Oleh : Abu Yusuf Akhmad Ja'far
Muqoddimah
ุงูุญَู
ْุฏُ ِููู ุญَู
ْุฏًุง َูุซِْูุฑًุง ุทَِّูุจًุง ู
ُุจَุงุฑًَูุง ِِْููู ،
َูู
َุง ُูุญِุจُّ ุฑَุจَُّูุง َู َูุฑْุถَู ، َู ุฃَุดَْูุฏُ ุฃَْู َูุง ุฅََِูู ุฅَِّูุง ุงُููู َู
ุฃََّู ู
ُุญَู
َّุฏًุง ุนَุจْุฏُُู َู ุฑَุณُُُْููู
َูุงَู ุงُููู ุชَุนَุงَูู : َูุขَُّููุง ุงูุฐَِّْูู ุขู
َُْููุง ุงุชَُّْููุง
ุงَููู ุญََّู ุชَُูุงุชِِู، َู َูุง ุชَู
ُْูุชَُّู ุฅَِّูุง َู ุฃَْูุชُู
ْ ู
ُุณِْูู
َُْูู
َู ุฅَِّู ุฃَุตْุฏََู ุงูุญَุฏِْูุซِ ِูุชَุงุจُ ุงِููู ุชَุนَุงَูู ، َู ุฎْูุฑَ
ุงَููุฏِْู َูุฏُْู ุงَّููุจِِّู ุตََูู ุงُููู ุนََِْููู َู ุณََّูู
َ ، َู ุดَุฑَّ
ุงูุฃُู
ُْูุฑِ ู
ُุญْุฏَุซَุงุชَُูุง َูุฅَِّู َُّูู ู
ُุญْุฏَุซَุงุชِ ุจِุฏْุนَุฉٍ َู َُّูู ุจِุฏْุนَุฉٍ
ุถََูุงَูุฉٍ
ุฃู
َّุง ุจَุนْุฏُ ،
Segala puji bagi Allah atas limpahan rahmat dan
nikmat-Nya. Betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita, namun tidak
banyak nikmat yang diberikan olehNya kita manfaatkan untuk kebaikan dan
ketaatan. Patut bagi kita untuk selalu intropeksi diri setiap langkah yang kita
lalui dalam kehidupan dunia ini.
Kaedah Keempat
ุงููุงุนุฏุฉ
ุงูุฑุงุจุนุฉ
ุฃّู ู
ุดุฑูู
ุฒู
ุงููุง ุฃุบูุธ ุดุฑًููุง ู
ู ุงูุฃّูููู، ูุฃّู ุงูุฃّูููู ُูุดุฑููู ูู ุงูุฑุฎุงุก ُููุฎูุตูู ูู
ุงูุดุฏّุฉ، ูู
ุดุฑููุง ุฒู
ุงููุง ุดุฑููู
ุฏุงุฆู
؛ ูู ุงูุฑุฎุงุก ูุงูุดุฏّุฉ. ูุงูุฏููู ูููู ุชุนุงูู:
َูุฅِุฐَุง ุฑَِูุจُูุง ِูู ุงُِْْูููู ุฏَุนَْูุง ุงََّููู ู
ُุฎِْูุตَِูู َُูู ุงูุฏَِّูู
ََููู
َّุง َูุฌَّุงُูู
ْ ุฅَِูู ุงْูุจَุฑِّ ุฅِุฐَุง ُูู
ْ ُูุดْุฑُِููู) ุงูุนููุจูุช:65(.
Kaidah
keempat:
Artinya : “Sesungguhnya kaum musyrikin di zaman kita
lebih parah kesyirikannya dibandingkan (kesyirikan) kaum musyrikin zaman dahulu
(yaitu: pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pent.). Karena kaum musyrikin zaman
dahulu mereka berbuat syirik pada saat lapang (bergelimang kenikmatan) dan
mereka mengikhlaskan (ibadah kepada Allah semata) ketika berada dalam keadaan
sempit (tertimpa musibah). Sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita, kesyirikan mereka terjadi
dalam setiap keadaan, baik ketika lapang maupun sempit. Dalilnya adalah firman
Allah Ta’ala,
َูุฅِุฐَุง
ุฑَِูุจُูุง ِูู ุงُِْْูููู ุฏَุนَْูุง ุงََّููู ู
ُุฎِْูุตَِูู َُูู ุงูุฏَِّูู ََููู
َّุง َูุฌَّุงُูู
ْ
ุฅَِูู ุงْูุจَุฑِّ ุฅِุฐَุง ُูู
ْ ُูุดْุฑَُِููู
Maka apabila mereka naik kapal, mereka
berdo’a kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya, maka tatkala Allah
menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali)
mempersekutukan (Allah). (QS.Al- Ankabut: 65).
Penjelasan :
“Penetapan bahwa kesyirikan yang
dilakukan kaum musyrikin zaman sekarang lebih parah daripada kesyirikan yang
dilakukan kaum musyrikin pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, ditinjau dari sisi saat kesulitan/tertimpa musibah, kaum musyrikin
zaman sekarang tetap menyekutukan Allah Ta’ala.”.
Dalam ayat di atas, Allah menjelaskan keadaan
musyrikin ketika mereka berada dalam keadaan bahaya, menaiki kapal lalu ditimpa
angin kencang dan khawatir tenggelam, mereka berdo’a kepada Allah semata dengan
ikhlas dan tidak berdo’a kepada patung-patung mereka, karena mereka tahu bahwa
tidak ada satupun yang mampu menyelamatkan mereka kecuali Allah.
Namun ketika
mereka selamat di daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan Allah.
Inti Kaidah
Keempat : Penetapan bahwa kesyirikan yang dilakukan kaum musyrikin
zaman sekarang[1] lebih parah daripada kesyirikan yang
dilakukan kaum musyrikin zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, ditinjau dari sisi tertentu,yaitu :
- Kaum musyrikin dahulu mentauhidkan Allah dalam berdo’a, ketika tertimpa musibah atau sedang kesulitan,namun menyekutukan Allah ketika keadaan senang dan lapang, dengan menyembah patung, pohon dan batu.
Adapun
musyrikin sekarang, menyekutukan Allah baik ketika senang dan lapang, maupun
ketika sulit dan tertimpa musibah,bahkan bisa jadi ketika tertimpa musibah
tambah besar kesyirikannya.
- Kaum musyrikin dahulu menyembah pohon, para Nabi dan sholihin. Adapun musyrikin sekarang menyembah semua sesembahan yang disebutkan di atas dan menyembah orang kafir atau fasik, orang-orang yang tidak shalat , tidak puasa dan tidak meninggalkan perbuatan keji, karena diyakini orang yang disembah itu sudah tidak berlaku baginya Syari’at tentang pengharaman sesuatu, Syari’at itu diyakini hanya berlaku bagi orang-orang awam.[2]
Faedah kaedah
ini :
Menggugah
kesadaran banyak orang, bahwa walaupun suatu zaman sudah modern, namun ketika
seseorang tidak berilmu tentang kesyrikan dengan benar atau ilmunya sangat
kurang atau kurang diingatkan kembali akan bahayanya kesyirikan, maka sangat
memungkinkan terjatuh ke dalam kesyirikan. Bahkan, bisa jadi kesyirikan yang
dilakukannya lebih parah daripada kesyirikan yang dilakukan kaum musyrikin yang
dihadapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu.
Maka,
tidak ada jaminan bagi suatu negeri yang berteknologi tinggi dan bagi negara
yang maju, bahwa negara tersebut pasti penduduknya selamat dari kesyirikan !
Karena kemuliaan suatu negara itu adalah ketika penduduknya mengetahui dengan
baik ajaran agama Islam dan mengamalkannya. Sedangkan ajaran agama Islam
teragung dan asas perbaikan masyarakat terbesar adalah tauhid !
Dengan
demikian, pelajaran tauhid relevan dikaji di sepanjang zaman dan di semua
tempat! Salah satu manhaj ahlussunnah wal jama’ah adalah selalu mementingkan
tauhid dari yang lainnya.
ูุตูููู ุงููู
ูุณููููููู
ุนููููู ููุจูููููููุง ู
ูุญูููู
ููุฏ ูุนููููู ุขูููู ูุตููุญููุจููู ุฃุฌููู
ููุนููููู
ูุขุฎุฑ ุฏุนูุงูุง ุฃู ุงูุญููู
ุฏ ููู ุฑุจ ุงูุนุงูู
ูููู ุงูููุฐู ุจูููููุนู
ูุชู ุชุชู
ุงูุตุงูุญุงุช.
[1] Zaman Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab pada abad 12 H atau
awal Abad 13 H, sebagaiaman dijelaskan di kitab Syarh Al-Qowa’id Al-Arba’ oleh
Syaikh Khalid bin Abdullah Al-Muslih hal. 23 (tambahan : Dan kesyirikan itu
menjamur sampai sekarang di zaman kita -Allahu Musta’an-)
[2] Lihat penjelasan lebih lengkap yang semakna dengan ini di Kitab Syarh
Al-Qowa’id Al-Arba’ oleh Syaikh Shaleh bin Fauzan Al-Fauzan hal 30-31.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar