Sabtu, 14 April 2018

TIPS &TRIK Mempersiapkan Anak Bangun Subuh dan Menjalani Shaum Dengan Mudah dan Nyaman

Salah satu kendala sebagian orangtua dengan anak usia di atas 7 tahun adalah merasa sulit membangunkan anak untuk shalat Subuh dan menjalani latihan shaum Ramadhan.

Berikut beberapa tips dan trik yang bisa dilakukan oleh orangtua agar proses pendampingan berlatih ibadah di atas bisa berjalan lebih mulus.

Sebelumnya, mari kita coba bedah bersama penyebab keluhan di atas.

Berdasarkan pengamatan sederhana, saya mencatat beberapa penyebab masalah di atas  :

• Anak belum cukup diinspirasi dengan kisah penguat iman tentang keutamaan shalat Subuh dan shaum.
• Anak kurang mendapat eksposure *pamer kesolihan* dari orangtua. Teladan perilaku dari orangtua kurang kuat untuk dicontoh anak.
• Anak kurang dipersiapkan kebutuhan kondisi fisiknya agar nyaman menjalani latihan ibadah shalat dan shaum itu.

Ada beberapa prasyarat yang orangtua perlu persiapkan untuk membantu anak siap berlatih shalat Subuh dan shaum Ramadhan ini. Dan prasyarat yang paling sering diabaikan oleh orangtua adalah *persiapan fisik*dan *asupan nutrisi yang tepat*.

Berikut Tips & Trik untuk membantu anak lebih nyaman menjalani shalat Subuh dan shaum Ramadhan:

*1. Perhatikan jam tidur anak*

Secara umum para ahli sepakat bahwa jam tidur anak sekitar 7-8 jam. Jika anak kita terbiasa tidur sebanyak itu, maka kondisikan waktu tidurnya. Jika anak dipersiapkan sudah tidur paling lambat pukul 9 malam, maka jika ia dibangunkan pukul 4 pagi, ia sudah beristirahat selama 7 jam.

Walau bagi anak Muslim yang kuat, harus mulai dilatih untuk memendekkan jam tidur, agar dia lebih kuat memanjangkan waktu tahajudnya (menghidupkan malamnya) dengan berbagai amal baik.

Namun sebenarnya yang lebih perlu diperhatikan adalah *kualitas tidurnya*.
Pastikan bahwa sebelum tidur,  tubuh anak dalam kondisi bersih dan nyaman. Pakaian tidur dan tempat tidurnya dalam kondisi bersih. Ruang tidur dalam kondisi remang-remang/lampu dimatikan,  sirkulasi udara harus cukup baik. Hindari kamar yang terlalu padat dengan berbagai barang sehingga membuat kesan sumpek. Antara anak dan barang akan berebut oksigen.

Selain itu, biasakan anak menjalani sunnah Nabi Muhammad saw sebelum tidur:
a. Berwudhu sebelum tidur.
b. Membersihkan tempat tidur 3 kali  sebelum dinaiki sembari membaca ta'awudz
c. Ajak anak berniat untuk bangun sebelum Subuh dan mandi sebelum shalat
d. Bimbing anak untuk berdoa sebelum tidur dan melakukan dzikir penjagaan disertai artinya ( Al ikhlas, Al Afalaq, AnNaas, ayat kursi, lalu ditiupkan ke telapak tangan dan diusapkan ke seluruh tubuh).

*2. Perhatikan asupan gizi anak*

Salah satu sebab anak sulit diajak tidur adalah karena kesalahan banyak orangtua dalam memberi makanan sebelum tidur. Kebiasaan anak zaman sekarang yang mengkonsumsi makanan berkadar gula tinggi membuat mereka kesulitan mengatur dirinya sendiri.
Para ahli kesehatan menemukan fakta ilmiah bahwa makanan dan minuman dengan kadar gula tinggi memberi energi instan yang harus segera dikeluarkan. Sumber makanan dari pati (nasi, mie, tepung-tepungan, umbi-umbian) dan semua makanan manis (gula pasir, buah dan sayuran tertentu) memicu insulin dalam tubuh sehingga 'memaksa' tubuh untuk bergerak, padahal secara kodrati organ-organ tubuh kita sudah ingin memperbaiki diri di malam hari. Di sini terjadi dilema. Anak  ingin tidur karena tubuhnya memerintahkannya seperti itu, namun kadar gula instan dalam tubuhnya memaksanya untuk terus bergerak. Ia menjadi sulit tidur.

Jadi, hindari memberi makanan padat atau minuman manis kepada anak sekitar 3 jam sebelum tidur. Hindari memberi susu manis, teh manis, martabak, nasi goreng,  goreng tepung, dll.  Lebih baik beri anak makanan berprotein tinggi seperti ayam goreng tanpa tepung, seafood, dan sejenisnya.  Jika anak lapar/haus, bisa diberi susu tanpa gula atau beri air kaldu daging/ayam yang bisa cukup mengenyangkan anak namun tak membuat tubuh bekerja ekstra untuk mengolah makanan yang baru ditelan.

Untuk persiapan shaum, *perhatikan asupan makanan anak ketika sahur* . Karena inilah kunci sukses latihan shaum bagi anak.

Sebelumnya, orangtua perlu memberi pemahaman bahwa shaum kaum Muslimin itu pada prinsipnya adalah *memindahkan waktu makan*. Jadi orang shaum itu takkan kelaparan. Kuncinya adalah asupan makanan yang tepat gizi dan cukup ketika sahur.

Orangtua perlu paham bahwa makanan berkadar gula tinggi /karbohidrat sederhana (nasi, mie, tepung2an, umbi2an, gula pasir, kue2 manis, minuman manis, es krim, dll) waktu cernanya dalam tubuh hanya memakan waktu sekitar 3 jam. Bahkan ada yang kurang dari 2 jam. Jadi, jika anak terbiasa makan karbohidrat sederhana, ia akan cepat kenyang DAN cepat lapar. Ia akan terus menerus merasa lapar setiap 2-3 jam. Selain itu, asupan karbo tinggi akan membuat anak mudah mengantuk dan malas bergerak.  Makanya efeknya adalah tubuh mudah gemuk. Makanan dengan kadar gula sederhana harus 100% dikeluarkan saat itu juga. Jika tubuh tak banyak bergerak maka yang muncul adalah rasa begah dan mengantuk. Timbul rasa malas. Otak pun sulit bekerja optimal.

Sedangkan sumber makanan dari protein hewani (daging-dagingan, ayam, seafood) waktu cernanya sekitar 8 jam. Jadi, anak yang terbiasa makan makanan dengan kadar protein tinggi akan tak mudah lapar. Ia lama kenyang. Dan tenaganya akan cukup kuat. Ia juga tak mudah mengantuk.
Makanan protein tinggi akan menyimpan 50% energinya dalam tubuh dan akan dikeluarkan ketika tubuh meminta. Inilah 'tabungan' energi ketika shaum. Badan pun tak terasa lemas. Otak bisa bekerja optimal.
Orang yang dominan makan makanan berprotein tinggi takkan kegemukan. Postur tubuhnya cenderung seimbang dan atletis.

Inilah salah satu alasan mengapa para atlit dianjurkan makan protein tinggi, dan dilarang makanan berkadar gula tinggi yang akan melemahkan otot.

Itulah sebabnya juga Rasulullah saw lebih banyak mengonsumsi daging daripada makanan dengan sumber karbo sederhana. Jika beliau makan roti gandum pun, itu bersumber dari gandum asli, bukan dalam bentuk tepung seperti yang kita konsumsi selama ini. Jenis sayuran pun biasanya beliau konsumsi dalam bentuk acar. Bukan dalam kondisi segar.

Jadi, ketika sahur, latih anak untuk lebih banyak makan berprotein tinggi. Seperti daging, ayam,dll. Hindari banyak memberi nasi, gorengan bertepung apalagi mie.

Beri pemahaman bahwa tubuhnya takkan kelaparan karena sudah diberi asupan gizi yang tepat. Ia takkan sakit karena shaum. Sebaliknya malah tubuh akan sehat dan terasa lebih kuat.

Secara ilmiah ini bisa dijelaskan dengan cara sederhana kepada anak. Ketika shaum, tubuh berhenti bekerja mengolah makanan, sehingga tubuh mengambil energi dari simpanan di dalam tubuh. Tubuh dalam kondisi ketosis. Tubuh juga bisa optimal memperbaiki berbagai sel dan organ tubuh yang ada, karena tidak dibebani harus mengolah makanan yang masuk tubuh.

Melihat kondisi anak yang kebanyakan masih dalam kondisi mengantuk ketika sahur, siasati kebutuhan gizi anak dengan mengolah bahan makanan berprotein tinggi itu dalam bentuk yang lebih mudah dicerna tubuh. Misal dalam bentuk soto/sop/ dll. Selain anak mudah menelannya, kebutuhan cairan tubuh juga terpenuhi.

Menu paling sederhana adalah kaldu ceker ayam. Ditemani 1-2 potong ayam, tempe/tahu dan sedikit sayuran akan membantu anak untuk kuat shaum sepanjang hari.

*3. Biasakan anak mandi sebelum Subuh*

Ketika tidur tubuh anak bekerja memperbaiki sel yang rusak dan menggantinya dengan sel yang baru. Organ tubuh juga diperbaiki. Jadi ketika bangun, pasti memang tubuh terasa lemas, lebih berminyak dan cenderung berkeringat. Sel-sel kulit mati pun menempel dimana-mana Itu semua adalah buangan dari dalam tubuh. Jadi, terbayang betapa 'berat' membawa tubuh dengan banyak ' sampah' di sepanjang badan?Akhirnya  badan terasa lemas, malas bangun, dll.

Anak perlu diajak mandi DENGAN AIR SEGAR untuk membersihkan kotoran yang menempel di kulit itu. Pancuran air segar juga akan  memberi oksigen kepada kulit sehingga memberi efek segar pada tubuh. Mata jadi terbuka. Otak terasa lebih segar.
Pastikan anak memakai pakaian bersih dan wangi setelah mandi.

*4. Perhatikan jam krusial anak shaum*

Bagi anak yang baru belajar shaum, ada masa-masa kritis ketika tubuhnya menyesuaikan diri. Yaitu sekitar di antara pukul 10.00 hingga 15.30 wib.  Biasanya di jam-jam itu ia akan 'merasa kelaparan'. Saat itu sebenarnya tubuhnya sedang bekerja menyesuaikan diri. Jadi orangtua perlu paham agak tak ketakutan sehingga membatalkan shaum anak. Bantu anak untuk bisa melewati masa kritis inim Biasanya membutuhkan waktu sekitar 3 hari bagi anak untuk menyesuaikan diri.
Setelah itu tubuh anak akan terkondisi, jadi lebih mudah menjalani latihan shaum dalam kondisi beraktivitas  seharian.

Di jam-jam itu, orangtua perlu mendampingi total anak agar kuat melewati masa kritis latihan tubuhnya. Sibukkan anak agar tak berpikir tentang makanan. Sering peluk, temani, jauhkan dari jangkauan makanan/minuman. Tenangkan anak dengan menggunakan Alquran, membacakan buku, dibawa ke masjid yang adem, bermain yang tidak menyita energi, ajak bicara tentang kehebatan rasulullaah saw dan para sahabat juga para mujahid di Palestina yang bahkan pergi berperang ketika shaum dll.

Jelaskan secara ilmiah tentang cara kerja tubuh ketika shaum malah sedang menabung tenaga.
Bahwa menurut ilmu kedokteran bahkan tenaga orang yang shaum bisa 10 x lebih kuat dibanding orang yang tidak shaum. Karena ia dalam kondisi ketosis. Ada tabungan tenaga luar biasa dalam tubuhnya karena dia shaum.
Cerita bahwa di dunia binatang pun, Allah membuat fase puasa jika mereka ingin menyembuhkan/menguatkan diri  (misal singa) atau mau berubah jadi lebih baik. Kisah metamorfosis ulat  yang puasa selama 40 hari untuk berubah menjadi kupu yang indah akan menjadi contoh nyata yang sangat bisa menginspirasi anak.

Hanya anak kuat yang bisa shaum.
Hanya anak hebat yang bisa shaum.

Anak yang sakit tak perlu shaum.
Anak yang lemah boleh tidak shaum.

*5. Perhatikan asupan menu berbuka anak*

Ajarkan anak untuk tidak terjebak menjadi lemah ketika berbuka.
Biasakan anak berbuka dengan minum air putih mengikuti sunnah nabi. (BUKAN DENGAN MINUMAN MANIS apalagi es).
Sunnah nabi berbuka dengab kurma ruthab (muda dan agak asam), tamr (kurma kering tak terlalu manis) atau air putih.  Bisa juga kurma ajwa yang tak terlalu manis dan mengenyangkan. Namun ketiga jenis kurma ini mahal harganya. Kalau kurma yang biasa kita  makan adalah kurma yang sudah diberi pemanis agar awet. Jadi itu seperti makan permen. Makanya air putih adalah pilihan paling mudah bagi kita. Atau bisa juga diberi air kaldu hangat yang langsung bisa memberi efek mengenyangkan. Biasakan minum minuman hangat ketika berbuka agar perut  tidak kaget.

Pada prinsipnya, setelah anak berhasil melalui masa kritis berpuasa, tubuh sudah menyesuaikan diri. Ia takkan merasa kelaparan lagi. Jadi ketika berbuka ia pun takkan 'celamitan'. Anak yang sudah biasa shaum pun biasanya makannya lebih sedikit.

Makanya orangtua perlu bantu dengan menyediakan makanan berprotein tinggi agar mudah kenyangnya bertahan lama.
Latih anak agar tidak mudah tergoda dengan berbagai makanan bergula tinggi yang biasa disuguhi dimana-mana untuk menu berbuka.

Kondisi tubuh yang sudah kuat karena shaum, menjadi mudah dihancurkan dengan diberi asupan gula berlebih ketika berbuka.

Latih anak untuk cerdas memilih asupan makanan berkualitas. Karena ia berlatih shaum AGAR MENJADI KUAT. Bukan malah kembali menjadi celamitan dengan makanan.

Kualitas makanan anak sebelum tidur juga menentukan kemudahannya dibangunkan sebelum Subuh.

Jadi, jika ingin anak mudah bangun Subuh dalam kondisi segar dan kuat, juga bertenaga dalam menjalani aktivitas hariannya, pastikan asupan gizi anak lebih banyak mengandung sumber protein hewani. Hindari memberi makanan dan minuman dengan kadar gula /karbo tinggi, karena itu akan melemahkan anak.

Hindari semaksimal mungkin unsur 4 P dalam asupan makanan/minuman di keluarga : pewarna, pemanis, pengawet, pemutih.


Jadi, ternyata, berdasarkan pengalaman kami, selain memberi pemahaman akan pentingnya bangun sebelum subuh dan sahur bergizi, kita sangat butuh *ilmu nutrisi makanan yang memadai bagi keluarga* . Kita sangat butuh menguatkan ilmu dan pemahaman tentang *makanan halalan thoyyiban* : makanan yang tak cukup hanya *halal* tapi harus *baik bagi kesehatan*.
Makanan yang akan membantu kita mudah melakukan kebaikan-kebaikan yang Allah perintahkan dan Rasul saw contohkan.

Memahami dan menerapkan ilmu nutrisi makanan yang memenuhi unsur halalan thayyiban di dalam keluarga adalah bagian dari nilai-nilai karakter *SHIDDIQ* dan *FATHONAH*.
Pada akhirnya, ketika  anak-anak berhasil kita latih untuk menjalani ibadah shalat dan shaum dengan benar dan bahagia, kita juga mereka sedang mengamalkan nilai-nilai karakter *AMANAH* dari dalam keluarga, yang akan berefek ke kualitas karya kota di masyarakat kelak. Penyebaran informasi seperti ini pun, agar lebih banyak keluarga muslim menyadari pentingnya menjaga asupan gizi di keluarga,  adalah bagian dari penerapan nilai-nilai karakter *TABLIGH*

Jadi, pada akhirnya, dengan cara yang sederhana, kita semua sedang menerapkan semua nilai kebaikan yang ada di *karakter FAST* .  Itulah empat karakter utama  Nabi Muhammad saw yang sangat perlu diteladani oleh kita semua.

Selamat mengamalkan ilmu yang dirasa bermanfaat, sahabat. Semoga Allah memudahkan keluarga kita masuk golongan orang-orang yang diberi hikmah dan senantiasa beramal solih. Aamiin.

Allahu a'lam bishshawab.

Oleh : Iin Savitry dari grup shiroh dan parenting

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bukan Untuk Bermain, Aku Diciptakan

Jelas sekali, ada hasil yang luar biasa dari ketidakbermainan Yahya di usia kecilnya untuk mendapatkan sejak awal: pemahaman, ilmu, kesunggu...