Oleh : Abu
Yusuf Akhmad Ja’far
Muqoddimah
ุงูุญَู
ْุฏُ ِููู ุญَู
ْุฏًุง َูุซِْูุฑًุง ุทَِّูุจًุง ู
ُุจَุงุฑًَูุง ِِْููู ،
َูู
َุง ُูุญِุจُّ ุฑَุจَُّูุง َู َูุฑْุถَู ، َู ุฃَุดَْูุฏُ ุฃَْู َูุง ุฅََِูู ุฅَِّูุง ุงُููู َู
ุฃََّู ู
ُุญَู
َّุฏًุง ุนَุจْุฏُُู َู ุฑَุณُُُْููู
َูุงَู ุงُููู ุชَุนَุงَูู : َูุขَُّููุง ุงูุฐَِّْูู ุขู
َُْููุง ุงุชَُّْููุง
ุงَููู ุญََّู ุชَُูุงุชِِู، َู َูุง ุชَู
ُْูุชَُّู ุฅَِّูุง َู ุฃَْูุชُู
ْ ู
ُุณِْูู
َُْูู
َู ุฅَِّู ุฃَุตْุฏََู ุงูุญَุฏِْูุซِ ِูุชَุงุจُ ุงِููู ุชَุนَุงَูู ، َู ุฎْูุฑَ
ุงَููุฏِْู َูุฏُْู ุงَّููุจِِّู ุตََูู ุงُููู ุนََِْููู َู ุณََّูู
َ ، َู ุดَุฑَّ
ุงูุฃُู
ُْูุฑِ ู
ُุญْุฏَุซَุงุชَُูุง َูุฅَِّู َُّูู ู
ُุญْุฏَุซَุงุชِ ุจِุฏْุนَุฉٍ َู َُّูู ุจِุฏْุนَุฉٍ
ุถََูุงَูุฉٍ
ุฃู
َّุง ุจَุนْุฏُ ،
Segala
pujia bagi Allah atas limpahan rahmat dan nikmat-Nya. Betapa banyak nikmat yang
Allah berikan kepada kita, namun tidak banyak nikmat yang diberikan olehNya
kita manfaatkan untuk kebaikan dan ketaatan. Patut bagi kita untuk selalu
intropeksi diri setiap langkah yang kita lalui dalam kehidupan dunia ini.
ุจِุณْู
ِ ุงِููู ุงูุฑَุญْู
َِู ุงูุฑَุญِْูู
ِ
ุฃุณุฃู ุงููู ุงููุฑูู
ุฑุจ ุงูุนุฑุด ุงูุนุธูู
ุฃู ูุชููุงู ูู ุงูุฏููุง ู
ุงูุฃุฎุฑุฉ، ูุฃู ูุฌุนูู ู
ุจุงุฑูุง ุฃููู
ุง ููุช، ู ุฃู ูุฌุนูู ู
ู
ู ุฅุฐุง ุฃุนุทู ุดูุฑ، ูุฅุฐุง ุงุจุชูู
ุตุจุฑ، ูุฅุฐุง ุฃุฐูุจ ุงุณุชุบูุฑ، ูุฅู ูุคูุงุก ุงูุซูุงุซ ุนููุงู ุงูุณุนุงุฏุฉ
ุงุนูู
ุฃุฑุดุฏู ุงููู ูุทุงุนุชู ุฃู ุงูุญูููุฉ ู
ูุฉ ุฅุจุฑุงููู
ุนููู ุงูุณูุงู
: ุฃู ุชุนุจุฏ ุงููู ูุญุฏู ู
ุฎูุตุง ูู ุงูุฏูู، ูุจุฐูู ุฃู
ุฑุงููู ุฌู
ูุน ุงููุงุณ ู ุฎูููู
ููุง، ูู
ุง
ูุงู ุชุนุงูู :
" َูู
َุง
ุฎََْููุชُ ุงูุฌَِّู َู ุงูุฅِْูุณَ ุฅَِّูุง َِููุนْุจُุฏَُْูู " (ุงูุฐุงุฑูุงุช : 56)
ูุฅุฐุง ุนุฑูุช ุฃู ุงููู ุฎููู ูุนุจุงุฏู، ูุงุนูู
ุฃู ุงูุนุจุงุฏุฉ ูุง ุชุณู
ู
ุนุจุงุฏุฉ ุฅูุง ู
ุน ุงูุชูุญูุฏ ูู
ุง ุฃู ุงูุตูุงุฉ ูุง ุชุณู
ู ุตูุงุฉ ุฅูุง ู
ุน ุงูุทูุงุฑุฉ
ูุฅุฐุง ุฏุฎู ุงูุดุฑู ูู ุงูุนุจุงุฏุฉ ูุณุฏุช ูุงูุญุฏุซ ุฅุฐุง ุฏุฎู ูู ุงูุทูุงุฑุฉ.
ูุฅุฐุง ุนุฑูุช ุฃู ุงูุดุฑู ุฅุฐุง ุฎุงูุท ุงูุนุจุงุฏุฉ ุฃูุณุฏูุง، ูุฃุญุจุท ุงูุนู
ู،
ูุตุงุฑ ุตุงุญุจู ู
ู ุงูุฎุงูุฏูู ูู ุงููุงุฑ ุนุฑูุช ุฃู ุฃูู
ู
ุง ุนููู ู
ุนุฑูุฉ ุฐูู، ูุนู ุงููู ุฃู
ูุฎูุตู ู
ู ูุฐู ุงูุดุจูุฉ، ููู ุงูุดุฑู ุจุงููู ุงูุฐู ูุงู ุงููู ููู
: "ุฅَِّู
ุงََّููู َูุง َูุบِْูุฑُ ุฃَْู ُูุดْุฑََู ุจِِู ََููุบِْูุฑُ ู
َุง ุฏَُูู ุฐََِٰูู ِูู
َْู
َูุดَุงุกُ ۚ َูู
َْู ُูุดْุฑِْู ุจِุงَِّููู ََููุฏِ ุงْูุชَุฑَٰู ุฅِุซْู
ًุง ุนَุธِูู
ًุง" (ุงููุณุงุก: 48)
ูุฐูู ุจู
ุนุฑูุฉ ุฃุฑุจุน ููุงุนุฏ ุฐูุฑูุง ุงููู ุชุนุงูู ูู ูุชุงุจู
“Tafsir Bismillah”
ุจِุณْู
ِ ุงِููู ุงูุฑَุญْู
َِู ุงูุฑَุญِْูู
ِ
Beliau mengawali kitab dengan
menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang sebagaimana
Al-Qur’an juga diawali dengan bismillah dan mengikuti sunnah Nabi
Muhammad Salallahu ‘alaihissalam dalam surat-suratnya yang di kirim ke
raja-raja untuk menyerukan dakwah Islam. Hal ini juga sesuai hadist berikut :
ُُّูู
ุฃَู
ْุฑٍ ุฐِْู ุจَุงٍู َูุง ُูุจْุฏَุฃْ ِِْููู ุจِุจِุณْู
ِ ุงِููู ََُููู ุฃَุจْุชَุฑ
“Setiap perkara yang tidak di awali
dengan bismilah maka akan kacau (hilang keberkahannya)”[1]
Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-Utsaimin berkata: “Ada perselisihan diantara para ulama’ mengenai ke
shohihan hadist ini, ada yang menshohihkannya (membenarkannya) dan bersandar
kepadanya seperti Imam An-Nawawi, ada pula yang mendo’ifkannya (melemahkannya),
akan tetapi diantara para ulama menerima hadist ini sehingga mereka meletakkan
hadist ini di kitab-kitab mereka, hal ini menujukkan bahwa hadist ini ada
asalnya”[2]
Secara bahasa kalimat (ุจِ) di kalimat ini adalah untuk meminta
pertolongan, jadi kalimat bismillah disini berarti : Aku minta
pertolongan kepada Allah yang maha pengasih lagi Maha Penyayang.
Ada kalimat yang dihilangkan dalam bismillah, kalau dalam ilmu bahasa
arab istilahnya “Mahdzuf” taqdirnya adalah ุจِุณْู
ِ ุงِููู ุฃَْูุชُุจُ (Aku minta pertolongan dengan
Nama Allah untuk menulis kitab ini)
Kalimat (ุงِุณْู
ِ) secara bahasa ada 2 pendapat
dikalangan ulama Kufah dan Bashra :
Pendapat Ulama Kufah, berasal
dari kata (ุงูุณِّู
َุฉُ (bermakna (ุงูุนََูุงู
َุฉُ) Tanda, sedangkan Ulama Basrah, berasal dari kata
(ุงูุณُู
ُْู) bermakna (ุงูุฑَْูุนَุฉُ َู ุงูุนُُูู) Tinggi. Dari
kedua pendapat ini yang paling benar adalah pendapat ke-2 dengan dalil jama’
dari isim tersebut yaitu (ุฃَุณْู
َุงุกُ) dan
tasghirnya yaitu (ุณُู
َِู).
Kalimat (ุงููู) adalah Nama salah satu nama dari Dzat
yang maha suci, tidak boleh satupun dari makhluknya menamai diri-dirinya dengan
kalimat “Allah”. Para Ulama mengatakan bahwa Kalimat (ุงููู) adalah Nama paling besar dan mulia
buat Dzat Allah yang Masa Suci. Perlu di ketahui bahwa Allah itu mempunyai
banyak Nama dan Sifat yang mulia, yang wajib bagi kita untuk beriman dengannya.
Nama Allah tidak sebatas 99 saja, akan tetapi angka 99 itu hanya sebagian saja
karena dalam hadist (yang menyebutkan) itu tidak mengandung pembatasan. Nabi salallahu
‘alaihissalam bersabda :
ุฃู ุงููู
ุชุณุนุฉً ู ุชุณุนูู ุงุณู
ุง ู
ุงุฆุฉً ุฅูุง ูุงุญุฏุง ู
ู ุฃุญุตุงูุง ุฏุฎู ุงูุฌูุฉ
Dalam riwayat selain Bukhari dan
Muslim,
ู
َْู
ุญَِูุธََูุง ุฏَุฎََู ุงูุฌََّูุฉَ
“Sesungguhnya Allah itu mempunyai 99
nama, barangsiapa menghitungnya /menghafalnya, maka pasti masuk surga”[3]
Jadi tidak boleh bagi
seseorang menamakan dirinya dengan “Allah”, Karena nama ini khusus buat
Allah saja.
Kalimat (ุงูุฑุญู
ู ุงูุฑุญูู
) : kedua kalimat ini adalah salah satu
dari nama dan sifat Allah yang wajib kita Imani. Kedua kalimat itu terbentuk
dari satu kata yaitu (ุงูุฑَّุญْู
َุฉُ).
Dan perbedaan antara Ar-Rahman
dan Ar-Rahiim, diantaranya :
Ar-Rahman : Kasih Allah berupa rezeki dan yang lain untuk orang
beriman dan kafir di dunia.
Ar-Rahiim : Kasih sayang Allah berupa ampunan bagi orang beriman saja
di akhirat nanti.
Faidah : Membaca bismillah
dalam segala hal yang baik (selain perkara ibadah yang mahdoh/paten) adalah
sunnah, misal : Ketika kita mau membaca buku entah itu buku agama atau buku
pengetahuan umum, maka mulai dengan bismillah karena ini sunnah, contoh
lain : Ketika akan masak, ketika akan nulis pesan (sms/chating) sebagaimana hal
ini dilakukan Nabi ketika mengirim surat ke raja-raja. Ada juga perkara dunia
yang dianjurkan untuk mengucap bismillah ketika akan melakukannya karena
ada dalil khusus yang menjelaskan, misal : ketika mau makan, ketika masuk
masjid. Ketika mau masuk kamar mandi, ketika melepas pakaian dll.
Tanbih/ Peringatan : Membaca bismillah
tidak boleh dilakukan ketika ibadah muqoyyad (paten), misal mau sholat membaca bismillah,
ini tidak dianjurkan karena tidak ada dalil khusus, jika ingin membacanya maka
butuh dalil khusus. Contoh lain, mau adzan mengucap bismillah, ini juga
tidak dianjurkan karena tidak ada dalil yang khusus dalam masalah ini. Wallahu
A’lam.
Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab berkata :
ุฃุณุฃู ุงููู ุงููุฑูู
ุฑุจ ุงูุนุฑุด ุงูุนุธูู
ุฃู ูุชููุงู ูู ุงูุฏููุง ู
ุงูุฃุฎุฑุฉ، ูุฃู ูุฌุนูู ู
ุจุงุฑูุง ุฃููู
ุง ููุช، ู ุฃู ูุฌุนูู ู
ู
ู ุฅุฐุง ุฃุนุทู ุดูุฑ، ูุฅุฐุง ุงุจุชูู
ุตุจุฑ، ูุฅุฐุง ุฃุฐูุจ ุงุณุชุบูุฑ، ูุฅู ูุคูุงุก ุงูุซูุงุซ ุนููุงู ุงูุณุนุงุฏุฉ
Artinya : “Aku (penulis kitab)
meminta kepada Allah yang memiliki Arsy yang Agung, semoga kamu (Para pembaca)
selalu dalam lindungan Allah di dunia dan akhirat, dan semoga selalu meraih
keberkahan dimanapun kamu berada, dan menjadikan orang yang selalu bersyukur
ketika diberi (1), menjadi orang sabar tatkala diuji (2), selalu istighfar
tatkala terjatuh kedalam perbuatan dosa (3), ketiga hal diatas adalah tanda
kebahagiaan ”
Penjelasan :
Salah satu kebaikan dari penulis
kitab ini, beliau mendoakan setiap pelajar yang ingin belajar ilmu aqidah
yang benar dan juga beliau mendoakan para pembaca yang ingin mencari kebenaran
serta keselamatan (di dunia dan akhirat) agar selalu menjadi kekasih Allah.
Salah satu sifat wali Allah (kekasih
Allah) yaitu Tidak takut kepada siapapun kecuali hanya keapda Allah dan tidak
bersedih (mengalami penyesalan) di akhirat nanti. Allah Ta’ala berfirman
:
ุฅَِّู
ุงَّูุฐَِูู َูุงُููุง ุฑَุจَُّูุง ุงَُّููู ุซُู
َّ ุงุณْุชََูุงู
ُูุง ََููุง ุฎٌَْูู ุนََِْูููู
ْ
ََููุง ُูู
ْ َูุญْุฒََُููู
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami
ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (QS. Al-Ahqof : 13)
Penulis juga mendoakan agar para
pembaca meraih keberkahan di dalam segala hal, yaitu berkah kesehatannya,
hartanya, keluarganya. Karena jika Allah Ta’ala memberkahi seorang hamba
maka akan diberkahi di seluruh kehidapnnya. Allah Ta’ala berfirman
mengenai Nabi Isa yang telah diberkahi :
َูุฌَุนََِููู ู
ُุจَุงุฑًَูุง ุฃََْูู ู
َุง ُْููุชُ
“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja
aku berada” (QS. Maryam : 31)
Makna Barokah yaitu : Bertambah dan
berkembangnya harta, kesehatan dan keluarga.
Kemudian Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab memberikan resep bahagia yang di ambil dari Al-Qur’an :
1.
Apabila diberi
maka bersyukur
2.
Apabila di uji
maka bersabar
3.
Apabila
terjatuh kedalam dosa maka istighfar (memohon ampun kepada Allah)
Penjelasan :
*Syukur*
Ketahuilah bahwa orang yang selalu
bersyukur itu, dia telah mencapai derajat yang tinggi disisi Allah, karena
sedikit sekali dari hamba Allah yang bersyukur. Allah Ta’ala berfirman :
ุงุนْู
َُููุง
ุขَู ุฏَุงُููุฏَ ุดُْูุฑًุง ۚ ٌََِููููู ู
ِْู ุนِุจَุงุฏَِู ุงูุดَُّููุฑُ
“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah).
Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba’ : 13)
Ibnul Qoyyim mendefinisikan Syukur
di dalam kitabnya Madarijus Salikin, beliau berkata : Menampakkan atsar (bekas)
nikmat yang diberikan kepada Allah, dengan memuji Allah dengan lisan atas
nikmat yang diberikan kepadanya, menambah keyakinan (kesaksian kepada kebesaran
Allah) dan semakin nambah kecintaan kepada Allah di dalam hatinya, serta
mengaplikasikan nikmat yang diberikan oleh Allah dengan amalan badan berupa
kesungguhan dalam ketaatan.
-
Bersyukur dengan
lisan : berdzikir kepada Allah misal, bertasbih (ุณุจุญุงู ุงููู) , bertahmid (ุงูุญู
ุฏ ููู) ,
bertahlil
(ูุงุฅูู ุฅูุง ุงููู) , bertakbir (ุงููู ุฃูุจุฑ)
-
Bersyukur
dengan anggota badan : melakukan amalan yang diwajibkan Allah, misal : Shalat
pada waktunya, Puasa Ramdhan atau berbakti kepada orang tua.
-
Bersyukur
dengan hati, berkeyakinan bahwa nikmat itu datangnya karena karunia Allah bukan
yang lain.
*Sabar*
Salah satu sifat orang mukmin adalah sabar tatkala tertimpa musibah dan bermuhasabah
diri. Allah Ta’ala berfirman :
َََูููุจََُُّْููููู
ْ
ุจِุดَْูุกٍ ู
َِู ุงْูุฎَِْูู َูุงْูุฌُูุนِ ََْูููุตٍ ู
َِู ุงْูุฃَู
َْูุงِู َูุงْูุฃَُْููุณِ
َูุงูุซَّู
َุฑَุงุชِ ۗ َูุจَุดِّุฑِ ุงูุตَّุงุจِุฑَِูู (155) ุงَّูุฐَِูู ุฅِุฐَุง ุฃَุตَุงุจَุชُْูู
ْ
ู
ُุตِูุจَุฉٌ َูุงُููุง ุฅَِّูุง َِِّููู َูุฅَِّูุง ุฅَِِْููู ุฑَุงุฌِุนَُูู
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan
sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(155) (yaitu)
orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna
lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun".(QS.
Al-Baqarah : 155-156)
Nabi salallahu ‘alaihissalam bersabda :
ุนَุฌَุจًุง ูุฃَู
ْุฑِ ุงูู
ุคู
ِู ุฅَِّู ุฃู
ْุฑَู َُُّููู
ُูู ุฎَูุฑٌ ููุณَ ุฐَูู ูุฃَุญَุฏٍ ุฅูุง ููู
ُุคْู
ِู ุฅِْู ุฃุตَุงุจุชُู ุณَุฑَّุงุกُ ุดََูุฑَ ููุงูุชْ
ุฎَูุฑًุง ُูู ูุฅْู ุฃุตَุงุจุชُู ุถَุฑَّุงุกُ ุตَุจุฑَ ููุงูุชْ ุฎَูุฑًุง ُูู
“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Sungguh seluruh
perkara adalah kebaikan baginya. Yang demikian itu tidaklah dimiliki oleh
seorangpun kecuali seorang mukmin. Jika mendapatkan kelapangan ia bersyukur
maka yg demikian itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kemudaratan/kesusahan ia
bersabar maka yg demikian itu baik baginya.”(HR. Muslim)
Makna Sabar adalah menahan diri
senantiasa dalam ketaatan kepada Allah, dan menahan diri agar tidak bermaksiat
kepada Allah dan menahan diri atas takdir buruk yang menimpa kita semua. Dari
pengertian diatas maka Sabar di kelompokkan menjadi 3 :
1.
Sabar
senantiasa taat kepada Allah
2.
Sabar untuk
meninggalkan maksiat
3.
Sabar dalam
menerima takdir buruk yang menimpa kepada kita.
*Istighfar*
Allah Ta’ala menyebutkan
tanda-tanda orang yang bertaqwa adalah tatkala dia terjatuh ke dalam dosa maka
dia beristighfar (minta ampun) kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala
berfirman :
َูุงَّูุฐَِูู ุฅِุฐَุง َูุนَُููุง
َูุงุญِุดَุฉً ุฃَْู ุธََูู
ُูุง ุฃَُْููุณَُูู
ْ ุฐََูุฑُูุง ุงََّููู َูุงุณْุชَุบَْูุฑُูุง
ِูุฐُُููุจِِูู
ْ َูู
َْู َูุบِْูุฑُ ุงูุฐُُّููุจَ ุฅَِّูุง ุงَُّููู ََููู
ْ ُูุตِุฑُّูุง ุนََٰูู
ู
َุง َูุนَُููุง َُููู
ْ َูุนَْูู
َُูู
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan
keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun
terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari
pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka
mengetahui.” (QS. Al-Imran :
135)
Nabi
salallahu ‘alaihissalam bersabda :
ูุง ุนุจุงุฏู ، ุฅููู
ุชุฎุทุฆูู ุจِุงَِّْูููู
َูุงََّูููุงุฑِ ، ูุฃََูุง ุฃَุบِْูุฑُ ุงูุฐُُّْููุจَ ุฌَู
ِْูุนًุง ، َูุงุณْุชَุบِْูุฑُِْْููู
ุฃَุบِْูุฑْ َُููู
ْ
“Wahai para
hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di siang dan malam hari, dan Aku
akan mengampuni seluruh dosa, maka minta ampunlah kepada-Ku, niscaya akan Aku
ampuni dosa-dosa kalian” (HR. Muslim)
Tiga
perkara diatas adalah alamat kebahagiaan, sebab keberuntungan di dunia dan di
akhirat. Barangsiapa yang mampu merealisasikan ketiga hal diatas akan meraih
kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Makna
bahagia adalah seorang hamba merasa ridha atas pemeberian Allah, merasa aman
dan tidak takut kecuali kepada Allah Ta’ala.
Kemudian
Syaikh melanjutkan perkataannya :
ุงุนูู
ุฃุฑุดุฏู ุงููู ูุทุงุนุชู ุฃู ุงูุญูููุฉ ู
ูุฉ ุฅุจุฑุงููู
ุนููู
ุงูุณูุงู
: ุฃู ุชุนุจุฏ ุงููู ูุญุฏู ู
ุฎูุตุง ูู ุงูุฏูู، ูุจุฐูู ุฃู
ุฑุงููู ุฌู
ูุน ุงููุงุณ ู ุฎูููู
ููุง، ูู
ุง ูุงู ุชุนุงูู :
" َูู
َุง
ุฎََْููุชُ ุงูุฌَِّู َู ุงูุฅِْูุณَ ุฅَِّูุง َِููุนْุจُุฏَُْูู " (ุงูุฐุงุฑูุงุช : 56)
Penjelasan
:
ุงِุนَْูู
ْ ุฃุฑْุดَุฏََู ุงُููู ِูุทَุงุนَุชِِู
Ketahuilah
wahai para pembaca ุงุนูู
:
Kata (ุงุนูู
) dalam bahasa arab
menunjukkan bahwa seruan setelah kalimat ini adalah penting.
Contoh kalimat
(ุงุนูู
) dalam Al-Qur’an :
Allah Ta’ala
berfirman :
َูุงุนَْูู
ْ
ุฃََُّูู َูุง ุฅََِูู ุฅَِّูุง ุงُููู
“ Ketahuilah
bahwasannya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala” (QS. Muhammad : 19
)
Kalimat (َูุงุฅََِูู ุฅَِّูุง ุงُููู)
adalah kalimat yang sangat penting, hanya dengan kalimat itu disertai keyakinan
dengannya, maka seseorang bisa masuk surga. Nabi salallahu’alaihissalam
bersabda :
ู
َْู
َูุงَู ุขุฎِุฑُ َููุงَู
ِِู َูุง ุฅََِูู ุฅَِّูุง ุงُููู ุฏَุฎََู ุงูุฌََّูุฉَ
“ Barangsiapa
yang akhir perkataannya (ucapannya) Lailaha illallah maka dia akan masuk surga” (HR. Abu Dawud. No. 3116)
Semoga
Allah memberimu petunjuk ุฃَุฑْุดَุฏََู
ุงُููู :
Ini adalah do’a dari penulis untuk
para pembaca semua, makna kalimat (ุงูุฑَุดุฏ) adalah
(ุงูุงุณุชูุงู
ุฉ) istiqomah diatas petunjuk kebenaran.
Kalimat (ุงูุฑُุดْุฏُ) lawan dari (ุงูุบَُّู) : kesesatan.
Untuk
selalu taat kepada Allah
ِูุทَุงุนَุชِِู :
Ketaatan adalah suatu yang sesuai
dengan tujuan, yaitu mengerjakan setiap yang diperintahkan dan meninggalkan apa
saja yang dilarang.
ุฅู
ุงูุญูููุฉ ู
ูุฉ ุฅุจุฑุงููู
: ุฃู ุชุนุจุฏ ุงููู ูุญุฏู ، ู
ุฎูุตุง ูู ุงูุฏูู ، ู ุจุฐูู ุฃู
ุฑ ุงููู ุฌู
ูุน
ุงููุงุณ ، ู ุฎูููู
ููุง
Penjelasan :
Bahwasannya
Al-Hanafiyyah itu ุฅَِّู ุงูุญَََِّูููุฉَ :
Makna (ุงูุญََُْููู) secara bahasa berasal dari kata (ุงูุญََُูู) yang bermakna condong (berpihak).
Adapun secara istilah maknya adalah condong (berpegang teguh) kepada tauhid
dengan menjauhkan syirik.
Adalah
Agama Nabi Ibrahim ู
َِّูุฉُ ุฅِุจْุฑَุงِْููู
َ :
Makna dari Millah Ibrahim
adalah jalan (syari’at) Nabi Ibrahim. Sebagian Para ulama mengatakan bahwa
Milla Ibrahim artinya agama yang haq/agama tauhid.
ุฃَْู
ุชَุนْุจُุฏَ ุงَููู َูุญْุฏَُู ، ู
ُุฎِْูุตًุง َُูู ุงูุฏَِّْูู :
(Agama Nabi Ibrahim) Yaitu
beribadah kepada Allah dengan sebenar-benar ikhlas.
Makna ikhlas yaitu bersih, maksudnya
adalah beribadah kepada Allah hanya berharap Wajah Allah agar sampai kepada
tempat tujuan yang indah (surga).
Ikhlas adalah satu diantara syarat
diterimanya ibadah, sedangkan syarat yang kedua yaitu Ittiba’ (mengikuti
sunnah Nabi salallahu ‘alaihissalam).
َู
ุจِุฐََِูู ุฃَู
َุฑَ ุงُููู ุฌَู
ِْูุนَ ุงَّููุงุณِ ، َู ุฎَََُูููู
ْ ََููุง :
Dengan tujuan diatas, Allah
memerintahkan seluruh manusia dan menciptakannya yaitu untuk beribadah dengan
ikhlas.
Allah Ta’ala berfirman :
َูู
َุง
ุฎََْููุชُ ุงูุฌَِّู َู ุงูุฅِْูุณَ ุฅَِّูุง َِููุนْุจُุฏَُْูู
“Tidaklah aku ciptakan jin dan
manusia kecuali hanya untuk beribadah ”(QS.
Adz-Dzariyat : 56)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi rahimahullah berkata,
ูุฅุฐุง ุนุฑูุช ุฃู ุงููู ุฎููู ูุนุจุงุฏู، ูุงุนูู
ุฃู ุงูุนุจุงุฏุฉ ูุง ุชุณู
ู
ุนุจุงุฏุฉ ุฅูุง ู
ุน ุงูุชูุญูุฏ ูู
ุง ุฃู ุงูุตูุงุฉ ูุง ุชุณู
ู ุตูุงุฉ ุฅูุง ู
ุน ุงูุทูุงุฑุฉ
“Apabila kamu tahu bahwasannya Allah
itu menciptakan kamu untuk beribadah kepadanya, Ketahuilah bahwasannya Ibadah
itu tidak dinamakan ibadah kecuali disertai tauhid, sebagaimana shalat tidak
dinamakan shalat kecuali dengan thaharah (bersuci)”
Penjelasan :
Syarat diterimanya Ibadah ada 2 :
1. Ikhlas kepada Allah Ta’ala
Allah Ta’ala
berfirman :
َูู
َุง ุฃُู
ِุฑُูุง ุฅَِّูุง
َِููุนْุจُุฏُูุง ุงََّููู ู
ُุฎِْูุตَِูู َُูู ุงูุฏَِّูู ุญََُููุงุกَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali
supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama yang lurus,”
2. Mengikuti petunjuk Nabi salallahu
alaihissalam
Allah Ta’ala
berfirman :
َูู
َุง ุขุชَุงُูู
ُ ุงูุฑَّุณُُูู
َูุฎُุฐُُูู َูู
َุง ََููุงُูู
ْ ุนَُْูู َูุงْูุชَُููุง ۚ
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa
yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”(QS. Al-Hasyr :
7)
Kalau tidak terpenuhi 2 syarat
diatas, maka Ibadah tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Ibadah itu akan
ditrima hanya dari ahli Tauhid. Makna Tauhid adalah mengesakan Allah Ta’ala di
dalam perbuatannya, di dalam peribadatannya, dan di dalam mengimani nama dan
sifat-sifat Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana shalat seseorang yang
dilakukan, tapi dia dalam keadaaan berhadast (tidak bersuci), maka tidak akan
diterima oleh Allah karena salah satu syarat sah shalat adalah dengan bersuci
(berwudhu). Nabi salallahu ‘alaihissalam bersabda :
ูุง ุชُْูุจَُู ุตูุงุฉُ ู
َْู ุฃุญุฏุซَ ุญุชู ูุชูุถุฃَ
“ Tidak diterima shalat siapa saja
yang berhadast sampai dia wudhu”
(Muttafaq ‘Alaihi)
Syaikh menyamakan Tauhid dan Shalat,
tapi kata para Ulama tatkala menjelaskan makna dari perkataan syaikh yaitu
bukan menyamakan, tapi pendekatan. Karena memang derajat Tauhid lebih tinggi
daripada Shalat.
ูุฅุฐุง ุฏุฎู ุงูุดุฑู ูู ุงูุนุจุงุฏุฉ ูุณุฏุช ูุงูุญุฏุซ ุฅุฐุง ุฏุฎู ูู ุงูุทูุงุฑุฉ.
“Apabila kesyirikan telah masuk ke
dalam Ibadah seseorang maka kesyirikan akan merusak (ibadah tersebut),
sebagaimana hadast (najis) yang (membatalkan wudhu atau mandi besar) ”
Penjelasan :
Yang dimaksud kesyirikan disini
adalah syirik besar. Kalau syirik kecil hanya akan menghapus amalan yang tengah
dilakukannya, misal : ada seseorang sedang puasa dan shalat, tapi puasanya
ikhlas dan shalatnya dilakukan dengan riya’ (ingin dipuji atau dilihat orang),
maka disini shalatnya saja yang tidak diterima, adapun puasanya diterima oleh
Allah Ta’ala jika sesuai sunnah Nabi salallahu ‘alaihissalam.
*MACAM-MACAM SYIRIK*
Dilihat dari besarnya dosa, syirik
terbagi dua, yaitu akbar (besar) dan ash-ghar (kecil).
1. Syirik akbar menggugurkan seluruh amal dan menyebabkan kekal
di dalam neraka. Contoh syirik akbar seperti: Syirik doa, yaitu berdoa kepada
orang yang telah mati, patung, pohon, batu, atau lainnya. Contoh lainnya adalah
syirik ketaatan, yaitu mentaati selain Allรขh di dalam maksiat, yaitu menghalalkan
apa yang Allรขh haramkan, atau mengharamkan apa yang Allรขh halalkan.
2. Syirik ash-ghar tidak menggugurkan seluruh amal, tetapi juga
berbahaya. Di antara contohnya adalah riya`, ucapan “mรขsyรข Allรขh wa syi’ta”
(apa yang Allรขh kehendaki dan engkau kehendaki), bersumpah dengan menyebut
selain nama (sifat) Allรขh, dan lainnya. Tapi perkara ini jika dilakukan terus
menerus maka akan menjadi syirik besar. Oleh karenya jangan pernah
meremehkannya.
ูุฅุฐุง
ุนุฑูุช ุฃู ุงูุดุฑู ุฅุฐุง ุฎุงูุท ุงูุนุจุงุฏุฉ ุฃูุณุฏูุง، ูุฃุญุจุท ุงูุนู
ู، ูุตุงุฑ ุตุงุญุจู ู
ู ุงูุฎุงูุฏูู ูู
ุงููุงุฑ ุนุฑูุช ุฃู ุฃูู
ู
ุง ุนููู ู
ุนุฑูุฉ ุฐูู،
Artinya : “Apabila kamu tahu bahwasannya kesyirikan jika
bercampur ke dalam Ibadah maka akan merusak (Ibadah tersebut), dan membatalkan
amal serta bisa menyebabkan pelakunya kekal di dalam neraka. Oleh karenanya,
Penting sekali bagimu untuk mengetahui hal ini (lebih detail). ”
Penjelasan :
Kesyirikan itu membatalkan semua
amalan dan menyebabkan pelakunya menjadi kekal di Neraka. Allah Ta’ala berfirman
:
َََูููุฏْ
ุฃُูุญَِู ุฅََِْููู َูุฅَِูู ุงَّูุฐَِูู ู
ِْู َูุจَِْูู َูุฆِْู ุฃَุดْุฑَْูุชَ
ََููุญْุจَุทََّู ุนَู
ََُูู ََููุชَََُّูููู ู
َِู ุงْูุฎَุงุณِุฑَِูู
“Dan sesungguhnya
telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika
kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah
kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS.
Az-Zumar : 65)
ุฅَُِّูู
ู
َْู ُูุดْุฑِْู ุจِุงَِّููู ََููุฏْ ุญَุฑَّู
َ ุงَُّููู ุนََِْููู ุงْูุฌََّูุฉَ َูู
َุฃَْูุงُู
ุงَّููุงุฑُ ۖ َูู
َุง ِููุธَّุงِูู
َِูู ู
ِْู ุฃَْูุตَุงุฑٍ
“Sesungguhnya orang
yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan
kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang
zalim itu seorang penolongpun.”
(QS. Al-Maidah : 72)
ูุนู
ุงููู ุฃู ูุฎูุตู ู
ู ูุฐู ุงูุดุจูุฉ، ููู ุงูุดุฑู ุจุงููู ุงูุฐู ูุงู ุงููู ููู : "ุฅَِّู ุงََّููู َูุง َูุบِْูุฑُ ุฃَْู ُูุดْุฑََู ุจِِู
ََููุบِْูุฑُ ู
َุง ุฏَُูู ุฐََِٰูู ِูู
َْู َูุดَุงุกُ ۚ
َูู
َْู ُูุดْุฑِْู ุจِุงَِّููู ََููุฏِ ุงْูุชَุฑَٰู ุฅِุซْู
ًุง ุนَุธِูู
ًุง" (ุงููุณุงุก: 48) ูุฐูู ุจู
ุนุฑูุฉ
ุฃุฑุจุน ููุงุนุฏ ุฐูุฑูุง ุงููู ุชุนุงูู ูู ูุชุงุจู.
“Semoga Allah melepaskan/membersikan kamu dari perangkap
kesyirikan. Syirik kepada Allah itu sebagaimana yang difirmankan di dalam
Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman : Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang
selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang
mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar (QS.
An-Nisa’: 48).” Dengan mengetahui 4 kaidah di bawah ini yang Allah
sebutkan di dalam Al-Qur’an (Semoga bisa merubah pemahaman kita dan memperkokoh
kita di dalam beragama).
ุงููุงุนุฏุฉ
ุงูุฃููู
Kaidah Pertama
*Meyakini Tauhid Rububiyah saja Tidak cukup*
ุฃَْู
ุชَุนَْูู
َ ุฃََّู ุงَُّูููุงุฑَ ุงูุฐَِّْูู َูุงุชََُููู
ْ ุฑَุณُُْูู ุงููู ُِููุฑُّูู ุจุฃّู
ุงููู ุชุนุงูู ูู ุงูุฎุงِูู ุงูู
ุฏุจِّุฑ، ูุฃّู ุฐูู ูู
ُูุฏْุฎِْููู
ูู ุงูุฅุณูุงู
، ูุงูุฏููู:
ูููู ุชุนุงูู: {ُْูู ู
َْู َูุฑْุฒُُُููู
ْ ู
ِْู ุงูุณَّู
َุงุกِ َูุงْูุฃَุฑْุถِ ุฃَู
َّْู
َูู
ُِْูู ุงูุณَّู
ْุนَ َูุงْูุฃَุจْุตَุงุฑَ َูู
َْู ُูุฎْุฑِุฌُ ุงْูุญََّู ู
ِْู ุงْูู
َِّูุชِ
َُููุฎْุฑِุฌُ ุงْูู
َِّูุชَ ู
ِْู ุงْูุญَِّู َูู
َْู ُูุฏَุจِّุฑُ ุงْูุฃَู
ْุฑَ َูุณَََُُูููููู
ุงَُّููู َُْููู ุฃَََููุง ุชَุชََُّููู} (ูููุณ:31)
Kaidah pertama:
Anda perlu mengetahui bahwa
orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya Sang
Pencipta dan Pengatur (segala urusan). Meski demikian, hal itu tidaklah
menyebabkan mereka masuk ke dalam agama Islam. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
ُْูู ู
َْู َูุฑْุฒُُُููู
ْ ู
ِْู
ุงูุณَّู
َุงุกِ َูุงْูุฃَุฑْุถِ ุฃَู
َّْู َูู
ُِْูู ุงูุณَّู
ْุนَ َูุงْูุฃَุจْุตَุงุฑَ َูู
َْู
ُูุฎْุฑِุฌُ ุงْูุญََّู ู
ِْู ุงْูู
َِّูุชِ َُููุฎْุฑِุฌُ ุงْูู
َِّูุชَ ู
ِْู ุงْูุญَِّู َูู
َْู
ُูุฏَุจِّุฑُ ุงْูุฃَู
ْุฑَ َูุณَََُُูููููู ุงَُّููู َُْููู ุฃَََููุง ุชَุชََُّููู
“Katakanlah: ‘Siapa yang memberi
rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa (menciptakan)
pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang
mati (menghidupkan) dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (mematikan), dan
siapa yang mengatur segala urusan? ‘Maka mereka (kaum musyrikin) akan
menjawab:’Allah’. Maka katakanlah:’Mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)” (QS. QS. Yunus: 31).
Penjelasan
Inti kaidah pertama ini adalah
penetapan Tauhid Rububiyyah mengharuskan kepada penetapan
Tauhid Uluhiyyah (Ibadah). Di dalam bab ini terdapat
penjelasan bahwa penetapan Tauhid Rububiyyah tidak cukup bagi
kesahan Islam seseorang, akan tetapi haruslah diiringi dengan penetapan
Tauhid Uluhiyyah, yang mengandung penetapan Tauhid Al-Asma`
wa Shifat.
Dalam ayat tersebut di atas,
Allah Ta’ala menjelaskan bahwa orang-orang yang menyekutukan
Allah jika ditanya tentang keesesaan-Nya dalam Rububiyyah-Nya,yaitu siapa yang
memberikan rezeqi dari langit berupa hujan dan dari bumi berupa pohon dan
tanaman,siapa yang yang menciptakan dan memiliki pendengaran dan penglihatan,
siapa yang mengeluarkan sesuatu yang hidup dari yang mati,seperti : pepohonan
dari bebijian,burung dari telur dan pengeluaran seseorang dari status kafir
berubah menjadi mukmin, siapa yang mengeluarkan sesuatu yang mati dari yang
hidup dan siapakah yang mengatur alam atas dan bawah, pastilah mereka akan
mengatakan bahwa semua itu yang bisa melakukan hanyalah Allah saja. Dengan
demikian, mereka mengakui keesaan Allah dalam Rububiyyah-Nya. Kemudian Allah
berhujjah dengan pengakuan mereka tersebut untuk mengharuskan mereka
mentauhidkan Allah dalam Uluhiyyah-Nya, dengan bertakwa,meninggalkan sesembahan
selain Allah dan meninggalkan kesyirikan dalam beribadah kepada Allah. Terkait
dengan hal ini, Allah tegur mereka dengan menggunakan pertanyaan
pengingkaran,
{َُْููู ุฃَََููุง ุชَุชََُّููู}
Ini menunjukkan bahwa mengesakan
Allah dalam Rububiyyah-Nya, mengharuskan seseorang mengesakan-Nya dalam
Uluhiyyah-Nya Bahwa Tuhan Pencipta,Yang Memberi rezeki,Yang Menghidupkan dan
Mematikan serta Sang Pengatur alam semesta, inilah satu-satunya yang harusnya
disembah,sebagaimana firman Allah :
َูุง ุฃََُّููุง ุงَّููุงุณُ ุงุนْุจُุฏُูุง
ุฑَุจَُّูู
ُ ุงَّูุฐِู ุฎَََُูููู
ْ َูุงَّูุฐَِูู ู
ِْู َูุจُِْููู
ْ َูุนََُّููู
ْ ุชَุชََُّููู
Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian
yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian
bertakwa. (Al-Baqarah : 21)
Kesimpulan Kaidah Pertama :
- Mengesakan Allah dalam Rububiyyah-Nya, mengharuskan mengesakan-Nya dalam Uluhiyyah-Nya
- Penetapan Tauhid Rububiyyah tidak cukup bagi kesahan Islam seseorang, akan tetapi haruslah bersamaan dengan penetapan Tauhid Uluhiyyah. Karena kebanyakan musyrikin dari kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam sampai kaum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ,yaitu kafir Quraisy mereka mengakui Tauhid Rububiyyah, namun tetap status mereka musyrikin,karena menentang konsekuensinya berupa mentauhidkan Allah dalam Uluhiyyah-Nya. Sebagaimana kaum musyrikin yang dihadapi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam Ayat di atas.
- Adalah sebuah kesalahan,jika seseorang memahami makna La ilaha illallahu sebatas pada makna Rububiyyah saja, misalnya : Makna La ilaha illallahu adalah “Tidak ada Sang Pencipta kecuali Allah”, ini adalah kesalahan dan tidak menyebabkan masuknya seseorang ke dalam agama Islam, karena makna La ilaha illallahu yang benar adalah “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah”.
- Hubungan diantara ketiga macam Tauhid
1. Hubungan Tauhid Rububiyyah dengan
Tauhid Uluhiyyah
ุชูุญูุฏุงูุฑุจูุจูุฉ ู
ุณุชูุฒู
ูุชูุญูุฏ ุงูุฃููููุฉ
Mengesakan Allah dalam
Rububiyyah-Nya mengharuskan mengesakan-Nya dalam Uluhiyyah-Nya
Maksudnya :
Barangsiapa yang meyakini keesaan
Allah dalam Rububiyyah-Nya,yaitu: meyakini bahwa Allah itu Esa, tidak ada
sekutu bagi-Nya dalam menciptakan makhluk, mengaturnya, memberi rezeki, memberi
manfa’at, menimpakan musibah/mudhorot,menghidupkan,mematikannya dan lainnya
yang menjadi kekhususan Allah,maka keyakinan tersebut mengharuskannya
mempertuhankan-Nya dalam beribadah,mengesakan dan mentauhidkan-Nya dalam segala
bentuk peribadatan. Karena hanya Dzat yang mampu menciptakan
makhluk,mengaturnya,memberi rezeki kepadanya dan yang selainnya dari
makna-makna Rububiyyah itu sajalah yang pantas dan wajib disembah,selain-Nya
tidak boleh dan tidak pantas disembah.
ุชูุญูุฏ ุงูุฃููููุฉ ู
ุชุถู
ู ูุชูุญูุฏ ุงูุฑุจูุจูุฉ
Mengesakan Allah dalam Uluhiyyah-Nya
mengandung pengesaan-Nya dalam Rububiyyah-Nya
Maksudnya : Setiap orang yang mentauhidkan Allah dalam peribadatan
dan tidak melakukan kesyirikan,pastilah terkandung keyakinan dalam hatinya
bahwa Allah lah satu-satunya Dzat yang menciptakan dan memiliki alam
semesta,mengaturnya,memberi rezeki kepada makhluk-Nya,berarti ia meyakini bahwa
satu-satunya Tuhan yang berhak disembah adalah Allah yang Esa dalam
Rububiyyah-Nya,tidak ada tandingan-Nya,
2. Hubungan Tauhidul Asma` was
Shifat dengan kedua macam tauhid yang lainnya
ุชูุญูุฏ ุงูุฃุณู
ุงุก ูุงูุตูุงุช ุดุงู
ู ููููุนูู
Mengesakan Allah dalam nama dan
sifat-Nya mencakup kedua macam tauhid yang lainnya (Tauhid Rububiyyah dan
Uluhiyyah sekaligus)
Maksudnya : Dalam nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya ada yang
menunjukkan Uluhiyyah-Nya,seperti : Allah, Al-Gafur, At-Tawwab, dan adapula
yang menunjukkan Rububiyyah Allah,seperti: Al-Khaliq,Ar-Razzaq, dan yang
lainnya.
Diantara ulama rahimahumullah ada
yang menjelaskan bahwa Tauhidul Uluhiyyah mengandung Tauhidur Rububiyyah dan
Tauhidul Asma` wash Shifat, ditinjau dari sisi berikut ini :
Berkata Syaikh Muhammad Shaleh
Al-‘Utsaimin rahimahullah, ketika ditanya tentang cakupan
makna syahadat La ilaha illallahu,: "Syahadat tersebut mencakup seluruh
macam Tauhid (yang tiga macam), baik secara tersirat dalam kandungan maknanya,
maupun secara tersurat (secara langsung dipahami dari lafadznya, pent.). Hal
itu disebabkan bahwa ucapan seseorang : Asyhadu an La ilaha illallah,
segera dapat dipahami maknanya adalah Tauhidul Ibadah. Sedangkan Tauhidul
Ibadah – yang disebut juga dengan Tauhidul Uluhiyyah – ini
(sebenarnya) mengandung Tauhidur Rububiyyah, alasannya karena setiap orang yang
beribadah (menyembah) kepada Allah semata, maka tidaklah ia menyembah-Nya
kecuali sampai ia mengakui keesaan Rububiyyah-Nya. Demikian juga (Tauhidul
Uluhiyyah) mengandung Tauhidul Asma` wash Shifat, karena manusia tidaklah
menyembah kecuali suatu Dzat yang diketahuinya berhak untuk disembah,alasannya
karena memiliki nama (yang terindah) dan sifat (yang termulia). Oleh
karena itulah, Nabi Ibrahim (‘alaihis salam) pernah berkata kepada
bapaknya,
{ َูุง ุฃَุจَุชِ ِูู
َ ุชَุนْุจُุฏُ ู
َุง ูุง
َูุณْู
َุนُ َููุง ُูุจْุตِุฑُ َููุง ُูุบِْูู ุนََْูู ุดَْูุฆًุง}
“Wahai bapakku, mengapa kamu
menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong
kamu sedikitpun? ”. (QS. Maryam:42).
Maka (kesimpulannya) Tauhidul Ibadah
adalah Tauhidul Uluhiyyah yang mengandung Tauhidur Rububiyyah dan Tauhidul
Asma` wash Shifat.
- Kesimpulan: Jadi, alasan kaum musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyembah selain Allah bukanlah karena mereka meyakini bahwa sesembahan mereka memiliki kekhususan Rububiyyah sebagaimana Allah,mereka tidak meyakini sesembahan mereka bisa menciptakan makhluk,menghidupkan,mematikan dan mengatur alam semesta ini. Lalu apakah alasan mereka ? Simak jawabannya dalam kaedah ke-2!
Semoga bermanfaat
[1] Hadist ini dikeluarkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam
kitab Al-Jami’, dan hadist ini ada bermacam-macam redaksi yang semakna
dengan ini sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
di dalam syarhnya, lebih tepat dicatatan kaki hadist yang kami bawakan ini
[4] Tafsiran ini dibawakan oleh Imam Al-Qurtuby di
dalam kitab Al-Jaamii’ Al-Ahkam Al-Qur’an Juz 19-hal 507 dan ini
pendapat Al-Kalby. Adapun pendapat Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat diatas
yang diriwayatkan Ali Abi Talhah yaitu: ูููุฑูุง ูู ุงูุนุจุงุฏุฉ ุทูุนุง ู ูุฑูุง (mengikrarkan/meyakini ibadah hanya kepada
Allah dikala suka atau terpaksa ).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar