Oleh : Abu Yusuf Akhmad Ja'far
Muqoddimah
ุงูุญَู
ْุฏُ ِููู ุญَู
ْุฏًุง َูุซِْูุฑًุง ุทَِّูุจًุง ู
ُุจَุงุฑًَูุง ِِْููู ،
َูู
َุง ُูุญِุจُّ ุฑَุจَُّูุง َู َูุฑْุถَู ، َู ุฃَุดَْูุฏُ ุฃَْู َูุง ุฅََِูู ุฅَِّูุง ุงُููู َู
ุฃََّู ู
ُุญَู
َّุฏًุง ุนَุจْุฏُُู َู ุฑَุณُُُْููู
َูุงَู ุงُููู ุชَุนَุงَูู : َูุขَُّููุง ุงูุฐَِّْูู ุขู
َُْููุง ุงุชَُّْููุง
ุงَููู ุญََّู ุชَُูุงุชِِู، َู َูุง ุชَู
ُْูุชَُّู ุฅَِّูุง َู ุฃَْูุชُู
ْ ู
ُุณِْูู
َُْูู
َู ุฅَِّู ุฃَุตْุฏََู ุงูุญَุฏِْูุซِ ِูุชَุงุจُ ุงِููู ุชَุนَุงَูู ، َู ุฎْูุฑَ
ุงَููุฏِْู َูุฏُْู ุงَّููุจِِّู ุตََูู ุงُููู ุนََِْููู َู ุณََّูู
َ ، َู ุดَุฑَّ
ุงูุฃُู
ُْูุฑِ ู
ُุญْุฏَุซَุงุชَُูุง َูุฅَِّู َُّูู ู
ُุญْุฏَุซَุงุชِ ุจِุฏْุนَุฉٍ َู َُّูู ุจِุฏْุนَุฉٍ
ุถََูุงَูุฉٍ
ุฃู
َّุง ุจَุนْุฏُ ،
Segala pujia bagi Allah atas limpahan rahmat dan nikmat-Nya.
Betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita, namun tidak banyak nikmat
yang diberikan olehNya kita manfaatkan untuk kebaikan dan ketaatan. Patut bagi
kita untuk selalu intropeksi diri setiap langkah yang kita lalui dalam
kehidupan dunia ini.
KAIDAH KETIGA
ุงููุงุนุฏุฉ
ุงูุซุงูุซุฉ
ุฃّู ุงููุจู ุธูุฑ ุนูู ุฃُูุงุณٍ ู
ุชูุฑّููู ูู
ุนุจุงุฏุงุชูู
ู
ููู
ู
َู ูุนุจُุฏ ุงูู
ูุงุฆูุฉ، ูู
ููู
ู
ู ูุนุจุฏ ุงูุฃูุจูุงุก ูุงูุตุงูุญูู، ูู
ููู
ู
ู
ูุนุจุฏ ุงูุฃุญุฌุงุฑ ู ุงูุฃุดุฌุงุฑ، ูู
ููู
ู
َู ูุนุจุฏ ุงูุดู
ุณ ูุงููู
ุฑ، ููุงุชููู
ุฑุณูู ุงููู ููู
ููุฑِّู ุจูููู
، ูุงูุฏููู ูููู ุชุนุงูู : ََููุงุชُُِูููู
ْ ุญَุชَّู َูุง ุชََُููู ِูุชَْูุฉٌ
َََُููููู ุงูุฏُِّูู َِِّููู (ุงูุจูุฑุฉ : 193)
ูุฏููู ุงูุดู
ุณ ูุงููู
ุฑ ูููู ุชุนุงูู : َูู
ِْู ุขَูุงุชِِู
ุงَُّْูููู َูุงََّูููุงุฑُ َูุงูุดَّู
ْุณُ َูุงَْููู
َุฑُ َูุง ุชَุณْุฌُุฏُูุง ِููุดَّู
ْุณِ ََููุง
َِْูููู
َุฑِ (ูุตูุช : 37)
ูุฏููู ุงูู
ูุงุฆูุฉ ูููู ุชุนุงูู : ََููุง َูุฃْู
ُุฑَُูู
ْ
ุฃَْู ุชَุชَّุฎِุฐُูุง ุงْูู
ََูุงุฆَِูุฉَ َูุงَّููุจَِِّููู ุฃَุฑْุจَุงุจًุง (ุขู ุนู
ุฑุงู : 80)
ูุฏููู ุงูุฃูุจูุงุก ูููู ุชุนุงูู : َูุฅِุฐْ َูุงَู ุงَُّููู
َูุง ุนِูุณَู ุงุจَْู ู
َุฑَْูู
َ ุฃَุฃَูุชَ ُْููุชَ َِّูููุงุณِ ุงุชَّุฎِุฐُِููู َูุฃُู
ِّู
ุฅََِِْูููู ู
ِْู ุฏُِูู ุงَِّููู َูุงَู ุณُุจْุญَุงََูู ู
َุง َُُูููู ِูู ุฃَْู ุฃََُููู
ู
َุง َْููุณَ ِูู ุจِุญٍَّู ุฅِْู ُููุชُ ُْููุชُُู ََููุฏْ ุนَِูู
ْุชَُู ุชَุนَْูู
ُ ู
َุง ِูู
َْููุณِู ََููุง ุฃَุนَْูู
ُ ู
َุง ِูู َْููุณَِู ุฅََِّูู ุฃَْูุชَ ุนََّูุงู
ُ ุงْูุบُُููุจِ
(ุงูู
ุงุฆุฏุฉ : 116)
ูุฏููู ุงูุตุงูุญูู ูููู ุชุนุงูู : ุฃَُْููุฆَِู
ุงَّูุฐَِูู َูุฏْุนَُูู َูุจْุชَุบَُูู ุฅَِูู ุฑَุจِِّูู
ْ ุงَْููุณَِููุฉَ ุฃَُُّููู
ْ ุฃَْูุฑَุจُ
ََููุฑْุฌَُูู ุฑَุญْู
َุชَُู ََููุฎَุงَُููู ุนَุฐَุงุจَُู (ุงูุฅุณุฑุงุก : 57)
ูุฏููู ุงูุฃุญุฌุงุฑ ูุงูุฃุดุฌุงุฑ ูููู ุชุนุงูู : َูู
ََูุงุฉَ
ุงูุซَّุงِูุซَุฉَ ุงْูุฃُุฎْุฑَู (19) ุฃََูุฑَุฃَْูุชُู
ْ ุงَّููุงุชَ َูุงْูุนُุฒَّู
(ุงููุฌู
: 19-20)
ูุญุฏูุซ ุฃุจู ูุงูุฏٍ ุงูููุซู ูุงู : ุฎุฑุฌูุง
ู
ุน ุงููุจู ุฅูู ุญُููู ููุญُู ุญุฏุซุงุก ุนูุฏٍ ุจููุฑ، ูููู
ุดุฑููู ุณุฏุฑุฉ ูุนูููู ุนูุฏูุง ููููุทูู
ุจูุง ุฃุณูุญุชูู
ููุงู ููุง ุฐุงุช ุฃููุงุท، ูู
ุฑุฑูุง ุจุณุฏุฑุฉ ููููุง : ูุง ุฑุณูู ุงููู ุฅุฌุนู ููุง ุฐุงุช
ุฃููุงุท ูู
ุง ููู
ุฐุงุช ุฃููุงุท (ุงูุญุฏูุซ...)
Kaidah Ketiga
Artinya : “Sesungguhnya Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berada ditengah-tengah manusia yang bermacam-macam
bentuk peribadahan (dan sesembahan, pent.) mereka. Di antara mereka ada yang
menyembah para Malaikat, ada yang menyembah para Nabi dan orang-orang shalih,
ada yang menyembah pepohonan dan bebatuan serta ada pula yang menyembah
matahari dan bulan. Namun mereka semua diperangi oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, dan beliau tidak membeda-bedakan di antara mereka.
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
ََููุงุชُُِูููู
ْ ุญَุชَّู َูุง ุชََُููู
ِูุชَْูุฉٌ َََُููููู ุงูุฏُِّูู َِِّููู
Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan Dien ini untuk
Allah semata. (QS.Al-Baqarah: 193).
Dalil (penyembahan mereka kepada) matahari dan bulan adalah firman
Allah Ta’ala,
َูู
ِْู ุขَูุงุชِِู ุงَُّْูููู
َูุงََّูููุงุฑُ َูุงูุดَّู
ْุณُ َูุงَْููู
َุฑُ َูุง ุชَุณْุฌُุฏُูุง ِููุดَّู
ْุณِ ََููุง َِْูููู
َุฑِ
Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari
dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan. (QS.Fushshilat: 37).
Dalil (penyembahan mereka kepada) para Malaikat adalah firman Allah Ta’ala,
ََููุง َูุฃْู
ُุฑَُูู
ْ ุฃَْู ุชَุชَّุฎِุฐُูุง
ุงْูู
ََูุงุฆَِูุฉَ َูุงَّููุจَِِّููู ุฃَุฑْุจَุงุจًุง
Dan dia (Nabi Muhammad) tidak pernah memerintahkan kalian untuk menjadikan
para Malaikat dan para Nabi sebagai sembahan-sembahan. (QS. Ali ‘Imran:
80).
Dalil (penyembahan mereka kepada) para Nabi adalah firman Allah Ta’ala,
َูุฅِุฐْ َูุงَู ุงَُّููู َูุง ุนِูุณَู
ุงุจَْู ู
َุฑَْูู
َ ุฃَุฃَูุชَ ُْููุชَ َِّูููุงุณِ ุงุชَّุฎِุฐُِููู َูุฃُู
ِّู ุฅََِِْูููู ู
ِْู
ุฏُِูู ุงَِّููู َูุงَู ุณُุจْุญَุงََูู ู
َุง َُُูููู ِูู ุฃَْู ุฃََُููู ู
َุง َْููุณَ ِูู
ุจِุญٍَّู ุฅِْู ُููุชُ ُْููุชُُู ََููุฏْ ุนَِูู
ْุชَُู ุชَุนَْูู
ُ ู
َุง ِูู َْููุณِู ََููุง
ุฃَุนَْูู
ُ ู
َุง ِูู َْููุณَِู ุฅََِّูู ุฃَْูุชَ ุนََّูุงู
ُ ุงْูุบُُููุจِ
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman:”Hai ‘Isa putera Maryam, adakah
kamu mengatakan kepada manusia:”Jadikanlah aku dan ibuku dua orang sesembahan
selain Allah?”. ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku
mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya
maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada
diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau
Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib. (QS.Al-Maidah:
116).
Dalil (penyembahan mereka kepada) orang-orang shalih adalah firman
Allah Ta’ala,
ุฃَُْููุฆَِู ุงَّูุฐَِูู َูุฏْุนَُูู
َูุจْุชَุบَُูู ุฅَِูู ุฑَุจِِّูู
ْ ุงَْููุณَِููุฉَ ุฃَُُّููู
ْ ุฃَْูุฑَุจُ ََููุฑْุฌَُูู
ุฑَุญْู
َุชَُู ََููุฎَุงَُููู ุนَุฐَุงุจَُู
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb
mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (dengan Allah) dan mengharapkan
rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. (QS.Al-Israa`:
57).
Dalil (penyembahan mereka kepada) pepohonan dan bebatuan adalah firman
Allah Ta’ala,
ุฃََูุฑَุฃَْูุชُู
ْ ุงَّููุงุชَ َูุงْูุนُุฒَّู(19)َูู
ََูุงุฉَ ุงูุซَّุงِูุซَุฉَ ุงْูุฃُุฎْุฑَู
Maka apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap al-lata dan
al-‘uzza, dan manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak
perempuan Allah)? (QS.An-Najm:
19-20).
Dan hadits Abi Waqid Al-Laitsi, dia berkata:
“Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju (perang) Hunain, dan ketika itu kami baru
saja terbebas dari kekafiran (muallaf). Sementara itu, orang-orang musyrikin
mempunyai sebuah pohon bidara yang mereka berdiam diri (dalam bentuk beribadah)
di sisinya dan mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di situ (untuk cari
berkah, pent.). Pohon itu dikenal dengan nama Dzatu Anwath (yang mempunyai
tempat menggantung). Kami kemudian melalui pohon bidara itu, lalu kami
mengatakan: “Wahai Rasulullah, pilihkanlah bagi kami pohon untuk menggantungkan
senjata dalam rangka mencari berkah, sebagaimana mereka (musyrikin)
mempunyai pohon tersebut….” sampai akhir hadits.
Penjelasan
Kaidah ketiga: “Inti kesyirikan dalam masalah Uluhiyyah itu semuanya sama,
namun sesembahan-sesembahan musyrikin berbeda-beda”.
Di dalam bab ini terdapat penetapan
bahwa inti kesyirikan dalam masalah Uluhiyyah adalah memalingkan peribadatan
kepada selain Allah. Oleh karena itu, ketika Allah Ta’ala menjelaskan
tentang Tauhid, Dia berfirman:
ََููุถَٰู ุฑَุจَُّู ุฃََّูุง ุชَุนْุจُุฏُูุง
ุฅَِّูุง ุฅَِّูุงُู
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan
supaya kalian jangan beribadah kecuali kepada-Nya saja. (Al-Israa`:
23).
Hanya saja, bentuk peribadatan yang
dipersembahkan kepada sesembahan selain Allah berbeda-beda. Demikian pula,
sesembahan-sesembahan kaum musyrikin itu juga beranekaragam macamnya, ada
orang-orang sholeh, malaikat, bulan, matahari, pohon dan ada pula yang lainnya.
Gambaran keadaan musyrikin Arab, bahwa mereka menyembah
sesembahan yang beranekaragam, dari mulai bulan, matahari, batu, pohon, sampai
makhluk yang ta’at,yaitu : Malaikat, para Nabi dan
Shalihin. Sesembahan-sesembahan mereka itu disebutkan dalam Al-Qur`an.
Selanjutnya, muncul sebuah pertanyaan: “Apakah di dalam Al-Qur`an dan
As-Sunnah, Allah menyebutkan bahwa barang siapa yang menyembah bulan, matahari,
batu, dan pohon, maka perangilah, namun barang siapa yang
menyembah Malaikat, para Nabi dan Shalihin, jangan diperangi?!”
Jawabannya : “Tidak, Allah tidak menyebutkan hal
itu! “.
Kesimpulan
Karena tidak terdapat dalil yang membedakannya, berarti Allah menyamakan
semua musyrikin, meski sesembahan mereka berbeda-beda. Maka dari itu pantaslah
jika yang pertama kali disebutkan dari ketujuh dalil dalam kaedah ketiga ini
adalah dalil yang kesatu. Dalil tersebut mengisyaratkan kepada kesimpulan di
atas bahwa semua musyrikin statusnya sama, meski sesembahan mereka
berbeda-beda. Dengan disebutkannya kesimpulan kaedah ketiga ini pada dalil yang
pertama, maka diharapkan pembaca langsung meyakini keyakinan yang benar
terlebih dahulu secara global, baru kemudian pada dalil-dalil setelahnya,
pembaca diharapkan memahami bahwa walaupun sesembahan-sesembahan kaum musyrikin
berbeda-beda, namun semuanya sama-sama terlarang, karena semuanya adalah
kesyirikan dalam peribadatan.
Dalam kaedah ketiga ini terdapat
tujuh macam dalil, yaitu
1. Firman Allah Ta’ala
ََููุงุชُُِูููู
ْ ุญَุชَّู َูุง ุชََُููู
ِูุชَْูุฉٌ َََُููููู ุงูุฏُِّูู َِِّููู
“Dan perangilah mereka sehingga
tidak ada lagi fitnah, dan ketaatan ini menjadi milik Allah semuanya” (Al-Baqarah: 193).
Keterangan
- Firman Allah Ta’ala,
ََููุงุชُُِูููู ْ
“Dan perangilah mereka”
Maksud “mereka” di sini
adalah umum mencakup setiap orang musyrik, apapun sesembahan mereka, tanpa
kecuali.
- Fitnah yang dimaksud dalam ayat ini adalah semua bentuk kesyirikan, tanpa kecuali. Jadi, makna ayat ini adalah perangilah kaum musyrikin, sehingga tidak terdapat kesyirikan dalam berbagai macam bentuknya, berupa syirik dalam bentuk penyembahan Nabi dan Wali, penyembahan pohon, penyembahan batu, penyembahan matahari maupun dalam bentuk penyembahan syirik selainnya.
- Ad-Diin yang dimaksud dalam ayat ini adalah seluruh bentuk ibadah. Jadi, makna ayat ini adalah seluruh bentuk ibadah, haruslah dipersembahkan kepada Allah saja, tidak boleh seseorang menyekutukan-Nya dengan selain-Nya di dalam peribadatan.
- Ayat ini menunjukkan kepada kesimpulan, yaitu semua orang musyrik itu sama dan semua diperintahkan untuk diperangi.
2. Firman Allah Ta’ala:
َูู
ِْู ุขَูุงุชِِู ุงَُّْูููู
َูุงََّูููุงุฑُ َูุงูุดَّู
ْุณُ َูุงَْููู
َุฑُ َูุง ุชَุณْุฌُุฏُูุง ِููุดَّู
ْุณِ ََููุง َِْูููู
َุฑِ
“Dan sebagian dari tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada
matahari dan janganlah (pula) kepada bulan” (Fushshilat:
37).
Ayat ini menunjukkan bahwa di antara
sesembahan kaum musyrikin adalah matahari dan bulan. Oleh karena itu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat
ketika terbit dan terbenamnya matahari, dalam rangka mencegah terjadinya
kesyirikan, karena di antara kaum musyrikin
ada yang sujud kepada matahari pada dua waktu tersebut.
3. Firman Allah Ta’ala :
ََููุง َูุฃْู
ُุฑَُูู
ْ ุฃَْู ุชَุชَّุฎِุฐُูุง
ุงْูู
ََูุงุฆَِูุฉَ َูุงَّููุจَِِّููู ุฃَุฑْุจَุงุจًุง
“Dan dia (Muhammad) tidak pernah
memerintahkan kalian untuk menjadikan para Malaikat dan para Nabi sebagai sembahan-sembahan” (Ali ‘Imran: 80).
Ayat ini menunjukkan bahwa di antara
sesembahan musyrikin adalah malaikat, mereka menyembah malaikat, berdoa
kepadanya serta menjadikannya sebagai perantara antara diri mereka dengan Allah
dalam menyampaikan hajat mereka. Lalu diutuslah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam untuk memberantas kesyirikan mereka ini dan
menjelaskan bahwa malaikat adalah sebatas makhluk yang tidak berhak disembah.
Oleh karena itulah, dalam surat Saba`: 22-23, Allah jelaskan kelemahan malaikat,
walaupun Allah menganugerahkan kepada malaikat kekuatan dan tubuh yang besar,
namun mereka tetaplah makhluk lemah yang tidak berhak disembah.
4. Firman Allah Ta’ala :
َูุฅِุฐْ َูุงَู ุงَُّููู َูุง ุนِูุณَู
ุงุจَْู ู
َุฑَْูู
َ ุฃَุฃَูุชَ ُْููุชَ َِّูููุงุณِ ุงุชَّุฎِุฐُِููู َูุฃُู
ِّู ุฅََِِْูููู ู
ِْู
ุฏُِูู ุงَِّููู َูุงَู ุณُุจْุญَุงََูู ู
َุง َُُูููู ِูู ุฃَْู ุฃََُููู ู
َุง َْููุณَ ِูู
ุจِุญٍَّู ุฅِْู ُููุชُ ُْููุชُُู ََููุฏْ ุนَِูู
ْุชَُู ุชَุนَْูู
ُ ู
َุง ِูู َْููุณِู ََููุง
ุฃَุนَْูู
ُ ู
َุง ِูู َْููุณَِู ุฅََِّูู ุฃَْูุชَ ุนََّูุงู
ُ ุงْูุบُُููุจِ
“Dan (ingatlah) ketika Allah
berfirman:”Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada
manusia:”Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah.” ‘Isa menjawab:
“Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku
(mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah
mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada
diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib”
(Al-Maidah: 116).
Ayat ini menunjukkan bahwa di antara
sesembahan kaum musyrikin adalah Nabi dan orang salih. Contohnya di antara
mereka ada yang menyembah Nabi ‘Isa ‘alaihis salam dan Maryam,
wanita yang salihah. Oleh karena itu, Allah Ta’ala mencela
orang-orang yang menjadikan Nabi ‘Isa ‘alaihis salam dan
Maryam sebagai sekutu Allah Ta’ala dan meyakini dengan
keyakinan yang salah bahwa keduanya memiliki hak untuk disembah. Allah Ta’ala berfirman,
ََููุฏْ ََููุฑَ ุงَّูุฐَِูู َูุงُููุง
ุฅَِّู ุงََّููู ุซَุงِูุซُ ุซََูุงุซَุฉٍ ۘ
َูู
َุง ู
ِْู ุฅٍَِٰูู ุฅَِّูุง ุฅٌَِٰูู َูุงุญِุฏٌ ۚ
َูุฅِْู َูู
ْ َْููุชَُููุง ุนَู
َّุง ََُُูููููู ََููู
َุณََّّู ุงَّูุฐَِูู ََููุฑُูุง
ู
ُِْููู
ْ ุนَุฐَุงุจٌ ุฃَِููู
ٌ
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah
adalah salah satu dari (sesembahan) yang tiga”, padahal sekali-kali tidak
ada sesembahan yang berhak disembah selain dari Tuhan Yang Esa (Allah). Jika
mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pastilah orang-orang
yang kafir dari mereka, akan ditimpa siksaan yang pedih” (Al-Maa`idah:
73).
5. Firman Allah Ta’ala,
ุฃَُْููุฆَِู ุงَّูุฐَِูู َูุฏْุนَُูู
َูุจْุชَุบَُูู ุฅَِูู ุฑَุจِِّูู
ْ ุงَْููุณَِููุฉَ ุฃَُُّููู
ْ ุฃَْูุฑَุจُ ََููุฑْุฌَُูู
ุฑَุญْู
َุชَُู ََููุฎَุงَُููู ุนَุฐَุงุจَُู
“Orang-orang yang mereka sembah itu,
mereka sendiri mencari jalan untuk mendekatkan diri hanya kepada Rabb mereka,
siapa di antara mereka yang lebih dekat (dengan Allah) dan mengharapkan
rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya” (Al-Israa`:
57).
Di dalam ayat ini terdapat dalil
bahwa para Nabi, Malaikat, dan orang-orang salih yang disembah oleh orang-orang
musyrik hanya menyembah Allah, mentauhidkan-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya.
Ibadah mereka dalam bentuk takut dan harap ditujukan kepada-Nya saja, tidak
kepada selain-Nya, bahkan mereka melakukan ibadah yang paling bisa
mendekatkan diri mereka kepada-Nya. Para Nabi, Malaikat, dan orang-orang salih yang
mereka sembah itu semua butuh kepada Allah, bagaimana mungkin memberi manfaat
atau menolak bahaya? Maka mengapa kaum musyrikin menyembah orang-orang salih
tersebut, padahal orang-orang shalih itu sendiri menyembah Allah semata dan
tidak menyekutukan-Nya.
6. Dalil yang keenam adalah firman
Allah Ta’ala dalam surat An-Najm: 19-20, namun untuk
memperjelas, penyusun bawakan ketiga ayat berikutnya sampai ayat ke-23:
ุฃََูุฑَุฃَْูุชُู
ُ ุงَّููุงุชَ
َูุงْูุนُุฒَّٰู. َูู
ََูุงุฉَ ุงูุซَّุงِูุซَุฉَ ุงْูุฃُุฎْุฑَٰู. ุฃََُููู
ُ ุงูุฐََّูุฑُ ََُููู
ุงْูุฃُْูุซَٰู. ุชَِْูู ุฅِุฐًุง ِูุณْู
َุฉٌ ุถِูุฒَٰู. ุฅِْู َِูู ุฅَِّูุง ุฃَุณْู
َุงุกٌ
ุณَู
َّْูุชُู
َُููุง ุฃَْูุชُู
ْ َูุขุจَุงุคُُูู
ْ ู
َุง ุฃَْูุฒََู ุงَُّููู ุจَِูุง ู
ِْู ุณُْูุทَุงٍู
ۚ ุฅِْู َูุชَّุจِุนَُูู ุฅَِّูุง ุงูุธََّّู َูู
َุง ุชََْููู ุงْูุฃَُْููุณُ
ۖ َََูููุฏْ ุฌَุงุกَُูู
ْ ู
ِْู ุฑَุจِِّูู
ُ ุงُْููุฏَٰู
“Maka apakah patut kalian (hai
orang-orang musyrik) menganggap al lata dan al uzza. Dan yang lainnya,
manah yang ketiga (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan
untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu
pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang
kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu
keteranganpun (hujjah bagi apa yang kalian katakan bahwa tiga berhala itu
adalah sesembahan). Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan
apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk
kepada mereka dari Tuhan mereka” (An-Najm:19-23).
Penjelasan
Tiga nama yang disebutkan dalam ayat
di atas adalah nama-nama berhala yang paling diagungkan oleh orang-orang
musyrik, sehingga efek buruknya sangat dahsyat, oleh karena itulah dalam ayat
ini langsung disebutkan nama-namanya.
- Adapun al-lata (dibaca dengan huruf “ุช” satu) adalah batu yang dikeramatkan. Sedangkan jika al-latta (dibaca dengan huruf “ุช” dua) adalah kuburan yang dikeramatkan.
- Dan al-uzza adalah pohon yang dikeramatkan.
- Adapun manah adalah patung (batu).
Perbuatan yang dilakukan oleh kaum
musyrikin terhadap berhala-berhala tersebut adalah mengagungkan dan menyembahnya,
dengan tujuan untuk mendapatkan berkah darinya atau dengan kata lain untuk
mendapatkan manfaat atau agar tertolak dari bahaya.
Dan dalam ayat ini Allah nyatakan
batilnya kesyirikan mereka itu dengan berfirman,
ุฅِْู َِูู ุฅَِّูุง ุฃَุณْู
َุงุกٌ ุณَู
َّْูุชُู
َُููุง
ุฃَْูุชُู
ْ َูุขุจَุงุคُُูู
ْ ู
َุง ุฃَْูุฒََู ุงَُّููู ุจَِูุง ู
ِْู ุณُْูุทَุงٍู ۚ ุฅِْู َูุชَّุจِุนَُูู ุฅَِّูุง ุงูุธََّّู َูู
َุง ุชََْููู ุงْูุฃَُْููุณُ
ۖ َََูููุฏْ ุฌَุงุกَُูู
ْ ู
ِْู ุฑَุจِِّูู
ُ ุงُْููุฏَٰู
“Itu tidak lain hanyalah nama-nama
yang kalian dan bapak-bapak kalian mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu
keteranganpun (hujjah bagi apa yang kalian katakan bahwa tiga berhala itu
adalah sesembahan). Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan
apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk
kepada mereka dari Tuhan mereka” (An-Najm:
23).
Dengan demikian, kelakuan
orang-orang musyrik zaman sekarang yang ngalap berkah dengan kuburan
orang-orang salih sama seperti orang-orang musyrik zaman dulu yang ngalap
berkah dengan berhala al-latta, sedangkan kelakuan mereka
ngalap berkah dengan pohon dan batu, maka seperti perbuatan orang-orang musyrik
zaman dulu yang ngalap berkah dengan berhala al-uzza dan manah.
Kesimpulan:
- Ayat ini menunjukkan bahwa di antara kaum musyrikin dahulu, ada yang menyembah batu dan pohon, sebagaimana dikatakan penulis dalam matan.
- Dan dalam ayat ini Allah nyatakan batilnya perbuatan mereka mengagungkan dan menyembah berhala-berhala tersebut dengan tujuan untuk mendapatkan berkah dari mereka, maka barangsiapa yang ngalap berkah dengan kuburan orang shalih, pohon dan batu, dengan keyakinan bisa memberi manfaat atau menolak keburukan, berarti hukumnya syirik seperti kesyirikan kaum musyrikin dahulu, yaitu syirik akbar.
- Ngalap berkah kaum musyrikin zaman dahulu sama dengan zaman sekarang.
7. Dan hadits Abi Waqid Al-Laitsi,
dia berkata,
ุนَْู ุฃَุจِู َูุงِูุฏٍ ุงَّْูููุซِِّู،
َูุงَู: ุฎَุฑَุฌَْูุง ู
َุนَ ุฑَุณُِูู ุงِููู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู ูุขِِูู َูุณََّูู
َ
ุฅَِูู ุญٍَُْููู -ََููุญُْู ุญُุฏَุซَุงุกُ ุนَْูุฏٍ ุจُِْููุฑٍ-، ِْูููู
ُุดْุฑَِِููู ุณِุฏْุฑَุฉٌ
َูุนَُُْูููู ุนِْูุฏََูุง، َُููููุทَُูู ุจَِูุง ุฃَุณِْูุญَุชَُูู
ْ َُููุงُู ََููุง: ุฐَุงุชُ
ุฃََْููุงุทٍ، َูุงَู: َูู
َุฑَุฑَْูุง ุจِุงูุณِّุฏْุฑَุฉِ، ََُْููููุง: َูุง ุฑَุณَُูู ุงِููู,
ุงุฌْุนَْู ََููุง ุฐَุงุชَ ุฃََْููุงุทٍ َูู
َุง َُููู
ْ ุฐَุงุชُ ุฃََْููุงุทٍ، ََููุงَู ุฑَุณُُูู
ุงِููู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู ูุขูู َูุณََّูู
َ: ุงُููู ุฃَْูุจَุฑُ، ุฅََِّููุง ุงูุณَُُّูู،
ُْููุชُู
ْ َูุงَّูุฐِู َْููุณِู ุจَِูุฏِِู َูู
َุง َูุงَูุชْ ุจَُูู ุฅِุณْุฑَุงุฆَِูู: ﴿ุงุฌْุนَْู
ََููุง ุฅًَِููุง َูู
َุง َُููู
ْ ุขَِููุฉٌ َูุงَู ุฅَُِّููู
ْ َْููู
ٌ ุชَุฌََُْูููู﴾
[ุงูุฃุนุฑุงู: ูกูฃูจ]، َูุชَุฑَْูุจَُّู ุณَََูู ู
َْู َูุงَู َูุจَُْููู
ْ.
Dari Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu’anhu,
dia menceritakan, “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam menuju (perang) Hunain, dan ketika itu kami baru saja terbebas dari
kekafiran (muallaf). Sementara itu, orang-orang musyrik mempunyai sebuah pohon
bidara yang mereka berdiam diri (dalam bentuk beribadah) di sisinya dan mereka
menggantungkan senjata-senjata mereka di situ (untuk cari berkah, pent.). Pohon
itu dikenal dengan nama Dzatu Anwath (yang mempunyai tempat menggantung). Kami
kemudian melalui pohon bidara itu, lalu kami mengatakan, ‘Wahai Rasulullah,
pilihkanlah bagi kami pohon untuk menggantungkan senjata dalam rangka mencari
berkah, sebagaimana mereka (musyrikin) mempunyai pohon yang seperti itu.’ Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Allahu akbar! Ini adalah
kebiasaan turun temurun! Demi Allah, yang jiwaku berada di tangan-Nya (Allah),
kalian telah mengatakan sesuatu sebagaimana yang dikatakan oleh Bani Isra`il
(kepada Nabi Musa ‘alaihis salam), ‘jadikanlah untuk kami sesembahan
sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan.’ Dia (Nabi Musa ‘alaihis
salam) berkata, ‘Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bertindak bodoh’ (QS.
Al-A’raaf: 138). Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan
orang-orang sebelum kalian’” (HR. Tirmidzi dan beliau
mensahihkannya).
Penjelasan:
- Hadits yang mulia ini adalah dalil yang menunujukkan bahwa kaum musyrikin zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada yang menyembah pohon, karena apa yang mereka lakukan terhadap pohon tersebut adalah bentuk-bentuk peribadatan, sebagaimana penjelasannya pada keterangan berikutnya.
- Yang diminta oleh sebagian muslimin yang baru masuk Islam adalah melakukan seperti perbuatan kaum musyrikin, berupa syirik akbar, karena terkumpul beberapa bentuk ibadah yang ditujukan kepada selain Allah, yaitu:
a.
Mereka (musyrikin) mengagungkan
pohon bidara tersebut. Dan mengagungkan (Ta’zhim) itu ibadah.
- Mereka i’tikaf (berdiam diri dalam bentuk beribadah dan taqrrub), ini mengharuskan adanya ibadah (harap, takut dan cinta).
- Tabarruk (mencari barakah/ kebaikan yang banyak dan terus menerus), yaitu menginginkan pindahnya berkah dari pohon tersebut ke pedang, agar lebih tajam dan membawa kebaikan pada pemegangnya. Contoh tabarruk yang merupakan syirik akbar adalah mengusap-usap kuburan, mengusap-usap masjid yang dikeramatkan, mengusap-usap petilasan, menaburkan debu ke kepala, mengosok-ngosokkan tubuh ke tanah yang dikeramatkan dengan keyakinan tempat tadi, atau ruh mayyit yang menitis di tempat tersebut bisa menjadi perantara dalam mendekatkan diri pelakunya kepada Allah sehingga terpenuhi hajatnya atau merasa lebih bisa terpenuhi dengan bertabarruk seperti itu. Karena tiga perkara inilah, maka perbuatan mereka dihukumi syirik akbar.
- Sebagian kaum muslimin yang meminta hal itu tidaklah terjatuh ke dalam kekafiran, karena baru masuk Islam sehingga tidak tahu tentang hal itu, tidak menyengaja menyimpang, dan tidak melakukannya.
- Pentingnya belajar tauhid bagi semua orang agar terhindar dari perbuatan syirik.
Fungsi kaedah ini :
- Seorang muslim mampu memahami bahwa fenomena yang dilakukan oleh sebagian orang zaman ini berupa penyembahan terhadap orang-orang salih, hakekatnya tidak ada bedanya dengan penyembahan kepada matahari, pohon, dan batu di zaman dulu, karena semuanya sama-sama perbuatan syirik.
- Sebagai bantahan terhadap keyakinan batil bahwa syirik itu sebatas hanya penyembahan patung saja dan bantahan pula terhadap keyakinan batil bahwa tidak sama antara menyembah Nabi, Wali, dan orang shalih dengan menyembah patung.
Padahal Allah Ta’ala dan
Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah
membedakan antara keduanya.
Semoga Allah memberikan hidayah
kepada kita ke jalan Allah dan memberikan manfaat dari kajian ini di dunia dan
di akhirat. Wallahu A’lam
v
Tidak ada komentar:
Posting Komentar