Oleh
Abu Yusuf Akhmad Ja’far
Muqoddimah
ุงูุญَู
ْุฏُ ِููู ุญَู
ْุฏًุง َูุซِْูุฑًุง ุทَِّูุจًุง ู
ُุจَุงุฑًَูุง ِِْููู ،
َูู
َุง ُูุญِุจُّ ุฑَุจَُّูุง َู َูุฑْุถَู ، َู ุฃَุดَْูุฏُ ุฃَْู َูุง ุฅََِูู ุฅَِّูุง ุงُููู َู
ุฃََّู ู
ُุญَู
َّุฏًุง ุนَุจْุฏُُู َู ุฑَุณُُُْููู
َูุงَู ุงُููู ุชَุนَุงَูู : َูุขَُّููุง ุงูุฐَِّْูู ุขู
َُْููุง ุงุชَُّْููุง
ุงَููู ุญََّู ุชَُูุงุชِِู، َู َูุง ุชَู
ُْูุชَُْูู ุฅَِّูุง َู ุฃَْูุชُู
ْ ู
ُุณِْูู
َُْูู
َู ุฅَِّู ุฃَุตْุฏََู ุงูุญَุฏِْูุซِ ِูุชَุงุจُ ุงِููู ุชَุนَุงَูู ، َู ุฎْูุฑَ
ุงَููุฏِْู َูุฏُْู ุงَّููุจِِّู ุตََูู ุงُููู ุนََِْููู َู ุณََّูู
َ ، َู ุดَุฑَّ
ุงูุฃُู
ُْูุฑِ ู
ُุญْุฏَุซَุงุชَِูุง َูุฅَِّู َُّูู ู
ُุญْุฏَุซَุงุชِ ุจِุฏْุนَุฉٍ َู َُّูู ุจِุฏْุนَุฉٍ
ุถََูุงَูุฉٍ
ุฃู
َّุง ุจَุนْุฏُ ،
Segala
pujia bagi Allah atas limpahan rahmat dan nikmat-Nya. Betapa banyak nikmat yang
Allah berikan kepada kita, namun tidak banyak nikmat yang diberikan olehNya
kita manfaatkan untuk kebaikan dan ketaatan. Patut bagi kita untuk selalu
intropeksi diri setiap langkah yang kita lalui dalam kehidupan dunia ini.
MENGENAL ILMU AQIDAH DAN MANFAAT
MEMPELAJARINYA
Salah
satu pokok ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap Muslim adalah ilmu Aqidah
(keyakinan), karenanya itu harus benar-benar yakin, bisa juga disebut dengan
ilmu Ushul (pokok) dalam hal keyakinan. Ilmu Aqidah adalah Asas Agama, oleh
karenanya tidaklah diterima Ibadah seseorang kecuali harus mengimani Aqidah
yang benar.
Sebelum
kita mendalam lebih jauh, kita ketahui dulu, apa itu Aqidah? Biasakan sebelum
berbicara sesuatu, pahami dulu makna dari sesuatu itu agar kita tidak salah
faham dengannya yang akhirnya salah dalam menyimpulkan sebuah perkara.
Secara
bahasa, Aqidah berasal dari timbangan kata Fa’ilah bermakna Maf’ulah,
diambil dari kata (ุงูุนَْูุฏُ) yang
berarti mengikat sesuatu dengan kuat.[1]
Maka sesuatu itu tidak dikatakan aqidah yang benar, apabila menyelisihi
kenyataan yang ada.
Contoh
: Aqidah Nasrani (Bahwa Yesus itu Nabi Isa), yang seperti ini tidak dikatakan
sebagai Aqidah, karena pada kenyataannya bukan demikian.
Keyakinan
umat Islam bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam itu masih hidup dan akan turun
pada akhir zaman untuk membunuh Dajjal, menghancurkan salib-salib, dll. Hal ini
terdapat dalil-dalil yang kuat, baik dari Al-Qur’an dan Sunnah (Hadist).
Apabila
sesuatu itu benar adanya, sesuai dengan kenyataan dan bukti nyata maka itulah
Aqidah.
Contoh:
kita berkeyakinan bahwa Allah itu Esa (satu), kepada-Nya kita meminta segala
sesuatu, Maha Suci dari segala tandingan dan penyerupaan (seperti makhluk) dan
tidak mempunyai anak. Ini adalah Aqidah yang benar, karena sesuai dengan
kenyataan yang ada sebagaimana Allah Ta’ala jelaskan di dalam QS.
Al-Ikhlas :1-4.
Sedangkan
secara istilah, para ulama mendefinisikan berbagai macam definisi, akan tetapi
yang mencakup semua yaitu definisi dari Nabi salallahu ‘alaihissalam tatkala
ditanya oleh Malaikat Jibril tentang Iman, beliau menjawab :
ุฃَْู
ุชُุคْู
َِู ุจِุงِููู، َูู
ََูุงุฆَِูุชِِู، َู ُูุชُุจِِู، َู ุฑُุณُِِูู، َู ุงَْูููู
ِ
ุงูุขุฎِุฑِ، َู ุชُุคْู
َِู ุจِุงَููุฏَุฑِ ุฎَْูุฑِِู َูุดَุฑِِّู. (ุฑูุงู ู
ุณูู
)
"Beriman
kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab, Para Rasul-nya, Hari Akhir,
dan Qodo' dan Qadar (yang baik dan buruk). (HR. Muslim no.8 terletak di kitab Al-Iman)
Jadi Salah satu
bab dalam Aqidah adalah rukun Iman yang 6 sebagaimana hadist diatas itu.
Barangsiapa
yang tidak beriman dengan hal yang diatas maka dia keluar dari Islam (Dengan
syarat, Dia sengaja meremehkan dan sudah diberi peringatan oleh Ulama' tapi
menolaknya).
* Faidah belajar Ilmu 'Aqidah *:
-Seorang hamba
bisa berkeyakinan dengan benar, baik itu keyakinan tentang Allah, Malaikat,
Kitab, Rasul, Hari Akhir dan Takdir (baik dan buruk).
- Memperkuat Rukun Iman dengan Perbuatan.
contoh :
.
Apabila kita beriman bahwa Allah itu
Maha Mendengar, maka kita tidak akan mendengar perkataan yang tidak di ridhoi
oleh-Nya.
b .
Apabila kita
beriman bahwa Allah itu Maha Melihat, maka kita tidak akan melakukan perbuatan
yang bisa mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala.
- Memperkuat
Rukun Iman, dengan amalan hati
contoh :
a .
Apabila kita
beriman bahwa Allah itu Maha Pemberi Rizki, maka kita tidak akan takut/khawatir
kepada seorangpun untuk mengambil/mengurangi rezeki kita (karena manusia tidak
bisa mengurangi rezeki seseorang, karena rezeki itu sudah ditetapkan oleh Allah
Ta’ala).
b .
Apabila kita
beriman bahwa Allah itu Maha Menghidupkan dan Mematikan, maka kita tidak akan
pernah takut dari seorangpun yang akan mengurangi umur kita (karena umur kita
itu sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala, tidak ada hak bagi manusia untuk
ikut campur dalam masalah umur).
- Mengenal
Allah dengan Nama dan SifatNya yang mengandung makna-makna yang indah nan
agung.
- Dapat
mengikuti ahlu Iman yaitu para Salafus Shaleh dari kalangan sahabat dan tabi’in
serta siapa saja yang meniti jalan mereka.
- Dapat
menjauhi para Ahlu Bid’ah dan bid’ah-bid’ah yang dilakukannya, karena jika
seseorang yang mengetahui Aqidah yang benar maka otomatis dia akan mengetahui
lawan dari aqidah yang benar itu sehingga bisa menjauhinya, baik itu pelakunya
ataupun perbuatan bid’ahnya.
- Meraih
kebahagiaan dunia akhirat. Kebahagiaan yang hakiki adalah ketika kebahagiaan
itu sejalan dengan Aqidah (keyakinan) yang benar, keimanan kepada Allah Ta’ala,
malaikatNya, Kitab-kitabNya, RasulNya, Hari Akhir dan Taqdir yang baik
maupun buruk. Allah Ta’ala berfirman :
ู
َْู ุนَู
َِู ุตَุงِูุญًุง ู
ِْู
ุฐََูุฑٍ ุฃَْู ุฃُْูุซَٰู ََُููู ู
ُุคْู
ٌِู ََُูููุญََُِّْูููู ุญََูุงุฉً ุทَِّูุจَุฉً ۖ َََูููุฌْุฒََُِّูููู
ْ ุฃَุฌْุฑَُูู
ْ
ุจِุฃَุญْุณَِู ู
َุง َูุงُููุง َูุนْู
ََُููู
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki
maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan
kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada
mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. An-Nahl :
97)
Ini merupakan janji dari Allah Ta’ala kepada siapa
saja yang beramal shalih (Amal yang mengikuti tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah
Nabi salallahu ‘alaihissalam) baik itu laki-laki maupun perempuan dari
keturunan Bani Adam, dan hatinya beriman kepada Allah dan RasulNya. Dan hal
inilah yang membuat keharusan di sisi Allah untuk diberikan kehidupan yang baik
di dunia serta balasan yang terbaik di akhirat kelak, setara dengan apa yang
diperbuatnya tatkala di dunia.
َูู
َْู ุฃَุฑَุงุฏَ ุงْูุขุฎِุฑَุฉَ
َูุณَุนَٰู ََููุง ุณَุนََْููุง ََُููู ู
ُุคْู
ٌِู َูุฃَُٰููุฆَِู َูุงَู ุณَุนُُْููู
ْ
ู
َุดُْููุฑًุง
“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan
berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka
mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik” (QS. Al-Isra’ :
19)
*Nama lain dari Ilmu 'Aqidah yang terpuji* :
- Iman
-Sunnah
-Tauhid
-Ushulud Diin
-Tauhid
-Ushulud Diin
-Asy-Syari'ah
-Al-Fiqh Al-Akbar
-Al-Fiqh Al-Akbar
Sedangkan Nama lain yang tercela :
- Falsafah
-Ilmu Kalam
1. Suatu kewajiban yang pertama bagi mukallaf
(orang yang dibebani syari’at). Hal ini sebagaimana hadist Nabi salallahu
‘alaihissalam tatkala mengutus Muadz bin Jabal ke Negeri Yaman. Beliau
bersabda :
ุฅََِّูู ุชَْูุฏُู
ُ ุนََูู َْููู
ٍ
ู
ِْู ุฃَِْูู ุงِููุชَุงุจِ، ََُْْููููู ุฃَََّูู ู
َุง ุชَุฏْุนُُْููู
ْ ุฅَِูู ุฃَْู
َُููุญِّุฏُْูุง ุงَููู ุชَุนَุงَูู ، َูุฅِุฐَุง ุนَุฑَُْููุง ุฐََِูู، َูุฃَุฎْุจِุฑُْูู
ْ ุฃََّู
ุงَููู َูุฏْ َูุฑَุถَ ุนََِْูููู
ْ ุฎَู
ْุณَ ุตَََููุงุชٍ ِูู َْููู
ِِูู
ْ َู ََْูููุชِِูู
ْ،
َูุฅِุฐَุง ุตَُّْููุง، َูุฃَุฎْุจِุฑُْูู
ْ ุฃََّู ุงَููู ุงْูุชَุฑَุถَ ุนََِْูููู
ْ ุฒَูุงَุฉً ِْูู
ุฃَู
َْูุงِِููู
ْ، ุชُุคْุฎَุฐُ ู
ِْู ุบَِِِّูููู
ْ َูุชَุฑُุฏُُّูู
ْ ุนََูู َِْูููุฑِِูู
ْ
“Sesungguhnya
kamu akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab, maka langkah awal yang
harus engkau dakwahkan adalah mentauhididkan Allah Ta’ala, kalau mereka
sudah mengetahui (meyakini) hal itu maka kabarkanlah bahwa Allah telah
mewajibkan Shalat 5 waktu dalam sehari semalam, kalau mereka sudah paham
tentang sholat, maka kabarkanlah bahwa Allah telah mewajibkan zakat yang
diambil dari orang kaya kemudian diberikan kepada orang fakir miskin” (HR. Bukhari no.1458 dan Muslim no.31)
2. Merupakan syarat diterimanya Ibadah, karena
Ibadah hanya diterima dari orang yang beriman.
Allah Ta’ala
berfirman :
َََูููุฏْ ุฃُูุญَِู ุฅََِْููู
َูุฅَِูู ุงَّูุฐَِูู ู
ِْู َูุจَِْูู َูุฆِْู ุฃَุดْุฑَْูุชَ ََููุญْุจَุทََّู ุนَู
ََُูู
ََููุชَََُّูููู ู
َِู ุงْูุฎَุงุณِุฑَِูู
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada
(nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya
akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.(QS. Az-Zumar :
65) Ayat ini turun untuk semua umat manusia.
Nabi Muhammad salallahu ‘alaihissalam bersabda :
ุนَْู ุฌَุงุจِุฑِ ุจِْู ุนَุจْุฏِ ุงَِّููู َูุงَู ุณَู
ِุนْุชُ ุฑَุณَُูู ุงَِّููู
ุตََّูู ุงَُّููู ุนََِْููู َูุณََّูู
َ َُُูููู ู
َْู ََِููู ุงََّููู َูุง ُูุดْุฑُِู ุจِِู
ุดَْูุฆًุง ุฏَุฎََู ุงْูุฌََّูุฉَ َูู
َْู ََُِูููู ُูุดْุฑُِู ุจِِู ุฏَุฎََู ุงَّููุงุฑَ
Dari
Jabir bin Abdullah ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda, “Barang siapa bertemu Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya
dengan sesuatu, maka dia masuk surga, dan barang siapa yang bertemu dengan-Nya
dalam keadaan menyekutukan-Nya dengan sesuatu, maka ia akan masuk
neraka.” (HR. Muslim No.93)
Beliau
juga bersabda :
ูุนู ุงุจู ู ุณุนูุฏ ุฑุถู ุงููู ุนูู ؛ ุฃู ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ูุงู : ู َْู ู َุงุชَ ََُููู َูุฏْุนُْู ู ِْู ุฏُِْูู ุงِููู ِูุฏَّุง ؛ ุฏَุฎََู ุงَّููุงุฑَ . ุฑูุงู ุงูุจุฎุงุฑู
Dari ibnu
Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah salallahu alaihi wasalam
bersabda: “ Barang siapa mati dalam keadaan masih berdoa’ kepada selain
Allah untuk mensekutukan-Nya maka ia masuk Neraka”( HR. Bukhori No. 4497)
3. Pokok dakwah para Nabi dan Rasul
Allah Ta’ala berfirman :
َََูููุฏْ ุจَุนَุซَْูุง ِูู ُِّูู ุฃُู
َّุฉٍ
ุฑَّุณُููุงً ุฃَِู ุงุนْุจُุฏُูุงْ ุงََّููู َูุงุฌْุชَِูุจُูุงْ ุงْูุทَّูุบُูุชَ َูู
ُِْููู
ู
َّْู
َูุฏَู ุงَُّููู َูู
ُِْููู
ْ ู
َّْู ุญََّูุชْ ุนََِْููู ุงูุถََّููุงَูุฉُ َูุณِูุฑُูุงْ ِูู
ุงูุงٌّุฑْุถِ َูุงูุธُุฑُูุงْ ََْููู َูุงَู ุนَِููุจَุฉُ ุงْูู
َُูุฐِّุจَِูู.
“Dan
sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di
antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di
antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu
dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan
(rasul-rasul).” (QS. An-Nahl
:36)
َูู
َุง ุฃَุฑْุณََْููุง ู
ِْู َูุจَِْูู ู
ِْู ุฑَุณٍُูู ุฅَِّูุง ُููุญِู
ุฅَِِْููู ุฃََُّูู َูุง ุฅََِٰูู ุฅَِّูุง ุฃََูุง َูุงุนْุจُุฏُِูู
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu
melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang
hak)melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS. Al-Anbiya’
: 25)
َูุงุณْุฃَْู
ู
َْู ุฃَุฑْุณََْููุง ู
ِْู َูุจَِْูู ู
ِْู ุฑُุณَُِููุง ุฃَุฌَุนََْููุง ู
ِْู ุฏُِูู
ุงูุฑَّุญْู
َِٰู ุขَِููุฉً ُูุนْุจَุฏَُูู
Dan tanyakanlah
kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: "Adakah Kami
menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?"(QS.Az-Zukhruf : 45)
۞ ุดَุฑَุนَ َُููู
ْ ู
َِู ุงูุฏِِّูู ู
َุง َูุตَّٰู ุจِِู ُููุญًุง
َูุงَّูุฐِู ุฃَْูุญََْููุง ุฅََِْููู َูู
َุง َูุตََّْููุง ุจِِู ุฅِุจْุฑَุงِููู
َ َูู
ُูุณَٰู
َูุนِูุณَٰู ۖ ุฃَْู ุฃَِููู
ُูุง ุงูุฏَِّูู ََููุง
ุชَุชََูุฑَُّููุง ِِููู ۚ َูุจُุฑَ ุนََูู ุงْูู
ُุดْุฑَِِููู ู
َุง
ุชَุฏْุนُُููู
ْ ุฅَِِْููู ۚ ุงَُّููู َูุฌْุชَุจِู ุฅَِِْููู ู
َْู
َูุดَุงุกُ ََْูููุฏِู ุฅَِِْููู ู
َْู ُِูููุจُ
Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang
telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan
apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah
agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang
musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu
orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang
kembali (kepada-Nya). (QS. Asy-Syuro : 13)
Nabi salallahu ‘alaihissalam bersabda :
ุงูุฃَْูุจَِูุงุกُ
ุฅِุฎَْูุฉٌ ِูุนَูุงَّุชٍ ، ุฃُู
ََّูุงุชُُูู
ْ ุดَุชَّู ، َูุฏُُِูููู
ْ َูุงุญِุฏٌ
“…Para
nabi itu adalah saudara seayah walau ibu mereka berlainan, dan agama mereka adalah
satu.” (HR. Bukhari
no. 3443)
Ayat dan hadist
diatas menunjukkan kepada kita bahwa Para Nabi dan Rasul itu asas dakwahnya
sama yaitu Tauhid (penyeruan ibadah hanya kepada Allah saja) meskipun berbeda
syari’atnya (tata cara ibadahnya). Terkadang hukum pada syari’at Nabi fulan
berbeda dengan hukum pada syariat Nabi alan begitulah seterusnya.
4. Tujuan diciptakannya jin dan manusia
Allah Ta’ala berfirman :
َูู
َุง
ุฎََْููุชُ ุงูุฌَِّู َู ุงูุฅِْูุณَ ุฅَِّูุง َِููุนْุจُุฏَُْูู
“Tidaklah aku
ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah ”(QS. Adz-Dzariyat : 56).
1.
Fardhu ‘Ain : wajib bagi semua mukallaf untuk belajar
Aqidah secara ijmal (garis besarnya), Misal : tentang rukun Iman, Islam dan
lain-lain.
2.
Fardhu Kifayah : adapun mempelajari secara tafsil (terperinci)
maka hukumnya fardhu kifayah, kalau ada satu orang yang melakukannya maka gugur
kewajiban yang lain. Misal : pedalaman dalil-dalil tentang aqidah, meneliti
perkataan para imam tentang masalah Aqidah dll.[2]
Oleh karenanya
pada kesempatan kali ini, kita akan mengkaji dan memaparkan kitab Aqidah yang
dikarang oleh salah satu mujaddid Islam pada zamannya, yaitu kitab Al-Qowa’id
Al-Arba’ oleh Syaikh 'Allahmah Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi An-Najdi
rahimahullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar