Senin, 22 Oktober 2018
Dulu, aku juga pernah menjadi anak-anak. Oleh: Fitri Arianza
.....
Siang itu saya dan Syamil (Anak sulung saya, 4Tahun) hendak membeli sesuatu di Swalayan. Kami memilih waktu siang karena tidak begitu ramai.
Saat tiba di swalayan, kami langsung mencari barang yang ingin dibeli di rak-rak yang tersedia.
Saat tiba di rak Snack, disitu ada ibu-ibu bersama anak pereumpuannya yang sedang menarik-narik baju si ibu dan merengek minta dibelikan sesuatu. Sesekali anak itu berteriak melengking, suaranya lebih tinggi ketimbang vokalis musik rock yang sedang diputar di swalayan itu.
Taksiran saya usia anak tersebut adalah 4 atau 5 tahun.
Anehnya ibu itu tidak bergeming sama sekali dengan rengekan anak tersebut, hanya memasang muka cemberut dan tetap berjalan mengisi keranjang belanjaannya.
.
Saat kami ingin membayar belanjaan kami di kasir, rengekan anak itu makin menjadi-jadi. Pegawai swalayan pun mulai memasang tampang was-was.
Sampai tiba2 tidak sengaja tangan si Anak menyenggol rak kecil yang memajang rapi alat-alat kosmetik, sehingga beberapa botol bedak tabur berjatuhan di lantai.
Tak pelak si Ibu pun berteriak membentak si Anak sampai seisi swalayan pun terkejut bukan kepalang.
"Diiiaamm... mamak bawa kamu supaya kamu tidak mengganggu dan pukul adekmu di rumah. Sudah berapa pot dan gelas juga kamu udah pecahkan. disini pun kamu buat ulah."
Saya tidak begitu ingat apa persisnya perkataan si Ibu tersebut. Tapi yang jelas, semua 'dosa' si Anak berhasil si ibu umumkan di swalayan sampai seisi swalayan tau.
Setelah semua diam sejenak, para pegawai swalayan pun berdatangan kesitu untuk merapikan botol bedak yang berserakan di lantai. Kemudian musik rock yang tadinya diputar pun dimatikan. Hanya tinggal suara deru kendaraan di luar swalayan.
.
Saat itu Syamil pun hanya bisa terpaku melihat si Anak beserta ibunya itu, sesekali ia menatap ke arah saya. Refleks saya pun menarik Syamil agar dia merapat kepada saya.
Hingga si Ibu melanjutkan repetannya untuk si Anak,
"Kamu tu ya, jadi lah anak yang bikin hati mamak dan ayah tenang. Kalaupun capek jadi mamak gak kesal sama kamu"
Ini yang saya tidak menyangka sama sekali. Namun saya rasa itu nasihat dan penyesalan si ibu yang sudah membentak si anak. Namun karena si Ibu pun setengah berteriak jadi seisi swalayan lagi-lagi tau. Namun agaknya lebih tepat itu adalah pembenaran diri karena si Ibu sudah kadung malu karena _Lost Control_.
Kulihat si Anak hanya bisa tertunduk memegang ujung bajunya, menahan tangis setengah mati. Hingga kemudian ketika kelopak matanya tak sanggup membendung, air matanya pun jatuh berlinang-linang. Itu air mata sedih.
.
Seiring kejadian itupun, pikiran saya sedang me-rewind suatu kenangan lalu.
Dulu, saat saya pernah menjadi anak-anak. Tepatnya, saat saya duduk di sekolah SD. Salah satu guru menegur saya di depan teman-teman seisi kelas, karena pengaduan seorang wali murid tangan anaknya terkilir karena ulah saya.
Tanpa menanyakan bagaimana kejadian sebenarnya, sang Guru langsung berkata bahwa teman saya tidak masuk sekolah dan ketinggalan pelajaran berhari-hari karena kelakuan saya saat itu.
Ketika kecil pun saya kerap mendapatkan perlakuan serupa oleh orang dewasa. Mereka sering menegur kesalahan saya, disaat bersamaan kalaitu ada orang lain juga bersama kami.
Saat di swalayan, seakan mengerti apa yang dirasakan si anak itupun, hati saya jatuh membentur ubin hancur berkeping-keping berhamburan hingga kemana. Mgkin dengan bantuan kucingpun gak bakalan di dapat lagi kemana larinya serpihan itu. Karena luka itu pasti kembali muncul saat kenangan2 yang tidak mengenakan muncul lagi di pikiran. Bisa dikatakan saya itu Trauma.
Dan saya yakin, yang dihadapi si anak ini lebih berat ketimbang yang aku hadapi tempo dulu. Apalagi pelakunya adalah orang yang dicintainya sendiri, yaitu seorang Ibu yang harusnya menjaga harga diri seorang anak.
.
Bunda, kita yang sudah dewasa tentu tidak ingin dinasihati seseorang di depan orang ramai. Bukan nasihat yang menentramkan yang akan kita dapat. Tetapi malah luka karena merasa harga diri kita dijatuhkan. Kita sebagai orang dewasa punya perasaan, anak juga punya. Bahkan lebih lemah dan sensitif.
Saya tidak begitu paham tentang ilmu psikologi. Namun setiap perlakuan buruk orang dewasa yang ditimpakan ke saya saat masih kecil, sedapat mungkin saya tidak akan menerapkannya kepada anak-anak saya. Dan akan menjauhkan mereka dari orang-orang dewasa yang berbuat demikian. Karena sudah cukup, saya yang merasakan pedih dahulu.
Pedih itupun akan selalu kembali terasa saat memori itu terlintas lagi.
Yang sedang saya usahakan dengan keras sekarang adalah _Tazkiatun Nafs_.
Berdamai dengan rasa sakit, memaafkan mereka yang mungkin tidak sengaja telah menyakiti. Dan tidak melakukan hal serupa pada objek lain.
Beruntunglah orang2 yang berhasil melakukannya.
Semoga Allah membantu dan menguatkan kita untuk menjadi lebih baik. Aamiiin.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Bukan Untuk Bermain, Aku Diciptakan
Jelas sekali, ada hasil yang luar biasa dari ketidakbermainan Yahya di usia kecilnya untuk mendapatkan sejak awal: pemahaman, ilmu, kesunggu...
-
//Musuh Terbesar Orangtua dalam Mendidik Anak// Oleh : Nay Beiskara _Musuh terbesar dalam mendidik anak-anak, bukanlah internet, televis...
-
.. 💐Itu udah bener mba. Mgkin jadwal anak2 kami ketika usia 0-7 thn bisa jadi masukan: 04.30 Bangun dan mandi.Anak2 sudah wangi siap d...
-
Fatwa Syaikh Ibrahim bin Amir Ar Ruhaili hafizahullah (Guru pasca sarjana jurusan Akidah di Universitas Islam Madinah dan pengajar teta...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar