Oleh : Abu Yusuf Akhmad Ja’far
Muqoddimah
ุงูุญَู
ْุฏُ ِููู ุญَู
ْุฏًุง َูุซِْูุฑًุง ุทَِّูุจًุง ู
ُุจَุงุฑًَูุง ِِْููู ،
َูู
َุง ُูุญِุจُّ ุฑَุจَُّูุง َู َูุฑْุถَู ، َู ุฃَุดَْูุฏُ ุฃَْู َูุง ุฅََِูู ุฅَِّูุง ุงُููู َู
ุฃََّู ู
ُุญَู
َّุฏًุง ุนَุจْุฏُُู َู ุฑَุณُُُْููู
َูุงَู ุงُููู ุชَุนَุงَูู : َูุขَُّููุง ุงูุฐَِّْูู ุขู
َُْููุง ุงุชَُّْููุง
ุงَููู ุญََّู ุชَُูุงุชِِู، َู َูุง ุชَู
ُْูุชَُّู ุฅَِّูุง َู ุฃَْูุชُู
ْ ู
ُุณِْูู
َُْูู
َู ุฅَِّู ุฃَุตْุฏََู ุงูุญَุฏِْูุซِ ِูุชَุงุจُ ุงِููู ุชَุนَุงَูู ، َู ุฎْูุฑَ
ุงَููุฏِْู َูุฏُْู ุงَّููุจِِّู ุตََูู ุงُููู ุนََِْููู َู ุณََّูู
َ ، َู ุดَุฑَّ
ุงูุฃُู
ُْูุฑِ ู
ُุญْุฏَุซَุงุชَُูุง َูุฅَِّู َُّูู ู
ُุญْุฏَุซَุงุชِ ุจِุฏْุนَุฉٍ َู َُّูู ุจِุฏْุนَุฉٍ
ุถََูุงَูุฉٍ
ุฃู
َّุง ุจَุนْุฏُ ،
Segala
pujia bagi Allah atas limpahan rahmat dan nikmat-Nya. Betapa banyak nikmat yang
Allah berikan kepada kita, namun tidak banyak nikmat yang diberikan olehNya
kita manfaatkan untuk kebaikan dan ketaatan. Patut bagi kita untuk selalu
intropeksi diri setiap langkah yang kita lalui dalam kehidupan dunia ini.
Kaidah Kedua
ุงููุงุนุฏุฉ ุงูุซุงููุฉ
ุฃّููู
ูููููู: ู
ุง ุฏุนููุงูู
ูุชูุฌّููุง
ุฅูููู
ุฅูุง ูุทูุจ ุงُููุฑْุจุฉ ูุงูุดูุงุนุฉ، ูุฏููู ุงُููุฑุจุฉ ูููู ุชุนุงูู: {َูุงَّูุฐَِูู
ุงุชَّุฎَุฐُูุง ู
ِْู ุฏُِِููู ุฃََِْูููุงุกَ ู
َุง َูุนْุจُุฏُُูู
ْ ุฅَِّูุง َُِูููุฑِّุจَُููุง
ุฅَِูู ุงَِّููู ุฒَُْููู ุฅَِّู ุงََّููู َูุญُْูู
ُ ุจََُْูููู
ْ ِูู ู
َุง ُูู
ْ ِِููู
َูุฎْุชََُِูููู ุฅَِّู ุงََّููู َูุง َْููุฏِู ู
َْู َُูู َูุงุฐِุจٌ
ََّููุงุฑٌ}[ุงูุฒู
ุฑ:3].ูุฏููู ุงูุดูุงุนุฉ ูููู ุชุนุงูู: {ََููุนْุจُุฏَُูู ู
ِْู ุฏُِูู ุงَِّููู
ู
َุง َูุง َูุถُุฑُُّูู
ْ ََููุง ََْูููุนُُูู
ْ َََُُููููููู َูุคَُูุงุกِ ุดَُูุนَุงุคَُูุง
ุนِْูุฏَ ุงَِّููู}[ูููุณ:18]، ูุงูุดูุงุนุฉ ุดูุงุนุชุงู: ุดูุงุนุฉ ู
ّูููุฉ ูุดูุงุนุฉ ู
ุซุจَุชุฉ:
ูุงูุดูุงุนุฉ ุงูู
ّูููุฉ ู
ุง ูุงูุช ุชٌุทูุจ ู
ู ุบูุฑ ุงููู ููู
ุง ูุง ููุฏุฑ ุนููู ุฅูุงّ ุงููู،
ูุงูุฏููู: ูููู ุชุนุงูู: {َูุง ุฃََُّููุง ุงَّูุฐَِูู ุขู
َُููุง ุฃَُِููููุง ู
ِู
َّุง
ุฑَุฒََْููุงُูู
ْ ู
ِْู َูุจِْู ุฃَْู َูุฃْุชَِู َْููู
ٌ َูุง ุจَْูุนٌ ِِููู ََููุง ุฎَُّูุฉٌ
ََููุง ุดََูุงุนَุฉٌ َูุงَْููุงِูุฑَُูู ُูู
ْ ุงูุธَّุงِูู
َُูู}[ุงูุจูุฑุฉ:254]. ูุงูุดูุงุนุฉ
ุงูู
ุซุจَุชุฉ ูู: ุงูุชู ุชُุทูุจ ู
ู ุงููู، ูุงูุดّุงูุน ู
ُْูุฑَู
ٌ ุจุงูุดูุงุนุฉ، ูุงูู
ุดููุน ูู: ู
ู
ุฑุถَู ุงُููู ูููู ูุนู
ูู ุจุนุฏ ุงูุฅุฐู ูู
ุง ูุงู ุชุนุงูู: {ู
َْู ุฐَุง ุงَّูุฐِู َูุดَْูุนُ
ุนِْูุฏَُู ุฅَِّูุง ุจِุฅِุฐِِْูู}[ุงูุจูุฑุฉ:255].
“Mereka (musyrikin) berkata “Kami tidaklah berdoa dan tidak
mempersembahkan ibadah kepada mereka (sembahan selain Allah) kecuali untuk
mencari qurbah (supaya mereka mendekatkan diri kami dengan Allah) dan
meminta syafaat (meminta mereka jadi perantara untuk mendo’akan kami)” Dalil tentang Qurbah adalah firman Allah Ta’ala,
َูุงَّูุฐَِูู ุงุชَّุฎَุฐُูุง ู
ِْู ุฏُِِููู
ุฃََِْูููุงุกَ ู
َุง َูุนْุจُุฏُُูู
ْ ุฅَِّูุง َُِูููุฑِّุจَُููุง ุฅَِูู ุงَِّููู ุฒَُْููู ุฅَِّู
ุงََّููู َูุญُْูู
ُ ุจََُْูููู
ْ ِูู ู
َุง ُูู
ْ ِِููู َูุฎْุชََُِูููู ุฅَِّู ุงََّููู َูุง
َْููุฏِู ู
َْู َُูู َูุงุฐِุจٌ ََّููุงุฑٌ
“Dan orang-orang yang mengambil
sesembahan-sesembahan selain Allah (berkata):”Kami tidak menyembah mereka
melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan
sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang
apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang
yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS.
Az-Zumar: 3). Adapun dalil tentang syafa’at adalah firman Allah Ta’ala,
ََููุนْุจُุฏَُูู ู
ِْู ุฏُِูู ุงَِّููู ู
َุง
َูุง َูุถُุฑُُّูู
ْ ََููุง ََْูููุนُُูู
ْ َََُُููููููู َูุคَُูุงุกِ ุดَُูุนَุงุคَُูุง ุนِْูุฏَ
ุงَِّููู
“Dan mereka menyembah selain Allah
apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula
kemanfa’atan, dan mereka (musyrikin) berkata: “Mereka (sembahan selain Allah)
itu adalah perantara kami di sisi Allah” (QS.
Yunus: 18).
Syafa’at itu ada 2 macam:
1. Syafa’at manfiyah (yang ditolak
keberadaannya).
2. Syafa’at mutsbatah (yang
ditetapkan keberadaannya).
Syafa’at manfiyah (ditolak) adalah
syafa’at yang diminta kepada selain Allah, dalam perkara yang tidak satupun
yang mampu memberikannya kecuali Allah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :
َูุง ุฃََُّููุง ุงَّูุฐَِูู ุขู
َُููุง
ุฃَُِููููุง ู
ِู
َّุง ุฑَุฒََْููุงُูู
ْ ู
ِْู َูุจِْู ุฃَْู َูุฃْุชَِู َْููู
ٌ َูุง ุจَْูุนٌ
ِِููู ََููุง ุฎَُّูุฉٌ ََููุง ุดََูุงุนَุฉٌ َูุงَْููุงِูุฑَُูู ُูู
ْ ุงูุธَّุงِูู
َُูู
“Hai orang-orang yang beriman,
belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan
kepada kalian sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli
dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa’at. Dan
orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al-Baqarah: 254).
Syafa’at mutsbatah (ditetapkan)
adalah syafa’at yang diminta dari Allah. Orang yang mensyafa’ati (memperantarai
dengan cara mendo’akan, pent.) itu dimuliakan (oleh Allah) dengan syafa’at
tersebut, sedangkan yang mendapatkan syafa’at adalah orang yang Allah ridhai,
baik ucapan maupun perbuatannya, sesudah Allah mengizinkannya. (Hal ini)
sebagaimana firman Allah Ta’ala,
ู
َْู ุฐَุง ุงَّูุฐِู َูุดَْูุนُ ุนِْูุฏَُู
ุฅَِّูุง ุจِุฅِุฐِِْูู
“Siapakah yang mampu mensyafa’ati di
sisi Allah tanpa izin-Nya?” (QS.
Al- Baqarah: 255).
Penjelasan
Kaidah Kedua, kaum musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam tidaklah menyekutukan Allah dalam Rububiyyah-Nya, namun,
mereka menyekutukan Allah dalam Uluhiyyah-Nya (Ibadah).
Di dalam bab ini terdapat penjelasan
tentang batilnya salah satu alasan pokok kaum musyrikin zaman sekarang dalam
menyembah selain Allah, bahwa alasan mereka sama persis dengan alasan kaum
musyrikin pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kaum
yang Allah sebut musyrikin pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam tidaklah mengatakan sesungguhnya
sesembahan-sesembahan mereka itu bisa menciptakan, memberi rezeki, memberi
manfa’at kepada mereka atau menolak bahaya dari diri mereka.
Merekapun tidak meyakini
bahwa sesembahan-sesembahan mereka bisa mengatur alam semesta sebagaimana
Allah Ta’ala. Akan tetapi, Mereka meyakini bahwa
sesembahan-sesembahan mereka itu hanya sebatas perantara yang
diharapkan menyampaikan kebutuhan mereka kepada Allah Ta’ala dan
diharapkan pula perantara-perantara tersebut mendekatkan diri mereka kepada
Allah, sehingga Allah memenuhi kebutuhan mereka. Walaupun status
sesembahan-sesembahan mereka itu diyakini hanya sebatas
perantara, namun hakikatnya inilah inti kesyirikan kaum musyrikin pada zaman
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau perangi,
karena Allah Ta’ala nyatakan mereka berstatus musyrik.
Dalil-dalil dalam kaedah kedua
ini
Dalam kaedah ini ada empat ayat
Al-Qur`an, yaitu:
1. Firman Allah dalam Az-Zumar: 3
Bantahan terhadap syubhat
musyrikin mencari qurbah (kedekatan dengan Allah) dalam
melakukan peribadatan kepada selain Allah.
َูุงَّูุฐَِูู ุงุชَّุฎَุฐُูุง ู
ِْู ุฏُِِููู
ุฃََِْูููุงุกَ ู
َุง َูุนْุจُุฏُُูู
ْ ุฅَِّูุง َُِูููุฑِّุจَُููุง ุฅَِูู ุงَِّููู ุฒَُْููู ุฅَِّู
ุงََّููู َูุญُْูู
ُ ุจََُْูููู
ْ ِูู ู
َุง ُูู
ْ ِِููู َูุฎْุชََُِูููู ุฅَِّู ุงََّููู َูุง
َْููุฏِู ู
َْู َُูู َูุงุฐِุจٌ ََّููุงุฑٌ
“Dan orang-orang yang mengambil
wali-wali, penolong selain Allah (berkata), ‘ Tidaklah kami menyembah mereka
melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan
sedekat-dekatnya’. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang
apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki
orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.”
Penjelasan:
- Firman Allah Ta’ala {ุฃََِْูููุงุกَ}, “wali-wali”, ini menunjukkan penamaan sesembahan dengan wali tidak merubah hakikat kesyirikan.
- Firman Allah Ta’ala {َูุนْุจُุฏُُูู ْ}, “kami menyembah mereka” ini menunjukkan mereka mengakui jika menyembah sesembahan selain Allah. Hanya saja syubhat mereka adalah hal itu tidak mengapa kalau sebatas hanya sebagai perantara. Padahal inilah yang dibantah dalam ayat yang agung ini.
- Firman Allah Ta’ala : {ุฅَِّูุง َُِูููุฑِّุจَُููุง ุฅَِูู ุงَِّููู ุฒَُْููู}, “melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”, dalam ayat ini, mereka tidaklah mengatakan bahwa alasan menyembah selain Allah adalah karena mereka meyakini sesembahan-sesembahan itu bisa mencipta, memberi rezeki, mengatur alam semesta, atau selainnya dari makna Rububiyyah, bukan demikian. Akan tetapi, semata-mata alasan mereka adalah karena mencari qurbah ( upaya agar sesembahan-sesembahan itu mendekatkan diri mereka kepada Allah).
- Firman Allah Ta’ala {َูุงุฐِุจٌ ََّููุงุฑٌ}, “pendusta dan sangat ingkar,” ini menunjukkan bahwa mereka disebut pendusta karena mereka mengklaim sesembahan tersebut bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah, padahal tidak demikian. Dan dikatakan kafir, karena mereka telah mempersembahkan ibadah kepada selain Allah.
Kesimpulan:
Jadi, orang yang beralasan menyembah
selain Allah, dengan harapan sebagai wasilah (perantara), maka statusnya sama
dengan musyrikin dulu, yaitu sama-sama telah melakukan perbuatan kekafiran.
2. Firman Allah dalam Yunus: 18
Bantahan terhadap syubhat
orang-orang musyrik berupa meminta Syafa’ah kepada selain Allah, dalam
melakukan peribadatan kepadanya.
ََููุนْุจُุฏَُูู ู
ِْู ุฏُِูู ุงَِّููู ู
َุง
َูุง َูุถُุฑُُّูู
ْ ََููุง ََْูููุนُُูู
ْ َََُُููููููู َูุคَُูุงุกِ ุดَُูุนَุงุคَُูุง ุนِْูุฏَ
ุงَِّููู
“Dan mereka menyembah selain Allah
apa yang tidak dapat menimpakan kemudharatan kepada mereka dan tidak
pula memberi kemanfa’atan, dan mereka (musyrikin) berkata, ‘Mereka
(sembahan selain Allah) itu adalah pensyafa’at kami di sisi Allah.”
Penjelasan :
- Firman Allah Ta’ala {ََููุนْุจُุฏَُูู ู ِْู ุฏُِูู ุงَِّููู}, ““Dan mereka menyembah selain Allah” ini menunjukkan bahwa mereka itu melakukan kesyirikan, karena menyembah selain Allah.
- Firman Allah Ta’ala {ู َุง َูุง َูุถُุฑُُّูู ْ ََููุง ََْูููุนُُูู ْ}, “apa yang tidak dapat menimpakan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula memberi kemanfa’atan,” ini menunjukkan bahwa sesembahan-sesembahan tersebut tidak mampu menimpakan bahaya dan memberi manfa’at sedikitpun. Dan hakikatnya kaum musyrikin tersebut mengakui hal ini, karena mereka sekedar menganggap bahwa sesembahan-sesembahan tersebut adalah pensyafa’at mereka.
- Firman Allah Ta’ala {َูุคَُูุงุกِ ุดَُูุนَุงุคَُูุง ุนِْูุฏَ ุงَِّููู}, ““Mereka (sembahan selain Allah) itu adalah pensyafa’at kami di sisi Allah,” ini menunjukkan alasan kesyirikan mereka tholabus syafa’ah (minta diperantarai untuk dimintakan kebutuhan mereka kepada Allah).
Kesimpulan:
Jadi, orang yang beralasan
meminta syafa’at kepada selain Allah, dalam melakukan
peribadatan kepadanya, seperti berdo’a kepadanya, menyembelih hewan kurban
untuknya, bernadzar untuknya dan selainnya, maka statusnya sama
dengan orang-orang dulu, yaitu sama-sama telah melakukan penyembahan kepada
selain Allah.
Alasan
kaum musyrikin dalam menyembah selain Allah
Dalam kaidah kedua ini, alasan kaum
musyrikin dalam menyembah selain Allah adalah mereka tidaklah menyembah
sesembahan selain Allah kecuali dengan maksud:
- Mencari qurbah (kedekatan dengan Allah) agar sesembahan tersebut mendekatkan diri mereka kepada Allah, sehingga dengan kedekatan itu mereka berharap Allah memenuhi kebutuhan mereka. Adapun alasan mereka mengambil perantara dalam memenuhi kebutuhan mereka dan tidak langsung berdo’a kepada Allah adalah karena mereka merasa banyak dosa, sedangkan sesembahan-sesembahan (para Nabi, Wali, atau selainnya) itu orang-orang yang bertakwa, sehingga dekat dengan Allah.
- Meminta Syafa’ah (meminta dido’akan/diperantarai) agar sesembahan tersebut menjadi perantara antara mereka dengan Allah, sehingga sesembahan tersebut bisa memintakan kebutuhan mereka kepada Allah (mendo’akan mereka).
- Hakikatnya kedua maksud ini, yaitu mencari qurbah dan
- meminta syafa’ah intinya sama, ditinjau dari sisi bahwa keduanya diyakini oleh kaum musyrikin sama-sama sebagai sebab agar Allah memenuhi kebutuhan mereka, padahal Allah tidak menjadikannya sebagai sebab.
- Memahami ayat dengan pemahaman yang bathil, yaitu ayat ini
َูุง
ุฃََُّููุง ุงَّูุฐَِูู ุขู
َُููุง ุงุชَُّููุง ุงََّููู َูุงุจْุชَุบُูุง ุฅَِِْููู ุงَْููุณَِููุฉَ
َูุฌَุงِูุฏُูุง ِูู ุณَุจِِِููู َูุนََُّููู
ْ ุชُِْููุญَُูู
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya,
supaya kamu mendapat keberuntungan.”(QS. Al-Maidah : 35) Riwayat dari Qotadah
bahwa Wasilah yang dimaksud dalam ayat ini adalah mendekatkan diri kepada Allah
dengan ketaatan dan amal shaleh yang di ridhoi oleh Allah.[1]
Bentuk
penyembahan yang mereka lakukan
Sedangkan untuk mencapai kedua
maksud ini (Qurbah dan Syafa’at), maka kaum musyrikin melakukan
penyembahan kepada sesembahan selain Allah dengan berbagai bentuk ibadah,
seperti berdo’a, menyembelih kurban, bernadzar atau ibadah yang lainnya.
Ibadah-ibadah ini dipersembahkan
kepada sesembahan selain Allah, agar menjadi perantara antara mereka
(musyrikin) dengan Allah dalam memintakan kebutuhan mereka kepada-Nya.
Keyakinan
kaum musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam
- Mereka meyakini bahwa Allah lah satu-satunya Sang Pencipta, Sang Pengatur, dan Sang Pemilik alam semesta.
- Mereka meyakini bahwa sesembahan-sesembahan mereka (para Nabi, Wali, orang-orang shaleh atau selainnya) itu tidak bisa menciptakan, mengatur dan tidak memiliki alam semesta ini.
- Namun, kendati demikian, mereka
mengakui bahwa para Nabi, Wali, orang-orang shaleh atau selainnya tersebut
adalah sesembahan-sesembahan mereka, bahkan mereka mengingkari pengesaan
Allah dalam peribadatan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
ุฃَุฌَุนََู ุงْูุขَِููุฉَ ุฅًَِٰููุง
َูุงุญِุฏًุง ۖ ุฅَِّู َٰูุฐَุง َูุดَْูุกٌ ุนُุฌَุงุจٌ
“Bagaimana ia menjadikan
sesembahan-sesembahan itu Sesembahan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini
benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan”(QS. Shaad: 5).
Ayat di atas menunjukkan mereka mengingkari satu-satunya sesembahan yang hak adalah Allah, bahkan menetapkan bahwa sesembahan-sesembahan mereka selain Allah itu disifati dengan berhak disembah, karena dalam ayat tersebut mereka sebut sesembahan-sesembahan mereka dengan sebutan “Aalihah”, yaitu makhluk-makhluk yang berhak untuk disembah. Meskipun mereka menyebut Allah dengan “Ilaah” juga, yaitu Dzat yang berhak untuk disembah, hanya saja mereka tidak mau mempersembahkan peribadatan untuk Allah saja atau dengan kata lain, mereka tidak mau meninggalkan syirik dalam beribadah.
Ayat di atas menunjukkan mereka mengingkari satu-satunya sesembahan yang hak adalah Allah, bahkan menetapkan bahwa sesembahan-sesembahan mereka selain Allah itu disifati dengan berhak disembah, karena dalam ayat tersebut mereka sebut sesembahan-sesembahan mereka dengan sebutan “Aalihah”, yaitu makhluk-makhluk yang berhak untuk disembah. Meskipun mereka menyebut Allah dengan “Ilaah” juga, yaitu Dzat yang berhak untuk disembah, hanya saja mereka tidak mau mempersembahkan peribadatan untuk Allah saja atau dengan kata lain, mereka tidak mau meninggalkan syirik dalam beribadah.
- Mereka meyakini bahwa sesembahan-sesembahan mereka ini adalah sesembahan perantara saja, maksudnya sesembahan selain Allah itu mereka yakini tidak bisa menciptakan, tidak bisa mengatur dan tidak memiliki alam semesta ini, namun mereka menyembahnya agar sesembahan itu mendekatkan diri mereka kepada Allah dan memperantarai diri mereka dengan Allah. Sebagaimana ucapan mereka dalam Al-Qur’an,
ู
َุง َูุนْุจُุฏُُูู
ْ ุฅَِّูุง
َُِูููุฑِّุจَُููุง ุฅَِูู ุงَِّููู ุฒَُْููู
“Tidaklah kami menyembah mereka
melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya” (QS. Az-Zumar: 3).
Dan ucapan mereka yang lainnya dalam
surat Yunus,
ََููุนْุจُุฏَُูู ู
ِْู ุฏُِูู ุงَِّููู ู
َุง
َูุง َูุถُุฑُُّูู
ْ ََููุง ََْูููุนُُูู
ْ َََُُููููููู َูุคَُูุงุกِ ุดَُูุนَุงุคَُูุง ุนِْูุฏَ
ุงَِّููู
“Dan mereka menyembah selain Allah
apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak
pula kemanfa’atan, dan mereka (musyrikin) berkata, “Mereka (sembahan
selain Allah) itu adalah perantara kami di sisi Allah” (QS. Yunus: 18).
Jadi, alasan mereka menyembah sesembahan- sesembahan selain Allah tersebut adalah dengan maksud mencari qurbah dan meminta syafa’ah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Jadi, alasan mereka menyembah sesembahan- sesembahan selain Allah tersebut adalah dengan maksud mencari qurbah dan meminta syafa’ah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Kesimpulan
Bahwa akar kesyirikan mereka adalah
Tholabul qurbah dan tholabus
syafa’ah yang salah, yaitu
mencari kedekatan dengan Allah dan meminta syafa’at (meminta didoakan)
kepada perantara dengan cara mempersembahkan peribadatan kepada perantara
tersebut. Diharapkan dengan itu, perantara tersebut menyampaikan keperluan
mereka kepada Allah Ta’ala.
Ini adalah kesyirikan yang dilakukan
oleh kaum musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam, walaupun kaum musyrikin menamakan kesyirikan mereka itu dengan
nama taqarrub, tawassul atau syafa’at,
namun hal ini tidaklah merubah hakikatnya.
Dan kesyirikan tersebut
terbantah, biidznillah, dengan dua perkara:
- Memahami konsep ibadah yang benar.
- Memahami konsep syafa’at yang benar dan perkara kedua inilah yang secara khusus disebutkan di dalam kaidah kedua ini.
Oleh karena itulah, penulis
membawakan dalil tentang syafa’at yang ditetapkan keberadaannya dan syafa’at
yang ditolak. Berikut ini penjelasannya:
Definisi Syafa’at
Syafa’at berasal dari kata asy-syaf’u (ganda)
yang merupakan lawan kata dari al-witru (tunggal), yaitu
menjadikan sesuatu yang tunggal menjadi ganda. Ini pengertian secara bahasa.
Sedangkan secara istilah, Syafa’at berarti menjadi perantara
(syafi’) bagi orang lain (masyfu’ lahu) untuk didapatkannya manfaat atau
tertolaknya madharat atau memintakan manfa’at untuk
orang lain (masyfu’ lahu).
Faedah dari definisi :
- Dari definisi dapat kita simpulkan bahwa makna istilah syafa’at sesuai dengan makna bahasa, karena permintaannya ada genap (dua), permintaan dari syafi’ dan masyfu’ lahu.
- Hakikat syafa’at itu adalah permintaan, jadi apa yang dilakukan kaum musyrikin berupa meminta syafa’at (tholabus Syafa’ah) kepada perantara (syafi’) agar ia memintakan kebutuhan mereka kepada Allah. Sedangkan perantara yang mereka mintai syafa’atnya, di antaranya adalah para Nabi, wali, atau orang-orang sholeh yang sudah meninggal dunia, berarti kaum musyrikin berdo’a kepada perantara.
Di sinilah nampak kesyirikan mereka
dalam meminta syafa’at, ketika mereka berdo’a kepada selain Allah. Contoh
meminta syafa’at yang dihukumi syirik adalah seseorang datang ke kuburan wali
atau tempat kramat yang diyakini bahwa ruh wali Allah menitis di tempat itu,
lalu berdo’a, menyeru mayit atau ruh wali Allah tersebut. Perbuatan tersebut
dapat digambarkan dalam dialog berikut ini.
“Wahai Wali Allah, mintakan
kepada Allah agar saya selamat dari Neraka!” atau “ Wahai Wali
Allah, syafa’ati saya agar masuk Surga!” atau “Wahai Wali Allah, saya
banyak berbuat dosa, engkau wali Allah yang dekat dengan-Nya, jika tidak engkau
kasihani saya, ya Wali Allah, niscaya saya akan celaka dunia Akhirat, maka
syafa’ati saya!” atau “Wahai Wali Allah, wahai sang penghilang
duka, wahai sang pengangkat bala`,saya dalam kesempitan dan sedang tertimpa
musibah, saya bersimpuh di hadapanmu, memohon belas-kasihmu, mohonlah kepada
Allah agar mengangkat musibahku ini!” Ini semua adalah kalimat-kalimat
syirik akbar!
Ditinjau dari ditetapkan atau
tertolaknya, syafa’at terbagi dua macam:
- Syafa’at Mutsbatah /Maqbulah (ditetapkan keberadaannya/ diterima) dan
- Syafa’at manfiyyah/mardudah (ditiadakan/ditolak).
Pertama Syafa’at Mutsbatah /Maqbulah,
yaitu:
Syafa’at yang didasarkan pada dalil
yang Allah Ta’ala jelaskan dalam Kitab-Nya atau yang dijelaskan
oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Sunnahnya,
seperti firman Allah, surat Al-Baqarah: 255, yang sekaligus merupakan dalil
keempat dalam kaidah kedua ini, berisikan tentang adanya syafa’at yang mutsbattah (ditetapkan
keberadaannya).
ู
َู ุฐَุง ุงَّูุฐِู َูุดَْูุนُ ุนِูุฏَُู
ุฅِูุงَّ ุจِุฅِุฐِِْูู
“Tiada yang dapat memberi
syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya” (QS. Al-Baqarah: 255).
Dan syafa’at tidaklah diberikan
kecuali kepada orang-orang yang bertauhid.
Syafa’at Mutsbatah (ditetapkan)
/Maqbulah (diterima) di Akhirat mempunyai tiga syarat:
Pertama, Allah meridhai orang yang mensyafa’ati (syafi’). Kedua,
Allah meridhai orang yang diberi syafa’at (masyfu’ lahu).
Ketiga, Allah mengizinkan pensyafa’at untuk mensyafa’ati. Syarat-syarat di atas
dijelaskan Allah dalam firman-Nya,
ََููู
ู
ِّู ู
ٍََّูู ِูู ุงูุณَّู
َุงَูุงุชِ
ูุงَุชُุบِْูู ุดََูุงุนَุชُُูู
ْ ุดَْูุฆًุง ุฅِูุงَّ ู
ِู ุจَุนْุฏِ ุฃَู َูุฃْุฐََู ุงُููู ِูู
َู
َูุดَุขุกُ ََููุฑْุถَู
“Dan berapa banyaknya malaikat di
langit, syafa’at mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah
mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya)” (QS. An-Najm:
26)
Lalu firman Allah,
َْููู
َุฆِุฐٍ ูุงَุชََููุนُ ุงูุดََّูุงุนَุฉُ
ุฅِูุงَّ ู
َْู ุฃَุฐَِู َُูู ุงูุฑَّุญْู
َُู َูุฑَุถَِู َُูู َْูููุงً
“Pada hari itu tidak berguna
syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin
kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya” (QS. Thaha: 109). Agar syafa’at
seseorang diterima, maka harus memenuhi ketiga syarat di atas.
Kedua: Syafa’at manfiyyah/mardudah
(tertolak).
Dalilnya telah disebutkan oleh
penulis dalam kaidah kedua ini, tepatnya pada dalil ketiga. Penulis, Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi rahimahullah dalam kaidah
kedua ini mengatakan,
Syafa’at manfiyah (ditolak) adalah
syafa’at yang diminta kepada selain Allah, dalam perkara yang tidak satupun
yang mampu memberikannya kecuali Allah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
َูุง ุฃََُّููุง ุงَّูุฐَِูู ุขู
َُููุง
ุฃَُِููููุง ู
ِู
َّุง ุฑَุฒََْููุงُูู
ْ ู
ِْู َูุจِْู ุฃَْู َูุฃْุชَِู َْููู
ٌ َูุง ุจَْูุนٌ
ِِููู ََููุง ุฎَُّูุฉٌ ََููุง ุดََูุงุนَุฉٌ َูุงَْููุงِูุฑَُูู ُูู
ْ ุงูุธَّุงِูู
َُูู
“Hai orang-orang yang beriman,
belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan
kepada kalian sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli
dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa’at. Dan
orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al-Baqarah: 254).
Fungsi
kaidah ini
Menghancurkan kerancuan pemikiran
besar kaum musyrikin berupa mengambil perantara antara mereka dengan Allah
dalam beribadah. Dengan hancurnya pemikiran tersebut, diharapkan mereka mudah
menerima tauhid yang benar dan mudah mengenal hakikat syirik.
Semoga Allah memberikan hidayah
kepada kita ke jalan Allah dan memberikan manfaat dari kajian ini di dunia dan
di akhirat. Wallahu A’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar