Senin, 22 Oktober 2018

Tahapan Menumbuhkan Cinta Alquran Kepada Anak.


Bismillah
Sekarang saya mau berbagi kisah tentang apa yang sedang kami perjuangkan di keluarga mungil kami. Mohon maaf jika panjaaaang ceritanya (tipikal saya banget hehe). Semoga kisah sederhana ini bisa menginspirasi. Tak ada keajaiban serba instan dalam mendidik anak. Adanya kelelahan yang terencana. Selamat membaca, sahabat 😉.

1. Sejak menikah dan mengandung anak pertama, saya meminta suami untuk tilawah dengan suara kencang di samping saya. Saat suami tahajud pun saya memintanya membacakan dengan suara kencang.

Jadi, putra kami, Silmi, sejak dia dalam kandungan, sudah terbiasa 'melihat dan merasakan' ayahnya tilawah dan shalat tahajud di sisinya.

Hal ini berlangsung terus HINGGA SEKARANG. Saya sering meminta suami tahajud di kamar anak2 dengan suara kencang.

Anak-anak juga jadi terbiasa MELIHAT
ayahbundanya TILAWAH ALQURAN DENGAN MEMEGANG MUSHAF di akhir hari sebelum tidur, dan di awal hari setelah shalat subuh. Ditambah saat waktu utama. Di saat tahajud.

Sekarang, saat Silmi berusia hampir 10 tahun dan 'Ulya 8,5 tahun, alhamdulillaah mereka sudah biasa bangun untuk mendirikan shalat tahajud setidaknya dua raka'at pendek. Walau belum rutin.  Kadang-kadang mereka mengikuti kebiasaan kami, tahajud sembari memegang mushaf Alquran. Kami berusaha membiasakan tilawah Alquran dengan tartil di saat utama itu.

Ini adalah saat Allah turun ke langit dunia untuk menjawab permohonan hambaNYA yang bangun untuk mendirikan shalat tahajud dan memohon padaNYA.
Ini lagi-lagi pembiasaan kebaikan.

2. Saya membiasakan  i'tikaf selama malam ganjil di bulan Ramadhan, dalam kondisi mengandung dan menyusui. Maksain diri ya? Iya. Agar anak-anak kami terbiasa mendengar lantunan ayat suci yang indah di saat paling utama, di akhir malam.

Kebiasaan ini meningkat menjadi 10 hari teakhir di bulan ramadhan, sejak anak2 berusia 7 tahun dan sudah berkali-kali khatam Alquran.

3.  Saya meminta suami membelikan Alquran khusus untuk Silmi, putra kami, sejak dia berusia 2 tahun. Alquran terjemah tajwid berwarna  10 juz ada 3 jilid. Kami langsung berikan Alquran itu kepadanya dan kepada 'Ulya adiknya.

Dengan Alquran itulah Silmi pertama kali MENGKHATAMKAN  Alquran di usia 6,5 tahun, dalam waktu 4 bulan.
Adiknya, 'Ulya juga pertama kali MENGKHATAMKAN Alquran di usia 5 tahun, dalam waktu 5,5 bulan.

Bahkan 'Ulya sudah mulai tilawah  Alquran SEBELUM dia bisa membaca huruf latin. Di usia 5 tahun 8  bulan baru dia bisa membaca satu kalimat latin dengan lancar.

Sekarang, mereka memiliki Alquran khusus untuk menghafal, dan Alquran terjemah  khusus untuk mengkaji Alquran sekeluarga. Juga ada Alquran kecil yang biasa dibawa kemana-mana.

SEMUA Alquran yang mereka miliki WAJIB dikhatamkan setidaknya dua-empat bulan sekali.

Sekarang, mereka dibiasakan mengkhatamkan Alquran minimal sekali sebulan. Berarti satu juz/hari. PLUS membaca terjemahannya. Tentu saja masih tarik ulur. Kondisi aktivitas fisik yang tinggi juga penambahan tugas2 kerumahan sesuai peningkatan usia mereka, membuat mereka harus berjibaku mengatur waktu dan mengendalikan kemalasan dalam mendawamkan khataman Alquran minimal sebulan sekali.

Ini tahapan pembiasaan. Juga untuk menggugurkan kewajiban sebagai seorang Muslim yang SUDAH BISA MEMBACA ALQURAN.

Ini belum sampai ke tahapan MENCINTAI Alquran ya. Masih jauh.

4. Saya terapkan konsep Steril di usia 0-7 tahun.
Artinya? Saya bersihkan rumah kami dari segala sesuatu yang menghalangi datangnya cahaya Alquran.

Apa itu?  TV dan musik.
Rumah kami bersih dari TV dan musik.
Saya juga membiasakan diri menidurkan anak-anak dengan melantunkan juz'amma DARI MULUT SÀYA SENDIRI.   Dari AnNaba' hingga AnNaas.  Walau mereka sudah tidur.

Ingat target mimpi saya terhadap anak? Mereka HARUS menghafal minimal juz'amma bersama saya. Dan harus kuat pemahaman mereka akan surah-surah di juz'amma. Ini target yang saya kejar.

Dan alhamdulillaah Silmi, putra sulung kami, di usia 4,5 tahun sudah hafal juz'amma. 'Ulya di usia 6 tahun sudah hafal juz'amma.

Apakah hafalan mereka sudah ajeg? Belum. Sampai sekarang kami masih terus-menerus menanamkan pemahaman akan makna dari ayat-ayat suci dari Allah ini.

Bukankah itu tujuan utamanya?
Hafal Alquran itu suatu yang niscaya bagi orang yang memilih untuk terus berinteraksi dengan Alquran, dengan terus-menerus membacanya..berulang-ulang...dengan penghayatan.

Dan menjadi penghafal Alquran itu istimewa. Benar-benar manusia terpilih. Keluarga Allah di dunia.
Kami ingin mencapai posisi ini.

Mengenai TV dan tontonan.
Begitu 'Ulya berusia 7 tahun, saya pindah ke fase FILTERISASI.
Jadi program mengkaji film mulai diintensifkan. Resiko tinggi. Iya.
Tetapi ini membangun daya imunitas dari dalam. Modal besar mereka untuk berdakwah ke generasi mereka dan setelahnya yang mayoritas bobrok dan rapuh.
Mereka harus bisa MENGENDALIKAN alat itu, demi kepentingan dakwah ke depan.

Jadi, sekarang di ruang tamu kami ada Led TV 43' milik Taman Baca Keluarga Pelangi (Catat: bukan milik keluarga kami). Besar yaaa...Yap. Ada program menonton film pekanan buat anak2 taman baca/santri2 rumah tahfizh. Dan anak2 sedang saya persiapkan menjadi relawan program MEDIA LITERACY. Ini berhubungan dengan TV.

Lalu, bagaimana hubungan mereka dgn TV? TV tak menjadi ancaman bagi mereka, alhamdulillaah. Dan memang tak pernah. Karena mereka dipersiapkan baik-baik di usia awal. Di fase steril. Ini bicara tahapan persiapan yang panjang.... Gada keajaiban dalam pengasuhan anak. Adanya kelelahan yang terencana.

5. Setelah anak-anak khatam Alquran pribadi minimal 4 kali, dan anak-anak sudah bisa membaca lancar huruf latin,  kami masuk ke program lanjutan.

Kami mulai program TADARUS Alquran sekeluarga sejak 'Ulya berusia 7 tahun.
Setelah subuh, kami baca Alquran bersama-sama. Masing-masing membaca setengah halaman, lalu membaca terjemahannya. Lalu ayahnya membahas dari segi bahasa dan tafsir dari kitab tafsir muyassar Ibnu Katsir yang dianggap paling mudah dicerna oleh anak-anak. Saya back-up dengan berbagai buku yang bisa mempermudah proses penyampaian pesan. Buku pendamping utamam yang kami pakai di kajian Alqur'an  ini adalah Muhammad Teladanku dan EMIAH. Keduanya terbitan Sygma.

Alhamdulillaah, 8 Muharram 1438 H/9 Oktober 2016 kemarin Allah kembali menakdirkan kebaikan kepada kami sekeluarga, kami dimudahkan  mengkhatamkan kajian Alquran sekeluarga untuk  kedua kalinya.

Sekarang kami  ulang lagi kajiannya dari awal, dengan lebih perlahan dan  mendalam. Disertai arti.

Satu dua ayat bisa dikaji beberapa hari. Mulai memperkenalkan bahasa Arab, makna Asma'ul husna dalam kehidupan sehari-hari, dan memperkuat asbabun nuzul tentang ayat-ayat. Juga mencoba membedah mukjizat ilmiah ayat-ayat Alquran.

Kami berusaha meningkatkan tahapan mengkaji Alquran dengan mencoba membahasnya dengan menggunakan buku-buku asmaul Husna, buku siroh tematik ( Buku Ensiklopedia Leadership dan Manajemen Muhammad Saw), buku ProLM (kajian detil tentang karakter FAST), dan buku Ensiklopedia Peradaban Islam. Ketiga ensiklopedia keren ini terbitan Tazkia Publishing. Juga dengan menggunakan ensiklopedia mukjizat ilmiah Alquran dan Hadits.(EMIAH, terbitan Sygma).  Juga buku2 lain tentang penciptaan alam dan nubuwah nabi tentang akhir zaman. Kajian ini  disesuaikan  dengan tahapan KEBUTUHAN  BELAJAR putra-putri kami.

Di tahapan usia 7-14 tahun ini, model belajar mereka cocoknya kongkrit operasional. Jadi kami harus mengarahkan anak-anak untuk menerapkan secara sederhana hasil kajian di keluarga kami. Kami menyebutnya 'Personal Program'.
Ini sebenarnya bagian dari 'Personal Curriculum' bagi tiap anggota keluarga. Termasuk kami, ayahbundanya.
Di usia ini kami ajak anak-anak membuat program hidup 10 tahun kedepan.

Apa mereka mampu?
Mampu ko. Do not underestimate the power of kid's critical thinking.

Mereka ini sudah diarahkan untuk berkali-kali MENGKHATAMKAN Alquran. Agar itu menjadi kebutuhan mereka sepanjang hidup, kebutuhan yang mereka nikmati dan dengan sukarela dilakukan.

Jadi, kami yakin, cahaya Alquran akan membimbing akal  mereka. Itu janji Allah. Dan telah dicontohkan oleh Rasulullaah, para sahabat dan para ulama hingga sekarang. Ini masalah keyakinan. Yang menjelma dalam program-program harian.

Itu saja....
Menjalaninya tidak  semudah menuliskannya. Ada banyak kendala.
Tetapi MIMPI sudah ditetapkan.
Tinggal dibedah menjadi 3: FAKTA, MASALAH, SOLUSI.

Breakdown lebih kecil. Dan terus BERGERAK.

Kita diciptakan untuk BERGERAK. Aktif.

Diam tenangnya saat tahajud.
Ini waktu istimewa.

Be smart. Be FAST.
JANGAN jual waktu utama itu dengan harga murah.
JANGAN habiskan waktu utama itu untuk bicarakan bisnis kecil dengan manusia.

Bicarakan bisnis utama kita dengan Sang Pemilik Alam Semesta.

Gakan rugi. Ga percaya?
Buka Alquran. Surah Ash Shaff. Surah ke 61. Ayat 10-14.
Ini penawaran dari Allah kepada orang beriman. Perdagangan yang gakan rugi. Di dunia dan akhirat.

Fokus dulu ke Alquran bersama keluarga. Baru ke yang lain.

Wallaahu a'lam bishawab.

- Iin Savitry, #BundaBidadari -

#MenujuKeluargaQurani
#FASTFamily
#MenjadiAyahArtisBundaBidadaridanAnakBintang
(fb, 26 Jan 2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bukan Untuk Bermain, Aku Diciptakan

Jelas sekali, ada hasil yang luar biasa dari ketidakbermainan Yahya di usia kecilnya untuk mendapatkan sejak awal: pemahaman, ilmu, kesunggu...