Senin, 22 Oktober 2018

Apa Musuh Terbesar Orangtua dalam Mendidik Anak??

//Musuh Terbesar Orangtua dalam Mendidik Anak//

Oleh : Nay Beiskara

_Musuh terbesar dalam mendidik anak-anak, bukanlah internet, televisi, gadget, dan pergaulan di sekitarmu. Tapi, kemalasanmu sebagai orangtua_

***

Setiap orangtua tentunya ingin dikaruniai keturunan-keturunan yang sholih sholihah. Karena inilah yang senantiasa dipanjatkan dalam doa-doa kita, para orangtua. Seperti doa Nabi Ibrahim as. yang diabadikan dalam Alquran :

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Robbi hablii minash shoolihiin”
[Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh]”.
(QS. Ash Shaffaat: 100).

Nabi Dzakariya as. tak henti berdoa memohon keturunan yang sholih :

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
“Robbi hab lii min ladunka dzurriyyatan thoyyibatan, innaka samii’ud du’aa’”
[Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa]. (QS. Ali Imron: 38)

Doa yang satu ini pun selalu didengungkan oleh kaum muslimin :

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Robbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa”
[Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa].
(QS. Al Furqon: 74)

Keturunan yang sholih menurut Asy Syaukani adalah anak-anak yang taat pada Allah SWT dan mendorong orangtua untuk menaati segala perintah Allah SWT. Keturunan yang sholih pun menjadi investasi akhirat bagi orangtuanya, karena doa-doa mereka untuk orangtua merupakan doa mustajab. Oleh karenanya, orangtua harus berupaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan hal ini.

Namun, dalam mendidik anak-anak kita agar menjadi anak yang sholih bukanlah perkara mudah. Banyak tantangan dan rintangan. Salah satu rintangan yang paling besar, musuh terbesar orangtua dalam mendidik anak adalah berasal dari diri orangtua sendiri, yaitu sifat malas. Malas untuk memberikan teladan kepada anak, diantaranya :

1. Malas memberikan perhatian
Kita menginginkan setiap tumbuh kembang anak dapat kita saksikan dan amati, begitupun dengan pergaulannya. Kita ingin anak-anak kita dekat dengan orangtuanya, mau berbagi cerita layaknya sahabat dengan orangtuanya. Tapi, saat berada dalam momen bersama, saat bermain dengan anak-anak kita, kita tak ingin lepas dari gadget. Kita membagi perhatian antara anak dan urusan di dunia maya. Bahkan, lebih disibukkan dengan dunia maya dan malas memberikan perhatian pada anak. Ketika anak meminta perhatian, seringnya orangtua menganggapnya sebagai 'pengganggu'.

2. Malas mendengar rengekan dan bantahan anak
Kita sebagai orangtua berharap, anak-anak menjadi penurut dan percaya sepenuhnya kepada orangtua. Tapi, saat anak dilarang melakukan sesuatu, lalu anak merengek, menangis, bahkan membantah setiap larangan orangtua, kita malas untuk sekadar mendengar tangisannya dan malas untuk memberi pengertian padanya. Alih-alih mencoba mendiamkan, kita lebih sering membentaknya.

3. Malas mendengar curhat Anak
Kita berharap anak-anak mau menjadikan kita sebagai sahabat, teman curhatnya saat terjadi suatu masalah padanya. Tapi, kita lebih sering menceramahinya daripada mendengar isi hatinya. Wajar bila anak lebih memilih temannya daripada orangtuanya.

4. Malas mengobrol dengan anak
Kita ingin anak-anak tidak terpengaruh dengan rusaknya lingkungan pergaulannya hari ini, baik di sekitar rumah maupun di lingkungan sekolahnya. Tapi, kita malas hanya untuk sekadar berbincang-bincang, menanyakan kabar dan bagaimana aktivitas anak kita. Padahal dengan mengobrol kita bisa mempengaruhi pemahaman anak-anak kita, betul?

5. Malas mengajari anak agama
Kita berharap anak-anak nantinya menjadi anak yang sholih, paham segala sesuatu tentang agamanya dan mencintai kebenaran. Tapi, kita malas untuk memahamkan anak kita tentang Islam. Walaupun hanya sekadar mengajari baca tulis Alquran. Bahkan, banyak orangtua yang tak paham Islam. Pantaslah bila anak-anak pun tak paham agamanya sendiri. Orangtua malas tuk mengkaji, apatah lagi mendampingi anaknya tuk belajar.

Malas bukanlah berarti tidak melakukan apapun dan tidak bergairah untuk berbuat sesuatu. Melalaikan sesuatu yang menjadi tugas dan kewajiban pun termasuk ke dalam sifat malas. Dan malas ini adalah masalah. Masalah yang harus diselesaikan. Karena bila malas ini terus-menerus membayangi akan membahayakan keharmonisan antara orangtua dan anak. Tujuan mulia orangtua pun takkan terwujud.

Oleh karenanya, orangtua harus muhasabah diri. Luruskan kembali niat mendidik anak semata-mata karena Allah dan berupaya seoptimal mungkin untuk mewujudkan apa yang telah dicita-citakan. Ingatlah tujuan awal menikah, yaitu untuk mencetak generasi cemerlang yang paham dan cinta agamanya. Jauhi sifat malas karena akan merugikan diri sendiri dan keluarga kita kelak. Dan terakhir, ubahlah cara mendidik anak-anak kita agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Yakinlah dengan mengikuti teladan Rasulullah, cita-cita menjadikan anak keturunan kita menjadi sholih sholihah bukan lagi mimpi. Semoga kita terlindung dari sifat malas ini. Aamiin Yaa Rabbal'aalamiin.

#savefamily
#keluargatantangandansolusi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bukan Untuk Bermain, Aku Diciptakan

Jelas sekali, ada hasil yang luar biasa dari ketidakbermainan Yahya di usia kecilnya untuk mendapatkan sejak awal: pemahaman, ilmu, kesunggu...