Minggu, 30 Desember 2018

Materi Kulwhap : *Membangun Konsep Diri Seorang Pemuda*

📚🎁📚🎁📚🎁📚🎁📚🎁

(Disiapkan sebagai bahan KulWhap Depok HEbAT Community)
🧕🏻 Narasumber : *Teh Kiki Barkiah*


_*“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.  sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa : 9).*_

Ayat ini menunjukkan bahwa kita dilarang meninggalkan generasi lemah❗

Islam menaruh perhatian besar tentang mempersiapkan pemuda.

Rasulullah SAW bersabda, “Diangkatkan pena (tidak dibebani hukum) atas tiga (kelompok manusia), yaitu anak-anak hingga baligh, orang tidur hingga bangun, dan orang gila hingga sembuh." (HR Abu Dawud).

Kapan kita mulai mendidik pemuda❓

Sebagian orang tua memulainya saat:
✍🏻 Anak-anak menjelang akan baligh;
✍🏻 Anak-anak sudah masuk usia baligh;
✍🏻 Sudah muncul permasalahan yang khas seputar pemuda usia baligh.
_(Bahkan ketika mulai menyesali hasil pendidikan setelah anak-anak berusia dewasa)_

Mempersiapkan pemuda yang mencapai akil di saat ia mencapai baligh itu membutuhkan *proses*.
Bahkan proses dimulai ketika mereka terlahir kedunia. Mari bergerak dari titik akhir.

Apa yang perlu dicapai saat anak-anak sudah baligh?

*Saat anak mencapai baligh anak diharapkan mencapai akil* yaitu dapat membedakan baik dan buruk, benar dan salah, mengetahui kewajiban, memahami apa yang dibolehkan dan yang dilarang, serta mampu membedakan hal yang bermanfaat dengan hal yang tidak bermanfaat apalagi yang merusak. Tidak semua anak baligh saat ini mencapai akil.

✍🏻 Harapan kita  ketika anak akil baligh, anak telah:
1⃣ Mengetahui tujuan hidupnya;
2⃣ Rampung mengetahui garis besar hukum-hukum Allah;
3⃣ Siap melaksanakan perintah dan larangan Allah.

Tidak ada kamus remaja dalam pendidikan islam. Mari kita pangkas fase remaja anak!! Fase yang memberi ruang untuk labil dan melakukan kesalahan.

Mari kita didik anak menjadi *syabab/pemuda*!!! dan memperlakukan mereka sebagai pemuda ketika masa baligh telah tiba.

✅ Proyek besar ini kita mulai dari rumah.
✅ Menanam benih unggul di lahan yang unggul kemudian secara istiqomah menyiram tanaman keimanan, agar tumbuh kokoh dan menjulang tinggi dan pada akhirnya akan berbuah kemanfaatan.

Beberapa upaya yang dapat kita lakukan agar anak-anak siap memiliki beban taklif saat ia baligh kelak, diantaranya:

1. Tanamkan pondasi keimanan dan ketakwaan sejak dini sehingga di usia baligh mereka telah siap melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah;

2. Hidupkan keteladanan Rasulullah SAW, para nabi, sahabat dan biografi orang-orang shalih dalam keseharian mereka sehingga membantu mematangkan proses berfikir agar saat baligh ia juga mencapai akil serta memiliki konsep diri yang baik sebagai seorang Muslim;

3. Berusaha menjaga pandangan dan pendengaran mereka dari sesuatu yang merusak akal mereka termasuk hal-hal yang dapat membangkitkan syahwat mereka;

4. Mendukung program pendidikan anak yang mengantarkan mereka memahami agama dan siap menjalankan hukum Allah di usia baligh termasuk fiqh yang berkaitan dengan munculnya tanda baligh;

5. Berusaha untuk menjaga mereka dari segala sesuatu yang merusak fitrah jiwa agar anak memiliki konsep diri seorang muslim yang kuat;

6. Menghembuskan berbagai visi, misi dan mimpi  dengan memperlihatkan kondisi umat ini, agar ia memiliki cita-cita besar dalam hidup sehingga selalu menyibukkan diri dalam hal positif;

7. Menjadi tempat yang nyaman bagi ananda untuk bercerita dan berbagi rasa agar kita terus dapat membantu mereka menyaring mana yang baik dan mana yang buruk;

8. Memperkaya pengalaman masa kecil mereka dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat, serta meminimalkan kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat agar mereka menemukan kesibukan diri yang produktif sehingga tidak lagi memiliki ketertarikan pada hal-hal yang tidak bermanfaat apalagi bermaksiat kepada Allah;

9. Berusaha membantu mereka untuk mengenali potensi mereka,dan memberi kesempatan untuk mengembangkannya agar mereka bersemangat mempersiapkan masa depan mereka lebih awal;

10. Mendukung dan memfasilitasi agar anak dapat menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan produktif agar energi mereka senantiasa terkuras pada hal-hal besar yang mereka siapkan untuk mengabdi pada ummat ini;

11. Mendukung program pendidikan yang mempersiapkan mereka menjadi istri/suami dan orang tua;

12. Mendukung dan mengarahkan agar mereka  memiliki kemandirian finansial sejak muda sehingga saat syahwat bergejolak dan tak mampu tertahan lagi dengan memperbanyak shaum, maka mereka telah siap mengucap ijab qabul dan membangun rumah tangga.

📚🎁📚🎁📚🎁📚🎁📚🎁

Rabu, 26 Desember 2018

(Inilah BAHAYA dari) Ayah "Bisu"

Oleh :  Budi Ashari Lc (parenting nabawiyah)

Para ayah yang baik, kita pasti sepakat bahwa al-Qur’an adalah sumber utama bagi setiap muslim di setiap lini kehidupannya. Sayang ya yah, kalau pernyataan ini hanya tinggal pernyataan tanpa aplikasi. Buktinya…, siapa yang hari ini bicara tentang parenting dengan merujuk langsung ke al-Qur’an. A big question!

Nah ayah, mulai tulisan ini hingga beberapa tulisan ke depan, kita akan belajar bersama langsung dari al-Qur’an. Menggali sedalam-dalamnya. Untuk mendapatkan mata air terjernih. Panduan untuk setiap ayah.

Sebuah tulisan ilmiah akan menjadi inspirasi kajian kita dalam tema ini. Tulisan ilmiah tersebut karya Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri, untuk meraih gelar magister di Universitas Umm al-Quro, Mekah, Fakultas Pendidikan, Konsentrasi Pendidikan Islam dan Perbandingan.

Judul tulisan ilmiah tersebut adalah:

حِوَارُ اْلآباَءِ مَعَ اْلأبْناَءِ فيِ اْلقُرْآنِ اْلكَرِيْمِ وَتَطْبِيْقَاتُهُ التَّرْبَوِيَّةِ

“Dialog orangtua dengan anak dalam al-Qur’an al-Karim dan aplikasi pendidikannya”

Dari judulnya saja, sudah luar biasa. Dan memang luar biasa isinya. Menarik ya yah….
Sudah gak sabar nih untuk baca bersama….

Menurut tulisan ilmiah tersebut, terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam al-Qur’an yang tersebar dalam 9 Surat.

Ke-17 dialog tersebut dengan rincian sebagai berikut:
• Dialog antara ayah dengan anaknya (14 kali)
• Dialog antara ibu dan anaknya (2 kali)
• Dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya (1 kali)

Lihatlah ayah, subhanallah…
Ternyata al-Qur’an ingin memberikan pelajaran. Bahwa untuk melahirkan generasi istimewa seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya, harus dengan komposisi seperti di atas.

Jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya, lebih banyak daripada dialog antara ibu dengan anaknya. Jauh lebih banyak. Lebih sering. 14 banding 2!

Kalau hari ini banyak muncul ayah ‘bisu’ dalam rumah, inilah salah satu yang menyebabkan munculnya banyak masalah dalam pendidikan generasi. Sebagian ayah seringkali kehabisan tema pembicaraan dengan anak-anaknya. Sebagian lagi hanya mampu bicara dengan tarik urat alias ngamuk, eh maaf…marah. Ada lagi yang diaaamm saja, hampir tidak bisa dibedakan saat sedang sariawan atau memang tidak bisa bicara. Sementara sebagian lagi, irit energi; bicara seperlunya. Ada juga seorang ayah yang saat dia belum selesai bicara sang anak bisa menyela, “Cukup yah, saya bisa lanjutkan pembicaraan ayah.” Saking rutinitas yang hanya basa basi dan itu-itu saja.

Jika begitu keadaan para ayah, maka pantas hasil generasi ini jauh dari yang diharapkan oleh peradaban Islam yang akan datang. Para ayah selayaknya segera memaksakan diri untuk membuka mulutnya, menggerakkan lisannya, terus menyampaikan pesannya, kisahnya dan dialognya.

Ayah, kembali ke al-Qur’an..
Dialog lengkap, utuh dan panjang lebar di dalam al-Qur’an, hanya dialog ayah kepada anaknya. Bukan dialog ibu dengan anaknya. Yaitu dialog Luqman dengan anaknya. Sebuah nasehat yang lebih berharga bagi seorang anak dari semua fasilitas dan tabungan yang diberikan kepadanya.

Dengan kajian di atas, kita terhindar dari kesalahan pemahaman. Salah, jika ada yang memahami bahwa dialog ibu tidak penting. Jelas sangat penting sekali dialog seorang ibu dengan anaknya. Pemahaman yang benar adalah, al-Qur’an seakan ingin menyeru kepada semua ayah: ayah, kalian harus rajin berdialog dengan anak. Lebih sering dibanding ibu yang sehari-hari bersama buah hati kalian.

Dan…
Jangan jadi ayah bisu

Senin, 24 Desember 2018

Kenapa Berkisah?

"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan dimintai  pertanggung jawaban" (QS. Al Isra : 35)

"dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran,  penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur" (QS.  Al Mu'minun : 78)

Pada ayat-ayat suci ini, akan terlihat  bahwa kata "pendengaran"  disebut sebelum kata "penglihatan" TANPA KECUALI.

Pada janin, dibulan kelima usia kehamilan telinga sudah berfungsi sebagai indra pendengaran, sementara mata, hingga usia kehamilan 7 bulan belum mampu melihat apapun  karena kelopak masih tertutup dan mereka tenggelam dalam tiga lapis kegelapan.

Seorang bayi akan memahami kata yang dia dengar lebih cepat daripada  memahami gambar dan tulisan yang dia lihat.


Fungsi pendengaran juga lebih penting dalam belajar mengajar  serta lebih tertanam  dalam ingatan seorang anak.

Mari melihat sejarah generasi salaf dimana Al Qur'an diturunkan, ayat-ayat diperdengarkan dan dihafalkan kemudian disebarkan.

Maka, sungguh...ayah bunda...berkisahlah.

Kisahkan pada ananda kisah-kisah teladan Nabi dan Rasul, kisahkan pada mereka sosok yang mencintai mereka, jauh sebelum mereka terlahir ke dunia, kisahkan mereka Iman Islam sebagai bekalan menghadapi fitnah dunia yang semakin menyesakkan ini.

#catatanEmakTricilZAM
#berkisah
#manfaatberkisah

‼ *Boikot Buku Tulis SiDu/ Sinar Dunia, APP/ Asia Pulp & Paper, Tjiwi Kimia, Sinar Mas Grup

Sebentar lagi akan memasuki tahun ajaran baru. Biasanya ortu akan membelikan buku tulis merk SiDu/ Sinar Dunia, APP/ Asia Pulp & Paper, Tjiwi Kimia, Sinar Mas Grup

Mulai saat ini, mari *Boikot* produk tersebut. Kita semua tahu Sinar Mas Grup / Eka Tjipta Widjaya adalah salah satu dari sembilan naga yg merongrong negeri ini

Mari kita beralih ke  *KIKY* buku tulis milik muslim / Rio Haryanto pembalap F1 Indonesia

Rio Haryanto adalah seorang muslim yang taat.

Setelah Ummat Islam sukses memboikot Sari Roti. Saatnya kita *Boikot* SiDu/ APP/ Tjiwi Kimia/ Sinar Mas Grup
⏺⏺⏺⏺⏺⏺⏺⏺⏺⏺⏺⏺

Minggu, 23 Desember 2018

untukmu ayah : para pendidik peradaban

Dua belas tahun silam aku tercenung : seorang ibu tetiba membunuh tiga orang anaknya. Dalam nanarnya ia berbagi alasan kepadaku :

"Di era jahiliyah modern ini, tak sanggup rasanya aku mendidik anak shaleh sendirian, ketika ayahnya tak terlibat. Daripada kelak ia menjadi ahli neraka, lebih baik aku bunuh mereka kala masih menjadi bocah. Biarlah ibunya ini  yang masuk neraka"

Aku terhenyak bertanya dalam hati : Perlukah ayah mendidik anaknya ? Bukankah Ia telah begitu disibukkan dengan berbagai ikhtiar tak kenal lelah untuk mencari nafkah, tak kurang dari 8 jam sehari, 40 jam sekali dan 2.000 jam setahun ? Bukankah itu adalah tanggung jawab bundanya ?

Aku limbung dan bertanya kepadaNya melalui kitabNya :

"Rabb,  siapakah sebenarnya sang pendidik anak itu"

Aku membuka kitabNya helai demi helai. Lalu ku dapati nama Luqmanul Hakim. Ia adalah seorang pendidik anak teladan, dan ternyata Ia adalah seorang lelaki... Lalu ku cari nama lain, muncullah nama Ibrahim as. Ia pun seorang pendidik anak fenomenal,  dan ia pun seorang lelaki... Lalu kutemukan nama lain, yaitu Imran. Ia adalah seorang pendidik anak, dan ternyata iapun adalah seorang lelaki... Lalu aku pun menemukan nama Ya'qub, Zakaria dan ternyata semuanya adalah lelaki...

Ah, ternyata aku keliru selama ini. Ternyata sang pendidik anak itu adalah ayah, karena dia adalah sang pemimpin,  sosok yang ucapannya didengarkan, perilakunya diikuti dan bahkan isi dompetnya dapat membuat seisi rumah taat kepadanya. Ia tak banyak bicara, tapi lebih banyak didengar.

Lalu aku dengar pula ada 17 ayat dalam Al-Qur'an tentang pendidikan anak. Ternyata 14 diantaranya dilakoni oleh para ayah, hanya 3 yang dilakoni oleh bunda atau keduanya. Aku sadar sekarang, kenapa dalam Al-Qur'an seorang manusia ditanya di neraka tentang penyebab kedurhakaannya, lalu ia berkata : "aku hanya ikuti ayahku", sehingga Allah murka :

"Apakah engkau tetap akan ikuti ayahmu walau ia tak berakal dan tak berpengetahuan ?"

Ayah didiklah anakmu karena engkaulah yang kelak akan mampu menjadikannya Yahudi, Nasrani, Majusi atau Muslim.... Ayah, didiklah anakmu, karena kelak engkaulah ya akan ditanyai kenapa anak gadismu keluar tak menutup aurat...

Dan ayah, banggalah dengan mandatmu karena lewat pendidikanmu engkau tak hanya menghasilkan anak-anak shaleh dan shalehah, tapi engkau akan membentuk kader-kader peradaban. Bukan hanya melahirkan anak-anak, tapi bahkan keturunan yang akan menjadi pelanjut dinastimu, melalui visi dan misi yang akan kau bangun dalam keluargamu. Karena engkau adalah ayah, dan oleh karenanya engkau adalah pendidik peradaban

Percayalah ayah, tak ada yang sebaik anda dalam mendidik iman, visi,  individualitas, tanggung jawab, nyali,  daya juang, jiwa tarung, kepemimpinan, kemandirian, negosiasi, pola pikir atau ketangguhan. Karena kita dapatkan itu semua dari kantor, pasar, gunung, rimba, jalan, bahkan dari perkelahian yang kita lakukan. Dan anak-anak kita menantikan itu semua untuk menaklukkan masa depannya.

Ayah, tadinya aku hanya ingin menulis dan menulis. Tak terpikir untuk menjadikannya buku. Namun komunitas HEbAT ternyata bersusah payah untuk merangkumnya dan menjahitnya menjadi sebuah buku. Buku ini untukmu ayah :  para pendidik peradaban

-Ust. Adriano Rusfi-

Self reminder

Sabtu, 15 Desember 2018

Ambil Raport ? Yuk jaga sikap dan lebih berhati hati

Pekan pekan ini banyak moment ambil raport anak anak..
Kok hati hati? Hati hati apanya?

Hmm, gini ayah bunda..
Biasanya, kita suka iseng ngomentarin raport mereka.
"kok matematikanya cuma 6 de?"
"ini bahasa inggris kenapa lebih kecil dari hasil mid semester?"
"ah kamu malu maluin aja. Dulu waktu sekolah bunda selalu ranking 1 lho.."
Atau komentar iseng lainnya termasuk senyum senyum nyinyir gimanaaaaa gitu.. 🙈

Kalau kita yang digituin, kira kira nyaman ngga ya?
Nah, anak anak kita juga sama. Mereka udah berjuang lho.. Berangkat pagi pulang sore, bermacet macet di jalan, ngerjain tugas ini itu, belum lagi ditambah ngerasa takut dimarahin emak nya kalo nilainya kecil. Tambah menciut lah mereka apalagi kalo kadang berangkat ngga sempet disiapin sarapan atau bekel makan siang.. Ah, lengkap sudah..

Tenang ya mak emak., menurut saya, anak kita ngga harus punya nilai gede di semua mata pelajaran kok. Mereka juga perlu spesialisasi. Kalo nilai matematikanya kecil tapi bahasa inggrisnya 10, misalnya, berarti kita bisa push anak kita untuk ngejar di bahasa Inggris. Kalo kita push matematikanya, ujung ujungnya mungkin naik dikit, tapi bisa bisa bahasa inggrisnya malah turun karena dia jadi tambah beban di matematika. Dan sebaliknya.
Anak anak udah cukup stress dengan berbagai hal yang dia lalui. Ngga usah ditambah stress karena omelan kita yang panjang lebar kali tinggi.. 😁 Mereka punya kelebihan masing masing. Setiap anak itu cerdas.. 😘

Jadi, janji yaaa.. Pas nerima raport. Senyumin itu nilai yang di raport, terus peluk anak anak sambil bilang "great job sayang.. Makasih ya nak.. Kamu pasti udah berusaha keras untuk dapetin ini.."
Kayaknya lebih enak dan adem..😍 Semoga anak anak kita kemudian berjanji dalam hati mereka, "ah, bunda baik banget.. Semester depan aku harus lebih baik lagi.."




#raport #terimaraport #hatihatiterimaraport #setiapanakcerdas #anakkitamasadepankita #bundaary_parenting

*🔲 APAPUN SEKOLAHNYA, YANG PENTING ORANG TUANYA!*

Sebagus atau semahal apapun sekolah anak-anak kita, sama sekali bukan jaminan untuk menghasilkan anak yang sholih dan sholihah, anak yang berakhlaqul karimah.

Saya berkata ini karena sudah hampir 5 tahun berinteraksi dengan banyak stakeholder pendidikan, bergaul dengan dari berbagai kalangan dari dunia pendidikan...

Sehingga saya bisa mengambil sebuah kesimpulan, bahwa *SEKOLAH TERBAIK ADALAH KELUARGA,* terutama untuk anak-anak sampai dengan usia SD.

Adalah sebuah _kemustahilan jika kita mengharapkan anak-anak kita "berakhlaq baik"_ sedangkan di rumah orang tuanya :

● *sering bertengkar*
● *sering marah-marah*
● *sering berkata kasar*
● *cuek pada anak2nya.*

Juga menjadi *"Mission (almost) Impossible"* jika mengharapkan anak-anaknya menjadi anak yang taqwa, rajin sholat (berjamaah di Masjid bagi yang pria), mampu menghafal Qur'an dengan baik, semangat dalam menuntut ilmu terutama Ilmu Agama

Jika orangtuanya :

● *Cuek terhadap agama.*
● *Ayahnya malas sholat berjamaah di Masjid.*
● *Bunda juga seringkali sholat tidak di awal waktu.*
● *Ayah Bunda malas menuntut Ilmu Agama, menghadiri Kajian-kajian Ilmiah keislaman.*
● *Ayah Bunda jarang berinteraksi dengan Al-Qur'an,dsb dsb.*

Perlu bapak/ibu sahabat semua ketahui,
*"Panutan anak-anak adalah orangtuanya, bukan gurunya"*

Sebagian anak-anak bahkan bercita-cita ingin seperti orangtuanya.
Ayah bagi seorang anak laki-laki adalah role model, sedang bagi anak perempuan _Ayah adalah "first love" mereka_.

Bunda... Terlebih seorang Bunda, baik anak laki-laki dan perempuan banyak yang menjadikan sosok _bundanya sebagai "malaikat pelindung"_.

Satu rahasia kecil, para ulama dan orang bijak terdahulu jika mendapati anaknya berbuat kurang baik, berkata tidak jujur, sulit diatur... *maka mereka pertama akan menyalahkan diri mereka sendiri*, bahkan menghukum diri mereka sendiri...

kenapa anak-anak saya bisa seperti ini?

*Apakah saya telah berbuat dosa?*

*Apakah ada makanan haram yang saya berikan untuk anak-anak saya?*

Itulah sejatinya orangtua yang baik.

Setiap ada kejadian yang kurang mengenakkan tentang buah hati, *mereka langsung bermuhasabah, bukan menyalahkan si anak*, bukan menyalahkan orang lain, bukan mengkambinghitamkan sekolah dan lingkungan, walau secara keseluruhan ada juga faktor-faktor pemicu kenakalan anak-anak kita, namun _"Faktor terbesar adalah kelalaian orangtuanya"_

Jadi, memang baik mencari Sekolah yang terbaik untuk buah hati kita, namun lebih dari itu semua...

*"Mari kita sebagai orangtua belajar menjadi guru kehidupan buat anak-anak kita."*

Guru yang akan terus dikenang baik dan buruknya oleh anak-anak kita. Guru yang tidak hanya mengantarkan anak-anak ke gerbang wisuda, tapi lebih jauh *mengantarkan mereka masuk ke gerbang Surga.*

❤❤❤

Maha benar firman Allah Ta'ala dalam QS At-tahrim (66) : 6.
"Wahai orang-orang yang beriman!, Peliharalah dirimu dan *keluargamu* dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; ...."

*Jadi kunci utama pendidik anak itu ORANG TUA.* baik buruknya bersumber dari keluarga.
Semoga para orang tua menyadarinya.

*Muhasabah terkhusus untuk diri saya sendiri....*

 💜Semoga bermanfaat💜

✍ _*Budiansyah Abu Nizar*_

==============

Catatan : Penulis adalah Guru Besar Ilmu Nahwu di LIPIA Jakarta.

Tips dari Ust. Budi untuk para pendidik di rumah

1. Ayah dan ibu harus mempunyai amal salih pilihan yang rutin. Baca Alquran, di depan anak, qiyamul lail (sering berdoa titipkan anak kepada Allah, dengan penjagaanNya insyaAllah kita akan tenteram), berinfak di jalan Allah. Harus ada amal yang menjadi unggulan kita

2. Ayah dan ibu boleh memilih amal unggulan. Ibu membacakan kisah para sahabat, ayah mengajak anak-anak ke masjid. Ayah hebat dalam amal tertentu, ibu hebat di amal yang lain.

3. Berdoalah dengan menyebut amal tersebut sebagai tawassul agar Allah menjaga anak-anak kita.

4. Kalau syahwat mendesak-desak untuk mengambil harta yang *tidak halal* , maka ingatlah anak-anak. Harta tidak halal hanya melahirkan *anak-anak yang rusak*.

Untuk melahirkan generasi yang salih dan hebat harus dengan *harta yang halal*!

Sumber bacaan : Inspirasi dari Rumah Cahaya

*Wahai Putraku, Apa Kabar Ilmumu?*


[oleh Ust Poppy Yuditya]

“Wahai putraku, tuntutlah ilmu, dan aku siap membiayaimu dari pintalanku.
Wahai putraku, jika engkau telah mencatat sepuluh kalimat, maka perhatikan:
Apakah engkau bertambah takut, sabar, dan sopan?
Jika engkau tidak demikian, maka ketahuilah bahwa semua kalimat tadi akan membahayakanmu dan tidak bermanfaat bagimu.” (Riwayat Imam Ahmad).

Perhatikanlah nasihat seorang Ibu kepada putranya di atas. Resapi kata demi kata yang menyertainya.
Bahasa yang sangat sederhana, namun sarat makna.

Nasihat yang lahir dari kekhawatiran akan manfaat ilmu yang anaknya pelajari.
Nasihat yang lahir dari rasa peduli dan kasih sayang yang tinggi,
Nasihat yang lahir dari nilai Islam yang melekat dalam diri,
Hingga tak ingin ananda tercintanya melakukan kesia-siaan dalam waktu hidupnya.

Wahai Ibu…
Ibu di manapun di seluruh dunia,
Bagaimana dengan kita?
.......

Jangankan 10 kalimat,
Jangan-jangan sudah berbuku-buku habis untuk catatan belajar anak-anak kita,
Namun mungkin terlupa kita tanyakan,
Bagaimana manfaat ilmu bagi mereka.

Apakah ilmu mereka membuat mereka semakin tunduk pada Rabb-nya?
Apakah ilmu mereka membuat mereka semakin takut? Semakin sabar? Semakin sopan?
Pernahkah kita tanyakan?

Barangkali kita memang bertanya pada mereka,
Tentang ilmu mereka,
Sudah sampai mana pelajaranmu,Nak?
Mampukah engkau mengikuti?
Apakah perlu Ibu tambahkan les untukmu, anakku?

Kita tuntut mereka belajar,
Untuk sanggup mengikuti kurikulum yang ditetapkan,
Namun lupa mengevaluasi kembali…

Hasil ilmu bukanlah nilai rapor sekolah.
Hasil ilmu bukanlah menjadi pemenang adu cerdas cermat,
Hasil ilmu bukanlah dari piala dan piagam berjejeran.

Hasil ilmu adalah akhlaq mereka,

Yang ketika bertambah ilmu mereka,
Bertambah takut, sabar, dan sopanlah mereka.

Hasil ilmu adalah ketika mereka tidak sia-sia dalam waktu mereka.
Hingga tak tersisa ketidakmanfaatan dalam semua tindak tanduk mereka.

Tahukah siapa sebenarnya Ibu dengan nasihat luar biasa di atas?

Dialah ibunda Sufyan Ats Tsauri.
Sufyan Ats Tsauri tercatat sebagai adalah salah seorang tokoh ulama teladan dari Kufah,
Imam dalam bidang hadits juga bidang keilmuan lainnya,
Terkenal sebagai pribadi yang wara’ (sangat hati-hati), zuhud, dan seorang ahli fiqih,
‘Ulama yang selalu ingat untuk mengamalkan ilmunya.

Wahai Ibu….
Jangan biarkan kisah ini berlalu begitu saja,

Kini saatnya kita yang bertanya,

Apa kabar ilmumu, anakku?
Manfaatkah dia bagi akhlaqmu?
Karena Nak, Ilmu itu terlihat dari amalmu.

Rabu, 12 Desember 2018

KAKAK

Kakak

Tidak bosan-bosannya saya mengingatkan diri saya sendiri, akan 'ketimpangan' saya dalam berbagi perhatian dengan anak pertama.

 Banyaknya harapan dan ekspektasi berbanding jauh dengan perhatian dan kasih sayang yang harus diterimanya.

Ini adalah sebagian dari apa yang orang tua harapkan dari si sulung:

Mandiri, Disiplin, Sabar, Berbagi, Tanggung jawab, Turut mengasuh, ngalah.

Yang terlupa adalah, setua apapun ia (sebelum 18th) ia tetap anak. Ia memiliki hak hak nya sebagai anak.

Ketika ibu memerlukan sesuatu, pasti yang dipanggil yang sulung dulu walau ia baru berusia 3 tahun.

Begitu juga jika ada yang berantem atau teriak, mesti si sulung yang disalahkan atau ditanya terlebih dahulu.

Kalau ibu kerepotan, berbagi tugas dengan si kakak dulu, 'kak tolongin ibu ya nak.. tolong ini.. terus itu, makasih ya nak'.

Lupa kita, dia masih anak - anak, walau usianya hanya selisih setahun dari adiknya, besar ekpektasi dan harapan, tidak sesuai dengan jarak usia. Dia tetap perlu bermain, dimenangkan, dituakan, dihormati, dikasih kesempatan, dan bebas dari dimarahin setiap kali ada yang berseteru.

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki situasi dan kondisi ini?

1. Jangan mengharuskan.Buang jauh kata 'harus'. Sebagai sulung, ia tak melulu harus menjadi kakak yang melakukan semuanya atau sesuatu. Harus mengalah, harus ini, harus itu. Anak kedua dan seterusnya juga punya keharusan yang kurang lebih sama. Coba sesuaikan porsinya. Jangan berat sebelah. Jangan kata 'harus' menempel pada si kakak saja. Berlaku adil lah. Allahkan menilai kita.

1. Adik turut membantu.  Si adik, yang no 2,3,4 dst.walau bisa dibilang kecil atau muda, bukan berarti harus bebas dari tanggungan apapun. Merekapun bisa dilatih membantu atau mengerjakan sesuatu. Misalnya si tengah usianya 3 th, kan bisa kalau sekedar diminta tolong ambil popok adiknya. Bagi rata tugas sesuai usia, sedari dini. Mulai dari sekarang.

3. Hormat
      Hormati si kakak. Ajari adik untuk juga menghormatinya. Jangan menegur kesalahannya depan adik. Jangan melulu memenangkan keinginan/kemauan sang adik. Kasih privacy yang lebih, keleluasaan yang lebih. Sesuai dengan tanggung jawab dan usianya. Misalnya, si kakak perlu tidur 30 menit lebih dari adik, biarkanlah. Itu kan yang bisa merasa ia dibedakan juga dalam hak nya. Begitu pula jika ada tontonan yang lebih pantas untuk usianya, tapi tidak pantas untuk adik-adiknya, kasih kesempatan itu sembari mengalihkan adik-adiknya dan mengajak mereka bermain.

Berikan rasa bahwa menjadi kakak dan anak sulung itu SPECIAL. Bukan hanya dari sisi tanggung jawab, tapi juga dari sisi hak nya. Jika si kakak merasa ia juga special, Insha Allah, ia akan menjadi kakak yang lebih baik untuk adik-adiknya.

Bukankah jika kita gembira, kita ingin melakukan banyak hal lebih baik?

Jangan lupa, karena hadir si sulunglah, gelar ayah dan mama kita sandang. Sebelumnya, kita hanya anak.. lalu suami dan istri. Yang pertama memanggil kita: ibu, bunda, mama.. adalah mulut kecilnya!

Peluk ia banyak-banyak. Banyak sekali hutang kita sama sulung kita. Waktu yang terbagi, kesabaran yang terbatas, pendampingan yang tidak maksimal, ekspektasi yang tinggi. Tataplah ia, walau sudah mulai jangkung fisiknya, didalamnya tetap ada buah hati tersayang, yang senantiasa rindukan pelukan mamanya, yang andai ia boleh berharap, ia ingin sehariii saja, kembali menjadi anak satu-satunya!

😊

Salam sayang penuh cinta buat sulung ibu dan bapak dari saya 😘.

*silahkan di share jika dirasa bermanfaat. Tidak perlu izin, asal mencantumkan sumbernya

*Wina Risman*
17 Oct 2017

*YUK BESANAN…!*

Ustadz Budi Ashari

Ini memang bukan zaman Siti Nurbaya. Ya, karena ini zaman yang akan mengembalikan kebesaran Islam. Kehadiran kembali generasi sehebat generasi terbaik; Shahabat Rasulullah. Dan tema kita ini merupakan salah satu konsep parenting nabawiyah.

Gara-gara kalimat ini bukan zaman Siti Nurbaya, para orangtua merasa ‘tertekan’ oleh anak-anaknya. Akhirnya keluarlah kalimat ‘menyerah’ para orangtua: Terserah kamu, asal kamu bahagia, ayah dan mama tinggal merestui saja.

Saya mengkhawatirkan kalimat yang terlihat sangat bijak itu, maknanya kelemahan orangtua dan ketidakmampuan memberi masukan kepada anaknya. Karena anak-anaknya telah kalah oleh zaman yang bukan lagi zaman Siti Nurbaya.

Memaksa anak sehingga tidak mempunyai hak suara juga tidak dibenarkan oleh Rasulullah. Tetapi jangan hanya berhenti di sini. Lihatlah apa yang dilakukan oleh Rasulullah dalam kehidupan beliau soal mencari menantu atau menjodohkan.

Konsep mencari jodoh telah disampaikan secara lisan oleh Rasulullah di hadapan para shahabat. Tetapi Nabi tak berhenti sampai di situ. Nabi pun langsung terjun ke lapangan perjodohan untuk mengawal langkah pertama sebuah peradaban itu. Agar tidak salah langkah.

Ada kisah siroh sederhana yang sering kita dengar tetapi terlewatkan pelajarannya.

Coba ingat kembali 4 shahabat paling mulia Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali –radhiallahu anhum-.

Dan lihat komposisi menarik dari ke-4 shahabat tersebut:

*Abu Bakar  = Mertua (Nabi menikahi Aisyah)*
*Umar        = Mertua (Nabi menikahi Hafshah)*
*Utsman     = Menantu (Nabi menikahkan Ruqoyyah kemudian Ummu Kultsum)*
*Ali            = Menantu (Nabi menikahkan Fathimah)*
2 mertua dan 2 menantu.

Jadi ikatan Nabi dengan keempat Khalifah sepeninggal beliau tak hanya ikatan Nabi dan umatnya, guru dan muridnya. Tetapi hingga ikatan menantu dan mertua, mertua dan menantu.

Hal seperti ini tak hanya berhenti pada kisah keluarga-keluarga mulia tersebut. Nabi juga ikut menentukan perjodohan yang terjadi di beberapa shahabatnya.
Bacalah kembali proses perjodohan Bilal muadzin Nabi yang berkulit hitam dan mantan budak itu dengan Halah binti Auf, saudari Abdurahman bin Auf saudagar kaya dari Quraisy. Nabi yang berkali-kali mengatakan kepada keluarga Abdurahman bin Auf: Kemanakah kalian dengan Bilal? Bagaimana kalian dengan calon penghuni surga itu?

Dan perjodohan itupun terjadi.

Baca juga proses perjodohan Fathimah binti Qois, wanita Quraisy yang terhormat itu. Saat ia dilamar oleh Muawiyah dan Abu Jahm, Nabi mengatakan bahwa keduanya tidak ada yang cocok untuk Fathimah binti Qois. Dan Nabi pun memberi saran: Menikahlah dengan Usamah.

Dan perjodohan itupun terjadi.

Renungi juga penolakan tawaran awal Nabi yang meminta seorang gadis dari keluarga Anshor untuk dinikahkan dengan Julaibib, lelaki miskin dan jauh dari kata tampan.

Dan perjodohan itupun terjadi.

Antara shahabat pun terjadi saling menjodohkan. Lihatlah antara dua orang besar: Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib. Ali kelak menjadi mertua untuk Umar bin Khattab. Karena putrinya Ali yang bernama Ummu Kultsum dinikahi oleh Umar. Umar berkata: Sesungguhnya aku menikahinya karena teringat sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Semua sebab dan nasab terputus kecuali sebab dan nasabku.” Karena itulah Umar sangat memuliakan Ummu Kultsum binti Ali dengan mahar pernikahan: 40.000 Dirham. (Lihat Al Bidayah Wan Nihayah, Ibnu Katsir)

Demikian juga tanggung jawab seorang ayah; Umar bin Khattab saat melihat putrinya Hafshoh menjanda karena suaminya meninggal. Umar mendatangi Abu Bakar untuk menawarkan putrinya agar dinikahi oleh Abu Bakar. Tapi Abu Bakar hanya diam saja. Kemudian ditawarkan kepada Utsman, tetapi Utsman menolak. Hingga Umar mengadu kepada Rasulullah dan kemudian dinikahi oleh Rasulullah.

Contoh seperti ini bertebaran sangat banyak di dalam sejarah orang-orang terbaik itu. Sebenarnya banyak pelajaran dari kisah-kisah tersebut. Tetapi tulisan ini hanya ingin menyoroti satu hikmah saja. Yaitu: mereka saling menikahkan anak-anak mereka dengan orang dan keluarga yang sudah sangat dikenalnya bahkan telah dekat karena ikatan kebersamaan satu pengajian di majlis Rasulullah dan ikatan persahabatan imani antar mereka.

Inilah sebenarnya solusi parenting dan jawaban dari kegundahan para pencari mantu hari ini. Sekaligus mengembalikan peran dan fungsi orangtua dalam pemilihan jodoh anaknya.

Cobalah tengok ke kanan dan kiri tempat anda duduk mengaji bersama. Ada teman-teman kita yang sama rajinnya dengan kita dalam menuntut ilmu Islam. Sudah lama kita mengenal kebaikan, ilmu dan semangatnya membentuk keluarga Islami. Kalau di keluarga itu ada pasangan yang tepat untuk anak kita, bisikkan kepadanya:

Yuk, besanan...

Ayuuukkkk.....

KARENA MEREKA ADALAH KITA

Oleh : Ustadzah Poppy

***

Pernahkah kita luangkan waktu bersama pasangan kita hanya untuk memperhatikan tingkah laku anak-anak kita?

Bukan, bukan untuk mencari kesalahan mereka. Pun bukan untuk menemukan kehebatan mereka. Hanya memperhatikan detail tingkah laku mereka.

Lihatlah senyum mereka, senyum siapakah itu? Senyum ayah? Atau senyum bunda? Lihatlah cara mereka bicara, mirip siapa?

Lihatlah cara mereka mengerutkan dahi ketika berpikir? Seperti siapa? Lihatlah cara mereka berjalan, adakah itu cara berjalan kita?

Lihatlah cara mereka menggerakkan kepalanya ketika menengok, cara siapa? Lihatlah cara mereka tertawa, mirip siapa? Bahkan lihatlah ketika mereka marah, marah siapa yang ditiru mereka?

Ah, ternyata mereka itu kita.

Maka pantaskah kita kemudian mendidik mereka tanpa memulai perubahan dari diri kita sendiri lebih dahulu?

Simaklah ayat berikut ini:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS Al Furqon: 74)

Ustadz Budi Ashari, Lc dalam bukunya, Inspirasi dari Rumah Cahaya menjelaskan tadabur ayat ini sebagai bekal bagi visi keluarga kita. Mendahulukan pasangan kemudian baru melanjutkannya dengan menyebutkan keturunan.

Setiap kita berharap besar untuk melahirkan keturunan yang menyejukkan pandangan mata. Dan itu baru akan terjadi saat telah terajut dengan baik pasangan yang menyejukkan mata.

Akan sangat sulit melahirkan keturunan istimewa saat carut marut rajutan antar pasangan terjadi. Justru kegundahan demi kegundahan melahirkan awan hitam yang bergelayut di langit rumah tangga.

Bagaimana menghasilkan anak yang tersenyum, bila orang tuanya tak pernah menyontohkan bagaimana itu tersenyum?

Bagaimana menghasilkan anak yang pemaaf, bila orang tua nya pendendam dan sulit memaafkan?

Bagaimana menghasilkan anak yang taat beribadah, ketika orang tuanya tak menunjukkan ketaatannya kepada Rabb-nya dalam kesehariannya?

Bagaimana bisa kita hanya sibuk memikirkan hukuman bagi mereka, sementara kita tak sibuk bermuhasabah diri.

Bagaimana kita terus memerintah mereka melakukan ini dan itu, sementara kita hanya duduk manis ingin menikmati hasil dari mereka.
Bagaimana kita ingin mereka menyesal ketika melakukan kesalahan, ketika kita bahkan tak pernah meminta maaf ketika melakukan kesalahan kepada mereka.

Karena mereka adalah kita.

Sering kita tidak sadar sedang digiring oleh syaithan untuk membuang agama kita dalam mendidik anak-anak kita.

Kita disibukkan dengan sekadar memikirkan program-program pendidikan bagi anak-anak kita tanpa membuat program perubahan bagi diri sendiri.

Padahal bicara anak adalah bicara tentang orang tua.

Karena mereka adalah kita.

Betapa sering kita memarahi dan menghukum mereka di luar batas.
Tanpa menyadari bahwa kesalahan mereka sebenarnya adalah kesalahan kita.

Karena mereka adalah kita.

Minta maaflah…
Minta maaflah atas kesalahan dalam mendidik mereka.

Minta maaflah atas kekurangan kita dalam mencontohkan yang baik dari diri kita.
Minta maaflah atas keterlambatan kita dalam berilmu, hingga kita kibarkan bendera putih karena kini kita yang jauh di belakang mereka.

Mulia bagi orang tua yang mampu meminta maaf pada anak-anak mereka.
Bahkan juga mulia di hati anak-anak mereka.
Sungguh tak pernah hina orang yang meminta maaf.

Kini saatnya kita ber-azzam. Berniat dengan sungguh-sungguh.

Berubah, mendekatkan diri kepada Allah, menjadi manusia yang jauh lebih baik sesuai tuntunan agama kita.

Mengejar ketertinggalan kita, tak melulu  disibukkan dengan remeh temeh dunia lainnya.
Mendidik anak, adalah mendidik diri sendiri terlebih dahulu.

Karena mereka adalah kita.

*Terinspirasi dari kajian Petunjuk Islam dalam Mendidik Anak, Ustadz Budi Ashari, Lc.

*OPTIMALISASI PERAN ORANG TUA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK*

Oleh ust *Ahmad Jabir ST.MT*

Part 1.

Dirangkum oleh Umi Sholihah.

Kalau ditanya apakah kriteria anak sukses bagi kita? Mungkin setiap orang akan punya jawaban sendiri-sendiri ya.

Ada yang menjawab, anak sukses ketika mereka sudah menjadikan Rosulullah SAW sebagai idola mereka, sehingga perkataan dan tingkah laku mereka mencontoh baginda Rosulullah SAW.  Ada lagi, anak sukses adalah anak-anak yang sudah bisa mengerjakan shalat tanpa di suruh-suruh lagi. Dan lain sebagainya.

Dan anak-anak yang sukses tersebut, pasti dilahirkan oleh orang tua yang sukses bukan?

Lalu, bagaimana kriteria orang tua yang sukses?

Sudahkah kita menjadi orang tua yang sukses untuk anak-anak kita?

Kalau belum, apa yang sudah kita lakukan untuk menjadi orang tua sukses?

Atau jangan-jangan, kita tidak pernah memikirkan hal tersebut sebelum membaca tulisan ini. 😰😰

Kita lalai tidak pernah mengevaluasi diri kita sendiri, akan tetapi kita sibuk mengevaluasi kesalahan anak-anak kita setiap hari. 😭😭

Kesuksesan yang dimaksud disini, bukanlah kesuksesan yang di ukur dengan materi saja. Kesuksesan yang dimaksud disini adalah, *ketika kita mampu mengantarkan anak-anak sukses ditengah keterbatasan kita.*

Karena sejatinya anak-anak adalah amanah yang akan kita pertanggung jawabkan nanti di hadapan Allah SWT.

Karena seringkali, setelah kita mendapat ilmu parenting, keinginan untuk memperbaiki diri sangat menggebu-nggebu, akan tetapi akan semakin menghilang seiring dengan berjalannya waktu dan kesibukan kita.

Di bawah ini adalah model 100% skor, tips untuk menjadi orang tua sukses.

1. Niat yang ikhlas.
Kita niat dengan sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri, karena ketika tidak sungguh-sungguh, maka kita akan sulit untuk mengevaluasi diri. Karena kesuksesan bukan diukur dengan kecerdasan, kekayaan, atau banyaknya fasilitas yang kita punya. Dan dengan keterbatan yang kita punya, bukanlah menjadi hal yang mustahil untuk mengantarkan anak-anak yang sukses.

2. Yakin bisa.
Bukankah Allah sesuai dengan prasangka hambanya.

3. Kesungguhan upaya.

4. Kesungguhan berkorban.
Entah berkorban waktu untuk menghadiri parenting, entah berkorban dengan keegoisan kita, ajak anak-anak bermain, ajak anak-anak mengobrol. Dan lain sebagainya.

5. Kesungguhan tawakkal.
Kita sebagai orang tua harus siap segera memperbaiki diri karena anak-anak adalah, cermin dari orang tuanya masing-masing.

WaAllahu'alam bishawab

#ilmuparenting
#menjadianakanaksukses
#menjadiorangtuasukses
#orangtuasuksesmelahirkananaksukses

ANAKKU 'BIASA' SAJA

Oleh : Wulan Darmanto

***

Pagi ini saya terdiam lama saat ada teman yang mengupload nilai rapor anaknya. Betapa cerdas anak kawan ini. Empat mata pelajaran mendapat nilai sempurna, 100. Dan sisanya 90 lebih.

Kira-kira apa yang dirasakan oleh ibu dari anak-anak yang berprestasi ini ya?

Saya jadi ingat saat suatu sore, ketika saya sedang memotong sayuran di dapur, Kaisar (10 tahun) sulung kami, merapat ke lengan saya. Nggelendot.

“Bun tahu Faras nggak? Kenapa dia pinter banget ya bun..”

Saya masih berkonsentrasi pada sayuran di tangan, tidak memusatkan perhatian padanya, atau melingkarkan lengan di bahunya.

“Faras yang rumahnya di blok sana itu? pinter ya dia?”

“Iya bun. Saking pinternya, kalo ada lomba apa-apa, selalu Faras yang dikirim..”

Kali ini saya merasa perlu untuk menghentikan kegiatan memotong.

“Pinter itu gimana sih Kai?” tanya saya, mengangkat dagunya yang ditekuk serendah mungkin.

“Ya kalo di kelas dia tuh selalu paling duluan ngerjain soal. Matematika dia jago bun, seratus mulu. Pokoknya alim deh bun, kemana-mana bawanya buku..”

“Nggak kaya kamu ya Kai, kemana-mana bawanya raket.” Canda saya.

Dan candaan ini masih saya teruskan dengan kalimat yang sebenarnya bisa saja melukai perasaannya. Dengan dia menceritakan kehebatan Faras kepada ibunya, sejatinya dia sedang insecure kan dengan ‘kehebatan’ yang dia punya? Tapi saya malah menambah-nambahi deritanya.

“Makanya, kalo belajar jangan ngeluh mulu. Baru ngerjain soal matematika dua biji aja udah bilang capek.”

Kaisar diam. Dan beralih ke adik bungsunya.

“Bun mau mandi? Sini adek kujagain..”

Saya melihat kakak beradik ini dengan hati sedih. Ya Allah, apa yang barusan saya lakukan padanya? Ia sebenarnya ingin ditenangkan hatinya. Ingin dibilang “Nggak papa matematika nggak 100. Yang penting kamu sudah berusaha..” tapi lihatlah apa yang barusan saya ucapkan padanya.

“Bun adek kugendong aja ya kuajak ke luar biar diem. Nggak usah pake jarik aku kuat kok.”

Kaisar..

Anak ini, adalah anak yang selalu takjub dengan kawannya yang ‘hebat’.

Yang ranking 1, yang menang lomba ini itu dan diundang ke sana-sini, yang pintar berhitung, yang disenangi guru-guru. Yang semua itu tidak ia punyai.

Kalau sedang waras, sebagai ibunya, saya pandai sekali menelisik dan melihat, bahwa meski secara akademis biasa-biasa saja, ia punya kehebatan lain yang sebenarnya layak dibanggakan juga. Kai selalu mentaaati perintah ibunya, sesulit apa pun keadaan dia (meski dalam hati ngedumel. Ya.. saat seusia dia pun saya menggerutu saat disuruh ibu membeli minyak tanah di warung sebelah)

Tapi kalau kewarasan sudah hilang, hati saya yang sombong ini akan berkata: ‘Dulu aku sering ranking 1, kuliah juga jadi lulusan terbaik dengan predikat cum laude. Kenapa anakku biasa aja?’

Saya pernah sharing dengan kawan baik saya. Yang adalah manusia cerdas, dan nilai akademisnya jangan ditanya. Ia bilang, kalau bisa anaknya jangan sampai mengikuti jejaknya. Selalu ranking 1 dan penuh prestasi.

“Kamu tahu nggak susahnya jadi anak berprestasi? Stress lho. Aku takut mengecewakan orangtua. Jadi kalo nilaiku turun sedikit aja, aku kaya orang depresi.”

Wah ini menarik. Saat orang lain setengah mati ngidam anak berprestasi, kok orang ini malah anomali.

“Dengan anakku bukan juara kelas, dia terjaga dari stress. Dari kehilangan kerendahan hati. Aku juga terjaga dari ujub. Dan bisa menggali minat bakat dia yang lain..”

Ah ya… bisa jadi ini hanya kalimat ‘pembenaran’ dari seorang ibu yang anaknya tidak berprestasi. Sama seperti orang gemuk yang sebenarnya ingin kurus, tapi selalu bilang ‘Ah aku lebih senang badan segini, dilihat lebih seger..’ padahal dia sendiri depresi dengan bentuk tubuhnya.

Tapi saya kenal betul siapa kawan baik saya ini. Apa yang ia bilang, itulah yang benar-benar sedang ia pikirkan.

Dan bahaya ujub dari kepemilikan terhadap anak berprestasi? Ah.. di era sosmed ini siapa sih yang tidak tergoda untuk menyombongkan diri..

“Wes to, anak itu nggak ada yang biasa. Semua luar biasa. Titan-mu itu, luar biasa. Kan cuma dia to, anak kelas 2 yang sudah dikenal semua guru di sekolah karena ulahnya? Lho ini luar biasa…” guraunya. Menyentak batin saya.

Saya selalu tidak adil dalam menilai anak-anak. fokus pada kekurangannya, lupa pada kebaikan yang entah mengapa tidak ada nilainya di mata saya.

Pada Titan, saya selalu mengeluhkan tingkah polahnya. Lupa bahwa anak ini sangat mudah beradaptasi, sangat pemberani. Hal yang tidak dimiliki Kaisar.

Pada Kaisar, saya selalu mengeluhkan sifatnya yang sensitif, yang ‘lemah’, lupa bahwa dia selalu ingin menyenangkan hati saya. Asisten momong yang bisa saya percaya.

Mereka, anak-anak kita itu, menerima kita begitu saja. tanpa ada cela apa-apa.

Meski ibunya gendut, meski jerawatan, meski bau badan, meski cerewet, meski tidak pintar, mereka menerima dan sayang pada ibunya.

Tapi lihatlah apa yang sudah saya perbuat pada anak-anak yang ‘biasa-biasa saja’ ini 😰

Anak pintar, adalah berkah Allah untuk orangtuanya.

Anak yang biasa-biasa saja, sebenarnya pun berkah Allah untuk orangtuanya juga.

Sayangnya, karunia hanya dimaknai ketika anak dapat emas permata dan piala. Bukan tembaga.ANAKKU 'BIASA' SAJA

Oleh : Wulan Darmanto

***

Pagi ini saya terdiam lama saat ada teman yang mengupload nilai rapor anaknya. Betapa cerdas anak kawan ini. Empat mata pelajaran mendapat nilai sempurna, 100. Dan sisanya 90 lebih.

Kira-kira apa yang dirasakan oleh ibu dari anak-anak yang berprestasi ini ya?

Saya jadi ingat saat suatu sore, ketika saya sedang memotong sayuran di dapur, Kaisar (10 tahun) sulung kami, merapat ke lengan saya. Nggelendot.

“Bun tahu Faras nggak? Kenapa dia pinter banget ya bun..”

Saya masih berkonsentrasi pada sayuran di tangan, tidak memusatkan perhatian padanya, atau melingkarkan lengan di bahunya.

“Faras yang rumahnya di blok sana itu? pinter ya dia?”

“Iya bun. Saking pinternya, kalo ada lomba apa-apa, selalu Faras yang dikirim..”

Kali ini saya merasa perlu untuk menghentikan kegiatan memotong.

“Pinter itu gimana sih Kai?” tanya saya, mengangkat dagunya yang ditekuk serendah mungkin.

“Ya kalo di kelas dia tuh selalu paling duluan ngerjain soal. Matematika dia jago bun, seratus mulu. Pokoknya alim deh bun, kemana-mana bawanya buku..”

“Nggak kaya kamu ya Kai, kemana-mana bawanya raket.” Canda saya.

Dan candaan ini masih saya teruskan dengan kalimat yang sebenarnya bisa saja melukai perasaannya. Dengan dia menceritakan kehebatan Faras kepada ibunya, sejatinya dia sedang insecure kan dengan ‘kehebatan’ yang dia punya? Tapi saya malah menambah-nambahi deritanya.

“Makanya, kalo belajar jangan ngeluh mulu. Baru ngerjain soal matematika dua biji aja udah bilang capek.”

Kaisar diam. Dan beralih ke adik bungsunya.

“Bun mau mandi? Sini adek kujagain..”

Saya melihat kakak beradik ini dengan hati sedih. Ya Allah, apa yang barusan saya lakukan padanya? Ia sebenarnya ingin ditenangkan hatinya. Ingin dibilang “Nggak papa matematika nggak 100. Yang penting kamu sudah berusaha..” tapi lihatlah apa yang barusan saya ucapkan padanya.

“Bun adek kugendong aja ya kuajak ke luar biar diem. Nggak usah pake jarik aku kuat kok.”

Kaisar..

Anak ini, adalah anak yang selalu takjub dengan kawannya yang ‘hebat’.

Yang ranking 1, yang menang lomba ini itu dan diundang ke sana-sini, yang pintar berhitung, yang disenangi guru-guru. Yang semua itu tidak ia punyai.

Kalau sedang waras, sebagai ibunya, saya pandai sekali menelisik dan melihat, bahwa meski secara akademis biasa-biasa saja, ia punya kehebatan lain yang sebenarnya layak dibanggakan juga. Kai selalu mentaaati perintah ibunya, sesulit apa pun keadaan dia (meski dalam hati ngedumel. Ya.. saat seusia dia pun saya menggerutu saat disuruh ibu membeli minyak tanah di warung sebelah)

Tapi kalau kewarasan sudah hilang, hati saya yang sombong ini akan berkata: ‘Dulu aku sering ranking 1, kuliah juga jadi lulusan terbaik dengan predikat cum laude. Kenapa anakku biasa aja?’

Saya pernah sharing dengan kawan baik saya. Yang adalah manusia cerdas, dan nilai akademisnya jangan ditanya. Ia bilang, kalau bisa anaknya jangan sampai mengikuti jejaknya. Selalu ranking 1 dan penuh prestasi.

“Kamu tahu nggak susahnya jadi anak berprestasi? Stress lho. Aku takut mengecewakan orangtua. Jadi kalo nilaiku turun sedikit aja, aku kaya orang depresi.”

Wah ini menarik. Saat orang lain setengah mati ngidam anak berprestasi, kok orang ini malah anomali.

“Dengan anakku bukan juara kelas, dia terjaga dari stress. Dari kehilangan kerendahan hati. Aku juga terjaga dari ujub. Dan bisa menggali minat bakat dia yang lain..”

Ah ya… bisa jadi ini hanya kalimat ‘pembenaran’ dari seorang ibu yang anaknya tidak berprestasi. Sama seperti orang gemuk yang sebenarnya ingin kurus, tapi selalu bilang ‘Ah aku lebih senang badan segini, dilihat lebih seger..’ padahal dia sendiri depresi dengan bentuk tubuhnya.

Tapi saya kenal betul siapa kawan baik saya ini. Apa yang ia bilang, itulah yang benar-benar sedang ia pikirkan.

Dan bahaya ujub dari kepemilikan terhadap anak berprestasi? Ah.. di era sosmed ini siapa sih yang tidak tergoda untuk menyombongkan diri..

“Wes to, anak itu nggak ada yang biasa. Semua luar biasa. Titan-mu itu, luar biasa. Kan cuma dia to, anak kelas 2 yang sudah dikenal semua guru di sekolah karena ulahnya? Lho ini luar biasa…” guraunya. Menyentak batin saya.

Saya selalu tidak adil dalam menilai anak-anak. fokus pada kekurangannya, lupa pada kebaikan yang entah mengapa tidak ada nilainya di mata saya.

Pada Titan, saya selalu mengeluhkan tingkah polahnya. Lupa bahwa anak ini sangat mudah beradaptasi, sangat pemberani. Hal yang tidak dimiliki Kaisar.

Pada Kaisar, saya selalu mengeluhkan sifatnya yang sensitif, yang ‘lemah’, lupa bahwa dia selalu ingin menyenangkan hati saya. Asisten momong yang bisa saya percaya.

Mereka, anak-anak kita itu, menerima kita begitu saja. tanpa ada cela apa-apa.

Meski ibunya gendut, meski jerawatan, meski bau badan, meski cerewet, meski tidak pintar, mereka menerima dan sayang pada ibunya.

Tapi lihatlah apa yang sudah saya perbuat pada anak-anak yang ‘biasa-biasa saja’ ini 😰

Anak pintar, adalah berkah Allah untuk orangtuanya.

Anak yang biasa-biasa saja, sebenarnya pun berkah Allah untuk orangtuanya juga.

Sayangnya, karunia hanya dimaknai ketika anak dapat emas permata dan piala. Bukan tembaga.

Jumat, 07 Desember 2018

Dear ayah bunda.. Ini acuan panduan penggunaan gadget untuk para kiddos

Dear ayah bunda..
Ini acuan panduan penggunaan gadget untuk para kiddos yang saya ambil dari Yayasan Kita dan Buah Hati dan American Academy of  Pediatrics. Udah berkali kali dibahas di seminar baik online maupun offline.

Gadget itu ibarat pedang atau senjata lainnya. Dia sangat bermanfaat kalau digunakan dengan tepat, atau dia bisa berbahaya dan mencelakakan kalau digunakan oleh orang yang tidak tepat. Jadi, jangan musuhin gadget. Bersahabatlah dengannya. Bersahabat artinya harus saling memahami kan? 😍

Nah, kenapa saya selalu cerewet untuk mengenalkan buku sejak balita? Bukan hanya karena manfaat membaca yang luar biasa tapi juga karena gempuran gadget diluar sana. Percayalah, tanpa kita stimulasi, anak kita dengan sendirinya akan tertarik dengan gadget kok.. Jadi ngga usah khawatir 'ketinggalan zaman' gegara telat ngenalin gadget karena mereka akan dengan sangat cepat beradaptasi. Tapi buku, kalau ngga di stimulasi sejak awal, bisa bisa begitu gede mereka nanya 'apa ini? Kok ngga touch screen?' Eeeh, beneran lhooo.. Ada anak setaunan yang buka buku dengan geser geser jarinya seperti dia pegang gadget. Duh, saya kok ngga tega mau nge rekam nya waktu itu.. 😩😰
Pengalaman saya, anak yang sudah cinta baca dan suka buku, mereka akan lebih mudah diatur ketika pake gadget. Jatuh cinta sih, tapi mereka udah punya cinta pertama, cinta ke buku..#eaa

Sekali lagi, ini panduan. Mau se ketat apa pelaksanaannya, mari diskusi cantik dengan para pemilik mata bening yang bisa bikin melting di rumah kita... 😍😘😘

#gadget #serbaserbigadget #screentime #panduanscreentime #parenting #belajarjadiorangtua #bijakbergadget #pentingnyabacabuku #yukbaca #bundaary_parenting

Selasa, 04 Desember 2018

MONTESSORI AT HOME?










.
Rasanya sudah banyak sekali ya mendengar istilah ini. Orang tua di rumah ingin mengaplikasikan Montessori karena tidak menemukan lokasi sekolah Montessori di dekat rumah. Lalu, apakah harus membeli seluruh material Montessori dan diaplikasikan di rumah? Jika bisa, boleh saja. Namun, jika menemui kendala apa yang harus dilakukan?
.
Orang tua tetap dapat mengaplikasikan filosofi Montessori di rumah. Montessori itu LEBIH DARI SEKEDAR MATERIAL. Bagaimana merespon perilaku anak juga merupakan penerapan Montessori. Cobalah untuk mulai membiarkan anak melakukan sesuatu sendiri, jangan-jangan hal ini belum dilakukan? Masih sering kasihan dan membantu anak padahal mungkin ia sudah bisa melakukannya sendiri. Apakah masih sering menginterupsi anak dan melarang mereka bermain? ‘Nanti kotor.. nanti berantakan.. nanti kamu harus ganti baju kan..’ Jangan-jangan kita masih sering melakukan hal ini juga.
.
Menerapkan parenting Montessori filosofi jauh lebih bermakna daripada hanya sekedar fokus pada materialnya. Jadi jangan minder dan menyerah untuk mengaplikan Montessori di rumah ya ❤️
.
@islamicmontessori_
.
#iimc #montessori #montessoriathome #montessoridirumah #parenting #montessoriparenting #islamicmontessori #islamicparenting #indonesiamontessori #montessoriway #indonesiaislamicmontessoricommunity

Tulisan ustz Harry Santosa

Orangtua mengeluh anak gadis atau anak perjakanya susah bangun subuh.
Padahal secara fitrah, setiap anak sejak bayi itu suka bangun dini hari sebelum subuh
Orangtuanyalah dulu yang menyuruhnya tidur kembali karena hari masih gelap

Orangtua mengeluh anak gadis atau anak perjakanya mudah sakit dan obesitas karena buruknya pola makan
Padahal secara fitrah, setiap anak sejak bayi suka makanan alami (natural) tanpa pemanis dsbnya
Orangtuanyalah dulu yang malas memasak sehat dan mengenalkannya Junk Foood, menjejalkan makanan kemasan karena pola makan orang dewasa yang buruk

Orangtua mengeluh anak gadis atau anak perjakanya lumayan jorok atau tidak berhati hati pada najis
Padahal secara fitrah, setiap anak sejak bayi suka kebersihan, mereka menangis jika bajunya basah terkena BAB atau BAK
Orangtuanyalah dulu yang mengenalkannya pampers dan membiarkannya karena malas menggantinya 

Orangtua mengeluh anak gadis atau anak perjakanya males gerak atau kecanduan game
Padahal secara fitrah tiap anak sejak bayi sangat suka bergerak dengan antusias dengan tubuh yang luwes
Orangtuanyalah dulu yang menyuruhnya banyak diam agar segera berstatus "shaleh" dan memberinya gadget agar diam

Orangtua mengeluh anak gadis atau anak perjakanya peragu, lambat mengambil keputusan, mudah dibully
Padahal secara fitrah tiap anak sejak bayi sangat ego sentris dan percaya diri
Orangtuanyalah dulu yang banyak memaksanya mengalah, melarangnya memilih sendiri bajunya, tidak memberinya kepercayaan untuk mencoba walau salah

Orangtua mengeluh anak gadis atau anak perjakanya malas sholat, harus disuruh suruh
Padahal secara fitrah tiap anak sejak bayi sudah mengenal Robbnya dan menyukai kebaikan
Orangtuanyalah dulu yang memaksanya untuk segera sholat dengan tertib sebelum usia 7 tahun dan sebelum gairah cintanya pada Allah tumbuh indah sehingga anak menjadi membenci kebaikan sepanjang hidupnya. Padahal Allah sendiri memerintahkan orangtua untuk menyuruh anaknya sholat sejak usia 7 tahun

Orangtua mengeluh anak gadis atau perjakanya malas belajar
Padahal secara fitrah tiap anak sejak bayi adalah pembelajar yang tangguh, mereka terus belajar berjalan hingga berlari walau berkali kali terjatuh dan tidak pernah memutuskan untuk merangkak seumur hidup
Orangtuanyalah dulu yang menggegasnya menguasai banyak hal, menjadikan belajar sesuatu yang menyebalkan dan liburan adalah hari terindah

Orangtua mengeluh anak gadis atau anak perjakanya bingung bakatnya, tak punya gairah pada aktifitas produktif
Padahal secara fitrah tiap anak sejak bayi punya sifat unik yang khas yang kelak akan menjadi peran peradaban terbaiknya yang unik.
Orangtuanyalah dulu yang mencubit anak cerewet (orator ulung), menghukum anak keras kepala( pemimpin masa depan), memaksa bicara anak pendiam (pemikir dan peneliti), menyuruh diam anak kepo (visioner), memaki anak yang sensitif dan cengeng (sastrawan), menyetop anak yang banyak akal (innovator) dstnya.

dstnya...

Ternyata begitu banyak keluhan ketika ananda menjelang AqilBaligh bahkan sesudahnya, karena kita seringkali merasa lebih hebat dari Tuhan, merasa fitrah yang Allah instal itu kurang sehingga dilebaykan atau dilalaikan dan diabaikan atau diintervensi hingga cidera.

Jika sudah terlanjur maka bertaubatlah, banyak berdoalah agar Allah mengembalikan fitrah anak anak kita, mohonkanlah maaf pada ananda, dekaplah sebelum terlambat, ulangi prosesnya sebagaimana dahulu ananda masih kecil, gairahkan kembali cintanya pada Ilahi dstnya. Kemudian rileks dan optimislah dalam merawat dan menumbuhkan fitrah ananda.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Mari belajar bersama menumbuhkan fitrah anak-anak kita, membersamai dan saling menguatkan di komunitas HEbAT (Home Education based on Akhlaq and Talents)

Minggu, 02 Desember 2018

Ummi dan Abi ajarkan anak-anak kita tauhid yaa

Bismillahirrahmanirrahim

Ummi... Abi...
Ajarkan Anak-anak kita TAUHID sejak dini. Bahkan sejak mereka baru dilahirkan.
Ajaklah mereka bicara, walaupun usianya belum genap satu hari.

"Bismillah... nak minum susu yuk, ASI ibu ini dari Allaah, Allaah yang menjadikannya Makanan untukmu saat ini. Semoga Allaah memberkahinya..."

Ummi.. Abi...
ketika engkau mendapati anakmu terjatuh, terbentur dinding, terguling, lalu seketika mereka menangis hingga menjerit kesakitan,
Jangan katakan "Uuh Sayang, mana yang sakit nak? Temboknya nakal ya? Pukul ya..."
Jangan umm.. jangan abi..
jangan ajari mereka untuk "marah" kepada Takdirnya.
Jangan ajari mereka untuk "kecewa" kepada Takdirnya.

Jangan ajari mereka untuk "membalas" setiap hal yang tidak baik yang menimpa dirinya.
Kita tidak sadari, kita sedang mendidik mereka menjadi pribadi pemarah, pendendam & mengajarkan kepuasan untuk membalas sesuatu yang buruk yg menimpanya.

Ini akan membekas dan tertanam dalam dirinya hingga dewasa.
Ya ummi.. abi... hingga dewasa. Jika tidak segera engkau perbaiki.

Ummi.. abi.. ajarkan mereka TAUHID...
ajarkan mereka kalimat "Qoddarullaah" dan "Qoddarullaahu Wama Sya'a Fa'ala"
Ajarkan mereka beriman kepada Takdir Allaah.

Dengan begitu, mereka akan memiliki hati yang lapang, jiwa yang tenang. Mereka tidak akan menjadi si kecil yang pemarah, mereka tidak akan mudah kecewa terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya, karena dengan memahamkan mereka kepada Tauhid, mereka akan mengetahui dan menerima bahwa kehendak Allaah lah satu-satunya yang terbaik. Mereka akan memiliki hati yang terikat dengan RabbNya. Mereka akan memohon terus menerus kepada RabbNya... akan sering mendatangi RabbNya dengan bibir dan Jari2 mungilnya.
Ketika kesedihan menyapanya, mereka akan berlari menuju Allaah.

Mereka mampu melenyapkan rasa takutnya karena mereka yakin bahwa Allaah akan melindunginya. Mereka mampu menahan emosinya, karena mereka mengerti bahwa Tidak ada satupun perbuatan Allaah yang sia-sia. Mereka semakin hari akan semakin memahami, bahwa Takdir Allaah maha sempurna.
Bandung, 07:12 AM

📝 Cherry Ummu Nathan @muliadengansunnah
Baarakallaahu Fiikum..
Semoga Allaah ﷻ senantiasa menjaga keluarga kita dari Api neraka.
Semoga kelak, Allaah ﷻ menjadikan Surga Firdaus sebagai tempat terakhir untuk kita dan keluarga berkumpul selamanya.
Allaahumma Aamiin.

❤️Teman dan Kebaikan dalam Kehidupan❤️

Ibu 1 : Aduh.... suaminya mbak itu ganteng banget deh...tau nggak mbak,pas suami mbak meresmikan acara kemarin,banyak loh yang baperan...katanya "masyaAllah...ganteng banget bapaknya... kira-kira masih single ato enggak ya?"
Aduh....saran saya ya mbak,itu suami dijaga baik-baik...kalo mbak butuh buat jaga,ada sama saya,bapak di rumah itu,nurut sama saya,dan nggak berani macam-macam....
Ibu 2 : hehehehe iya buk
👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭

Ibu 1 : pusing amat keliatannya dek
Ibu 2 : iya mbak,saya lagi ada kebutuhan mendadak.udah kesana kemari nanya,tapi nggak ada yang bisa kasih pinjaman
Ibu 1 : wah...saya punya kenalan dek yang bisa bantu,cuma bunganya 100% & dibayar per 1 Minggu
Ibu 2 : haduh... kayaknya saya nggak berani deh mbak
👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭

Ibu 1: mbak...ini gelang apaan yang dipake anaknya?etnik banget ya
Ibu 2 : ini gelang dari buah tanaman apa gitu...saya dikasih mertua,katanya buat jaga di dedek biar nggak disukai makhluk halus
Ibu 1 : aduh mbak,ini namanya syirik... sebaik-baik penjaga itu Allah...lagian,biar anak bayi kita nggak diganggu makhluk astral begitu,bacain aja doa yang dibaca Rasulullah ke cucunya Hasan dan Husain.insyaAllah terjaga kok,nggak usah pake gelang-gelangan begini..

👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭

Dialog di atas ini realita yang terjadi di sekitar kita...
Memilih teman dalam pergaulan menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan
Ada yang Karna teman...ia tetap dalam kebaikan dan jalan kebenaran hingga akhir perjalanan kehidupan
Ada yang Karna teman...ia harus merasakan dinginnya lantai penjara Karna temannya suka ngajak ngobat barengan
Ada yang Karna teman...akhirnya harus terlilit hutang jutaan Karna terpapar pergaulan gaya hidup hedonis padahal aslinya dompetnya tipis dan suka menangis tiap diajak jajan ato kongkow di lesehan para artis

Selain anak dan suami yang menjadi kunci surga kita
Temanpun bisa menentukan di akhirat kita ada dimana

Seperti sabda Rasulullah,dari Abu Musa Radhiyallahu Anhu,ia berkata,"ada yang berkata pada Nabi shalallahu alaihi wassalam,'Ada seseorang yang mencintai suatu kaum,namun ia tak pernah berjumpa dengan mereka.Nabi shalallahu alaihi wassalam lantas bersabda,'setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintai".
(HR.Bukhari,no.6170,no.2640)

Bagi yang sekarang memiliki teman yang selalu mengajak dalam lingkaran kebaikan...tetaplah mengikutinya dan menjaga hubungan agar kelak bisa menjadi tambahan keberuntungan di hari kebangkitan
Bagi yang sekarang memiliki teman yang hanya mengajak kepada kesenangan dunia yang penuh kefanaan...sebaiknya segera berpikir mencari teman yang baru,Karna hidup kita semakin maju menuju akhir zaman yang penuh dengan huru hara

Hanya teman yang mengajak dalam kebaikan yang bisa menambah ketaatan
Hanya teman yang mengajak dalam kebaikan yang bisa menjadikan jiwa penuh dengan keimanan
👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭

Dari abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda,
"Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya.oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian"
(HR.Abu Daud ,no.4833; Tirmidzi,no.2378;dan Ahmad ,2:344.Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Bima,5 November 2018
By
Ibunya early

#selfreminder

Syukuri wajah anak kita, ayah dan bunda

----

*Nasib Orang Ganteng*
===

Bu, siapa yang pengen punya anak ganteng kayak Nabi Yusuf? Semuanya pasti pingin, ya.

Bahkan saking kepinginnya, Qur'an surat Yusuf jadi favorit untuk dibaca ibu-ibu yang lagi hamil.

Mengaji surat Yusuf itu bagus. Berpahala. Yang gak boleh itu setelah lahiran ibu ngerasa kecewa saat lihat wajah si bayi, lalu bilang,

"Duh, kenapa bayiku lagi-lagi mirip Bapaknya, sih? Nyebelin, ah."

/

Bu, saat Ibu pingin banget punya anak berwajah ganteng mirip Nabi Yusuf, namun Allah malah kasih bayi yang wajahnya mak plek ketumplek sama wajah Bapaknya, itu bisa jadi Allah tahu Ibu takkan siap diuji seperti ujian yang diberikan pada Nabi Yusuf.

Sebab jadi orang ganteng itu berat, Bu. Berat.

Coba kita simak kisah Nabi Yusuf dalam Al-Qur'an.

Yusuf kecil dianugerahi paras tampan mempesona sejak lahir. Itu sebabnya ayahnya, Nabi Yakub, sangat sayang pada Yusuf. Hanya saja rasa sayang Yakub pada Yusuf yang begitu besar, membuat kakak-kakak Yusuf iri hati. Dengki.

Nasib orang ganteng yang pertama, DICEMBURUI.

Karena rasa dengki itulah yang membuat saudara-saudara Yusuf bersekongkol untuk mencelakakan Yusuf. Maka dibawalah Yusuf ke sebuah tempat sepi. Pura-pura diajak main. Tapi sesampai di tujuan, Yusuf malah dilempar ke sumur.

Lihat, Nasib orang ganteng yang kedua apa, Bu?

Iya bener, DICEMPLUNGIN KE SUMUR.

Setelah itu pulanglah saudara-saudara Yusuf. Saat Nabi Yakub tanya pada mereka di mana Yusuf, mereka menjawab,

"Yusuf diterkam serigala, Ayah."

Nasib orang ganteng yang ketiga: DIFITNAH.

Ternyata, di sumur itu Nabi Yusuf tidak meninggal. Maka berteriaklah Nabi Yusuf minta tolong.

"Tolooong! Tolooong!"

Teriakan itu terdengar oleh rombongan pedagang yang sedang melintas. Cepat-cepat pedagang itu menarik keluar Yusuf dari dalam sumur.

Yusuf akhirnya terbebas dari sumur.

Akan tetapi, bukannya mengembalikan kepada orang tuanya, pedagang itu malah membawa Yusuf ke pasar budak untuk dijual.

Lihat, nasib orang ganteng yang keempat adalah DIJUAL.

Singkat cerita, karena tampang Nabi Yusuf sangat menarik, maka ia dibeli oleh keluarga kerajaan. Setelah itu Yusuf hidup di kerajaan sampai ia beranjak dewasa.

Makin lama paras Yusuf makin cakep. Hidung mancung, kulit putih, sorot mata tajam, badan tinggi, bahu lebar berotot. Istilah anak zaman sekarang, Macho Abis!

Hal itulah yang membuat istri raja klepek-klepek pada Yusuf. Maka istri raja mulai menggoda Yusuf. Tapi Yusuf tak gampang tergoda. Maka istri raja mulai membuat siasat yang lebih ekstrim. Menjebak Yusuf.

Maka di suatu malam, Istri Raja memanggil Yusuf ke dalam kamarnya. Yusuf menurut, mengira ia akan disuruh sesuatu oleh tuannya. Tapi di kamar ternyata cuma ada mereka berdua. Dan di sanalah istri raja yang cantik jelita mulai merayu Yusuf.

Yusuf hampir saja masuk dalam perangkap zina itu sebelum akhirnya Allah sadarkan dia.

Setelah sadar ini adalah jebakan, Yusuf langsung berlari keluar kamar. Tetapi istri raja menghalangi Yusuf dengan menarik baju bagian belakangnya. Yusuf berontak. Dan terjadilah adegan tarik menarik di dekat pintu kamar. Baju belakang Yusuf robek.

Beberapa detik selanjutnya pintu kamar terbuka. Ternyata si Raja lah yang membuka pintu.

"Ada apa ini?" Raja menatap Yusuf dan Istrinya bergantian.

Istri raja yang pertama menjawab, "Yusuf mau memperkosaku."

Lihat, Bu. Nasib orang ganteng selanjutnya: MENDAPATKAN PELECEHAN SEKSUAL.

Dianggap bersalah, Yusuf akhirnya dipenjara.

Nasib Orang Ganteng ke Enam: DIPENJARA.

Di dalam penjara, Yusuf bilang pada teman satu tahanan.

"Bro, kamu kan mau bebas dari penjara dua hari lagi. Tolong bilangin ke raja dong. Aku ini ndak bersalah. Lihat bajuku yang robek itu bagian belakang. Artinya aku lari dari rayuan istri raja sebelum ditarik olehnya. Bilangin, ya. Oh, iya. Aku dikaruniai Allah mentafsir mimpi. Nah, kemarin aku mimpi tentang kerajaan ini. Aku akan sampaikan ke raja bila nanti keluar penjara."

"Oke."

Dua hari berikutnya, teman Yusuf keluar. Sayangnya, setelah keluar penjara, ia lupa pesan Yusuf pada Raja. Lupanya sampai 6 tahun, coba.

Nasib orang ganteng yang terakhir, DILUPAKAN.

/

Bu, bersyukurlah jika anak kita tak setampan Nabi Yusuf. Artinya anak kita bisa terhindar dari fitnah wajah. Dan hal itu tak lepas dari suami yang berperan penting dalam menyumbangkan gen wajah pada anak Ibu.

Maka sekarang datangi suami lalu katakan,

"Pa, makasih ya. Gara-gara muka anak-anak kita mirip banget sama Papa, akhirnya mereka terhindar dari fitnah."

***

Surabaya, 27 November 2018
Fitrah Ilhami

Penulis buku 'Cinta yang Tersambung hingga ke Langit' dan 7 buku tentang keluarga lainnya.

Peran Ibu Sepanjang Sejarah dalam budaya Korea dan Indonesia

 (DIsampaikan dalam pidato berbahasa Korea oleh Raisya Yasmina San )

Ibu, kembalilah... Generasimu rindu padamu.

Selamat siang, saya Raisya seseorang yang memiliki minat besar pada sejarah dan budaya Korea. Pada kesempatan pidato kali ini, saya akan membawakan tema tentang ‘Peran Ibu Sepanjang Sejarah terutama dalam budaya Korea dan Indonesia’.

Ibu, dalam bahasa Indonesia disebut Mamah, dalam bahasa Korea disebut Eomma dalam bahasa Arab disebut Umma. Sebutan untuk seorang Ibu di kebanyakan negara terdengar serupa. Peran Ibu dalam sejarah dunia begitu penting. Kita semua hebat. Berkat “Ibu” yang melahirkan, merawat dan mendidik, kita ada di dunia ini.

Sudut pandang..

Ketika seorang dokter berkata “sangat lemah” dan hendak menyerah bersama jiwa yang lemah, ibulah yang meyelamatkan. Kemudian, ketika seorang guru atau psikolog juga sudah menyerah terhadap anak yang dianggap “cacat”, ibulah yang membesarkan anak tersebut menjadi orang hebat.

Jika ibu tidak ada di dunia ini, banyak kemungkinan, keberanian dan cinta yang tidak akan bangkit. Berdasarkan penelitian terhadap 25 orang hebat, saya betul betul menyadari kebenaran bahwa “di balik orang hebat, terdapat ibu yang hebat”.

Thomas Alva Edison saat muda berhasil membuat lebih dari 1.000 jenis penemuan. Namun tak banyak yang tahu, penemuan nya bermula dari laboratorium buatan sang ibu.

Hyeonmo Yangcheo diambil dari bahasa Cina yang berarti “Ibu yang bijak, Istri yang baik”. Shin Saimdang menjadi salah satu contoh dari Hyeonmo Yangcheo, selain menciptakan karya-karya seni yang agung, beliau juga dianggap berhasil mendidik tujuh anaknya menjadi cemerlang dalam bidang masing-masing.

“Ibu Korea” ini telah menjadi ikon budaya yang sangat baik dari bangsa Korea karena sesungguhnya sepanjang sejarah, para ibu selalu dipuji baik dalam sastra korea, film maupun seni musik. Itu karena sifat pengorbanan mereka yang luar biasa.

Dan mungkin itulah mengapa uang kertas terbesar Korea, nominal 50.000 won, memiliki potret Shin Saimdang yang dikenal sebagai ibu besar dari seorang sarjana terkenal di Korea abad ke-16.

Memang, "sosok ibu" dapat menentukan arah hidup dan juga sebagai kekuatan yang menyelamatkan hidup. Dimana pun itu, rumah tanpa ibu bukanlah rumah. Ibu pada zaman dahulu mengantarkan anak ke peran peradabannya.

Raden Ajeng Kartini adalah tokoh pahlawan perempuan Indonesia yang dikenal memperjuangkan hak pendidikan perempuan di indonesia. Yang diperjuangkan adalah peran keibuan bukan untuk menyaingi laki-laki, agar wanita dapat mendidik anaknya lebih baik sesuai fitrahnya (human nature)

Dari sini kita menyadari bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Namun pada era digital, peran ibu semakin tergerus dikarenakan banyak ibu yang diharuskan menjadi wanita karir. Sehingga tak dapat mendidik anak-anak mereka. Namun di Industri 4.0, banyak peran di dunia pekerjaan yang digantikan oleh robot pintar, sementara pekerjaan seorang ibu tak dapat digantikan oleh siapapun. Berikan yg rumit dan rutin pada robot dan artificial intelligent, kembalikan peran memanusiakan manusia kepada peran ibu sejati

Sepanjang sejarah wanita boleh berkarir namun peran fitrahnya berupa kewajiban mendidik fitrah anak (human nature) tidak ditinggalkan. Karir adalah untuk mengembangkan bakat dan membuat karya untuk peradaban, bukan untuk mencari uang.

Berikut ini bisa jadi inspirasi, di Jepang ada gerakan Kyoiku Mama. Kyoiku Mama berarti ‘Ibu Pendidik’. Dimana menjadi hal yang terhormat jika seorang wanita memutuskan menjadi salah satunya. Rata-rata ibu di Jepang memiliki gelar S1/S2 yang mentereng, namub mereka bersekolah tinggi bukan untuk berkarir tapi untuk “mendidik anak” itulah karier mereka yang tertinggi. 

Pemerintah pun sangat memberikan dukungan dengan berbagai bentuk bagi mereka, karena menyadari peran penting mereka bagi pembentukan generasi bangsa. Walaupun mereka ‘hanya’ bertugas mengurusi rumah, mereka beranggapan bahwa pendidikan yang mereka tempuh selama ini tidak sia-sia yakni untuk mengajarkan, mendidik serta terus menerus mendampingi anak-anaknya untuk menemukan siapa diri mereka, apa misi hidupnya hingga memiliki peran peradaban/yang kelak menjadi penerus peradaban, ketimbang mengejar karir. Karena semua dasar peradaban berawal dari ibu.

Kesimpulan..

Andai saya menjadi duta budaya, saya ingin mengkampanyekan gerakan mengembalikan kesejatian peran Ibu di era digital sebagaimana peran yang telah telah ada dalam budaya Indonesia dan budaya Korea. Saya juga akan mendirikan banyak lembaga untuk mengembalikan kesejatian peran ibu untuk para perempuan pada generasi saya.

Karena menjadi menjadi ibu itu bukan pekerjaan, bukan hobi bukan juga tugas tetapi sebuah panggilan. Panggilan untuk mencintai dengan sepenuh hati, mengajar dari hati serta selalu ada untuk anak-anaknya dan mengantarnya ke peran peradaban terbaiknya.

Mari kita kembalikan peran ibu sejati untuk peradaban yang lebih baik.

Saya Raisya, terimakasih

Sabtu, 01 Desember 2018

NOTULA KULWAP SHIRAH & PARENTING

Hari, tanggal: Kamis 29 November 2018
Tempat: Grup Shirah & Parenting Riau 2
Pemateri: Bunda Bidadari  (Savitry Indrawardhani)
Admin Grup: dr. Merna Noviarni
Moderator: DP Anggi, S. IP
Notulis: DP Anggi, S. IP

┏﷽🍃🌹🌹━━━━━━━━━━━━┓
 ✍🏻BAHAGIA MENDIDIK ANAK PEREMPUAN

┗━━━━━━━━━━━━🌹🌹🍃━━━┛

🌸Biodata Singkat Bunda Bidadari🌸
atau yg akrab dipanggil dengan Bunda IIN 😍😍
Nama   : Savitry Indrawardhany
TTL       : Cisarua, 18 Juni 1974
Alamat  : Perum Kalisuren Paradise A3/7 Rt 04/07 Desa&Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten  Bogor 16320
Status  : Menikah
Suami :  Miftahudin,  S. Ag.
Fb.        : Savitry Indrawardhany
Motto Hidup  :
Belajar Untuk Ibadah. Berprestasi Untuk Dakwah. Bermanfaat Nyata Untuk Umat
Anak: 3   (Anak ketiga meninggal ketika lahir)
Riwayat pendidikan :
S1 IISIP Lenteng Agung (Cumlaude tahun 2000)
Au- Pair Mädchen di Wiesbaden Jerman 1993-1994
SMUN 8 Bukit Duri Jakarta Selatan
SMPN 115 Tebet Jakarta
Bahasa Asing : Inggris dan Jerman

Kegiatan :
☆ Pengelola Taman Kreativitas Keluarga Pelangi (Taman Baca, Rumah Tahsin&Tahfizh, Rumah Usaha, Rumah Belajar)
☆ Pendongeng
☆ Pemateri di berbagai acara training dan seminar parenting qur'ani
☆ Konsultan Pustaka Keluarga Muslim Bahagia (Sygma, Tazkia, Rumah Pensil, Alqolam, dll)
☆ Mengikuti program Au-Pair Mädchen,  Wisbaden, Jerman, 1993-1994
☆ Penggagas dan Koordinator Gerakan Cerdas Media  ( Media Literacy Movement) level SD Se-Jabodetabek, bekerja sama dengan UNICEF, UNESCO, LIPI, 2000-2003

Aktivitas terkini:
a. Quranic Parenting Motivator (training, seminar, diskusi, kulwapps, acara radio, dll)
b. Trainer FAST Generation (Trainer Sanlat keluarga karyawan Bank Mandiri Pusat Jakarta, 2O15. Berbagai seminar dan training FAST values di berbagai komunitas di Jadebotabek 2O13-sekarang)
c. Konsultan Pustaka Keluarga Muslim (Sygma, Tazkia, Rumah Pensil, dll).
d. Sedang menyusun draft buku inspirasi Keluarga Muslim  'Diary Bunda Bidadari'
dan buku perdana bersama anak.
e. Familyschooler.


Biodata Admin:

Nama: Merna Noviarni
Usia: 28 tahun
Istri dari: Gusroni Putra
Anak: 2 orang laki-laki

Aktivitas: IRT, Dokter, Sygma Learning Consultan (konsultan produk buku sygma) dan konsultan mainan edukasi dan produk Quran (EPC).

               📝MATERI📝

*Bahagia Mendidik Anak Perempuan*
( Oleh : *Savitry Indrawardhany, _Bunda Bidadari_* )

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Ketika Allah menakdirkan kita menjadi ibu dari anak-anak kita, ada hal penting yang perlu kita cermati. Perbedaan gender anak kita akan  MEMBEDAKAN CARA kita mengasuh mereka.

Mengapa?

Karena perbedaan gender yang telah Allah tetapkan sejak mereka masih dalam kandungan kita, menentukan PERAN UTAMA mereka sebagai manusia sejati di muka bumi.
Peran kelelakian dan peran keperempuanan.
Peran keayahan dan peran kebundaan.

Kita tentu meyakini bahwa tak ada yang sia-sia dalam semua ketentuan Allah ( QS 3:191).  Pun dalam penentuan jenis kelamin kita dan anak cucu keturunan kita.

Alquran menjelaskan secara gamblang bahwa memang BERBEDA cara mendidik anak perempuan dengan anak lelaki. Semua disesuaikan dengan keutamaan masing-masing. Allah telah titipkan  modal sesuai kebutuhan masing-masing. Itulahnya sebabnya, dalam ajaran Islam amalan-amalan utama tiap gender itu berbeda. Beda model, juga beda pahalanya

Hal penting dan mendasar seperti ini yang harus kita pahami terlebih dahulu.
Dan ini ranahnya di aqidah. Di keyakinan. Di hati. Baru bisa kita melangkah ke akal untuk mencoba lebih memahami dan mendapatkan hikmah.

Mari kita buka surah Ali Imran QS 3: 33-35. Ibundanya bunda Maryam curhat kepada Allah ketika ia kaget, 'ternyata' melahirkan seorang bayi perempuan. Padahal sejak tahu ia hamil,  ia bernazar hendak mewakafkan anaknya untuk agama Islam.

_Ia berkata, " Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan." Padahal Allah tahu apa yang ia lahirkan, dan *laki-laki tidak sama dengan perempuan*_ . ( Ali Imran QS 3: 34)

Dalam Alquran, satu-satunya nama perempuan yang disebut adalah Maryam binti Imran. Ini menegaskan keutamaaan sosok seorang Maryam. Layaknya kita pahami lebih dalam tentang karakter seorang Maryam, sehingga kita bisa mengajarkan keutamaan itu kepada anak perempuan kita.

❓Lalu, bagaimana cara kita mendidik anak perempuan?

Pertama, pahami dahulu, *apa _amalan utama bagi  wanita_ dalam ajaran Islam?*

Rasulullaah saw menjelaskan bahwa ada *4 amalan utama bagi kaum wanita beriman* , yaitu :

1. Shalat  5 waktu tepat waktu ( QS 29:45)
2. Shaum di bulan Ramadhan
3. Menjaga kehormatan
4. Taat pada suami (yang sesuai syariat agama)
Barangsiapa menjaga keempat amalan itu, ia bisa masuk surga dari pintu manapun yang ia suka.
( HR Ibnu Hibban)

Dari hadits di atas,  coba kita renungkan keistimewaan bagi kaum wanita yang Allah berikan. Betapa mudah jalan  kita untuk masuk surga, bahkan boleh memilih masuk dari pintu manapun yang kita suka?

Jika kita simak keempat amalan utama itu, dua amalan pertama berhubungan dengan Allah. Dan semua itu adalah amalan wajib bagi semua Muslim. Bayangkan, Allah begitu memudahkan kaum wanita 'hanya' diminta melakukan dua amalan wajib yang 'mudah' dilakukan oleh semua Muslim, namun sudah dijamin boleh masuk surga dengan keistimewaan memilih pintunya😍.

Ini petunjuk bahwa kaum wanita *wajib paham aturan agama*.  Agar ia bisa sukarela menjalani kewajiban dasarnya sebagai hamba Allah dengan harapan besar: meraih ridho Allah, sehingga layak masuk surga secara istimewa.

Lalu di kedua amalan selanjutnya, berhubungan dengan interaksi dengan orang lain.

Amalan ketiga, _menjaga kehormatan bagi wanita_  ini ditegaskan pula oleh Allah dalam surah *An Nuur QS 24 : 31*.
Ayat yang panjangnya 2/3 halaman ini menjelaskan perintah Allah kepada wanita beriman agar:
1. Menahan pandangan
2. Menjaga kemaluan
3. Jangan menampakkan perhiasan kecuali yang biasa dilihat
4. Menutupkan khimar (kerudung) hingga ke dada
5. Jangan menampakkan aurat yang boleh dilihat kecuali kepada orang-orang yang disebut di ayat ini
6. Jangan sengaja memamerkan perhiasan agar diketahui orang lain.

Dari petunjuk Allah ini kita bisa memahami kecenderungan/fitrah kaum wanita yang bisa membawanya ke surga atau ke neraka.

Di amalan keempat, Rasul saw menegaskan bahwa _taat kepada suami_ bisa menjadi jalan seorang wanita masuk surga.  Tentu saja prinsip taat kepada suami tak boleh menyelisihi aturan Allah dan Rasulullaah saw. Tak boleh menyalahi Alquran dan Assunnah.

Dalam hal taat kepada suami, Rasulullaah saw memberi 'warning' kepada kaum lelaki dalam haditsnya yang masyhur, ' Sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik kepada istrinya. Dan aku adalah yang paling baik kepada istriku.'

Rasulullah saw menegaskan pesan penting bagi kaum lelaki yang beriman agar menjaga baik-baik istrinya sesuai aturan agama, sehingga ia layak ditaati oleh istrinya.

Merenungi keempat amalan utama wanita itu, kita menemukan pesan bahwa 2 amalan pertama berhubungan dengan Allah langsung. Dua amalan berikutnya berhubungan dengan lelaki. Khususnya suami. Peran suami sangat penting bagi seorang istri agar mudah meraih surga.

Dari 4 amalan utama wanita itu, Rasulullaah saw hendak mengajarkan 'keterampilan hidup' yang wajib dikuasai oleh  kaum wanita :

1. Shalat : mencegah dari fakhsya dan munkar
Fakhsya : kejahatan batin (iri, dengki, suka membuat kerusuhan)
Munkar : kejahatan fisik

2.Shaum : melatih agar tak konsumtif, dimulai dalam urusan syahwat perut ( makanan/minuman), tidak merepotkan diri dalam urusan makanan.

3. Menjaga kemaluan : genit hanya boleh kepada suami

4. Taat kepada suami : dilatih agar tidak mendebat suami dalam urusan syariat agama. Menahan nafsu akal adalah bentuk kecerdasan utama wanita  ( baca penjelasan QS 43: 18) .

Jadi, jika kita serius melatih keempat amalan di atas  kepada anak perempuan kita,  mereka dilatih untuk memiliki *sifat IMSAK, menahan diri* . Sehingga wanita solihat yang cerdas dikenal dengan keutamaannya memiliki sifat *sabar, tahan banting dan qona'ah* .

Berbeda dengan lelaki yang diperintahkan Allah  untuk *optimal dalam berusaha* , maka wanita 'hanya' diutamakan dan  diperintahkan untuk *MENJAGA HATI*

Dari kajian surah Maryam pun Allah memberikan petunjuk tentang bagaimana bisa menjadi wanita yang taat agar terjamin rezekinya dengan sangat baik  oleh Allah.

Allah tak mewajibkan kaum wanita untuk beribadah sunnah, tak mewajibkan wanita bekerja mencari nafkah, tak pula memerintahkan untuk berjihad ke luar rumah,  namun menjamin wanita bisa mudah masuk surga dengan 4 amalan utama di atas. 

Allah berkisah di Alquran tentang jaminan rezeki terbaik bagi wanita yang taat beribadah seperti rezeki makanan yang sangat istimewa kepada Maryam. Simaklah bagaimana Allah berkisah tentang Maryam hingga Allah karuniakan hadirnya Isa as melalui rahim mulia beliau. Lalu dimulailah kisah hidup seorang anak istimewa nan mulia ini, Isa as.

Kesolihan pasangan Imron, diganjar Allah dengan hadirnya seorang Maryam yang dimuliakan Allah, dilanjutkan dengan hadirnya salah satu nabi mulia, Isa as. Lalu dalam Alquran kita temuan banyak kisah tentang Isa as dan kaumnya.

Belajar dari kisah Maryam as, juga hadits nabi di atas, kita bisa menyerap nilai-nilai keperempuanan yang Allah ridhoi.

Pahamkan ke anak perempuan bahwa rezeki Allah itu terjamin bagi semua hambaNya. Bahwa jika ia perlu belajar ilmu *menjemput rezeki* dari Maryam binti Imran, agar rezeki Allah langsung datang kepada kita :
1. Jaga kesucian diri
2. Perbanyak ruku' dan sujud ( QS 3:43)
3. Pelayan rumah Allah
Sehingga doa-doanya maqbul.

*Kekuatan DOA*  seorang wanita sangatlah kuat. Kekuatan doa seorang ISTRI dan IBU sangatlah berpengaruh untuk kehidupan suami dan anak. Dan *kualitas doa seorang wanita ditentukan oleh _kualitas kedekatannya kepada Allah SWT_* .

❗Maka, tugas bagi orangtua,  ilmu utama yang perlu dibekalkan ke anak adalah :

*1. Ilmu agama*
 🌷Tumbuhkan *_rasa cinta Allah_* kepada anak, sehingga anak perempuan kita  RELA dan MENIKMATI masa  beribadah kepada Allah
 🌷 *_Dekatkan dengan Alquran_*  agar anak dibekali dengan perkataan terbaik.
 🌷 *_Akrabkan dengan kisah siroh nabi_*  agar anak mendapat contoh terbaik.
🌷Kisahkan *kehidupan ibunda para ulama dan mujahid* agar ia memiliki referensi pahlawan wanita Islam yang sebenarnya.
🌷Pahamkan *_fiqih ibadah_ * kepada anak, dari fiqih thoharoh sejak usia 3 thn, hingga fiqih shalat,  shaum, dan *fiqih wanita* secara umum
🌷Pahamkan *aturan-aturan agama dalam urusan muamalah* . Umar bin Khattab ra pernah memberi pesan kepada kaum mukminin agar memahamkan *makna surah AnNuur*   kepada anak-anak perempuannya.

*2. Ilmu dunia*
🍁Ilmu *bahasa Arab*, agar lebih bisa memahami isi Alquran, siroh dan kitab fiqih wanita
🍁 Ilmu *melayani suami* , agar bisa optimal memberikan amalan terbaik terhadap suami kelak ( keterampilan mengurus tubuh, memahami nutrisi makanan dan pengobatan nabawi,  keterampilan memijat, keterampilan berkomunikasi )
🍁Ilmu *tahapan perkembangan anak SESUAI FITRAH* , agar memiliki keterampilan untuk bersyukur dan bersabar ketika mengasuh anak
🍁Ilmu *teknik berkomunikasi positif*. Wanita harus memiliki keterampilan berkomunikasi tingkat tinggi, karena semua sikap hati, ucapan dan geraknya akan memengaruhi kesuksesan hidup suami dan anak-anaknya.
🍁Untuk pengembangan fitrah bakatnya, fasilitasi agar ia bisa membangun 'kerajaannya' di rumah dan melibatkan tahapan pengasuhan keluarga dalam mengasah bakatnya.
🍁 Fasilitasi anak perempuan untuk belajar ilmu setinggi2nya, sebagai bekal untuk *mendidik anak* kelak. Karena mitokondria kecerdasan seorang anak diturunkan dari sang ibu, maka seorang ibu yang yang beriman dan berilmu akan mudah mendidik anak-anaknya menjadi para ulama dan mujahid yang dibutuhkan oleh umat.

Jadi, bagi para ortu, kamar anak wanita harus dibuat nyaman dan luas. Beda dengan kamar anak lelaki, sebaiknya secukupnya saja..., tak boleh terlalu nyaman. Karena medan jihad utama lelaki setelah mendidik keluarganya kelak adalah di luar rumah.

Pahamkan ke anak wanita bahwa medan jihadnya yang utama adalah *di dalam rumah* , mencetak generasi rabbani .
Bukti imannya kepada Allah harus berwujud ketaatan kepada suami. Maka ia harus cerdas dalam memilih calon ayah bagi anak-anaknya. Ia akan menjadi *hadiah terbaik*  bagi orangtua, suami dan anak-anaknya.

_Dunia ini adalah perhiasan. San sebaik-baik perhiasan adalah *wanita solihat*_

Rasulullaah saw bersabda, _"Yang sempurna dari kalangan lelaki itu banyak. Sedangkan yang sempurna dari kalangan wanita itu hanya Asiah binti Fir'aun, Maryam binti Imran dan Khadijah binti Khuwailid. Sedangkan keutamaan Aisyah dibandingkan wanita-wanita lain seperti kelebihan makanan daging kuah dan roti dari makanan-makanan lain." (HR Bukhari Muslim)_

Jadi, tekankan ke anak, sudah tak ada wanita sempurna di dunia ini.  Cukuplah ia meneladani wanita-wanita beriman yang Allah dan Rasulullaah saw jelaskan kepada kita. Namun, demi kebahagiaan hidup untuk bisa membentuk keluarga qurrota a'yun seperti di Alquran, minta kepada Allah agar diberi lelaki sempurna dan persiapkan diri untuk menjadi istri  dan ibu dari lelaki sempurna yang Allah titipkan kepadanya kelak.

Buat anak wanita kita  *bahagia dan bangga* dengan bertumbuh menjadi *wanita  yang dekat dengan Allah* , bahagia untuk membangun surganya di rumahnya sendiri.

_Baiti Jannati_ , rumahku surgaku , kata Nabi tercinta. Pasti dibutuhkan seorang ratu bidadari di rumah surga itu.

Persiapkan  anak perempuan kita menjadi ratu bidadari di rumah tangganya kelak. Semoga Allah meridhoi.

Allahu a'lam

               💞BA'DA MATERI💞

Salam kenal, saya Bunda Bidadari dari Silmi (ganteng mau 12 thn) dan 'Ulya ( cantik 10 thn 8 bulan)

Silmi sekarang kelas 6 SD di sekolah alam School of Universe Parung. InsyaAllah lulus SD mau tidak sekolah lagi..jadi di HS-kan. 'Ulya sdh full homeschooling sejak awal.
Pengalaman saya mendampingi mereka bertumbuh kembang hingga jelang baligh sekarang (skrg masa kritis yang bikin ngeri2 sedap😅🤭), membuat saya mensyukuri keputusan tepat ketika mereka masih sgt belia, untuk lsg membedakan cara mengasuh mereka.
Dan itu berhubungan lsg dg kurikulum personal masing2 dalam keseharian mereka.

syukur kita sbg umat muslim sdh memiliki contoh detil peninggalan para ulama terdahulu, yang berhasil membukukan langkah2 mendidik anak dari para nabi dan sahabat.
jadi, kita sekarang tinggal serius mencari, mempelajari dan mengikuti langkah2 sukses mereka saja.
ga perlu bikin metode2 baru lagi🤭

Ttg anak perempuan, di rumah, walau 'Ulya sdh saya bekali keterampilan mengurus rumah, namun dlm poin2 tertentu tetap Silmi yang saya latih untuk mengurus rumah.

Khusus 'Ulya,  saya sedang mendampinginya untuk memiliki keterampilan berkomunikasi yang baik..melalui aktivitas berorganisasi dg sesama HSer, juga dg tmn yang sekolah.

Lalu sedang saya bekali pendalaman  ilmu2 fiqih wanita sesuai usianya.

Seperti hari ini, saya baru mengantarkannya ikut kelas manasik haji bersama teman2 HSnya...
Juga 2  bulan lalu saya ikutkan kelas seksualitas dan pubertas untuk anak perenpuan.

Ini penting. Karena membahas fiqih thoharoh, juga fiqih gaul (baca: muamalah) yang hrs dia pahami.

Selain itu, untuk kemampuan komunikasi, ia saya ikutkan kelas literasi anak..agar kemampuan menulisnya terasah...

Ini adalah modal besar baginya untuk menjadi istri yang komunikatif dan ibu yang asyik diajak ngobrol ama anak.

Sejak usia 8 thn, ia mulai aktif membuka pustaka sendiri ktika kami i'tikaf.

Sejak usia 9 thn ia saya tambahkan 'peran' memegang kelas *school on air* selama bulan Ramadhan.

Dia bertugas membacakan buku2 pilihan ke warga di sktr rumah dg menggunakan sound system..Ia atur tmn2 nya yang bertugas baca apa dan kapan.

Ini akan melatih dirinya untuk mau membaca DAN membacakan buku ke orla. Modal dasar agar dia enjoy berkisah ttg isi Alquran dan sunnah  ke anak2nya kelak.

Selain itu, ia juga sudah mulai berjualan sejak usia 8 thn, untuk *sedekah ke palestina*

saya tekankan, anak wanita jika mau mencari uang, bukan untuk menafkahi diri sendiri, tapi untuk sedekah.

Karena nafkah dirinya sdh ditanggung oleh para walinya. dan ia hrs berusaha   .emuliakan para wali agar mau menafkahi dirinya.

Sama spt bunda Khadijah ra, yang menyedekahkan seluruh hartanya untuk kepentingan dakwah Islam.

Bukan untuk menafkahi suami dan keluarganya..karena Nabi Muhammad saw adl lelaki mulia yang dilarang menerima sedekah dari siapa pun (apalagi dari istri ya🤭).

Prinsip berpikir yang benar ttg makna nafkah dan rezeki ini yang perlu dipahamkan sejak awal kepada anak.

Jadi kita tak salah jalan dlm mempersiapkan anak perempuan kita.

              💞TANYA JAWAB💞

1. Bagaimana cara ibu bekerja mendidik anak perempuan. Sementara intensitas waktu dg anak perempuan sangat terbatas. Setelah urusan penanaman aqidah dan pembiasaan amal shalih, sejak mulai usia berapa anak perempuan dibebani dg pekerjaan rumah tangga dlm rangka mempersiapkan kemandiriannya.

🌹Jawab🌹

Untuk seorang ibu, intensitas waktu bersama anak wanita itu dominannya di usia 0-10 thn lho. Jadi jangan smp kalahkan *hak anak* belajar melihat keseharian ibunya dibrumah dg urusan2 dunia lain apalagi yang urusannya  keluar rumah.

Di usia penting ini (0-10 thn), anak perempuan perlu contoh nyata ttg peran jihd utama para wanita di rumah.

Cara melatihnya? Sejak usia 3 thn sudah dilatih secara bertahap.
Dari mampu membersihkan tubuh sendiri ( fiqih thoharoh: berwudhu, membersihkan alat kelamin, dubur) , membersihkan tempat tidur, menyiapkan makanan.
Sejak usia 4 thn, biasakan anak menyiapkan makanan sendiri dan mulai melayani ortu/adik.
Memilah pakaian kotor dan bersig
Mulai usia 5 thn latih memasukkan pakaian bersih ke lemari, membersihkan tmpt tidur..
Mulai 6 thn latih bebersih rumah dan dasar2 memasak

TAPI jelaskan, itu BUKAN kewajibannya, namun menjadi keutamaan krn mempermudah dirinya untuk enjoy beribadah ke Allah.

Jika rumah rapi, ia akan lbh enjoy tilawah Alquran, menbaca buku siroh, shalat, belajar apa pun

Ia belajar melayani anggota keluarga, agar terasah kepekaannya sebagai wanita, mengenal sifat unik dan kebutuhan masing2 anggota keluarga.


Contoh, 'Ulya TAHU apa suguhan kesukaan saya, ayahnya, juga mas dan ponakannya. Ia bisa MENYIAPKAN sesuai kesukaan dan kebutuhan masing2.

Ini mengasah sifat empati, juga mengasah keterampilan kinerja melayani anak perempuan.

Ulya juga TAHU jika mau ada pengajian di rumah, waktu subuh, waktu magrib, mau tidur, rumah hrs rapi agar bisa ibadah tenang dan istirahat tenang... Jadi ia jaga rumah agar bersih dan siap pakai di waktu2 penting di atas.

Ada pelatihan2 kemandirian khusus bagi anak wanita, dari usia 0-3, 3-6, 7-10, 10-14 dst.


Untuk anak usia 10 thn, hrs sdh punya murobiah (guru aqidah yang berkomunitas) untuk mengasah keilmuan agamabya juga penguatan peran  dakwah di rmhnya kelak.

Allahu a'lam

💝〰〰〰💝

2. Saya ingin bertanya bunda, keponakan perempuan saya, usia 10 tahun, senang menulis kisah kisah seperti dongeng seorang putri, sebaiknya bagaimana mengarahkan bakatnya ini bun?
Sekadar informasi, ia anak pertama, ayah ibu sudah berpisah. Ibunya wanita karir, sehari hari lebih sering bersama neneknya. Terimakasih bunda.

🌹Jawab🌹

Alhamdulillaah..berarti minat dan bakatnya sudah mulai kelihatan ya mba..barakallah

Mudah ko, beri dia buku2 ttg princess2 asli Muslim..Banyak ko buku2nya di pasaran.
Dan tampilan juga bahasannya girly banget..cocok ama anak2...'Ulya juga saya 'banjiri' dg buku2 sejarah tokoh wanita Islam ini... Spt buku *Cantiknya Akhlak Khadijah* terbitan Adi Bintang, itu buaguss banget buat bocah cewek 8 thn ke atas.

Juga byk buku ttg ssjarah hidup  fathimah ra, aisyah ra, para shahabiyah, ibunda para ulama ..buanyak ko...

Beri pemahaman bahwa mereka itu princess asli, ratu asli, hidup, dna karyanya nyata...anak2 merkmeka hebat2...terkenal smp sekarang... bukan khayalan.

Kuatkan pesan ttg sosok lelaki solih juga  ya mba. Belikan juga buku2 ttg pahlawan2 Islam lelaki..agar dia mendapat imaji positif ttg sosok lelaki yang akan dia pilih kelak sbg suami. agar dia terhindar dr keinginan pacaran..

.Ajak dia menuliskan kembali  kisah2 princess2 muslimah dan  pahlawabn muslim itu.
.Tuntun dan dampingi dia buat punya blog yang isinya khusus tulisan2 dia ttg para tokoh islam itu..
Jadi, mba arahkan dia selalu menulis resensi/review dari buku2 swjarah tokoh Islam yang mba berikan.

InsyaAllah bakatnya terarah ke jalan yang baik,  aqidahnya menguat, juga memberi dia modal memilih kriteria suami yang benar sjak muda.


Yang plg utama, DOAKAN dia agar Allah jaga dia terus mba. Doa seorang sosok ibu (yaitu mba sbgi tantenya) ke anaknya makbul lho. Manfaatkan kekuatan besar mba itu dg rutin mendoakan kebaikan bagi ponakan mba itu

Allahu a'lam.

💝〰〰〰💝

3. Assalamu'alaikum mba....
Saya Ria dari Depok.
Alhamdulillah saya berkesempatan mengikuti kulwapp ini. Alhamdulillah juga saya di karuniai dua putri yg masih batita (pertama 3y, 9m yg kedua 23m).

Saya ingin bertanya, putri pertama saya ini dulu saat masih usia 1th mau diajak sholat,tp ga mau pakai mukena, katanya mau kaya ayah 🤭, skrg sdh mulai mau pakai mukena klo sholat, tapi sering susah utk mengajak dy shalat. Klo adeknya di ajak sholat mau, mau pake mukena. Klo anak pertama saya diajak sholat jwbnya ga mau. Di ajak ngajipun lebih tertarik adknya drpda dy. Bagaimana saya harus menyikapinya bunda??

Seperti ilmu komunikasi, seperti apa contohnya yg harus dimiliki oleh anak perempuan.

🌹Jawab🌹

Usia 0-7 tugas mba buat anak *jatuh cinta* dg Allah, Rasul saw, shalat, shaum, dll dg cara *rutin pamer kesolihan* juga *berkisah isi alquran&sunnah* ke anak.

Jadi, santai aja.

Minta anak *menemani* mba shalat. Sediakan sajadah di sisi mba, siapkan mukena dan mainannya.
Bilang mba mau shalat, mjnta ditemani. Dia boleh milih ikut latihan shalat atau main..tapi tetep di samping mba..
Mba shalat dg auara ckp keras, dari semua gerakan dan ucapan hra jelas terlihat dan terdengar olehnya. Siap2 aja adu rame ama celoteh dia😅🤭. tapi jalami terus.


Ulya tuh ga suka diajak shalat, smp usia 5 thn baru mau.

Sejak dia usia 2 thn, tiap saya shalat saya hamparkan sajadah di sisi, penuh dg boneka2nya. Suara saya ktika shalat saingan ama celoteh ceriwisnya.

Usia 5 thn baru mau pake mukena.

Dia bilang mau latihan shalat pas 7 thn aja, ikutin sunnah nabi🤭.

Saya bolehkan
Siapa sangka, usia 6 thn sia bilang mau latihan shalat subuh dulu.

Usia 7 thn dia blg nambah shalat magrib&isya.
Eh usia 8 thn malah dia udah biasa 5 waktu plus tahajud

Saya ga pernah ajarin dia bacaan shalat. Dia hafal snndiri, dari rutin mendengarkan saya ketika shalat sejak usia 2 thn.
 Disuruh ngaji juga susah, ngabur mulu. apalagi krn tyt dia punya dyslexia.
Siapa sangka usia 5 thn dia semangat mah khataman, sehingga di usia 5,5 thn dia sudh kha
tam alquran perdananya😍.

Usia 8 thn dia sudah biasa baca alquran 1 juz sehari..DAN dia baru lancar membaca buku di usia 8 thn 😂...baru bisa baca jam usia 9 tahun🤭

Kebayang ga? pdhl dia udah biasa bangun tahajud sejak usia 8 thn lho.


Ternyata, anak *mendengarkan* ko, mereka *memperhatikan* ketika kita beribadah.

Jadi, tenang saja. Jadi CONTOH TERBAIK dlm urusan ibadah ke anak..insyaAllah pasti ada bekasnya kelak..
😇

💝〰〰〰💝

4. Assalaamu'alaikum.

Bunda, Alhamdulillaah saya memiliki kesempatan untuk belajar mendidik anak perempuan dengan cinta.
Saya memiliki 3 orang anak perempuan.
Usia 11, 5 dan 3 tahun.

1.Bagaimana cara untuk melatih supaya mereka selalu akur dan saling menyayangi.
2. Bagaimana cara mulai melatih mereka mandiri.

3. Bagaimana cara mudah membangunkan mereka untuk solat subuh ( terutama melatih yang berusia 5 dan 3 tahun )

Jazakumullah Ahsanal Jazaa

🌹Jawab🌹

1. Sering2 bercerita ttg BAHAGIANYA mba ketika hamil mereka. BERSYUKURNYA mba dikasih 3 bidadari seperti
mereka.
Biasa sebutkan 2-3 kebaikan2 mereka, perhatikan 2-3 sifat baik mereka berdasarkan asmaul husna


Misal kakak cerdas (rosyid) dan penyayang (rahiim)
 tengah lembut (lathiif) dan dermawan (darr)
adik pemaaf (rauuf) dan kuat aziz)

Buat mereka BANGGA krn dijadikan bidadari buat mba ama Allah. Dan krn Allah titipkan sifat2 baiknya Allah ke mereka.

Kalau saya, buat tangani rasa cemburu di antara mereka, cerita kalau saya sudah *mencintai mereka sejak blm lahir*  Saya sering csrita, waktu gadis saya minta ama Allah dikasih anak yang kek bla bla bla, yang mudah diajak buat mencintai Allah..eh terus Allah kasih suami kek ayah mereka yang ga pernah ninggalin shalat, menjaga wudhu  dan rajjn tilawah ( ini pesan tauhid yang sengaja saya ulang2 terus ke anak2...agar mereka mengikuti jejak kebaikan ayahnya, jadi mereka mudah memaafkan kekurangab ortunya krn mereka sdh 'dicekoki' pemahaman bahwa ortu mereka berusaha terus taat ke Allah...ini poin terpenting untuk membuat anak berbakti ke kita)
. Terus Allah kasih mereka, saya bersyukur bgt krn Allah kabulkan doa saya...saya sebutkan dua keutamaan sifat mereka (yang sebenarnya adl doa saya kepada mereka🤭). Saya ucapkan syukur ke Allah juga terima kasih ke mereka, sudah jadi hadiah yang nyenengin hati buat saya.

Sering2 aja begitu..biar mereka *bangga* jadi anak yang nyenengin hati ibunya krn Allah.

2. Mandiri ada tahapan2 usianya mba. Ini butuh bahasan satu sesi sendiri.
Kalau untuk anak usia thn, hra sdh mandiri toilet training .ajarin cara membersihkan dubur dg jari tengah kiri, ajarin wudhu wajib, biasain naro baju kotor di tmptnya, mulai mencuci piring sendiri dll)

3. Mba kisahkan ttg keutamaan shalat subuh, perintah Allah buat mandi sblm subuh (ada di surah Muddatstsir) , bikin janji buat bangun subuh bareng.
Pastikan sblm tidur dia ga makan byk karbo (susu manis, nasi, dll..ini bikin dia susah tidur dan akhirnya ngantuk waktu subuh)

Ketika mau subuh, mba bisikin doa bangun tidur, gendong, mandikan, pakaikan baju, letakkan dia di sisi mba yang mau shalat.(ajak bicara selama prosesi itu). gapapa dia dlm kondisi tidur/merem .

Abis shalat, mba doa kenceng2 sebah dia. coum dia bilang makasig dia sdh jadi anak hebat krn Allah pilih dia bisa bangun subuh dan mandi.

Terus doain dia agar cinta shalat. Ajak dia berdoa dan kasitwin artinya .

Doa cinta shalat, surah Ibrahim QS 14:40-41

💝〰〰〰💝

5. Assalamu'alaikum mb.
Saya Fara dari Ambon.
Putri saya usiany 3thn 10bln.Alhmdulillah skrg dah ngaji wlupun msh blm bgtu lncar.dia jg sdh bsa wudhu itupn sya blm ngajrin.dia cmn ikutin aj stiap sy mw wudhu.shlatpun dia ikutin wlupn kdang msih main".yg susah utk sy kndalikn dia yaitu saat dia BAK n BAB.klu dsuruh bukain pkaianx,dia gk mau sndri.bgtupn jg klu make pkaian.maunya saya/ayahnya .
Pertnyaan sy,gmna cranya utk melatih ank saya agar dia bisa mandiri dan lebih terarah.

🌹Jawab🌹

berarti motorik kasar dan halusnya blm mba asah..
Wajar dia gamau buka celana. Dia ga nyaman....
Mba latih sensor motoriknya dg baik..Rutinkan ajak dia olahraga lompat lari manjat berenang, olahraga ringan yang melatih tubuh untuk berjongkok dan tangan bisa  menyentuh lutut

Lagipula usia smp 5
-6 thn memang anak msih terus diawasi oleh ortu selama ke kamar mandi... untuk memastikan dia adh siap dilepas ke kmr mandi

Pastikan kondisi kmr mandi juga aman dan nyaman buat anak

Sediakan area kering jadi dia nyaman membuak celana ktika mau bak atau bab
.Byk faktor yang hrs diperhatikan dan dipersiapkan agar anak lulus toilet training

allahu a'lam

💝〰〰〰💝

🔚🔚🔚

Bukan Untuk Bermain, Aku Diciptakan

Jelas sekali, ada hasil yang luar biasa dari ketidakbermainan Yahya di usia kecilnya untuk mendapatkan sejak awal: pemahaman, ilmu, kesunggu...