Senin, 22 Oktober 2018

5 *Kiat Praktis Melatih Anak Lelaki Menjadi Qowwam Yang Dicintai Allah*



Oleh : Iin Savitry, *Bunda Bidadari*

Serial Kulwa Pengasuhan Anak Muslim


Sesi 5
*Tahapan Menumbuhkan RASA CINTA Shalat Kepada Anak ( Hubungan Antara Dialog Imani dan Skala Prioritas Dalam Mengasuh Fitrah Anak)*

*MENGAJARKAN ANAK SHOLAT DENGAN CINTA*


Semua latihan fiqih qowwamah sejatinya diajarkan oleh Allah melalui ritual ibadah shalat. Begitu penting ritual ibadah shalat bagi kaum beriman khususnya kaum lelaki diwajibkan shalat berjamaah di masjid. Sampai Rasul saw 'mengancam' membakar rumah muslim yang di dalamnya ada lelaki tapi tak shalat subuh di masjid.Sampai beliau dan para khulafaur rasyidin memilih pemimpin dengan melihat kehadiran shalat wajibnya juga tahajudnya.

Dan, nilai2 fiqih qowwamah itu sejatinya adalah pengejawantahan dari nilai-nilai shalat.
Di shalat, kita diajarkan untuk memerhatikan WAKTU. Jadi kita diarahkan untuk menjadi terampil dalam mengatur waktu. Inilah esensi dasar dari kehidupan seorang Mukmin....
Manajemen Waktu.
Semua upaya manajemen dan  pengembangan diri harus disesuaikan dengan batas waktu yang sudah Allah tentukan dalam jadwal shalat.

Jadi, bagi ortu, sangat penting menjaga dna menumbuhkan kesadaran anak untuk mendirikan shalat. Dalam keadaan rela atau terpaksa.

Sebagai hasil renungan saya ketika mencari cara untuk bisa mengajarkan shalat secara bertahap, santai dan cukup menyenangkan bagi anak, saya membuat tahapan latihan shalat seperti ini :

0-7 Tahun

 7      tahun ---- Shalat Subuh
8-9    tahun ---- + shalat magrib dan isya
9-10  tahun ---- + shalat zhuhur dan ashar
10      tahun ---- rutin shalat 5 waktu

Jika anak sudah cukup ajeg pembiasaan shalat 5 waktunya, ditambahkan latihan shalat sunnah utama.

Saya bagi 3 shalat sunnah yang perlu dilatih oleh anak berdasarkan tingkat manfaat:
1. *Shalat rawatib*--- fungsinya untuk menutupi kekurangan dalam pelaksanaan shalat wajib
2. *Shalat tahajud*--- fungsinya untuk menguatkan jiwa anak dan tahan banting dalam menjalani perannya sebagai khalifatullaah fil al 'ardh
3. *Shalat Dhuha* ---- fungsinya untuk memperkuat ghirah anak menjalani peran keqowwamannya di keluarga besar dan lingkungan.

Untuk tahapannya, karena jumlah shalat rawatib sunnah muakad cukup banyak dan akan sangat berat (secara fisik dan batin)  dilaksanakan oleh anak, maka saya buat target-target:

a. 10 tahun ---- rutinkan shalat sunnah qobla Subuh dan shalat tahajud minimal 2 rakaat dengan membaca surah hafalannya sendiri atau langsung memegang mushaf Alquran
b. 11- 12 tahun --- setiap 6 bulan tambahkan shalat sunnah ba'da  zhuhur/ba'da magrib/ba'da isya sesuai kesepakatan anak + tahajud diperpanjang bacaannya
c. 13-14 tahun --- ditambahkan shalat qobla zhuhur. Tahajud dirutinkan minimal 1 juz/malam.
d.14 tahun ---- dilatih shalat dhuha minimal 2 rakaat.

Diharapkan di usia 14 tahun ia sudah terbiasa merutinkan shalat sunnah rawatib dan tahajud. Saya menggunakan tokoh Muhammad Al Fatih sebagai contoh pemimpin yang tak pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib dan tahajud begitu dia aqil baligh. Berarti latihannya sudah dimulai sebelum dia baligh.

Shalat dhuha dibelakangkan karena berurusan dgn karakter amanah dan tabligh. Berhubungan dengan program pribadi anak untuk meningkatkan kemampuan memberi nafkah  dan berdakwah di luar keluarga inti.

Dengan memberikan DAN menjelaskan tahapan belajar shalat seperti di atas ke anak , saya berusaha mempersiapkan wawasan dan mental mereka dulu. Jadi mereka diajak untuk _*merencanakan proses belajar shalat*_ dengan bermodalkan pikiran kritis dan bertahap.

Saya menjelaskan *MENGAPA* dan *UNTUK APA* saya membuat tahapan belajar di atas dengan menggunakan berbagai buku utama seperti terjemah Alquran, asbabunnuzul ayat&surah, tafsir, buku SIROH NABI MUHAMMAD Saw, hadits2 terkait shalat, juga buku2 fiqih dan buku2  mukjizat sains alquran dan hadits.

Plus saya jelaskan tahapan cara kerja otak manusia, cara kerja organ tubuh manusia,  dan perkembangan anak.

Semua penjelasan itu sebenarnya adalah modal ilmu2 dasar (fiqih qowwamah, fiqih pengasuhan keluarga dll) yang dibutuhkan anak untuk bisa menjalani perannya dengan optimal kelak.

Beberapa manfaat dari pemberian tahapan belajar shalat seperti di atas:

1. Anak diajak berpikir kritis, harus ada dalil dan tahapan belajar yang jelas dan terukur  (secara wawasan, fisik dan mental)  sebelum melakukan suatu amal ibadah mahdhoh.
2.Anak diajak merencanakan dan mempersiapkan  program belajar shalatnya dengan santai
3. Anak merasa santai dan tidak diburu-buru karena ada cukup banyak waktu untuk berlatih pembiasaan shalat
4. Anak dilatih untuk bisa menilai sendiri batas kekuatan dirinya dalam berlatih, dan dilatih untuk memotivasi dirinya agar bisa 'lulus belajar shalat' tepat pada waktunya.
5. Anak dilatih untuk membuat sendiri target-target belajarnya asal tidak melanggar standar dasar yang telah ditetapkan.  Jadi anak bisa mengakselerasi sendiri tahapan belajar shalatnya.
6. Anak dilatih untuk memperhatikan syarat2 yang harus dipenuhi agar dia bisa menjalani tahapan belajar shalat dgn benar (ilmu nutrisi, olah tubuh,pengaturan waktu, pembiasaan tilawah alquran  dll)
7. Ortu juga jadi lebih tenang karena tak menggesa anak untuk langsung 'jago' dan
'hebat' dalam berlatih shalat.



Dengan membiasakan FISIK anak dengan latihan shalat, diiringi dengan kesabaran kita membacakan Alquran, mengisahkan isi Alquran, hadits,  dan sejarah hidup orang2 hebat, plus ketegasan menemani anak berlatih tangguh di rumah, insyaAllah otot kepemimpinan anak lelaki kita akan lebih mudah terbentuk.

Semua upaya pelatihan fisik dan mental di rumah ini, diharapkan akan membentuk 80% modal dasar karakter qowwamah kepada anak.

Jadi, ketika anak memulai waktunya belajar di luar rumah (merantau), insya Allah ia akan cukup kokoh menghadapi tantangan zaman di luar sana.

Bahkan, ia bisa menjadi motivator dan inspirator kebaikan di lingkungan ia berada.
Kehadirannya membawa manfaat nyata di lingkungan.

Inilah yang disebut pribadi yang *rahmatan lil 'alamin* .
Yaitu pribadi yang kehadirannya membuat siapa pun mengingat akan kebesaran Allah SWT.

Allahu a'lam bishshawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bukan Untuk Bermain, Aku Diciptakan

Jelas sekali, ada hasil yang luar biasa dari ketidakbermainan Yahya di usia kecilnya untuk mendapatkan sejak awal: pemahaman, ilmu, kesunggu...