Assalamu'alaykum bunda salihah yang Allah rahmati.
Bismillah
Tentang seminar menyemai benih keimanan anak, mengapa sangat saya sarankan.
Pertama, iman adalah fondasi dari akidah. Jika tidak kita kuatkan pancangannya, ada banyak kekhawatiran yang selalu membayangi pengasuhan kita.
Ibarat sebuah bangunan yang nantinya akan kita huni, maka hal yang pertama kita lakukan, MEMASTIKAN bahwa batu pertama yang kita letakkan adalah keimanan.
Sehingga ketika peletakan fondasi yang kuat, insyaAllah akan muncul akhlak yang terpancar dari benarnya akidah dan iman yang kita pancangkan di awal.
Ke dua, dari segi pemateri, keluasan ilmunya serta perannya sebagai istri dan ibu, bisa kita lihat dari cara mendidik putra-putrinya, serta bagaimana kiprahnya mendampingi suami beliau. InsyaAllah kita berguru pada orang yang telah belajar mengenal asam garam nya kehidupan. Bukan sekadar teori saja.
Ke tiga, jangan menunggu rusaknya keimanan seorang anak karena KELALAIAN kita gagal meletakkan tatanan akidah yang harus anak-anak serap ketika mereka masih kecil.
Memohon penjagaan dengan mengikuti jejak Rasulullah membimbing keluarganya di tengah kejahiliyahnya zaman, hampir sama dengan kondisi kita, umat akhir zaman.
Memohon penjagaan untuk ditetapkan dalam barisan orang salih bersama menuju keluarga sakinah.
Tak ada satu pun di dunia ini yang menginginkan rusak imannya, semua hamba Allah yang ingin masuk ke dalam surgaNya, pasti memohon dalam kekhusyu an dalam harap dan takut akan di selamatkan dari kelalaian dan siksa neraka.
Hanya dengan cara terselamatkan iman, harap itu ada untuk menggapai ridho Allah.
Ke empat, kita umat akhir zaman, ada banyak fitnah yang mengaburkan penilaian kita terhadap kebaikan dan keburukan. Dibutuhkan nya ilmu untuk mendalami keimanan, kemurnian akidah dengan menajamkan basiroh agar selamat dari jeratan dosa.
Pada hakikatnya, kita lah yang butuh ilmu keimanan untuk menjadi pengokoh dalam keluarga.
Ibu yang faham dengan bagaimana menyemai iman ke dalam dada anaknya, insyaAllah akan terlahir generasi salafus salih seperti ibunda dari Ulama Tsufyan AtTsauri. Kemuliaannya dalam mendidik putranya menjadi seorang yang berilmu, berawal dari teguhnya keimanan.
Ke Lima, baiknya sebuah negara, tergantung dari cara mendidiknya seorang ibu.
Mendidik tanpa ilmu, seperti berjalan dalam kegelapan. Terbentur dan babak belur sudah lah bisa dipastikan.
Mengapa masih bertahan dengan sedikitnya ilmu dalam mendidik, sedangkan majelis ilmu sedang terbuka lebar.
Mengapa masih menunda ketika sehat melekat pada raga.
Mengapa masih banyak kebimbangan melangkah ke dalam majelis ilmu sedangkan ilmu menjadi penolong dari kebutaan dalam mendidik.
Ilmu adalah cahayaNya, semakin kita pelajari, Allah akan buka mata hati kita untuk menjadi paham, tunduk dan taat. Seperti yang ibunda Tsufyan AtTsauri pesan kan kepada nasihatnya, jika ilmu yang kau catat menambah ketaatanmu maka
Jangan tunda memperoleh hidayah Allah dengan duduk di majelis ilmu.
Ke enam, jejak pengasuhan kita akan di kenang dan diikuti olen ananda, pendidikan yang mengacu pada keteladan Rasulullah akan mereka lakukan, kepada beliau lah kita berguru. Bukan kepada yang lain yang masih banyak salah menetapkan teori.
Kepada Rasulullah lah kita mengacu, kesaksian dan bukti dari keberhasilan mendidik putrinya Fatimah Az Zahra, teladan yang tak perlu dibandingkan.
Jaminan surga adalah penawar ketika hati mulai lelah dalam bersemangat mendidik.
Sesungguhnya iman adalah penggerak dalam mencerminkan akhlak. Maka perkuat iman dan berharap pertolongan pada Allah..
Tak satupun makhluk di bumi bisa mencelakai kita jika tak Allah izinkan, meskipun mereka bersatu menginginkan kecelakaan terhadap diri kita.
Tak satupun makhluk di alam semesta yang mampu menolong kita, sekalipun mereka bersatu, jika tidak ada izin dari Allah.
Iman adalah cahaya dalam beribadah, penerang dalam beramal salih. Bersebab iman, Allah jaga kita dari hal yang dibenciNya.
Bersebab iman, cinta Allah kan menentramkan hati.
Iman adalah akar dari keyakinan kita akan keberadan Allah. Jika masih banyak kegundahan, pertanyakan kabar iman kita.
Seorang pendidik yang sadar dirinya dipilih Allah mendidik titipan Allah, jalan yang dipilihnya mendekat kepada Allah.
#Miya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Bukan Untuk Bermain, Aku Diciptakan
Jelas sekali, ada hasil yang luar biasa dari ketidakbermainan Yahya di usia kecilnya untuk mendapatkan sejak awal: pemahaman, ilmu, kesunggu...
-
//Musuh Terbesar Orangtua dalam Mendidik Anak// Oleh : Nay Beiskara _Musuh terbesar dalam mendidik anak-anak, bukanlah internet, televis...
-
.. 💐Itu udah bener mba. Mgkin jadwal anak2 kami ketika usia 0-7 thn bisa jadi masukan: 04.30 Bangun dan mandi.Anak2 sudah wangi siap d...
-
Fatwa Syaikh Ibrahim bin Amir Ar Ruhaili hafizahullah (Guru pasca sarjana jurusan Akidah di Universitas Islam Madinah dan pengajar teta...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar