Ketika bertemu dengan kata tips, pikiran saya terkadang langsung mengarah pada temuan ide yang berdasar pada pengalaman. Bisa jadi pengalaman itu yang tidak disangka karena telah berhasil menemukan solusi.
Atau terkadang melihat pada pengalaman orang lain yang mengalami kesulitan lalu terbantu oleh solusi yang bisa kita ciptakan. Misal DIY, sebenarnya tips yang diciptakan oleh krrator DIY berdasar pada pengalaman orang lain atau pribadi. Karakteristik tips yang lainnya adalah bahagia karena terbantu satu urusan. Setuju?
Demikian salam pembuka dari tulisan Tips Ala-ala Emak versi pengamatan saya. Semoga tetap setia membaca tulisan ini hingga akhir dan bisa memetik manfaat dari hasil membaca tulisan ini ya. Hehe semoga😘.
Bismillah mari kita mulai ya. Tips yanh ingin saya bagikan sebenarnya ada beberapa dan temanya tentang menjadi ibu bahagia. Huhuhu. Beraaaat bahasannya. Tapi kita terkadang banyak melupakan satu hal yang sangat penting dalam hidup kita, yaitu BAHAGIA.
Tugas ibu dimulai dari terbukanya mata hingga tertutup karena kelelahan terkadang tak kita sadari, diri kita sendiri telah melupakan hak diri untuk memilih bahagia. Betul?
Bahagia dalam hal bukan menghamburkan harta atau berfoya-foya. Tapi bahagia, bahwa jalan yang kita pilih adalah memang passion kita dengan penuh kesadaran bahwa memilih menjadi seorang ibu dan bertanggungjawab dengan semua perannya sudah Allah janjikan balasan terbaik dariNya.
Rutinitas melayani dan mengabdi di dalam rumahtangga terkadang hanya menjadi rutinitas da tidak menghadirkan semangat untuk meraih rasa baahagia. Karena rasa bahagia haruslah dihadirkan untuk membagi perasaan dan aura positif kita dengan sekeliling kita.
Bahagia lahir pertama karena rasa syukur kepada Allah. Bayangkan jika rasa bahagia tak pernah hadir di dalam diri kita. Ada pertanda jiwa kita atau hati kita sedang "sakit". Bahagia dimiliki oleh orang yang dekat dengan Allah. Bahagia dimiliki oleh hamba Allah yang pandai bersyukur. Bahagia dimiliki hamba Allah yang sedang "bersabar" dan sedang dalam "syukur".
Jika kita ibu bahagia, maka seisi rumah akan benderang. Namun jika ibu beesedih maka hal yang sebaliknya terjadi di dalam rumah. Saya rasa kita setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa ibu "jantungnya rumah"
"Bahagiakan istrimu maka rumahmu kan benderang". Saya rasa kita sudah terlalu mengenal tulisan yang viral ini ya.
Baik, bagaimana menghadirkan bahagia dalam diri seorang ibu,
1. Hadirkan Syukur
Menghadirkan rasa syukur bahwa kita adalah pilihan Allah yang telah ditunjukNya menerima amanah langsunh dariNya, rahim yang Allah berikan, telah Allah hadirkan seorang anak yang kelak akan kita didik menjadi hamba Allah yang salih atau salihah.
Hadirkan rasa syukur kita, karena tak sedikit saudara kita yang berjuang untuk memperoleh keturunan. Ingatlah ketika Allah beri kemudahan, usahakan tidak mengeluhkan karunia yang telah Allah berikan kepada kita. Karena tak sedikit seorang ibu yang mengeluh ketika Allah tambahkan amanahNya mendidik anak-anak salih dan salihah menjadi generasi yang taat kepada Allah.
2. Kenali Peran Ibu
Mari kita bayangkan jika seorang ibu tidak memiliki tutorial menjalankan perannya? Sedangkan tugasnya di dalam rumah sungguh memiliki peran yang luar biasa terhadap pendidikan anak-anaknya. Betapa sedihnya jika kita akan menjalankan sebuah tanggungjawab tapi tidak tahu harus memulainya dari mana, bagaimana menjalankannya, siapa yang akan menjadi teladan dan apa yang akan dilakukan kita masih belum tahu?
Al Um Madrasatul Ula. Ibu Madrasah pertama anak, jika ibu tak memahami perannya, dari mana anak akan memulai belajar adab jika tak dimulai dari ibunya yang mengajarkannya. Dari mana seorang anak mengenal Allah jika ibunya yang terlebih dahuly mengenalNya. Dari mana seorang anak mencintai Nabinya jika ibunya mengenalnya dengan baik dengan seluruh ahlul bait dan para sahabatnya.
Ibu, jika kita tau arti peran seorang ibu maka sudah selayaknya kita akan menjaga diri. Keteladanan akan dicontoh oleh anak-anak kita. Ibarat sebuah cermin, jiwa anak akan terwarnai oleh perangai serta tindak tanduk seorang ibu. Jadi pencitraan untuk menyampaikan kebaikan dengan menghadirkan Rasa Diawasi oleh Allah itu sangatlah penting.
Segala perbuatan kita dalam rangka mendidik anak-anak untuk mengenal Allah dan mencintai KekasihNya serta menjadikan Alquran sebagai pedoman, sungguh ini tak main-main.
Ada masanya purna bakti kita dimintai Allah sebagai rasa tanggungjawab, anak yang Allah titipkan, diajarkan apa saja? Apakah anugerah yang Allah titipkan diajarkan menjauhi Allah atau kita tanamkan keimanan sejak mereka lahir?
3. Berkumpullah dengan Orang Salih
Ibu, bahagia hadir karena seorang sahabat yang berani mengatakan dan menasehati kesalahan yang kita lakukan.
Memilih sahabat atau komunitas yang banyak mengingat Allah dalam konteks menghadirkan bahagia adalah penting.
Sudah berapa banyak perkumpulan atau komunitas yang kita saksikan hanya untuk ajang pamer kekayaan? Persaingan tidak sehat, bahkan ajang ghibah dan gunjing tidak terelakkan.
Datangilah majelis ilmu bersama teman yang bisa saling mengingatkan. Karena kita akan dicari-cari oleh sahabat yang sama-sama satu visi mendambakan surga.
Lebih baik lagi bila persahabatan kita berdasar cinta kepada Allah. Persaingan kita dalam hal kebaikan, untuk berlomba dalam menebar kebaikan.
4. Berpartner dengan Suami
Mendidik anak atau mengerjakan pekerjaan rumah bukanlah tugas yang mudah. Mengelola rumah sehingga bisa berfungsi sebagaimana mestinya sungguh teramat berat jika kita tidak melibatkan pemimpin rumahtangga.
Sekadar berbagi tugas yang ringan ini akan mengundang rasa bahagia, karena sesungguhnya wanita hanya ingin berdampingan dengan pasangannya dan akan sangat bahagia bila pekerjaannya ikut ditanggung oleh suami. Huhu, dunia serasa milik dia sendiri😁. Yang tersenyum saya yakin di dalam hatinya merindukan hal yang seperti ini.
Melibatkan suami dalam mengurus rumahtangga tidak menjadikan harga diri sebagai pimpinan rumahtangga menjadi turun, justru inilah keteladanan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah yang rela membantu para istrinya.
Keluh kesah seorang wanita dalam menjalankan tugas kesehariannya akan menjadi ringan jika ada pundak suami yang dijadikan sandaran untuk menumpahkan segala rasa yang telah dilalui dalam sagu hari.
Jadi jangan lupa untuk berpartner dengan suami dan pilah menceritakan sahabat-sahabat kita dalam curhat kepada suami. Saringlah apa-apa yang akan kita curhatkan kepada suami, agar tidak terjadi hal yang tidak seharusnya kita lakukan.
5. Menyediakan Waktu untuk Me Time
Berhenti sejenak dari rutinitas dan melakukan hal-hal yang kita sukai, sejauh pandangan yang berdasar pada syariat dan tidak melanggar perintah Allah dan Rasul, tidak menjadi masalah.
Melakukan hal yang mengundang bahagia bisa dimulai dari passion yang kita pilih mampu mengundang bahagia dan memang yang kita pilih untuk disukai.
Terkait waktu lama atau sebentarnya me time kita dapat mengaturnya dengan jadwal keseharian. Dan harus dengan persetujuan suami. Terbayang kan bun, me time apa yang akan kita lakukan?
6. Menambah Kedekatan Kita kepada Allah
Seorang Nabi dan juga seorang raja, menambah rasa syukurnya dengan sangat berdisipilin dalam menambah syukur. Nabi yang maksum dan telah dijamin masuk surgaNya Allah saja masih menambah ketaatannya dalam bentuk ibadah dan perbuatan baiknya.
Lalu bagaimana dengan kita masusia akhir zaman?
Tak sedikit yang lalai dengan kenikmatan dunia. Dan ujian kelapangan rizki ini akan sangat memabukkan karena ketika diri telah merasa harta yang kita miliki telah menjamin hidup kita, maka di sinilah kehancuran itu akan di mulai.
Menjauhnya kita dari Dzat Pemberi Rizki Yang Maha Kaya hanya karena harta yang Allah titipkan, sungguh sangat disayangkan. Naudzubillah.
Ujian kelapangan rizki terkadang mampu melenakan kita untuk mulai malas bangun di sepertiga malam. Malas untuk menengadahkan tangan serta menangis bagaimana menjalani hari-hari di alam akhirat.
Kedekatan kita di saat kelapangan rizki dan rumahtangga yang tentram dan bahagia, jika tidak ditambah syukur dengan mendekatkan diri kepada Allah, rasanya sungguh kita termasuk ke dalam golongan hamba yang tidak tahu cara bersyukur.
Tegakkan salat malam, makmurkan majelis ilmu di dalam rumahtangga kita, gempur anak-anak untuk menghujamkan keimanan terhadap Allah.
7. Muliakan Orangtua Kita
Untuk menulis kelanjutan dari poin ke tujuh ini sungguh amatlah berat, karena saya sendiri sedang berusaha untuk menjadi anak yang baik, belajar bakti kepada orangtua.
Keyakinan saya dengan memuliakan orangtua tentu semua nya berawal dari doa-doa mereka. Kasih sayang mereka dari sejak kita kecil, masyaAllah tidak akan bisa kita membalasnya.
Kasih orangtua kan terus menerangi jalan kita. Tangan-tangannya yang kini keriput, tentu Allah sangat mengenalinya, tangan-tangan itulah yang tiap malam menengadah memohon kesuksesan kita du dunia maupun di akhirat.
Airmatanya dan kasih sayangnya tak lekang oleh masa. Mereka lah orang pertama yang akan membela kita. Mereka orang pertama yang akan bangga akan prestasi kita dan mereka pula orang yang paling lama mendoakan kita. Terkadang mereka menahan keinginan-keingainanya agar kita bisa bahagia.
Ya, masa kecil kita adalah masa paling bahagia karena mereka banyak mengalah dengan kita. Ketika mereka renta, tak pernah sekalipun mereka mengungkit kebaikannya. Sungguh muliakanlah mereka. Orangtua kita.
Jika sampai hari ini kita belum bisa memberikan materi dan kesenangan di hari tuanya. Paling tidak kita memilih menjadi anak salih atau salihah yang akan menjadi tabungan jariyahnya ketika mereka Allah panggil.
Pada hari ini, tak sedikit yang tertipu memilih arti bahagia, bahkan tak jarang melupakan bagaimana memilih bahagia.
Sebagian yang lainnya mengartikan bahagia dengan berfokus pada seberapa banyak kekayaan yang mampu kita simpan. Sebagian yang lainnya menilai bahagia dari kemewahan dan kemampuan seseorang memiliki benda-benda duniawi.
Padahal bahagia sangat sederhana, bermula dari jiwa dan hati yang bersih, ikhlas mdengantakdir yang Allah tentukan ketetapannya. Kesedian diri untuk bersyukur atas apa yang telah Allah berikan. Bukan mengharap kepada apa-apa yang belum kita miliki.
Allah adalah Dzat yang Maha Adil terhadap setiap hambaNya. Allah berikan rasa bahagia pada keluarga yang sederhana, dengan menghadirkan pandangan yang sejuk lagi menenangkan terhadap anak dan istrinya sedangkan mereka untuk makan esok hari masih harus berjuang. Allah hadirkan senyum di rumah-rumah dengan cahaya lilin yang mengajarkan huruf-huruf hijaiyah dengan bacaan Alquran yang terbata-bata.
Allah hadirkan bahagia pada pasangan yang mendengar keputusan dokter bahwa didalam rahim istrinya telah terdapt janin yang telah ditunggu-tunggu.
Allah berikan pemimpin laki-laki yang adil lagi memihak kepada rakyat dan takut pada Allah. Sungguh inilah rasa bahagia hamba Allah jika di negaranya telah Allah pilihkan untuk memimpij negeri yang menyeru untuk lebih taat kepadaNya.
Allah berikan kebahagiaan kepada seorang suami yang mampu mendidik istrinya untuk taat dengan memulai menghijabi dirinya dengan pakaian yang menutup aurat.
Allah berikan kebahagiaan kepada siapa saja yang di dalam jiwanya menghadirkan Allah serta melafaldzkan kalimat hamdalah.
Bahagia tak dapat dibeli oleh hartawan, milyuner sekalipun. Toko bahagia di dunia pun belum dapat memproduksi perasaan bahagia, belum satu pun toko di dunia yang menawarkan menjual kebahagiaan yang hakiki.
Dan sejatinya bahagia yang hakiki ketika Allah memberikan ridhaNya terhadap amalan yang kita lakukan.
- miya -
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Bukan Untuk Bermain, Aku Diciptakan
Jelas sekali, ada hasil yang luar biasa dari ketidakbermainan Yahya di usia kecilnya untuk mendapatkan sejak awal: pemahaman, ilmu, kesunggu...
-
//Musuh Terbesar Orangtua dalam Mendidik Anak// Oleh : Nay Beiskara _Musuh terbesar dalam mendidik anak-anak, bukanlah internet, televis...
-
.. 💐Itu udah bener mba. Mgkin jadwal anak2 kami ketika usia 0-7 thn bisa jadi masukan: 04.30 Bangun dan mandi.Anak2 sudah wangi siap d...
-
Fatwa Syaikh Ibrahim bin Amir Ar Ruhaili hafizahullah (Guru pasca sarjana jurusan Akidah di Universitas Islam Madinah dan pengajar teta...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar