbaik, tak peduli harganya berapa.

Sementara untuk sebuah buku yang sejatinya ilmu untuk membekali masa depan anak anak, selalu kau bilang mahal.

Masihkah kita galau untuk hangout nanti pake baju yang mana yaa? Kok bajuku cuma itu itu aja ya. Padahal baju sudah satu lemari penuh, tapi kita tak pernah berhenti lapar mata hanya untuk sekedar gaya.

Akan tetapi untuk sebuah buku, kita mencoba mencari yang semurah mungkin, itupun  kalau ada uang sisa belanja.

Kita sibuk mengkursuskan anak anak agar cepat bisa membaca, tapi abai untuk mengajarkan anak cinta membaca.

Lalu peradaban seperti apa yang ingin kita bangun untuk masa yang akan datang?

-umi-

Pesan untuk ayah ..

Narsum: Ust. Bendri

Untuk anak2 perempuan usia 5-10 tahun Harus dekat dengan ayahnya. "Pacari" anak2mu... Dalam arti.. beri perhatian ke mereka selayaknya teman dekat. Ajak nonton ke bioskop, ajak makan malam bersama, bercerita, keliling kota, atau sekedar ngobrol di taman kota.

Ikat hatinya sehingga muncul bonding antara ayahnya dengan mereka. Indikatornya adalah ketika seorang anak perempuan berkata kepada temannya atau orang lain,"kata papa aku..."; "Kata ayah aku...". Itu berarti seorang ayah mampu menanamkan nilai kepada anak perempuannya. Dan nilai itu ia ingat dan banggakan di depan orang lain.

InsyaaAllah, jika ia menjadi anak2 yang tumbuh dengan cinta & kasih sayang ayahnya, mereka ga akan jatuh dan tidak akan perlu "pelukan" laki2 lain sampai dengan waktu yang tepat bagi mereka untuk menikah.

Ditulis oleh : Eka Ekrimah


#parenting #belajar #parenthood #goodfather #bestfather #love #fatherdaugther #singledad #imspina #spina #spinmotion #spinmotionindonesia #spinafoundation

5 *Kiat Praktis Melatih Anak Lelaki Menjadi Qowwam Yang Dicintai Allah*



Oleh : Iin Savitry, *Bunda Bidadari*

Serial Kulwa Pengasuhan Anak Muslim


Sesi 5
*Tahapan Menumbuhkan RASA CINTA Shalat Kepada Anak ( Hubungan Antara Dialog Imani dan Skala Prioritas Dalam Mengasuh Fitrah Anak)*

*MENGAJARKAN ANAK SHOLAT DENGAN CINTA*


Semua latihan fiqih qowwamah sejatinya diajarkan oleh Allah melalui ritual ibadah shalat. Begitu penting ritual ibadah shalat bagi kaum beriman khususnya kaum lelaki diwajibkan shalat berjamaah di masjid. Sampai Rasul saw 'mengancam' membakar rumah muslim yang di dalamnya ada lelaki tapi tak shalat subuh di masjid.Sampai beliau dan para khulafaur rasyidin memilih pemimpin dengan melihat kehadiran shalat wajibnya juga tahajudnya.

Dan, nilai2 fiqih qowwamah itu sejatinya adalah pengejawantahan dari nilai-nilai shalat.
Di shalat, kita diajarkan untuk memerhatikan WAKTU. Jadi kita diarahkan untuk menjadi terampil dalam mengatur waktu. Inilah esensi dasar dari kehidupan seorang Mukmin....
Manajemen Waktu.
Semua upaya manajemen dan  pengembangan diri harus disesuaikan dengan batas waktu yang sudah Allah tentukan dalam jadwal shalat.

Jadi, bagi ortu, sangat penting menjaga dna menumbuhkan kesadaran anak untuk mendirikan shalat. Dalam keadaan rela atau terpaksa.

Sebagai hasil renungan saya ketika mencari cara untuk bisa mengajarkan shalat secara bertahap, santai dan cukup menyenangkan bagi anak, saya membuat tahapan latihan shalat seperti ini :

0-7 Tahun

 7      tahun ---- Shalat Subuh
8-9    tahun ---- + shalat magrib dan isya
9-10  tahun ---- + shalat zhuhur dan ashar
10      tahun ---- rutin shalat 5 waktu

Jika anak sudah cukup ajeg pembiasaan shalat 5 waktunya, ditambahkan latihan shalat sunnah utama.

Saya bagi 3 shalat sunnah yang perlu dilatih oleh anak berdasarkan tingkat manfaat:
1. *Shalat rawatib*--- fungsinya untuk menutupi kekurangan dalam pelaksanaan shalat wajib
2. *Shalat tahajud*--- fungsinya untuk menguatkan jiwa anak dan tahan banting dalam menjalani perannya sebagai khalifatullaah fil al 'ardh
3. *Shalat Dhuha* ---- fungsinya untuk memperkuat ghirah anak menjalani peran keqowwamannya di keluarga besar dan lingkungan.

Untuk tahapannya, karena jumlah shalat rawatib sunnah muakad cukup banyak dan akan sangat berat (secara fisik dan batin)  dilaksanakan oleh anak, maka saya buat target-target:

a. 10 tahun ---- rutinkan shalat sunnah qobla Subuh dan shalat tahajud minimal 2 rakaat dengan membaca surah hafalannya sendiri atau langsung memegang mushaf Alquran
b. 11- 12 tahun --- setiap 6 bulan tambahkan shalat sunnah ba'da  zhuhur/ba'da magrib/ba'da isya sesuai kesepakatan anak + tahajud diperpanjang bacaannya
c. 13-14 tahun --- ditambahkan shalat qobla zhuhur. Tahajud dirutinkan minimal 1 juz/malam.
d.14 tahun ---- dilatih shalat dhuha minimal 2 rakaat.

Diharapkan di usia 14 tahun ia sudah terbiasa merutinkan shalat sunnah rawatib dan tahajud. Saya menggunakan tokoh Muhammad Al Fatih sebagai contoh pemimpin yang tak pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib dan tahajud begitu dia aqil baligh. Berarti latihannya sudah dimulai sebelum dia baligh.

Shalat dhuha dibelakangkan karena berurusan dgn karakter amanah dan tabligh. Berhubungan dengan program pribadi anak untuk meningkatkan kemampuan memberi nafkah  dan berdakwah di luar keluarga inti.

Dengan memberikan DAN menjelaskan tahapan belajar shalat seperti di atas ke anak , saya berusaha mempersiapkan wawasan dan mental mereka dulu. Jadi mereka diajak untuk _*merencanakan proses belajar shalat*_ dengan bermodalkan pikiran kritis dan bertahap.

Saya menjelaskan *MENGAPA* dan *UNTUK APA* saya membuat tahapan belajar di atas dengan menggunakan berbagai buku utama seperti terjemah Alquran, asbabunnuzul ayat&surah, tafsir, buku SIROH NABI MUHAMMAD Saw, hadits2 terkait shalat, juga buku2 fiqih dan buku2  mukjizat sains alquran dan hadits.

Plus saya jelaskan tahapan cara kerja otak manusia, cara kerja organ tubuh manusia,  dan perkembangan anak.

Semua penjelasan itu sebenarnya adalah modal ilmu2 dasar (fiqih qowwamah, fiqih pengasuhan keluarga dll) yang dibutuhkan anak untuk bisa menjalani perannya dengan optimal kelak.

Beberapa manfaat dari pemberian tahapan belajar shalat seperti di atas:

1. Anak diajak berpikir kritis, harus ada dalil dan tahapan belajar yang jelas dan terukur  (secara wawasan, fisik dan mental)  sebelum melakukan suatu amal ibadah mahdhoh.
2.Anak diajak merencanakan dan mempersiapkan  program belajar shalatnya dengan santai
3. Anak merasa santai dan tidak diburu-buru karena ada cukup banyak waktu untuk berlatih pembiasaan shalat
4. Anak dilatih untuk bisa menilai sendiri batas kekuatan dirinya dalam berlatih, dan dilatih untuk memotivasi dirinya agar bisa 'lulus belajar shalat' tepat pada waktunya.
5. Anak dilatih untuk membuat sendiri target-target belajarnya asal tidak melanggar standar dasar yang telah ditetapkan.  Jadi anak bisa mengakselerasi sendiri tahapan belajar shalatnya.
6. Anak dilatih untuk memperhatikan syarat2 yang harus dipenuhi agar dia bisa menjalani tahapan belajar shalat dgn benar (ilmu nutrisi, olah tubuh,pengaturan waktu, pembiasaan tilawah alquran  dll)
7. Ortu juga jadi lebih tenang karena tak menggesa anak untuk langsung 'jago' dan
'hebat' dalam berlatih shalat.



Dengan membiasakan FISIK anak dengan latihan shalat, diiringi dengan kesabaran kita membacakan Alquran, mengisahkan isi Alquran, hadits,  dan sejarah hidup orang2 hebat, plus ketegasan menemani anak berlatih tangguh di rumah, insyaAllah otot kepemimpinan anak lelaki kita akan lebih mudah terbentuk.

Semua upaya pelatihan fisik dan mental di rumah ini, diharapkan akan membentuk 80% modal dasar karakter qowwamah kepada anak.

Jadi, ketika anak memulai waktunya belajar di luar rumah (merantau), insya Allah ia akan cukup kokoh menghadapi tantangan zaman di luar sana.

Bahkan, ia bisa menjadi motivator dan inspirator kebaikan di lingkungan ia berada.
Kehadirannya membawa manfaat nyata di lingkungan.

Inilah yang disebut pribadi yang *rahmatan lil 'alamin* .
Yaitu pribadi yang kehadirannya membuat siapa pun mengingat akan kebesaran Allah SWT.

Allahu a'lam bishshawab.

Tahapan Menumbuhkan Cinta Alquran Kepada Anak.


Bismillah
Sekarang saya mau berbagi kisah tentang apa yang sedang kami perjuangkan di keluarga mungil kami. Mohon maaf jika panjaaaang ceritanya (tipikal saya banget hehe). Semoga kisah sederhana ini bisa menginspirasi. Tak ada keajaiban serba instan dalam mendidik anak. Adanya kelelahan yang terencana. Selamat membaca, sahabat ๐Ÿ˜‰.

1. Sejak menikah dan mengandung anak pertama, saya meminta suami untuk tilawah dengan suara kencang di samping saya. Saat suami tahajud pun saya memintanya membacakan dengan suara kencang.

Jadi, putra kami, Silmi, sejak dia dalam kandungan, sudah terbiasa 'melihat dan merasakan' ayahnya tilawah dan shalat tahajud di sisinya.

Hal ini berlangsung terus HINGGA SEKARANG. Saya sering meminta suami tahajud di kamar anak2 dengan suara kencang.

Anak-anak juga jadi terbiasa MELIHAT
ayahbundanya TILAWAH ALQURAN DENGAN MEMEGANG MUSHAF di akhir hari sebelum tidur, dan di awal hari setelah shalat subuh. Ditambah saat waktu utama. Di saat tahajud.

Sekarang, saat Silmi berusia hampir 10 tahun dan 'Ulya 8,5 tahun, alhamdulillaah mereka sudah biasa bangun untuk mendirikan shalat tahajud setidaknya dua raka'at pendek. Walau belum rutin.  Kadang-kadang mereka mengikuti kebiasaan kami, tahajud sembari memegang mushaf Alquran. Kami berusaha membiasakan tilawah Alquran dengan tartil di saat utama itu.

Ini adalah saat Allah turun ke langit dunia untuk menjawab permohonan hambaNYA yang bangun untuk mendirikan shalat tahajud dan memohon padaNYA.
Ini lagi-lagi pembiasaan kebaikan.

2. Saya membiasakan  i'tikaf selama malam ganjil di bulan Ramadhan, dalam kondisi mengandung dan menyusui. Maksain diri ya? Iya. Agar anak-anak kami terbiasa mendengar lantunan ayat suci yang indah di saat paling utama, di akhir malam.

Kebiasaan ini meningkat menjadi 10 hari teakhir di bulan ramadhan, sejak anak2 berusia 7 tahun dan sudah berkali-kali khatam Alquran.

3.  Saya meminta suami membelikan Alquran khusus untuk Silmi, putra kami, sejak dia berusia 2 tahun. Alquran terjemah tajwid berwarna  10 juz ada 3 jilid. Kami langsung berikan Alquran itu kepadanya dan kepada 'Ulya adiknya.

Dengan Alquran itulah Silmi pertama kali MENGKHATAMKAN  Alquran di usia 6,5 tahun, dalam waktu 4 bulan.
Adiknya, 'Ulya juga pertama kali MENGKHATAMKAN Alquran di usia 5 tahun, dalam waktu 5,5 bulan.

Bahkan 'Ulya sudah mulai tilawah  Alquran SEBELUM dia bisa membaca huruf latin. Di usia 5 tahun 8  bulan baru dia bisa membaca satu kalimat latin dengan lancar.

Sekarang, mereka memiliki Alquran khusus untuk menghafal, dan Alquran terjemah  khusus untuk mengkaji Alquran sekeluarga. Juga ada Alquran kecil yang biasa dibawa kemana-mana.

SEMUA Alquran yang mereka miliki WAJIB dikhatamkan setidaknya dua-empat bulan sekali.

Sekarang, mereka dibiasakan mengkhatamkan Alquran minimal sekali sebulan. Berarti satu juz/hari. PLUS membaca terjemahannya. Tentu saja masih tarik ulur. Kondisi aktivitas fisik yang tinggi juga penambahan tugas2 kerumahan sesuai peningkatan usia mereka, membuat mereka harus berjibaku mengatur waktu dan mengendalikan kemalasan dalam mendawamkan khataman Alquran minimal sebulan sekali.

Ini tahapan pembiasaan. Juga untuk menggugurkan kewajiban sebagai seorang Muslim yang SUDAH BISA MEMBACA ALQURAN.

Ini belum sampai ke tahapan MENCINTAI Alquran ya. Masih jauh.

4. Saya terapkan konsep Steril di usia 0-7 tahun.
Artinya? Saya bersihkan rumah kami dari segala sesuatu yang menghalangi datangnya cahaya Alquran.

Apa itu?  TV dan musik.
Rumah kami bersih dari TV dan musik.
Saya juga membiasakan diri menidurkan anak-anak dengan melantunkan juz'amma DARI MULUT Sร€YA SENDIRI.   Dari AnNaba' hingga AnNaas.  Walau mereka sudah tidur.

Ingat target mimpi saya terhadap anak? Mereka HARUS menghafal minimal juz'amma bersama saya. Dan harus kuat pemahaman mereka akan surah-surah di juz'amma. Ini target yang saya kejar.

Dan alhamdulillaah Silmi, putra sulung kami, di usia 4,5 tahun sudah hafal juz'amma. 'Ulya di usia 6 tahun sudah hafal juz'amma.

Apakah hafalan mereka sudah ajeg? Belum. Sampai sekarang kami masih terus-menerus menanamkan pemahaman akan makna dari ayat-ayat suci dari Allah ini.

Bukankah itu tujuan utamanya?
Hafal Alquran itu suatu yang niscaya bagi orang yang memilih untuk terus berinteraksi dengan Alquran, dengan terus-menerus membacanya..berulang-ulang...dengan penghayatan.

Dan menjadi penghafal Alquran itu istimewa. Benar-benar manusia terpilih. Keluarga Allah di dunia.
Kami ingin mencapai posisi ini.

Mengenai TV dan tontonan.
Begitu 'Ulya berusia 7 tahun, saya pindah ke fase FILTERISASI.
Jadi program mengkaji film mulai diintensifkan. Resiko tinggi. Iya.
Tetapi ini membangun daya imunitas dari dalam. Modal besar mereka untuk berdakwah ke generasi mereka dan setelahnya yang mayoritas bobrok dan rapuh.
Mereka harus bisa MENGENDALIKAN alat itu, demi kepentingan dakwah ke depan.

Jadi, sekarang di ruang tamu kami ada Led TV 43' milik Taman Baca Keluarga Pelangi (Catat: bukan milik keluarga kami). Besar yaaa...Yap. Ada program menonton film pekanan buat anak2 taman baca/santri2 rumah tahfizh. Dan anak2 sedang saya persiapkan menjadi relawan program MEDIA LITERACY. Ini berhubungan dengan TV.

Lalu, bagaimana hubungan mereka dgn TV? TV tak menjadi ancaman bagi mereka, alhamdulillaah. Dan memang tak pernah. Karena mereka dipersiapkan baik-baik di usia awal. Di fase steril. Ini bicara tahapan persiapan yang panjang.... Gada keajaiban dalam pengasuhan anak. Adanya kelelahan yang terencana.

5. Setelah anak-anak khatam Alquran pribadi minimal 4 kali, dan anak-anak sudah bisa membaca lancar huruf latin,  kami masuk ke program lanjutan.

Kami mulai program TADARUS Alquran sekeluarga sejak 'Ulya berusia 7 tahun.
Setelah subuh, kami baca Alquran bersama-sama. Masing-masing membaca setengah halaman, lalu membaca terjemahannya. Lalu ayahnya membahas dari segi bahasa dan tafsir dari kitab tafsir muyassar Ibnu Katsir yang dianggap paling mudah dicerna oleh anak-anak. Saya back-up dengan berbagai buku yang bisa mempermudah proses penyampaian pesan. Buku pendamping utamam yang kami pakai di kajian Alqur'an  ini adalah Muhammad Teladanku dan EMIAH. Keduanya terbitan Sygma.

Alhamdulillaah, 8 Muharram 1438 H/9 Oktober 2016 kemarin Allah kembali menakdirkan kebaikan kepada kami sekeluarga, kami dimudahkan  mengkhatamkan kajian Alquran sekeluarga untuk  kedua kalinya.

Sekarang kami  ulang lagi kajiannya dari awal, dengan lebih perlahan dan  mendalam. Disertai arti.

Satu dua ayat bisa dikaji beberapa hari. Mulai memperkenalkan bahasa Arab, makna Asma'ul husna dalam kehidupan sehari-hari, dan memperkuat asbabun nuzul tentang ayat-ayat. Juga mencoba membedah mukjizat ilmiah ayat-ayat Alquran.

Kami berusaha meningkatkan tahapan mengkaji Alquran dengan mencoba membahasnya dengan menggunakan buku-buku asmaul Husna, buku siroh tematik ( Buku Ensiklopedia Leadership dan Manajemen Muhammad Saw), buku ProLM (kajian detil tentang karakter FAST), dan buku Ensiklopedia Peradaban Islam. Ketiga ensiklopedia keren ini terbitan Tazkia Publishing. Juga dengan menggunakan ensiklopedia mukjizat ilmiah Alquran dan Hadits.(EMIAH, terbitan Sygma).  Juga buku2 lain tentang penciptaan alam dan nubuwah nabi tentang akhir zaman. Kajian ini  disesuaikan  dengan tahapan KEBUTUHAN  BELAJAR putra-putri kami.

Di tahapan usia 7-14 tahun ini, model belajar mereka cocoknya kongkrit operasional. Jadi kami harus mengarahkan anak-anak untuk menerapkan secara sederhana hasil kajian di keluarga kami. Kami menyebutnya 'Personal Program'.
Ini sebenarnya bagian dari 'Personal Curriculum' bagi tiap anggota keluarga. Termasuk kami, ayahbundanya.
Di usia ini kami ajak anak-anak membuat program hidup 10 tahun kedepan.

Apa mereka mampu?
Mampu ko. Do not underestimate the power of kid's critical thinking.

Mereka ini sudah diarahkan untuk berkali-kali MENGKHATAMKAN Alquran. Agar itu menjadi kebutuhan mereka sepanjang hidup, kebutuhan yang mereka nikmati dan dengan sukarela dilakukan.

Jadi, kami yakin, cahaya Alquran akan membimbing akal  mereka. Itu janji Allah. Dan telah dicontohkan oleh Rasulullaah, para sahabat dan para ulama hingga sekarang. Ini masalah keyakinan. Yang menjelma dalam program-program harian.

Itu saja....
Menjalaninya tidak  semudah menuliskannya. Ada banyak kendala.
Tetapi MIMPI sudah ditetapkan.
Tinggal dibedah menjadi 3: FAKTA, MASALAH, SOLUSI.

Breakdown lebih kecil. Dan terus BERGERAK.

Kita diciptakan untuk BERGERAK. Aktif.

Diam tenangnya saat tahajud.
Ini waktu istimewa.

Be smart. Be FAST.
JANGAN jual waktu utama itu dengan harga murah.
JANGAN habiskan waktu utama itu untuk bicarakan bisnis kecil dengan manusia.

Bicarakan bisnis utama kita dengan Sang Pemilik Alam Semesta.

Gakan rugi. Ga percaya?
Buka Alquran. Surah Ash Shaff. Surah ke 61. Ayat 10-14.
Ini penawaran dari Allah kepada orang beriman. Perdagangan yang gakan rugi. Di dunia dan akhirat.

Fokus dulu ke Alquran bersama keluarga. Baru ke yang lain.

Wallaahu a'lam bishawab.

- Iin Savitry, #BundaBidadari -

#MenujuKeluargaQurani
#FASTFamily
#MenjadiAyahArtisBundaBidadaridanAnakBintang
(fb, 26 Jan 2016)

Dunia Ini Keras, Nak! (Kiat dampingi anak agar tidak cengeng

Rangkuman Forum Usroh
Ahad, 23 September 2018
Masjid Al Falah, Cipayung dan Masjid Nurul Amal, Pasar Minggu

Tema: Dunia Ini Keras, Nak! (Kiat dampingi anak agar tidak cengeng)

Fasilitator: Ustadz Bendri Jaisyurrahman
Notulis: Aldiles Delta Asmara

Perseteruan antara haq dan bathil memang diciptakan untuk manusia. Karena haq dan bathil merupakan pertentangan, jangan sampai kita menjadi manusia yang lemah dan menjadi generasi cengeng. Maka konsep dasar pengasuhan mendidik anak menjadi tangguh merupakan hal mutlak agar anak tidak cengeng.

Cengeng bukan berarti suka menangis. Sebab menangis adalah kelembutan hati. Anak-anak usia di bawah 7 tahun sering menangis bukan karena mereka cengeng tetapi karena memang hati mereka lembut. Seperti halnya Abu Bakar yang selalu menangis tiap mendengar ayat Al Qur'an. Begitupun dengan Umar bin Khatab, mudah menangis bahkan hingga pingsan saat mendengar surat At-Thur. Dan para shalafus sholeh lainnya yang digambarkan sebagai orang yang mudah menangis. Hal ini menunjukkan jiwa yang lembut.

Lalu apa yang membedakan dengan cengeng? Cengeng adalah bentuk kelemahan jiwa. Cirinya ketika anak putus asa, kabur dari masalah, tidak bertanggung jawab, memilih zona nyaman. Maka tugas kita adalah membedakan antara hati yang lembut dengan jiwa yang lemah atau cengeng ini. Sebab saat anak menangis dan kita langsung memberi cap cengeng, maka kita merusak salah satu potensi dasar yang merupakan fitrah anak, yaitu sifat empati. Anak-anak yang sejak kecil dilarang menangis karena dianggap cengeng, saat menikah akan menjadi suami yang tidak peka terhadap perasaan istrinya.

Bagaimana mendidik anak menjadi tangguh? Syarat ketangguhan yang utama adalah ketika bisa melewati segala kesulitan. Allah memberi contoh dalam surat Yusuf. Para ibu hamil sering diminta untuk membaca surat Yusuf, menurut beberapa ulama karena kita diminta membaca kisah terbaik. Yaitu kisah Yusuf, kisah seorang hamba yang Allah uji dengan ketangguhan saat melewati masa sulit.

Masa sulit yang Yusuf alami terjadi di usia pubertas. Usia 7 tahun dijatuhkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya yang hasad. Kemudian ditolong dan menjadi seorang budak. Namun setelah menjadi budak Yusuf dijebloskan ke dalam penjara.

Usia penderitaan Yusuf yaitu di rentang usia 7 -19 tahun. Dalam rentang usia tersebut hidup Yusuf amat diuji. Namun ujian ini tak membuat Yusuf stres. Inilah bentuk ketangguhan Yusuf, ujian paling berat bagi anak yang tangguh adalah melewati fase kesulitan dengan sabar.

Menciptakan seorang anak tangguh seperti Yusuf membutuhkan proses. Maka orang tua harus mencetak anak yang tangguh melewati ujian kesulitan dengan kesabaran.

Apa yang harus orangtua lakukan di usia 0-7 tahun anak?

3 unsur asupan agar anak tangguh versi nabi Yaqub:

1. Akal, fasilitasi anak agar banyak berpikir. Akal harus diberi asupan agar tidak mengalami kelumpuhan. Asupan otak berupa, membaca, berpikir, diskusi, dan lain-lain.
2. Jasad. Asupan jasad seperti makanan, minuman, dan suplemen tubuh (jika dibutuhkan) tidur yang cukup dan olahraga.
3. Ruh

3 unsur inilah yang wajib dipenuhi orangtua untuk mencetak generasi tangguh. Dua unsur pertama selalu orangtua berikan dengan maksimal, namun banyak orangtua lupa memenuhi asupan untuk unsur terakhir. Padahal ruhani adalah sumber kekuatan asli dari seorang anak.

Yang membuat Yusuf kuat menghadapi segala ujian Allah adalah ruh yang kuat. Maka anak kita harus memiliki ruh yang kuat.

Pola mendidik anak tangguh adalah seimbangnya 3 unsur tersebut sejak kecil. Ruh hanya bisa hidup jika diberi unsur tauhid. Cirinya ketika anak mampu berkata "Sesungguhnya aku mengadukan keluh kesahku hanya kepada Allah." Q.S Yusuf:86

Sebab menggantungkan segala kehidupan kepada manusia adalah bentuk kerapuhan, dan jangan ajarkan anak bergantung pada kita sebagai orangtua, tetapi ajak anak agar bergantung hanya pada Allah.

Terpenuhinya asupan ruhiyah akan menanamkan tauhid, berujung pada anak-anak yang bergantung pada Allah.

Cara yang bisa orang tua lakukan:

1. Saat anak menangis, ajak anak untuk menceritakannya pada Allah.

2. Orang tua membiasakan berdoa di depan anak, hal ini juga dapat menguatkan tauhid anak. Seperti dicontohkan oleh Rosulullah yang berdoa di depan anak. Berdoa di depan anak merupakan ajaran tauhid. Memintalah hanya pada Allah.

3. Latih anak merasakan fase challenge zone, dimulai ketika masa penyapihan sang anak.
Pada 0-2 tahun anak berada di usia comfort zone. Cirinya orang tua harus menjaga zona nyamannya. Segera menyambut ketika anak menangis, memeluknya, dan lain-lain. Bahkan Rosulullah mempercepat sholat wajib ketika mendengar bayi menangis sebab Rosulullah tahu bahwa bayi tidak bisa menunggu.

Melewati 2 tahun anak sudah memasuki usia challenge zone, yaitu fase tangisan yang dibiarkan. Diawali oleh proses penyapihan. Kenalkan bahwa ASI setelah dua tahun bukan lagi kebutuhan tetapi hanya keinginan, maka ia akan belajar bahwa tidak semua keinginan bisa terpenuhi. Latihan ini akan membentuk otot sabar di masa depan.

Yang utama kenalkan tauhid saat proses penyapihan, bahwa ini adalah perintah Allah. Biarkan anak menangis agar ia tidak melulu berada dalam zona nyaman, yaitu ketika semua keinginannya terpenuhi.

Fasilitasi challenge zone ini lewat kehadiran ayah, sebab ayah adalah sosok yang mewakili dunia ketangguhan karena ayah mengetahui dunia luar. Harus ada figur lelaki dalam melatih anak agar tidak cengeng, maka peran ayah amat penting. Jika tidak ada ayah, sosok lelaki bisa digantikan oleh kakek, atau paman, atau guru laki-laki.

4. Latih anak untuk mengurus dirinya sendiri. Seperti nabi Yaqub yang memberi tugas kepada masing-masing anaknya termasuk Yusuf. Di usia Yusuf yang masih 5 tahun, ia sudah bertugas untuk melayani ayahnya, menyiapkan makan untuknya dan membersihkan rumah.

Bersambung...

Instagram: @langkahkitaid
Grup Facebook: Forum Usroh (For Us)
www.langkahkita.id
#forumusroh

7 Tips Pengasuhan Anak di Era Digital dari Psikolog Elly Risman



1. Tanggung Jawab Penuh
Ketika bicara mengenai pola asuh anak, peran seorang ibu seringkali dianggap hal paling utama. Padahal menurut Elly, sosok ayah dalam mendidik anak tak kalah penting. Di era digital seperti sekarang ini, ayah dan ibu harus memiliki pandangan yang sama, yaitu sama-sama bertanggungjawab atas jiwa, tubuh, pikiran, keimanan, kesejahteraan anak secara utuh. Masih banyak orangtua muda masa kini yang melepaskan anak-anaknya secara total di tangan orang ketiga, entah mertua atau pembantu. Namun jika hal ini terpaksa dilakukan, maka perlu dicek kembali bagaimana sejarah dari orang yang Anda rekrut untuk menjaga buah hati.

"Sebuah tesis pernah membahas mengenai peran ayah. Anak-anak yang kurang sosok ayah, dan dia punya anak laki dia nakal, agresif, narkoba, seks bebas. Anak perempuan biasanya depresi, seks bebas. Jadi ayah harus selalu ada, pulang kerumah di era digital," ujar Elly di Plaza Selatan, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (26/5/2016).

2. Kedekatan
Perlu adanya kedekatan antara ayah dan anak, juga ibu ke anak. Kedekatan ini bukan hanya berarti melekat dari kulit ke kulit, melainkan jiwa ke jiwa. Artinya, Anda dan pasangan tak bisa hanya sering memeluk sang anak namun juga harus dekat secara emosional. "Banyak anak yang tidak dapat hal itu dari kecil sehingga jiwanya hampa," tambah Elly.

3. Harus Jelas Tujuan Pengasuhan
"Dari riset yang saya lakukan untuk ibu 25-45 tahun, bekerja tak bekerja, ekonomi menengah ke atas dan menengah ke bawah. Mereka tidak punya tujuan pengasuhan. Mereka tidak tahu anak ini mau di bawa ke mana?"

Elly menyarankan agar orangtua mulai merumuskan tujuan pengasuhan sejak anak dilahirkan. Perlu membuat kesepakatan bersama suami, prioritas apa saja yang diberikan kepada anak dan bagaimana cara pendekatannya.

4. Berbicara Baik-baik
Orangtua harus belajar berbicara baik-baik dengan anak. Tidak boleh membohongi, lupa membahas keunikan anak, dan juga perlu membaca bahasa tubuh, serta mau mendengar perasaan anak.

"Menyalahkan, memerintah, mencap, membandingkan, komunikasi seperti ini akan membuat anak merasa tak berharga, tak terbiasa memilih dan tak bisa mengambil keputusan."

5. Mengajarkan Agama
Menjadi kewajiban orangtua untuk mengajarkan anak-anaknya tentang agama. Pendidikan tentang agama perlu ditanam sejak sedini mungkin. Dalam hal ini, mengajarkan agama tak hanya terbatas ia bisa membaca Al-Qur'an misalnya, bisa berpuasa atau pergi ke gereja. Orangtua perlu menanamkan secara emosional agar anak menyukai aktivitas itu.

"Jangan kosong dan lalu dimasukkan ke sekolah agama. Tidak ada dasarnya jika begitu. Bisa dan suka itu berbeda. Bisa hanya sekadar melakukan, tapi jika suka, ada atau tidak ada orangtua dia akan tetap baik," tuturnya.

6. Persiapkan Anak Masuk Pubertas
Kebanyakan orangtua malu membicarakan masalah seks dengan anak dan cenderung menghindarinya. Menurut Elly, pembicaraan justru perlu dimulai sejak dini dengan bahasa yang mengikuti usianya.

"Kalau sudah keluar air mani, sudah menstruasi, itu artinya mereka sudah aktif secara seksual dan sudah telat untuk menanamkan tentang pemahaman seks. Ya jadi suka-sukanya anak, dia bebas melakukan berbagai macam hal," tambah Elly.

7. Persiapkan Anak Masuk Era Digital
Bukan berarti Anda harus memberikannya gadget sejak bayi. Namun mengajarkan anak jika penggunaan gadget ada waktunya dan memiliki batasan untuk itu. Akses internet pun perlu dibatasi untuk mencegah anak melihat situs yang tidak diinginkan.

"Ajarkan mereka untuk menahan pandangan, menjaga kemaluan. Karena jika otakmu rusak, kemaluanmu tidak bisa dikendalikan. Jika kita tidak membicarakan, anak tidak tahu bagaimana akan bersikap." tuturnya.

Kedepankan komunikasi sebagai pengganti gadget. Sebagai contoh, ajak anak bicara tiap kali pulang sekolah. Hal-hal di sekolah seperti tugas menumpuk, teman jahil atau guru menyebalkan sudah menjadi hal berat untuknya. Oleh karena itu, Elly menyarankan untuk berkomunikasi tentang perasaannya. Misalnya tanya perasaannya di hari itu, apa yang membuatnya bahagia dan apa yang membuatnya sedih. Dengan begitu, secara otomatis anak akan dengan mudah bercerita pada Anda tiap kali ia merasakan sesuatu.

"Ketika anak dibatasi dia pegang gadget, orangtua perlu beri alternatif lain. Tidak bisa kalau ibu atau ayahnya tidak di rumah. Contohnya ikuti les berenang, main basket, futsal, gitar atau apa yang disukai anak," pungkas Elly. (asf/asf)

*BAHAYA PENGGUNAAN GADGET PADA ANAK*



Pemateri: dr. Merna Noviarni
(Admin WA Grup Shiroh & Parenting)
FB: Merna Noviarni

Bahaya penggunaan gadget pada anak sebaiknya dihindari, dengan cara tidak membiarkan mereka terpapar teknologi tersebut secara berlebihan. Apalagi diberi hak kepemilikan saat usia mereka masih di bawah 12 tahun, karena bisa menghambat tumbuh kembang otak, mental, bahkan fisiknya.

Akademi Dokter Anak Amerika dan Perhimpunan Dokter Anak Kanada menegaskan, anak umur 0-2 tahun tidak boleh terpapar oleh teknologi sama sekali. Anak umur 3-5 tahun dibatasi menggunakan teknologi hanya satu jam per hari. Dan anak umur 6-18 tahun dibatasi 2 jam saja perhari.

Anak-anak dan remaja yang menggunakan teknologi melebihi batas waktu yang dianjurkan, memiliki risiko kesehatan serius yang bisa mematikan.

Berikut ini adalah 10 bahaya penggunaan gadget pada anak, yang bersumber dari berbagai penelitian. Sehingga bisa menjadi alasan kuat kenapa orangtua sebaiknya tidak memberikan gadget pada anak sebelum usia 12 tahun.

Bahaya penggunaan gadget pada anak yang harus diwaspadai orangtua

1. Mengganggu pertumbuhan otak anak

Pada usia 0-2 tahun, otak anak bertumbuh dengan cepat hingga dia berusia 21 tahun. Perkembangan otak anak sejak dini dipengaruhi oleh stimulasi lingkungan.

Stimulasi berlebih dari gadget (hp, internet, tv, ipad, dll) pada otak anak yang sedang berkembang, dapat menyebabkan keterlambatan koginitif, gangguan dalam proses belajar, tantrum, meningkatkan sifat impulsif, serta menurunnya kemampuan anak untuk mandiri.

2. Tumbuh kembang yang lambat

Bahaya penggunaan gadget pada anak, juga membatasi gerak fisiknya. Yang membuat tumbuh kembang fisik anak menjadi terlambat. Paparan teknologi sejak dini juga memengaruhi kemampuan literasi dan prestasi akademik anak secara negatif.

3. Obesitas

Penggunaan televisi dan video game berkaitan dengan meningkatkatnya kasus obesitas pada anak. Alat elektronik yang dipasang di kamar anak dan bisa diakses secara pribadi dapat meningkatkan risiko obesitas sebanyak 30%.

30% anak yang menderita obesitas, akan mengalami diabetes, hingga memiliki risiko tinggi stroke dini atau serangan jantung, serta usia harapan hidup yang rendah.

Akademi Dokter Anak Amerika dan Perhimpunan Dokter Anak Kanada menegaskan, anak umur 0-2 tahun tidak boleh terpapar oleh teknologi sama sekali. Anak umur 3-5 tahun dibatasi menggunakan teknologi hanya satu jam per hari. Dan anak umur 6-18 tahun dibatasi 2 jam saja perhari.

Anak-anak dan remaja yang menggunakan teknologi melebihi batas waktu yang dianjurkan, memiliki risiko kesehatan serius yang bisa mematikan.

Berikut ini adalah 10 bahaya penggunaan gadget pada anak, yang bersumber dari berbagai penelitian. Sehingga bisa menjadi alasan kuat kenapa orangtua sebaiknya tidak memberikan gadget pada anak sebelum usia 12 tahun.

Bahaya penggunaan gadget pada anak yang harus diwaspadai orangtua:

1. Mengganggu pertumbuhan otak anak
Pada usia 0-2 tahun, otak anak bertumbuh dengan cepat hingga dia berusia 21 tahun. Perkembangan otak anak sejak dini dipengaruhi oleh stimulasi lingkungan.


Stimulasi berlebih dari gadget (hp, internet, tv, ipad, dll) pada otak anak yang sedang berkembang, dapat menyebabkan keterlambatan koginitif, gangguan dalam proses belajar, tantrum, meningkatkan sifat impulsif, serta menurunnya kemampuan anak untuk mandiri.

2. Tumbuh kembang yang lambat
Bahaya penggunaan gadget pada anak, juga membatasi gerak fisiknya. Yang membuat tumbuh kembang fisik anak menjadi terlambat. Paparan teknologi sejak dini juga memengaruhi kemampuan literasi dan prestasi akademik anak secara negatif.

3. Obesitas
Penggunaan televisi dan video game berkaitan dengan meningkatkatnya kasus obesitas pada anak. Alat elektronik yang dipasang di kamar anak dan bisa diakses secara pribadi dapat meningkatkan risiko obesitas sebanyak 30%.

30% anak yang menderita obesitas, akan mengalami diabetes, hingga memiliki risiko tinggi stroke dini atau serangan jantung, serta usia harapan hidup yang rendah.

4. Kurang tidur
75% anak usia 9-10 tahun mengalami kurang tidur karena penggunaan teknologi tanpa pengawasan. Kekurangan tidur akan berdampak buruk pada nilai sekolah mereka, karena otak berkembang dengan baik saat tidur, dan anak butuh tidur yang cukup agar otaknya bisa berfungsi dengan baik.

Selengkapnya: Penelitian; Dampak Kurang Tidur Pada Perkembangan Otak Anak

5. Kelainan mental
Penelitian di Bristol University  tahun 2010 mengungkapkan, bahaya penggunaan gadget pada anak dapat meningkatkan risiko depresi, gangguan kecemasan, kurang atensi, autisme, kelainan bipolar, psikosis, dan perilaku bermasalah lainnya.

6. Sifat agresif
Konten di media yang bisa diakses anak, dapat menimbulkan sifat agresif pada anak. Kekerasan fisik dan seksual banyak tersebar di internet, dan jika tidak dilakukan pengawasan, anak bisa terpapar itu semua. Sehingga memicu timbulnya perilaku agresif dan cenderung menyerang orang lain pada anak.

7. Kecanduan
Ketika orangtua terlalu bergantung pada teknologi, mereka akan semakin jauh dari anak. Untuk mengisi kekosongan ikatan dengan orangtua, anak juga mulai mencari penghiburan dari gadget, yang pada akhirnya membuat mereka kecanduan teknologi, dan tidak bisa lepas darinya.

8. Pikun digital
Kecepatan konten di media, membuat anak memiliki attention span yang pendek. Dia jadi tidak fokus pada satu hal, dan mudah berganti fokus. Hal ini menurunkan kemampuan konsentrasi dan memori. Sehingga membuat anak susah memusatkan perhatian.

Hal ini memicu kondisi yang disebut pikun digital, karena anak yang terpapar teknologi terlalu banyak, tidak bisa memusatkan perhatian, imbasnya dia menjadi kesulitan belajar.

9. Radiasi emisi
Pada bulan Mei 2011, WHO memasukkan ponsel dan gadget tanpa kabel lainnya dalam kategori Risiko 2B (penyebab kemungkinan kanker), karena radiasi emisi yang dikeluarkan oleh alat tersebut.

James McNamee dari Lembaga Kesehatan Kanada, memberi peringatan pada 2011 lalu:

“Anak-anak lebih sensitif terhadap radiasi dibanding orang dewasa. Karena otak anak dan sistem imun mereka masih berkembang. Jadi, kita tidak bisa mengatakan bahwa risiko pada anak sama dengan risiko pada orang dewasa.”

10. Proses belajar yang tidak berkelanjutan
Penggunaan teknologi yang berlebihan pada anak, bisa membuat proses belajarnya tidak kontinyu. Karena teknologi ini membuat segalanya menjadi lebih mudah, sehingga otak anak tidak terasah, disebabkan kemudahan yang ditawarkan untuk mencari jalan pintas.

***

Memberikan gadget pada anak memang jalan termudah untuk membuatnya diam, sehingga kita tidak terlalu repot menjaganya. Namun, setelah mengetahui bahaya penggunaan gadget pada anak ini, tentu Parents tidak ingin  membiarkan tumbuh kembangnya terganggu karena paparan teknologi yang berlebihan.

Mari bijak menggunakan teknologi, dan biarkan anak berkembang dengan baik tanpa hambatan.


*Mengatasi Anak yang Kecanduan Gadget*

Luangkan waktu untuk bermain dan berdiskusi dengan anak
Jangan biarkan anak merasa jika gadget yang mereka mainkan lebih asyik dibanding dengan bermain bersama orang tuanya, sempatkanlah waktu untuk bermain bersama anak walaupun hanya sebentar, berikan pengertian serta pemahaman dengan cara berdiskusi secara baik baik bahwa sebenarnya ada akibat-akibat yang kurang baik bila mereka terlalu lama dan terlalu sering memainkan gadget, bila perlu berikan ilustrasi berupa gambar atau efek yang dapat ditimbulkan dari pemakaian gadget.

Berikan alternative mainan untuk anak
Saat ini banyak mainan anak yang edukatif sehingg mampu membuat anak untuk lebih pandai dan kreatif, mungkin beberapa orang berpendapat bahwa mainan edukatif cenderung mahal tapi percayalah hal itu tentu akan sebanding dengan manfaat yang didapatkan. Bila anak kurang tertarik dengan mainan edukatif bisa juga diberikan mainan lain yang dapat Anda sesuaikan masing-masing sesuai dengan ketertarikan anak, yang penting anak tidak lagi terlalu sering terpapar gadget setiap harinya.

Berikan batasan waktu bermain gadget dan batasan pemakaian internet
Dalam hal ini kita harus bisa bersikap tegas pada anak, bila telah terjadi kesepakatan antara anak dengan orang tua dalam hal pemakaian gadget dan internet maka kita harus menerapkan kesepakatan tersebut, misalnya kita buat kesepakatan anak hanya boleh bermain gadget pada hari libur dan itupun hanya 2 jam, bila anak melanggar hal tersebut tegaslah dalam mengaturnya, jangan mudah luluh oleh rayuan anak ataupun menjadi mudah marah jika anak sulit untuk diatur, coba bicarakan kembali mengenai kesepakatan tersebut dengan anak, agar anak juga bisa belajar disiplin dalam mematuhi aturan rumah.

Demikian ulasan singkat mengenai dampak buruk gadget bagi anak dan cara mengatasinya.

Sumber:
https://id.theasianparent.com/10-bahaya-penggunaan-gadget-pada-anak/amp
https://hijapedia.com/dampak-buruk-gadget/

"Ya Allah...sakit sekali...linu sekali...rasanya tidak ada rasa sakit seperti yg ku rasakan"

**

Oleh : Ust. Abu Zaky Dwi Istanto

Seseorang menghubungi saya dan meminta saya utk meruqyah seorang santri penghafal Alqur'an di sebuah lembaga pendidikan Tahfidz Qur'an di Pondok Gede. Dg keluhan kanker tulang. Diagnosa di keluarkan oleh sebuah rumah sakit ternama
Segera saya datang ke pesantren tsb.

Saya mundurkan semua janji yg sudah di buat krn ada penghafal qur'an yg sedang sakit. Untuk saya penghafal Qur'an adalah prioritas utama, karena Saya paling tidak tega melihat ada orang yg terhambat dalam menghafal ayat2 suci Allah, karena penyakit atau kebutuhan hidup yg lainnya. In syaa Allah akan saya bela2in utk datang dan membantu santri tsb, dimana saja, sekemampuan saya.

Setelah saya bertemu, benar saja, anak itu terkapar di kamarnya tidak dapat bangun dan hanya menahan sakit linu yg tidak tertahankan pada tulangnya.
Dalam hati saya berkata, "Ya Allah berat sekali ujian keimanan anak ini...di saat anak seusiamu sedang memburu sekolah menengah atas yg paling bonafit, tapi engkau wakafkan jiwa dan ragamu utk menghafal Alqur'an. Dan sekarang engkau sedang terkapar karena Dzat Yg Maha Kuasa sedang menguji cintamu kpd Nya, agar benar2 niatanmu dalam menghafal Alqur'an Lillahita'alaa semata".

Tak terasa air mata ini menetes.
"Siapa nama kamu nak...berapa usiamu...darimana asal mu", tanya saya.

"Ahmad Ustadz...15 tahun...saya dari desa terpencil di propinsi sumatra *****", jawabnya.

"Apa yg kamu rasakan saat ini?". Tanya saya
"Ustadz, linu sekali tulang2 persendian...linu sekali...linu-linu semua tulang saya...tolong bantu saya ustadz." Ahmad menjawab sambil menahan rasa sakitnya.

"In syaa Allah nak, saya bimbing utk ruqyah dan kita berdoa bersama agar Allah angkat semua penyakitmu. Karena bagi Allah mengangkat penyakit apapun sangat mudahnya", kata saya.

"Ahmad, adakah kamu pernah teringat ucapan2 orang2 terdekat kamu atau siapapun yg suka memuji atau mengucapkan kata2 yg tidak baik yg di utarakan ke dirimu", tanya saya.

" Ada ustadz, yaitu ucapan kedua orang tua saya. Selama saya sekolah dan mendapatkan nilai rendah, mereka selalu mengucapkan 'kamu anak tidak berguna, mau jadi apa kau dewasa nanti'..". Kata ahmad

"Tapi ustadz saya menyadari, kalau perkataan mereka utk kebaikan saya", kata ahmad sambil sesekali meringis kesakitan.

"Ya Allah, sudah dekatkah datangnya kiamat...karena ternyata ada diantara hamba Mu yg tidak dapat mengontrol ucapannya, yg mereka tujukan kpd buah hati mereka, buah cinta pernikahan mereka, yang mereka anggap ucapannya sebagai motivasi.

Padahal itu adalah 'ain yg terlontar kepada anaknya...Ya Allah, sadarkan orang tua Ahmad, beri hidayah Mu." ucap saya dalam hati.

"Ahmad cita2nya apa?" tanya saya.
Diapun menjawab " Memberikan jubah utk orang tua saya di saat semua manusia tidak berpakain, di padang mahsyar nanti".

Allahu Akbar...Allahu Akbar

"Ya Allah mulia sekali cita2mu nak. di balik kekerasan orang tuamu, engkau memiliki hati yg bersih dan tulus, kau abaikan perlakuan orang tuamu dan kau pertahankan pendirianmu utk mengejar cita2 mu, menghafal Alqur'an meskipun harus jauh dari kampung halaman". Ucap saya dalam hati.

"Ahmad saya akan membimbing kamu utk Tazkiyah, bisa ya", tanya saya.

"In syaa Allah saya akan mengikuti ustadz", jawabnya.

Sayapun memulai tahapan2 tazkiyah utk membersihkan sampah2 dalam hati kita, karena bila sampah ada dalam diri kita maka lalat pasti datang utk mengerumuni sampah itu.

Tahapan itu adalah :

1. Niat ikhlash krn Allah
2. Bersyukur
3. Bertaubat
4. Menerima Taqdir Allah
5. Memaafkan manusia

"Ahmad saya sama orang tuanya?". Tanya saya.
"Sayang sekali ustadz, bagiku orang tuaku adalah pelita hatiku. Orang tuaku adalah kehormatanku", jawabnya

"Kalau gitu kita do'a sama2 ya" kata saya.
"Ya Allah kami bersyukur atas nikmat yg Engkau berikan kpd kami, berupa Orang tua kami yg baik...
orang tua yg telah berjuang dg susah payahnya saat mengandung kami....orangtua yg telah berjuang dg susah payahnya, saat melahirkan kami"

"Ya Allah ampunilah kedua orangtua kami...berikan kpd orang tua kami, khusnul khatimah....dan jangan engkau biarkan orang tua kami merasakan sakit ketika nyawanya terlepas dari tubuhnya."

"Ya Allah, kami ridhai orangtua kami. Kami maafkan, orangtua kami....seburuk apapun ucapan orangtua kami...seburuk apapun perlakuan mereka terhadap diri kami...

Ya Allah hari ini kami maafkan....tidak ada keberatan dalam hati kami sedikitpun, utk memaafkan mereka, utk meridhai mereka...kami ridhai ucapan dan perbuatan mereka...seberat apapun ucapan dan perbuatan mereka....kami maafkan.".

"Ya Allah, jika hari ini masih ada dalam hati kami kebencian terhadap mereka...Ya Allah hari ini kami hilangkan kebencian itu...Ya Allah berikan kpd mereka Khusnul Khatimah".

"Ya Allah dengan kebesaran Mu...dengan ke Agungan Mu, yg jiwa kami berada di tangan Mu... jika selama ini ada jin yg mengganggu kesehatan kami, menggangu kami dg sakit tulang ini...Ya Allah kami mohon keluarkan mereka dari tubuh kami....keluarkan mereka dari tulang kami".

"Wahai Jin yg ada di tulang kami. Silahkan keluar, dari tubuh kami...keluar dari raga kami...ukhruj ya 'aduwallah".

Ahmad pun muntah2 dahsyat.
Doa tadi kami ulang2...dan Ahmad mengikuti dg penuh penghayatan.

Setelah reaksi muntahnya selesai, ahmad merasakan ada sesuatu yg lepas dari dirinya. Dan Alhamdulillah dia sudah tidak merasakan linu2 lagi.

Dia pun mencoba utk bangkit dan bediri. Seraya mengucapkan " Alhamdulillah" berulang2. Dan diapun bediri serta berjalan kembali seperti sediakala.
Rasa haru dan bahagia terbersit di wajah ahmad dan kawan2nya. Yang ternyata mulai dari awal hingga akhir proses ruqyah ahmad di temani oleh kawan2nya sesama penghafal Qur'an, utk memberikannya dukungan.

Kanker adalah makhluq Allah yg dapat bekerja pada siapa saja. Jika kita meminta kpd Allah agar sel kanker lepas dari diri kita. Maka in syaa Allah dg mudahnya akan di hilangkan semua sakit kanker jenis apapun. Asalkan dalam meminta, kita sungguh2 dan tidak ada satupun yg dapat menahan do'a. Salah satu yg menahan doa adalah sampah di hati kita.
Terakhir saya meminta ahmad utk memeriksakan kembali penyakit kanker tulangnya, ke rumah sakit yg menyatakan dia sakit kanker utk pertama kalinya, agar dapat di ketahui hasil akhirnya.

Bagi ahmad dg dapat berdiri kembali dan dapat berjalan adalah karunia terbesar dari Allah karena dg nikmat itu dia dapat kembali ke masjid utk Sholat dan menghafal Alqur'an lagi. Sungguh sebuah pengharapan yg sangat sederhana sekali.

Semoga Allah memberikan kesembuhan utk ahmad dg kesembuhan yg sempurna...aamiin
Nasihat utk saya peribadi dan kpd saudaraku semua, mari kita melangkahkan kaki kita ke masjid selagi masih bisa. Jika saat kita masih mampu tapi tidak melangkahkan kaki ke masjid, pasti suatu saat kita akan di gotong ke masjid.

Wassalamu'alaikum

Ruqyah Tazkiyah Indonesia
081389837416

Silahkan utk membagikan kisah ini, semoga ada pahala yg mengalir pada setiap kebaikan yg di sebarkan.

Siti Khadijah

At thahirah julukannya, dia adalah pemimpin bidadari syurga.

Kebaikan hatinya senantiasa memancar dari kepribadian akhlaknya yang tinggi, tidak ada yang bisa menandingi kebaikan dan kemuliaanya, walaupun dibandingkan dengan semua wanita di dunia.

Sabda Rosulullah SAW.

Dia beriman kepadaku, disaat semua orang mengingkariku.

Dia membenarkan aku, saat semua orang mendustakanku.

Dia menyerahkan seluruh hartanya kepadaku, selagi semua orang tidak mau memberikan.

Allah SWT menganugerahkan aku anak darinya, selagi wanita lainnya tidak memberikannya kepadaku.

Siapakah dia?

#64sahabatteladanutama
#parapemimpinbidadarisyurga
#64stuarisan
#Bukusirohkeren
#Bukusirohsygma
#snc
#Spiritnabawiyyahcommunity

Akan Datang Kengerian


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Pengantar

Tulisan ini saya susun sekitar 18,5 tahun lalu. Sempat dimuat salah satu surat kabar nasional untuk penerbitan edisi DIY – Jateng dan masuk pula di buku saya berjudul “Membuka Jalan ke Surga” terbitan Pustaka Inti, 2004 (16 tahun lalu). Jadi sebelum peristiwa tsunami Aceh, gempa maupun letusan Merapi Jogja, apalagi peristiwa-peristiwa terkini.

Saya menemukan kembali di HP. Sempat dua kali saya posting di FB di tahun yang berbeda, semoga catatan lama ini bermanfaat, setidaknya untuk kita renungi bersama. Bukan untuk menyalahkan siapa pun.

***
Kemarau yang panjang ini masih akan berlanjut, kegersangan yang membuat tanam-tanaman tak bisa tumbuh dengan sempurna, masih akan terjadi. Hutan-hutan yang menghijau akan enggan menahan air untuk kita. Sementara gempa mungkin akan mengguncang kita, hingga kita lari ketakutan. Tak ada tempat untuk berlindung, sedangkan doa orang-orang shalih tak lagi dikabulkan oleh Allah Ta’ala.

Apa sebabnya? Bukankah Allah Ta’ala perintahkan kita untuk berdo’a dan Ia berjanji akan mengabulkan setiap permintaan kita?

Ya…, Allah Maha Mendengar. Ia kabulkan setiap permintaan selagi tak ada perkara yang menghalangi. Ada beberapa sebab yang menjadikan Allah Ta’ala mengizinkan sebuah negeri hancur, dan sebuah kaum ditimpa kesengsaraan yang berkepanjangan. Mereka hidup di antara musibah demi musibah. Mereka bernafas di antara bencana demi bencana. Sesudah satu kengerian berlalu, datang lagi keguncangan yang lebih mengerikan.

Boleh jadi kengerian itu datang dari tindakan kita yang salah perhitungan. Boleh jadi ketakutan itu mencekam setiap hati karena ganasnya manusia. Atau boleh jadi, kita lari dari satu bencana menuju bencana berikutnya yang lebih besar, sementara langit tak lagi menurunkan hujan. Kalau saja Allah Ta’ala tidak kasihan kepada binatang-binatang yang kehausan, tentu bumi akan terbakar dan sumur-sumur akan mengering seluruhnya.

Teringatlah saya kepada hadis riwayat Ibnu Abdil Barr.

Allah mengutus dua malaikat untuk membinasakan sebuah desa dan semua isinya. Dua malaikat tersebut mendapatkan seorang yang sedang shalat di sebuah masjid. Dua malaikat itu berkata, “Wahai Tuhanku, di desa ini ada seorang hamba-Mu yang sedang shalat.”

Allah berkata, “Hancurkan desa tersebut dan hancurkan ia bersama-sama karena wajahnya tidak merah, marah karena-Ku” (HR. IbnuAbdul Barr).

Kapankah doa orang shalih tak sanggup menghindarkan sebuah negeri dari bencana yang menakutkan? Ummu Salamah bertutur:

Aku mendengar Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kemaksiatan merebak di antara umatku, maka Allah akan menimpakan azab yang mengenai siapa saja.”

Shahabat bertanya, “Wahai Rasul Allah, bukankah di antara mereka ada orang yang shalih?”

Beliau menjawab, “Betul.”

Shahabat berkata, “Apa yang ditimpakan kepada mereka?”

Beliau menjawab, “Mereka juga merasakan apa yang dirasakan oleh orang umumnya. Mereka mendapatkan pengampunan dan ridha Allah.” (HR. Ahmad).

Hari ini, marilah kita berhenti sejenak untuk melihat diri kita sendiri. Ketika kemaksiatan telah dianggap kesenian, apakah yang sudah kita lakukan? Ketika memperlihatkan aurat telah dianggap sebagai hak dan kemerdekaan, apakah yang sudah kita lakukan? Ketika TV berlomba-lomba menayangkan pantat dan pusar sebagai tuntutan pasar, apakah yang sudah kita lakukan? Kalau kita hanya mengucap istighfar di bibir sembari tetap menikmati dan tertawa, maka bersiaplah menyambut ketakutan demi ketakutan di depan kita. Bersiaplah melihat sungai-sungai besar mengering, mata air berhenti mengalir, dan tanah yang kita pijak pecah membentuk retakan-retakan. Bersiaplah menghadapi paceklik panjang, ketika tanah-tanah subur tak lagi menumbuhkan tanaman. Sedangkan pohon-pohon yang biasanya sepanjang tahun bisa kita petik buahnya, akan berhenti berbunga. Tak berbuah kecuali sangat sedikit atau bahkan tidak sama sekali.

Di saat itu, kemiskinan merata di seluruh negeri, kecuali pada sebagian kecil orang saja. Padahal, barang-barang yang membuat hati sangat mengingini, sangat banyak bertebaran. Airmata tumpah di mana-mana. Sementara para pemimpin hilang kasih-sayangnya. Tak ada yang mereka pikirkan kecuali bagaimana menambah kekayaan. Sedangkan bergantinya pemimpin, sesungguhnya hanyalah pergantian kekuasaan yang menindas.

Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umat ini akan selalu di tangan dan pertolongan Allah selagi para ulamanya tidak diperkaya oleh para pemimpinnya dan selagi orang-orang yang baik tidak menganggap baik orang-orang yang fajir (jahat), dan selagi orang-orang jahat tidak menghinakan orang-orang yang baik. Bila mereka melakukan semua itu, maka Allah akan mengangkat Tangan-Nya dari mereka dan orang-orang yang kejam akan menguasai dan menindas mereka. Kemudian Allah menurunkan paceklik dan kemiskinan.” (Marasil Hasan Bashri).

Mengasuh Anak Laki laki



Hilman Al Madani, M.Si, Psi
Psikolog dan Trainer Yayasan Kita dan Buah Hati

Dear Ayah Bunda...

Seringkali kita terheran-heran melihat perbedaan antara anak laki-laki dengan anak perempuan kita. Banyak yang bilang:
"Ini kok yang perempuan bisa tenang tapi yang laki kaya cacing kepanasan yah?"
"Kenapa anak laki-laki saya maunya grasak-grusuk terus sih?"
"Anak perempuan si anu sudah bisa baca, ko anak laki-laki saya yang sepantaran belum bisa?"
Dan mungkin berbagai ujaran keheranan lainnya tentang anak laki-laki dibandingkan dengan perempuan.

Belum lagi, seringkali prestasi akademis anak-anak perempuan lebih baik dari pada anak laki-laki. Kenapa yah? Ada masalah apa? Apa anak laki-laki memang di takdirkan tidak pintar-pintar amat?

Tentu saja tidak! Laki-laki punya berat otak 1400 gram, sedangkan wanita hanya 1250 gram meskipun kerapatan sel otak perempuan melebihi otak laki-laki. Artinya, anak laki-laki tidak bisa dikatakan peluang prestasi akademisnya lebih rendah dari pada perempuan. Meskipun, potensi otak tidak hanya di ukur dari beratnya saja. Jadi, apa yang salah dong?

Hal utama yang harus dipahami oleh ayah dan bunda dan bahkan para guru adalah, bahwa laki-laki dan perempuan memang beda (ya iyalah.. semua juga tau kali ya..). Maksudnya, bukan hanya fisik dan psikologis. Tapi fakta otak memang menunjukkan bahwa anak laki-laki dan perempuan memiliki otak yang beda, kecenderungan yang berbeda, dan tentu saja kebutuhan yang berbeda pula.

Fakta otak memang menunjukkan perbedaan antara keduanya. Michael Gurian dalam bukunya, “Boys and Girls Learn Differently!” menuturkan perbedaannya.

Pertama, area korteks anak laki-laki lebih banyak dimanfaatkan sebagai fungsi spasial mekanis. Hal ini menyebabkan anak laki-laki akan lebih suka bergerak, atau bahkan menggerakkan sesuatu. Contohnya, anak laki-laki lebih suka main bola, berlari dan melompat, atau paling tidak menggerak-gerakkan tangan dan kakinya sendiri. Jadi, jangan aneh, dan kurangi menyuruh mereka untuk diam duduk manis. Kenapa? Itu kebutuhannya! Satu hal lagi, kadar testosteron yang 20 kali lipat daripada perempuan membuat mereka lebih agresif dan lebih mudah fokus pada satu tujuan.

Kedua, anak laki-laki memiliki kadar serotonin (zat kimia di otak yang berkaitan dengan ketenangan) dan oxytocin (berkaitan dengan ikatan) yang lebih sedikit. Hal ini tentu saja menyebabkan anak laki-laki kebanyakan akan lebih bersikap impulsif (mudah terdorong atau terstimulasi) dibandingkan wanita. Jadi, jangan aneh kalau anak laki-laki kita mudah terlibat masalah karena sifatnya yang impulsif, jadi gampang atau cepat bosan, agak sulit menjadi pendengar yang baik, dan kurang mampu untuk berlama-lama menekuni tugas perintil-perintilan secara telaten.

Ketiga, lebih familiar dalam hal mengenali simbol, bentuk-bentuk abstraksi, diagram, gambar, dan obyek bergerak ketimbang kata-kata yang monoton. Hal ini membuat mereka akan lebih unggul dalam pelajaran Matematika dan Fisika, lebih tertarik pada permainan-permainan (games), daripada diminta menjadi pendengar yang baik atau belajar secara verbal.

Waspadalah! Dengan testosteron yang berlipat serta lebih suka gambar dan visual, anak laki-laki kita rentan terkena paparan pornografi dan games! Hmm.. saya jadi tahu alasannya kenapa para produsen porno banyak menyasar anak laki-laki kita dan memasukkannya lewat games. Ternyata mereka mempelajari ini juga untuk menyasar anak laki-laki kita. Lalu kenapa kita ngga belajar juga?

Sampai baris ini, please stop dulu perlakuan menyama-nyamakan antar anak laki-laki dan perempuan. Bukan bermaksud membeda-bedakan, tapi anak laki-laki dan perempuan kita memang diciptakan berbeda! Bahkan Allah saja memberi tugas kepada laki-laki dan perempuan dengan tugas yang berbeda-beda.

Dalam dunia pendidikan, beberapa sekolah di luar sana sudah menerapkan “Segregation” atau pemisahan antara kelas laki-laki dengan kelas perempuan. Bukan hanya soal muhrim atau non muhrim (sebagaimana aturan dalam islam), tapi soal otak yang memang Allah jadikan berbeda dan tentu saja membutuhkan perlakuan, penanganan, pendidikan, dan pengasuhan yang berbeda pula.

JADI GIMANA DONG?

Pertama, pahami dulu dan terima bahwa kita memiliki anak laki-laki, dan jangan banding-bandingkan dengan anak perempuan. Perlakukan anak laki-laki kita sebagaimana fitrahnya laki-laki. Jangan memperlakukan mereka sebagaimana memperlakukan anak perempuan. Gimana kalo mereka nanti malah jadi keperempuan-perempuanan? Repot lagi kan? Jangan-jangan maraknya LGBT salah satunya karena kita mendidik anak laki-laki dengan cara perempuan. Allahu a'lam..

Terlepas dari semua itu, laki-laki itu imam. Persilahkan mereka belajar menjadi pemimpin, belajar mengatur dan mengambil keputusan, belajar menghadapi dan memaknai kegagalan dan bangkit lagi, karena mereka nantinya akan menjadi pemimpin, paling tidak dalam lingkup keluarganya sendiri. Jadi butuh kecakapan untuk memimpin, mengatur, mengontrol, dan mengambil keputusan. Dan, kita butuh sosok laki-laki ‘tangguh’ (Ayah Hebat) untuk membina anak-laki-laki kita menjadi tangguh!.

Kedua, dalam pembelajaran, mungkin ada baiknya kita merubah pola kegiatan dan pembelajaran untuk anak laki-laki menjadi lebih banyak gerakan dan variasi. Lebih banyak kolaborasi, banyak permainan dan tantangan (belajar dari kesukaan mereka terhadap games karena kadar adrenalin dan testosteron mereka yang tinggi).

Dengan otak yang cenderung mekanik-kinestetik dan energi yang berlebih rasanya mereka memang butuh banyak bergerak. Sepertinya pembelajaran kontekstual (sesuai konteks) dan eksperiential (mengalami langsung) adalah beberapa model yang cocok untuk pembelajaran anak laki-laki.

Ketiga, ngomong jangan kebanyakan! Anak laki-laki kita bukan makhluk spesialis verbal. Dia hanya butuh mengeluarkan 7 ribu kata dalam sehari. Bandingkan dengan anak perempuan yang membutuhkan 20 ribu kata dalam sehari. Ngga sebanding kan? Jadi jangan berpanjang-panjang kata dalam memberikan arahan. Fokus pada inti persoalan. Maksimal 17 kata per kalimat. Tunggu dulu responnya, baru lanjutkan. Buat para bunda yang biasa ngasih instruksi berpanjang-panjang kata, pasti ribet kan ya? Bisa latihan kok.. dan bisa kerja sama juga dengan para ayah...

Selamat membesarkan anak laki-laki kita menjadi pemimpin yang tangguh dan soleh.

Who's the Boss?


.
A= "Anak saya kecanduan Hp, sampai susah makan, dipanggil ngga peduli, disuruh malah berontak, gimana solusinya? "
.
B= "Ya diambil saja Hp nya, sembunyikan chargernya, power bank nya, jangan isi pulsa, jangan isi paket data. "
.
A= "Tapi dia marah-marah, menangis, tantrum. Saya ngga sanggup mengatasi. "
.
B= "Harus sanggup. Yang memberi Hp pertama kali ke anak, siapa? Orang tua kan? Maka orang tua juga yang harus mengambil Hp nya, menghentikannya. "
.
*
.
Saya lalu melihat si ibu berusaha mengambil hp dari anaknya. Si anak marah-marah.
Dijambaknya jilbab ibunya, dipukulinya badan ibunya.
Dan saya lihat si ibu diam saja.
Jilbab dijambak pun kepalanya dibiarkan ketarik sampai kesakitan.
Hanya lirih mengatakan "Ngga boleh hp-an kata bu Afi itu loh.. "
.
Hhmm...
Disitulah salahnya.
Anak-anak sudah dikondisikan menjadi "bos".
Dan orang tua menjadi "pelayan" yang sendika dawuh.
Makin lama makin menjadi hingga akhirnya orang tua merasa ngga sanggup meng-handle lalu dibawalah ke tempat terapi ๐Ÿ˜‘
.
Kata seorang trainer terapi dari Australia, ketika ditanya oleh peserta bagaimana mengatasi anak tantrum, jawabnya simple, "Who's the boss? "
Orang tua atau anak yang jadi bosnya?
.
Jangan kalah sama anak.
Anak menangis? Tantrum? Biar saja.
Tetap jangan diberi apa yang dia inginkan.
Karena tantrumnya akan terus dijadikan senjata saat minta sesuatu.
Jangan panik lihat anak menangis.
Nanti juga akan diam sendiri.
Harus tahan mendengar dan melihat tangisnya.
Ngga ada ceritanya anak mati karena menangis kok.
(Duh... Sadis ya jawabannya ๐Ÿ˜‚)
.
Tetap tenang, pegang tangannya, sigap mencegah jika anak mau memukul dsb.
.
Teknik khusus menangani anak tantrum bisa bervariasi tergantung kondisi tantrumnya.
Bisa didekap dari belakang, atau kaki ditekuk, atau didudukkan di bean bag, atau yang sangat parah ditengkurapkan di atas matras.
Dan banyak teknik lainnya. Intinya terapis harus sigap.
Telat sedikit, terapisnya yang bonyok kena pukulan, jambakan, cakaran ๐Ÿ˜‚
.
Prinsipnya, anak harus diberi pemahaman bahwa tidak semua keinginan bisa dipenuhi, bahwa dia tidak boleh menjadi raja yang harus dituruti semua semuanya.
.
Setelah anak akhirnya paham bahwa usaha (tantrum) nya ngga membuahkan hasil dan akhirnya tenang, beri reward pelukan, usapan kepala atau punggung penuh kasing sayang, lalu bisikkan "Kamu hebat. Ibu sayang sama kamu. "
.
Lalu, jangan biarkan anak bengong tanpa aktivitas.
Berikan permainan-permainan yang menarik.
Lebih menarik dari gadget. Main pasir, main air, atau main bubble.
Banyak ragamnya.
.
Orang tua juga jangan lupa. Ikutlah bermain bersama anak.
Jangan minta anak lepas Hp tapi diri sendiri selalu main Hp di depan anak.
"Children see, children do."
#wag
.
Tulisan bunda Afiyah Latifah Tauhid di wall fb nya.
Sukron bunda.
Jazakillah khoir katsiro
.
Share dari grup Sharing Parenting
Copas dari Aan Ummu Hanin
-------------------------------------
Ingatlah,
jangan biarkan si kecil lupa akan dunianya..
jagalah ia,
beri ia perhatian dan kasih sayang
jangan kasih gadget dengan alasan "yg penting dia tenang , ga rewel, dst...."
STOP! Jangan beri Gadget pada si kecil...
.
---------------------------

Nasehat buat orang tua

Ketika anak lahir ke dunia, pastinya kita ingin memberi yang terbaik buat anak.

Setiap orang tua pastinya ingin anaknya kelak bahagia di dunia dan akhirat kan ya...๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Nah...
Bagaimana caranya biar anak bisa selamat tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat?

Bagaimana agar anak terpenuhi nutrisi ruhiyahnya sejak kecil, bukan hanya jasadiahnya saja?

Tentunya, orang tua yang baik akan sedini mungkin mengenalkan anak pada Allah, Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam, serta iman dan islam.

Kenapa?

Karena tak akan mungkin bisa bahagia dunia akhirat jika anak tidak kenal siapa Rabb-nya.

Dan tak akan pernah anak mendapati idola yang sesunnguhnya, selain Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam.

Apalagi tentang Aqidah, keimananan, dan agama yang kita peluk.

Jangan sampai anak kita buta agama karena lalainya kita sebagai orang tuanya. ๐Ÿ˜ฅ

Sudahkah sejauh mana usaha kita untuk mendidik anak-anak kita agar mereka menjadi anak yang sholeh dan sholehah?

Tak malukah kita nanti, ketika di akhirat kelak?

Ingatlah, yang dimintai pertanggungjawaban akan anak di akhirat nanti adalah orang tuanya, bukan yang lain.

Sibuk tak punya waktu untuk megenalkan anak pada Al-Quran, berkisah pada anak, da memperbanyak dialog iman pada anak?

Dunia tak akan ada habisnya.

Bukankah semua yang kita lakukan demi anak?

Lalu, kenapa kita biarkan gadge dan TV menjadi teman setia anak?

Benarkah itu cinta yang sesungguhnya?

-Merna Noviarni-
---------------------------------------

Menulis adalah caraku menasehati diri sendiri.

KESYIRIKAN YG SERING TDK DISADARI OLEH PELAKUNYA



Pesan SMS berantai dijatuhkan hukumnya *SYIRIK* karena sering manusia menentukan *qada* dan *qadar* yang telah ditetapkan Allah ๏ทป.

CONTOH PESAN SMS KESYIRIKAN :

1. "Siapa yang tidak mengirim pesan SMS ini, akan ditimpa musibah" .

2. "Siapa yang kirim SMS ini dalam waktu dua jam orang yang tersayang akan datang ke rumah anda".

3. "Siapa yang mengabaikan pesan SMS ini, anda akan kehilangan orang yang tersayang".

4. "Siapa yang mengirimkan pesan SMS ini kepada 4 orang, dalam masa 4 jam, anda akan mendapat rezeki yang melimpah ruah".

5. "Kirimkan pesan SMS ini minimal 12 orang, anda akan mendapat berita yang baik dalam masa 2 jam",

dan macam-macam lagi pesan SMS dalam bantuk seperti itu perlu diabaikan.

Senang cerita, ia berkait dengan perjanjian bentuk ganjaran atau musibah yang ditetapkan oleh manusia sendiri.

Manusia tak layak menjatuhkan sesuatu hukum ke atas sesama manusia melainkan atas sebab tertentu ...

Teguran untuk semua sahabat dan rakan-rakan. Untuk umat islam, pesan SMS berantai begini adalah HARAM !! .

BAHAYA PELAKU KESYIRIKAN

ุงِู†َّ ุงู„ู„ّٰู‡َ ู„َุง ูŠَุบْูِุฑُ ุงَู†ْ ูŠُّุดْุฑَูƒَ ุจِู‡ٖ ูˆَูŠَุบْูِุฑُ ู…َุง ุฏُูˆْู†َ ุฐٰ ู„ِูƒَ ู„ِู…َู†ْ ูŠَّุดَุงุٓกُ    ؕ  ูˆَู…َู†ْ ูŠُّุดْุฑِูƒْ ุจِุงู„ู„ّٰู‡ِ ูَู‚َุฏْ ุถَู„َّ ุถَู„ٰู„ًุงۢ ุจَุนِูŠْุฏًุง

Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu) dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali.
[QS. An-Nisa': Ayat 116]

ุญُู†َูَุงุٓกَ ู„ِู„ّٰู‡ِ ุบَูŠْุฑَ ู…ُุดْุฑِูƒِูŠْู†َ ุจِู‡ٖ  ؕ  ูˆَู…َู†ْ ูŠُّุดْุฑِูƒْ ุจِุงู„ู„ّٰู‡ِ ูَูƒَุงَู†َّู…َุง  ุฎَุฑَّ ู…ِู†َ ุงู„ุณَّู…َุงุٓกِ ูَุชَุฎْุทَูُู‡ُ ุงู„ุทَّูŠْุฑُ ุงَูˆْ ุชَู‡ْูˆِูŠْ ุจِู‡ِ ุงู„ุฑِّูŠْุญُ ูِูŠْ  ู…َูƒَุงู†ٍ ุณَุญِูŠْู‚ٍ

(Beribadahlah) dengan ikhlas kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya. Barang siapa menyekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.
[QS. Al-Hajj: Ayat 31]

Viralkan biar semua orang tahu..

Kalau antum pernah melakukannya maka bertobatlah.... Takut nanti menjadi dosa jariyah sepanjang masa....

ูˆุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู…

(*) Teruntuk semua ibu yang sedang berkutat dengan hari-harinya

๐Ÿ’ŒMungkin Anakmu …❤❤

Mungkin anakmu tak berbakat seperti Abu Hurairah,
Tapi dia berbakat seperti Khalid bin Walid.

Mungkin anakmu tak seperti Said bin Musayyib,
Tapi bisa jadi dia seperti Uwais Al-Qarani.

Mungkin anakmu tak seperti Khadijah binti Khuwailid,
Tapi bisa jadi dia seperti Aisyah binti Abu Bakar.

Mungkin anakmu tak seperti Hafshah binti Umar,
Tapi bisa jadi dia seperti Sumayyah Ummu Ammar bin Yasir.

Mungkin anakmu tak berbakat menjadi ulama,
Tapi bisa jadi bekal ilmu agama dan keahlian lainnya membawanya ke jalan seorang Salahuddin Al-Ayyubi.

Mungkin anakmu tak berbakat seperti Sa’ad bin Abi Waqqash,
Tapi bisa jadi Allah memberinya semangat seperti Abdullah bin Ummi Maktum.

Bisa jadi anakmu punya satu atau dua kekurangan,
Tapi bisa jadi Allah beri bashirah di hatinya seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baz.

Ibu …
Bersama semangatmu,
Bersama kesabaranmu,
Bersama doa panjangmu,
Bersama husnuzhzhanmu kepada Sang Khaliq,

Semoga dialah anak yang menjadi sebab engkau masuk surga Allah tanpa hisab dan tanpa azab. Kelak, insyaallah.

(*) Teruntuk semua ibu yang sedang berkutat dengan hari-harinya.

Barakallahu fikunna.

- athirah-

Rumah Tanpa Ayah

**
_Kajian ba'da shubuh, sabtu [6/10]_
Ust Rahmat Kurnia

Maksudnya: adanya ayah tp spt tdk ada. Keberadaan ayah tdk dirasakan keberadaannya oleh anaknya. Ayah tdk berperan sbg pendidik anak. Ayah tak boleh tdk mau tahu atau abai thd pendidikan anak.

Padahal peran ayah dalam pendidikan anak sangat sentral.

Di dalam Al Quran, potret pendidikan anak selalu berbasis ayah. Ibu, biasanya ttg penyusuan, dll. Ini menunjukkan kehadiran ayah dlm pendidikan anak sangat penting.

Misal:
*surat at tahrim 6.* Klo ayah tdk berperan mk fungsi menjaga keluarga dr api neraka tdk akan berfungsi.
*Surat Toha: 132.* Yg bertanggung jwb anak dan istri sholat adalah ayah,
*Surat Lukman: 13 - 15:*
*Surat Ya'qub: 133*
*Surat Ibrahim: 102*

*Laki dan perempuan*
Pendidikan pd anak2 antara laki2 dan perempuan itu beda,
* QS AnNajm: 45
* QS At Tahrim: 10
* QS Ali Imron: 36

*Bila tanpa Ayah?*
_QS An Nisa: 34;_ akan hilang karakter kepemimpinan (memimpin, memberikan perintah, problem solving, berani, tegas, empati, kemampuan mengambil keputusan, siap menghadapi resiko, tanggung jawab, dll)

_*Semoga anak kita, jangan sampai punya ayah namun 'yatim'*_ [Fatherless Home]

Tidak Membenturkan Fitrah dan Adab/Akhlak di Usia Dini


Oleh : Harry Santosa

Atas nama kepatuhan dan adab, kadang anak di bawah usia 7 tahunpun tidak diberi kesempatan mengembangkan fitrahnya termasuk fitrah individualitasnya, fitrah seksualitasnya, fitrah bahasa dan estetikanya, fitrah bakatnya dstnya.

Adab dan akhlak sering dibenturkan dengan fitrah perkembangan anak, ditabrakkan dengan fitrah keunikan anak, dikonfrontasikan dengร n fitrah individualitasnya bahkan fitrah keimanannya sekalipun. Semuanya karena tergesa ingin melihat anak nampak Sholeh dan Beradab.

Padahal itu tidak perlu terjadi, karena sesungguhnya Fitrah dan Adab saling berkaitan dan saling menguatkan. Fitrah sebagai modal dasarnya dan Adab sebagai buahnya apabila fitrah tumbuh paripurna pada tahap yang tepat dan dipandu Kitabullah.

Fitrah adalah potensi kebaikan (original goodness atau innate goodness) yang siap menerima Kebenaran Wahyu, meliputi fitrah iman, fitrah belajar dan bernalar, fitrah bakat, fitrah individualitas dan sosialitas, fitrah estetika dan bahasa dstnya.

Sementara Adab adalah amal atau tindakan yang beradab dan bermartabat yang dipandu Kitabullah meliputi adab pada Allah, adab pada diri, adab pada sesama, adab pada Alam, adab pada ilmu dan ulama dstnya.

Agar Fitrah dan Adab bisa saling menguatkan maka kuncinya diantaranya adalah memahami tahap perkembangan dan keunikan anak, sebagaimana Allah juga memberi contoh tahapan usia dalam mendidik anak dan menghargai keunikan amal.

Contoh 1. Lihatlah mengapa sholat (adab pada Allah) baru diminta diperintahkan pada anak saat usia 7 tahun bukan sejak dini, karena memang gerakan sholat yg formal cocok untuk anak mulai usia 7 tahun dimana kesadarannya bahwa ada aturan dan perintah baru dimulai pada usia 7 tahun. Jika kita terburu ingin melihat anak beradab dan patuh pada Allah dengan memerintah sholat pada usia di bawah 7 tahun, maka hasilhya akan kontra produktif, bisa jadi malah membenci sholat. Jangan salah duga, tentu diinspirasikan indahnya sholat boleh dan sangat baik dengan menguatkan gairah cinta anak pada Allah dsbnya. Jika cintanya tumbuh kuat pada usia di bawah 7 tahun, maka di atas usia 7 tahun, mereka akan menyambut sholat dan perintah Allah lainnya dengan sukacita. Ini pertanda Adab mereka pada Allah terbentuk baik sebagai buah dari fitrah iman yang tumbuh indah.

Contoh 2. Tentang adab pada manusia, misalnya berbagi pada teman. Anak di bawah usia 7 tahun masih ego sentris, sehingga jangan dipaksa untuk berbagi. Misalnya ketika mainannya direbut temannya, atau ketika sedang menyukai makanan tertentu, maka jangan tergesa memaksa mereka utk berbagi karena ini tahap penguatan individualitasnya, jatidirinya dstnya. Memaksanya berbagi akan membuat mereka menjadi tidak kokoh egonya, tidak utuh individualitasnya dll sehingga pada tahap berikutnya akan membuat menjadi peragu, malah sulit bersosial dsbnya.  Jangan salah duga, diinspirasikan indahnya berbagi tentu boleh, namun bukan dipaksa "on the spot" dengan alasan agar memiliki akhlak atau adab. Setelah usia 7 tahun, jika fitrah individualitasnya bagus mereka akan mampu berkorban sebagai adab tertinggi pada sesama.

Contoh 3. Beberapa keunikan anak atau Fitrah bakat kadang muncul seolah tidak beradab, misalnya anak yang berbakat memimpin umumnya nampak keras kepala dan tidak suka diatur, anaknya yang berbakat seni umumnya moody dan sensitif, anak yang berbakat pemikir umumnya nampak anti sosial dan pendiam dsbnya. Jika kita tidak memahami fitrah bakat atau keunikan anak dan tergesa ingin melihatnya berakhlak atau beradab, maka kita akan memaksanya menghilangkan keunikan nya tersebut. Padahal tugas kita membantu menguatkan potensi keunikannya dan menyempurnakan akhlaknya dimulai dari keunikannya tsb. Fitrah keunikan atau fitrah bakat jika tumbuh paripurna kelak akan menjadi peran peran peradaban terbaik yang akan menjadi adab bagi kehidupan dan masyarakat. Karenanya untuk fitrah bakat, kita Fokus pada cahayanya saja, nanti kegelapannya akan tidak relevan.

Mari tetap rileks dan optimis, Allah telah instal fitrah atau karakter bawaan baik dalam diri anak anak kita, banyaklah mensyukurinya, sehingga Allah curahkan banyak hikmah dalam mendidik. Jangan obsesif dan tergesa yang dapat menyimpangkan bahkan menciderai fitrah ananda. Yakinlah jika fitrahnya tumbuh baik maka  adab akan mudah ditanamkan karena keduanya dari Allah SWT.

Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasisfitrahdanakhlak
#pendidikanberbasispotensi

(dari laman fb Harry Santosa, konseptor Fitrah Based Learning-penulis buku Fitrah Based Learning-dan founder Millenium Learning Center)

Bukan Untuk Bermain, Aku Diciptakan

Jelas sekali, ada hasil yang luar biasa dari ketidakbermainan Yahya di usia kecilnya untuk mendapatkan sejak awal: pemahaman, ilmu, kesunggu...