Senin, 22 Oktober 2018
Akan Datang Kengerian
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Pengantar
Tulisan ini saya susun sekitar 18,5 tahun lalu. Sempat dimuat salah satu surat kabar nasional untuk penerbitan edisi DIY – Jateng dan masuk pula di buku saya berjudul “Membuka Jalan ke Surga” terbitan Pustaka Inti, 2004 (16 tahun lalu). Jadi sebelum peristiwa tsunami Aceh, gempa maupun letusan Merapi Jogja, apalagi peristiwa-peristiwa terkini.
Saya menemukan kembali di HP. Sempat dua kali saya posting di FB di tahun yang berbeda, semoga catatan lama ini bermanfaat, setidaknya untuk kita renungi bersama. Bukan untuk menyalahkan siapa pun.
***
Kemarau yang panjang ini masih akan berlanjut, kegersangan yang membuat tanam-tanaman tak bisa tumbuh dengan sempurna, masih akan terjadi. Hutan-hutan yang menghijau akan enggan menahan air untuk kita. Sementara gempa mungkin akan mengguncang kita, hingga kita lari ketakutan. Tak ada tempat untuk berlindung, sedangkan doa orang-orang shalih tak lagi dikabulkan oleh Allah Ta’ala.
Apa sebabnya? Bukankah Allah Ta’ala perintahkan kita untuk berdo’a dan Ia berjanji akan mengabulkan setiap permintaan kita?
Ya…, Allah Maha Mendengar. Ia kabulkan setiap permintaan selagi tak ada perkara yang menghalangi. Ada beberapa sebab yang menjadikan Allah Ta’ala mengizinkan sebuah negeri hancur, dan sebuah kaum ditimpa kesengsaraan yang berkepanjangan. Mereka hidup di antara musibah demi musibah. Mereka bernafas di antara bencana demi bencana. Sesudah satu kengerian berlalu, datang lagi keguncangan yang lebih mengerikan.
Boleh jadi kengerian itu datang dari tindakan kita yang salah perhitungan. Boleh jadi ketakutan itu mencekam setiap hati karena ganasnya manusia. Atau boleh jadi, kita lari dari satu bencana menuju bencana berikutnya yang lebih besar, sementara langit tak lagi menurunkan hujan. Kalau saja Allah Ta’ala tidak kasihan kepada binatang-binatang yang kehausan, tentu bumi akan terbakar dan sumur-sumur akan mengering seluruhnya.
Teringatlah saya kepada hadis riwayat Ibnu Abdil Barr.
Allah mengutus dua malaikat untuk membinasakan sebuah desa dan semua isinya. Dua malaikat tersebut mendapatkan seorang yang sedang shalat di sebuah masjid. Dua malaikat itu berkata, “Wahai Tuhanku, di desa ini ada seorang hamba-Mu yang sedang shalat.”
Allah berkata, “Hancurkan desa tersebut dan hancurkan ia bersama-sama karena wajahnya tidak merah, marah karena-Ku” (HR. IbnuAbdul Barr).
Kapankah doa orang shalih tak sanggup menghindarkan sebuah negeri dari bencana yang menakutkan? Ummu Salamah bertutur:
Aku mendengar Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kemaksiatan merebak di antara umatku, maka Allah akan menimpakan azab yang mengenai siapa saja.”
Shahabat bertanya, “Wahai Rasul Allah, bukankah di antara mereka ada orang yang shalih?”
Beliau menjawab, “Betul.”
Shahabat berkata, “Apa yang ditimpakan kepada mereka?”
Beliau menjawab, “Mereka juga merasakan apa yang dirasakan oleh orang umumnya. Mereka mendapatkan pengampunan dan ridha Allah.” (HR. Ahmad).
Hari ini, marilah kita berhenti sejenak untuk melihat diri kita sendiri. Ketika kemaksiatan telah dianggap kesenian, apakah yang sudah kita lakukan? Ketika memperlihatkan aurat telah dianggap sebagai hak dan kemerdekaan, apakah yang sudah kita lakukan? Ketika TV berlomba-lomba menayangkan pantat dan pusar sebagai tuntutan pasar, apakah yang sudah kita lakukan? Kalau kita hanya mengucap istighfar di bibir sembari tetap menikmati dan tertawa, maka bersiaplah menyambut ketakutan demi ketakutan di depan kita. Bersiaplah melihat sungai-sungai besar mengering, mata air berhenti mengalir, dan tanah yang kita pijak pecah membentuk retakan-retakan. Bersiaplah menghadapi paceklik panjang, ketika tanah-tanah subur tak lagi menumbuhkan tanaman. Sedangkan pohon-pohon yang biasanya sepanjang tahun bisa kita petik buahnya, akan berhenti berbunga. Tak berbuah kecuali sangat sedikit atau bahkan tidak sama sekali.
Di saat itu, kemiskinan merata di seluruh negeri, kecuali pada sebagian kecil orang saja. Padahal, barang-barang yang membuat hati sangat mengingini, sangat banyak bertebaran. Airmata tumpah di mana-mana. Sementara para pemimpin hilang kasih-sayangnya. Tak ada yang mereka pikirkan kecuali bagaimana menambah kekayaan. Sedangkan bergantinya pemimpin, sesungguhnya hanyalah pergantian kekuasaan yang menindas.
Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umat ini akan selalu di tangan dan pertolongan Allah selagi para ulamanya tidak diperkaya oleh para pemimpinnya dan selagi orang-orang yang baik tidak menganggap baik orang-orang yang fajir (jahat), dan selagi orang-orang jahat tidak menghinakan orang-orang yang baik. Bila mereka melakukan semua itu, maka Allah akan mengangkat Tangan-Nya dari mereka dan orang-orang yang kejam akan menguasai dan menindas mereka. Kemudian Allah menurunkan paceklik dan kemiskinan.” (Marasil Hasan Bashri).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Bukan Untuk Bermain, Aku Diciptakan
Jelas sekali, ada hasil yang luar biasa dari ketidakbermainan Yahya di usia kecilnya untuk mendapatkan sejak awal: pemahaman, ilmu, kesunggu...
-
//Musuh Terbesar Orangtua dalam Mendidik Anak// Oleh : Nay Beiskara _Musuh terbesar dalam mendidik anak-anak, bukanlah internet, televis...
-
.. 💐Itu udah bener mba. Mgkin jadwal anak2 kami ketika usia 0-7 thn bisa jadi masukan: 04.30 Bangun dan mandi.Anak2 sudah wangi siap d...
-
Fatwa Syaikh Ibrahim bin Amir Ar Ruhaili hafizahullah (Guru pasca sarjana jurusan Akidah di Universitas Islam Madinah dan pengajar teta...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar