Senin, 26 November 2018

Stop Ngomel ya bunda2 cantik

Rasulullah bersabda "Allah merahmati orangtua yang membantu anaknya berbakti kepadanya"

"Bagaimana caranya membantu untuk berbakti, Yaa Rasulullah"

"Dia menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya dan tidak membebaninya serta tidak pula memakinya"

Ada empat hal penting dalam menghadapi anak-anak kita agar mereka berbakti kepada kita kelak.

๐Ÿ‰Terimalah yang sedikit dari anak, maka setiap anak akan menjadi istimewa di hapadan kita.

๐Ÿ‡Maafkanlah yang menyulitkannya, maka dada kita akan terasa lebih lapang menghadapi mereka.

๐ŸŠJangan membebani anak, maka kita akan melihat perkembangan anak-anak kita yang menakjubkan. Sehebat apapun anak kita, jika terlalu banyak menanggung beban ambisi kita, membuat potensi mereja kerdil dan tak akan mampu berkembang.

๐ŸˆTidak memaki anak. Anak-anak yang dibesarkan dengan makian, menurut Dorothy Law Notle akann belajar rendah diri (bukan rendah hati).
Anak-anak yang dibesarkan dengan caci maki juga akan belajar mengobarkan permusuhan dalam dadanya, sehingga dia sulit menumbuhkan persahabatan hangat dan penghormatan yang tulus.

Khairul kalam kalamullah, khairul huda huda Muhammad. Sebaik-baik perkataan adalah kalam Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah, Muhammad Shallallahu'alaihiwasallam.

Kita harus terus mencari ilmu agar dapat mendidik anak-anak kita dengan baik sekaligus tepat, kita perlu belajar menata hati dan membenahi tujuan. Berilmu saja tidak cukup, kita mesti memiliki kekuatan hati untuk ikhlas menerima pipis mereka, celoteh, kerewelan nya maupun pertanyaan yang teak henti mengalir di saat kita tidak ingin diganggu nyamuk sekalipun.

Tanpa ada kekuatan hati, ilmu yang kita miliki tak banyak memiliki arti.

sumber bacaan : Saat Berharga untuk Anak Kita

- miya -

#orangtuantingomel
#belajarmenjadibaik

Siapa Tetangga Kita Di Surga?

Ketika waktu terasa begitu cepat berlalu
Ketika diri menyadari bahwa kematian terus mendekat
Ketika diri menengok bekal akhirat
Dan terhentak menyadari, betapa kosong bekal itu

Maka, diri hanya bisa menangis sedih sendiri
Menyadari kebodohan diri
Tak berusaha memantaskan diri
Membekali ilmu dan amal yang bisa menjadi sahabat sejati
Di alam akhirat nanti

Apalah guna  sahabat di dunia ini
Jika kelak kita tak bersahabat dengan amal para ahli surga?

Apalah guna segala amal dan harta di dunia ini
Jika kelak semua itu tak membuat kita bertetangga dengan Rasulullaah saw di surga?

Apalah guna kita mengenal banyak orang sukses di dunia ini
Jika ternyata kita tak mengenal kisah hidup orang sukses sejati, para tetangga Rasulullah saw di surga?

Para sahabat mulia
Yang menjejakkan cintanya di jalan akhlak mulia Sang Nabi tercinta

Para sahabat mulia
Yan nyata bisa menjadi tetangga kita
Di Surga Allah yang abadi di akhirat sana

Para sahabat mulia
Yang getar amalnya terus menginspirasi kita

Kita, saudara Rasulullah saw yang mulia
Kita, saudara Rasulullaah saw yang merindukannya
Kita, saudara Rasulullah saw yang dirindukannya

Kita, umat Rasulullah saw di akhir zaman

Yang tak pernah bersua dengannya
Yang merindu menatap wajah mulianya
Yang merindu mencium tangan wanginya
Yang merindu mendapat syafaatnya
Yang merindu menjadi tetangganya di surga๐Ÿ˜ญ

Kita, umat Rasulullah saw di akhir zaman

Yang merindu bisa mengikuti jejak cintanya
Melalui sosok para sahabat yang mulia

Di hari ini, di bulan Rabi'ul Awal
Bulan lahirnya sosok manusia terbaik sepanjang zaman

Aku terpekur malu
Seberapa dalam aku mengenal sosok para sahabat yang mulia?
Siapa yang aku ikut jejak amalnya?
Siapa yang aku pilih menjadi tetanggaku di surga nanti?

Siapa tetanggaku di surga nanti? ๐Ÿ˜ญ

- Iin Savitry, #BundaBidadari -

#64SahabatTeladanUtama

KESALAHAN MENDIDIK ANAK : MEMBERIKAN IMING2

“Abisin makanannya, nanti mama kasih es krim deh”

“Kalau kamu bisa rangking 1, papa beliin sepeda yang kamu minta itu”

“Ayo.. mandi dulu.. nanti kita main ke playground depan”

“Setelah kamu hafal dulu juz 30, ayah janji kasih tab nya”

Nyogok.

Hal yang terlalu sering kita lakukan… tanpa sadar. Kita terus menerus meletakkan wortel di depan kelinci.. agar kelinci terus melompat. Apa yang terjadi ketika wortel tidak lagi ada?

Akhirnya.. anak makan, karena eskrim, bukan karena merasa lapar, atau untuk menjaga kesehatan tubuh. Anak belajar, bukan untuk pintar dan memahami materi.. tapi untuk bisa sepedaan dengan tetangga sebelah yang baru pindah itu
Anak mandi bukan agar segar, bersih dan wangi, tapi murni karena dia mau main keluar rumah.
Setelah tab di tangan.. hafalan juz 30 nya? Nguap semua. Ayo di muraja’ah lagi hafalannya. Kalau aku muraja’ah, dpt apa?

Iming-iming akan terus bertambah. Kalau tidak dalam jumlah, dalam harga. Anak 3 tahun masih bisa di sogok sama eskrim dan permen untuk ngabisin makanannya.. ketika tanggung jawab sudah semakin berat, bayarannya juga semakin besar. Secara gak mungkin kan kalimatnya: ayo, kalau kamu menang lomba pidato itu, Abi kasih eskrim? Yang ada anaknya sinis tertawa.
Saling memberi hadiah ada hadist nya.. saya tau. Dan saya super duper setuju memberi reward atas usaha, kerja keras dan prestasi yang sudah anak lakukan. Saya Cuma menyarankan untuk tidak dijanjikan di depan. Karena tidak tahukah anda bahwa ada pula hadistnya tentang dilarangnya penyuapan?

Anak harus tau bahwa ada eskrim ataupun tidak..dia tetap harus makan.
Sepeda di belikan atau tidak, sekolah itu perlu, dan kalau dia muslim, menuntut ilmu menjadi sebuah kewajiban
Main ke luar atau tidak, kudu mandi eniwei, karena kalau gak gatel. Bau dan keringetan.
Dan jadi penghafal qur’an itu mulia, berpahala, tab jadi atau tidak di belikan
Kalau di janjikan di dpn, bayangkan saja kalau ternyata habis mandi.. hujan lebat. Jadi tidak bisa main ke playground di luar. Betapa kecewa?
Bayangkan binar matanya kalau dia rangking satu, terus tiba2 besoknya ayah pulang membawa sepeda? Atau setelah makan, tiba2 dapet eskrim sebagai pencuci mulutnya?
Yang paling sering kita dengar dlm 1,5bln ke dpn adalah: kalau kamu puasanya sebulan penuh.. mama/papa akan kasih…(isi sendiri)

Walaupun saya gak pernah kasih apa-apa untuk anak saya jika dia puasa sebulan penuh, saya mempersilahkan para orangtua memberikan hadiah atas usaha anak-anak itu. tapi please jgn di janjikan di awal. Kasih uang, hape, atau trip keliling dunia, sesuaikan saja dengan keadaan kantong masing2 keluarga, tapi kalau di sogok dari awal, puasanya murni untuk itu saja. Tanpa di sogok di dpn saja, kalau 1x ramadhan di kasih hadiah, biasanya th dpn nya ngarepin lg, dan gak mau dlm jumlah yang sama dengan tahun sebelumnya. Lalu apa yang terjadi? Ini mjd ‘wabah lebaran’, dimana si tante itu ngasihnya nggak sebanyak om ini. Karena biasa dapet yang merah, yang biru nggak mau lagi. Boro2 yang ungu.. idih.. cuih2.

Itukah kesan yang anda inginkan bagi anak anda ketika hari raya tiba? Boro2 maaf2an dan kembali fitri, anak akan silaturrahmi murni karena di akhir hari bergelimang rupiah.

Saya tekankan lagi, karena biasanya bakal banyak yang salah paham. Saya tidak anti dengan memberi hadiah, saya hanya tidak mau anak-anak melakukan sesuatu dengan niat yang salah. Apa saja, tidak hanya puasa.

Kalau anak saya tidak mau makan? Ya sudah. Berarti dia sedang tidak lapar. Atau porsinya saat itu terlalu besar. Bisa dihabiskan lain waktu. Atau jadi pelajaran agar tidak mengambil porsi sebesar itu. sedikit2 dulu. Kalau makanannya habis dan mau saya kasih eskrim or permen setelah itu.. suka-suka saya. Toh kalau saya tiba2 berubah pikiran, tidak terjanjikan sebelumnya. Karena tidak berharap, anak pun tidak kecewa.

Kalau saya mau anak menghafal sebuah surat, saya harus hafal surat itu terlebih dahulu. Atau minimal berlomba2 siapa yang bisa hafal duluan. Kalau dia menang (secara otak saya Pentium 2, dia Pentium 9) gak masalah kalau saya mau memberinya roller blade yang sudah lama dia idam2kan.

Umumnya, saya berikan pilihan sebagai prasyarat. Misalnya saya harus menjemput abangnya sekolah dan saya mau si tengah tidur siang. Saya kasih pilihan: kalau mau ikut jemput abang, kamu harus tidur siang dulu. Kalau tidak mau tidur siang..tidak apa. Tidak ada yang memaksa. Cuma jadi tidak bisa ikut jemput abang. Kamu bisa stay di rumah sama mbak. Jadi dia akan memilih untuk tidur apa tidak. Seberapa besar keinginannya untuk tidur atau tidak. Dia bisa menimbang2 kengantukan dirinya. Sebanding tidak dengan trip menjemput abangnya? Jadi ada hari2 yang dia memutuskan untuk tidur siang, dan ada hari2 yang dia tidak mau. Kalau tidak mau, tidak apa. Tidak ada hukuman. Orang gak ngantuk kok di paksa tidur. Nggak masuk akal. Anda mau di paksa?

Kecilnya eskrim, permen dan sepeda. Besarnya? “Kalau bapak menangkan saya tender ini, bapak mendapatkan 20M.” Familiar?

Pantas sajalah korupsi merajalela di negeri ini. Mungkin mereka dulu waktu kecil selalu diiming2i. di janjikan hadiah sebelum pekerjaannya dilakukan. Di sogok dulu, baru proyeknya jalan.

Kalau dulu begitu kita dibesarkan, maklumi sajalah. Jaman orangtua kita mjd orangtua, ilmu parenting belum sebegininya. Tapi masa kita mau mengulang kesalahan lama, yang bisa merusak mental anak-anak kita juga?

Mengasuh itu nggak bisa Cuma diliat pada kejadian saat itu saja. Harus dipertimbangkan efek jangka panjangnya. Cara yang salah akan membentuk masa depan bukan hanya anak, tapi cucu kita juga. Karena besar kemungkinan mereka akan membesarkan anak2nya dengan cara kita mengasuhnya.

Harapan dari artikel ini sebetulnya sederhana, 20th ke depan, tidak perlu ada lagi KPK di Indonesia :)
#sarrarisman

*jika dirasa manfaat, tidak perlu izin untuk menyebarkan artikel ini

Kenapa orangtua disarankan harus ikut serta Tentang seminar menyemai benih keimanan anak ??

Assalamu'alaykum bunda salihah yang Allah rahmati.
Bismillah


Tentang seminar  menyemai benih keimanan anak, mengapa sangat saya sarankan.


Pertama, iman adalah fondasi dari akidah. Jika tidak kita kuatkan pancangannya, ada banyak kekhawatiran yang selalu membayangi pengasuhan kita.


Ibarat sebuah bangunan yang nantinya akan kita huni, maka hal yang pertama kita lakukan, MEMASTIKAN bahwa batu pertama yang kita letakkan adalah keimanan.


Sehingga ketika peletakan fondasi yang kuat, insyaAllah akan muncul akhlak yang terpancar dari benarnya akidah dan iman yang kita pancangkan di awal.


Ke dua, dari segi pemateri, keluasan ilmunya serta perannya sebagai istri dan ibu, bisa kita lihat dari cara mendidik putra-putrinya, serta bagaimana kiprahnya mendampingi suami beliau. InsyaAllah kita berguru pada orang yang telah belajar mengenal asam garam nya kehidupan. Bukan sekadar teori saja.


Ke tiga, jangan menunggu rusaknya keimanan seorang anak karena KELALAIAN kita gagal meletakkan tatanan akidah yang harus anak-anak serap ketika mereka masih kecil.


Memohon penjagaan dengan mengikuti jejak Rasulullah membimbing keluarganya di tengah kejahiliyahnya zaman, hampir sama dengan kondisi kita, umat akhir zaman.


Memohon penjagaan untuk ditetapkan dalam barisan orang salih bersama menuju keluarga sakinah.


Tak ada satu pun di dunia ini yang menginginkan rusak imannya, semua hamba Allah yang ingin masuk ke dalam surgaNya, pasti memohon dalam kekhusyu an dalam harap dan takut akan di selamatkan dari kelalaian dan siksa neraka.


Hanya dengan cara terselamatkan iman, harap itu ada untuk menggapai ridho Allah.


Ke empat, kita umat akhir zaman, ada banyak fitnah yang mengaburkan penilaian kita terhadap kebaikan dan keburukan. Dibutuhkan nya ilmu untuk mendalami keimanan, kemurnian akidah dengan menajamkan basiroh agar selamat dari jeratan dosa.


Pada hakikatnya, kita lah yang butuh ilmu keimanan untuk menjadi pengokoh dalam keluarga.


Ibu yang faham dengan bagaimana menyemai iman ke dalam dada anaknya, insyaAllah akan terlahir generasi salafus salih seperti ibunda dari Ulama Tsufyan AtTsauri. Kemuliaannya dalam mendidik putranya menjadi seorang yang berilmu, berawal dari teguhnya keimanan.


Ke Lima, baiknya sebuah negara, tergantung dari cara mendidiknya seorang ibu.


Mendidik tanpa ilmu, seperti berjalan dalam kegelapan. Terbentur dan babak belur sudah lah bisa dipastikan.


Mengapa masih bertahan dengan sedikitnya ilmu dalam mendidik, sedangkan majelis ilmu sedang terbuka lebar.


Mengapa masih menunda ketika sehat melekat pada raga.


Mengapa masih banyak kebimbangan melangkah ke dalam majelis ilmu sedangkan ilmu menjadi penolong dari kebutaan dalam mendidik.


Ilmu adalah cahayaNya, semakin kita pelajari, Allah akan buka mata hati kita untuk menjadi paham, tunduk dan taat. Seperti yang ibunda Tsufyan AtTsauri pesan kan kepada nasihatnya, jika ilmu yang kau catat menambah ketaatanmu maka


Jangan tunda memperoleh hidayah Allah dengan duduk di majelis ilmu.


Ke enam, jejak pengasuhan kita akan di kenang dan diikuti olen ananda, pendidikan yang mengacu pada keteladan Rasulullah akan mereka lakukan, kepada beliau lah kita berguru. Bukan kepada yang lain yang masih banyak salah menetapkan teori.


Kepada Rasulullah lah kita mengacu, kesaksian dan bukti dari keberhasilan mendidik putrinya Fatimah Az Zahra, teladan yang tak perlu dibandingkan.


Jaminan surga adalah penawar ketika hati mulai lelah dalam bersemangat mendidik.


Sesungguhnya iman adalah penggerak dalam mencerminkan akhlak. Maka perkuat iman dan berharap pertolongan pada Allah..


Tak satupun makhluk di bumi bisa mencelakai kita jika tak Allah izinkan, meskipun mereka bersatu menginginkan kecelakaan terhadap diri kita.


Tak satupun makhluk di alam semesta yang mampu menolong kita, sekalipun mereka bersatu, jika tidak ada izin dari Allah.


Iman adalah cahaya dalam beribadah, penerang dalam beramal salih. Bersebab iman, Allah jaga kita dari hal yang dibenciNya.


Bersebab iman, cinta Allah kan menentramkan hati.


Iman adalah akar dari keyakinan kita akan keberadan Allah. Jika masih banyak kegundahan, pertanyakan kabar iman kita.


Seorang pendidik yang sadar dirinya dipilih Allah mendidik titipan Allah, jalan yang dipilihnya mendekat kepada Allah.


#Miya

FITRAH PENDENGARAN UNTUK ANAK USIA O-7TAHUN

**

Ketika berbicara tentang pengasuhan dalam islam, kita sama sama tahu bahwa fase pengasuhan anak-anak dibagi menjadi 3 bagian yaitu :

1. Fase pertama 0-7 tahun (jadikan anakmu sebagai raja)
2. Fase Kedua 7-14 tahun  (jadikan anakmu sebagai tawanan)
3. Fase ketiga 14-21 tahun (jadikan anakmu sebagai teman)

Dan fase tonggak dasar pengasuhan tersebut ada di usia 0-7 tahun, apabila kita tidak tuntas, maka siap-siap kita akan menuai akibat dari kelalaian kita tersebut di usia anak yang menginjak aqil balik nanti. 

Lalu, apa sajakah yang harus kita tuntaskan di usia tersebut, diantaranya sebagai berikut, yaitu fitrah pendengaran anak:

✅Indra pertama yang berfungsi
Pertama dan terakhir.
✅Mendengar ayat alquran dari kedua orang tuanya tanpa diwakilkan.
✅Mendengar cerita siroh nabawiyyah Rosulullah saw secara tuntas lahir sampai wafat (0-5tahun).
✅Mendengar cerita sahabat (6-7tahun).

Sudahkah kita menuntaskan fitrah tersebut kepada anak-anak kita? ๐Ÿ˜ฐ๐Ÿ˜ฐ

-umi-

#siroh
#ilmupengasuhan
#snc
#spiritnabawiyyahcommunity
#membacauntuknegeri

KISAH NYATA: PENYESALAN SUAMI KARENA POLIGAMI ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ --ISTRI WAJIB BACA--

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Kisah nyata.yg mungkin bisa diambil ibrohnya.terutama bagi kaum Adam yg ingin berpoligami.
Sayap - sayap patah ๐ŸŒท

Kala jari jemariku menulis kalimat kalimat ini karena mataku yg tak sanggup lg menampung perihnya airmata..

Kawan...๐ŸŒป
Semua yang disyariatkan Allah adalah benar yg harus kita lakukan..
Dan Syariat itu tidak pernah salah dan keliru yg menjadikannya hancur adalah pribadi manusia.....
๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ
Sebut saja namaku Abdullah.
Aku diberi Allah pendamping yg supel,
pintar, rajin dan sangat sholehah, sebut saja namanya Aisyah, hidupku sangat bahagia apalagi Aisyah telah memberiku dua orang putra dan satu orang putri..
๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ
Rumah tanggaku sangat bahagia.
Suatu hari hatiku di uji oleh Allah Aku jatuh cinta pada seseorang gadis yang sangat cantik dan lebih mudah, sebut saja namanya Fatimah yang lebih membuatku semakin kuat ingin menikah lagi dgn Fatimah karena ia sangat sholehah dan bersedia menjadi istri kedua ku.
๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ
Akhirnya aku putuskan untuk dengan Fatimah, aku sudah memberi tahu istriku namun Aisyah tidak menjawab apa apa..
Yg kulihat hanya airmata yang tiba-tiba jatuh saat ku sampaikan itu, aku tak peduli.. Toh nanti jg dia akan menerima..
๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ
Terjadilah pernikahan antara aku dan Fatimah.. Awal awal nya memang agak susah tp lama ke lamaan akhirnya baik-baik saja hanya saja Aisyah sedikit lebih pendiam dari setelah aku menikah lg.
Waktu terus bergulir tidak terasa aku sedah membinah rumah tangga dgn Fatimah sudah satu tahun dan dikaruniai seorang putri yg sekarang berusia 6 bulan, semantara Aisyah tidak banyak yang berubah darinya,..

Hari-hari terus bergulir dan aku mulai bosan dan jenuh ,
sehingga terjadilah badai dalam keluargaku, aku ingin mencereikan salah satu istriku, akhirnya terjadi pertengkaran dalam keluargaku dan jatuhlah talak ku pada Aisyah, kulihat ada airmata di wajahnya namun dia terus diam dlm kebisuan air mata..
Ku biarkan Ghozy, Ghassan dan Balqis anak anak ku ikut dengan Aisyah karena aku tahu mereka pasti akan memilih ibunya..
๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ
Tahun berganti tahun..
Hidupku dengan Fatimah pun mulai goyang, sebenarnya aku sangat bahagia dengannya namun sifat manja dan tidak memahami perasaanku membuatku tdk nyaman, dan tak jarang rumah tangga kami mulai diterpa pertengkaran.

Suatu ketika kami pernah bertengkar hebat dan membuat aku enggan pulang ke rumah, akupun mampir disebuah mesjid, kularutkan diri dlm sholat..
Dlm mesjid itupun aku rindu dengan Aisyah dan anak-anak ku.. Tp dimana mereka?
7 tahun yg silam saat aku mentalak Aisyah,, Ghozy putra pertamaku berusia 5 tahun,
dan Ghassan berusia 4 tahun sementara Balqis berusia1tahun,
hingga kini aku tak pernah mananyakan kabar mereka apalagi mengirimkan mereka biaya hidup.. Sungguh semakin membuatku menderita memikirkannya .

Saat itu hujan turun dengan lebatnya..
Aku pelan pelan dan diam diam mulai mencari Aisyah dan anak-anak ku, namun hasilnya tak berhasil, aku mulai menanyakan kiri kanan pada keluarganya atau pada teman teman Aisyah tp tetap nihil ..

Mereka hilang bagai ditelan bumi..
Dimana mereka ya Allah.. Doaku dalam hati. Aku semakin ketakutan manakala tak mendapat info apa apa tentang mereka.. Pikiran ku semakin tak menentu.. Di sisi lain Fatimah hidup denganku dengan sejuta tuntutan.

Hari-hari pun terus berlalu..
Bahkan hampir 6 bulan aku mencari mereka.. Hingga pada suatu hari sehabis mengikuti kajian..
Tiba-tiba seorang ustadz mendekatiku "Abdullah... Apakah kau sudah bertemu Aisyah dan anak-anak mu......?"
ku geleng kan kepala dgn air mata.. Kerinduan..

Ustadz itu berkata " insyaallah mereka baik-baik saja" perkataan sang ustadz membuatku menatap wajahnya lekat lekat..
Wajah sang ustadz seolah tersirat ia mengetahui keberadaan Aisyah dan anak-anak ku... Ternyata benarlah dugaan ku sang ustadz memberi tahu setelah ku desak dimana Aisyah dan anak-anak ku..

Aisyah menghilang dalam hidupku dan menetap di sebuah kota yg sangat jauh dari tempat yg pernah menjadi kota tempat kami saat membina rumah tangga.. Jauh dan sangat jauh...jarak tempuhnya 4hari perjalanan....
Di sebuah pondok pesantren dipelosok desa tepat dilereng gunung...
๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ
Saat itu aku berangkat bersama sang ustadz sebagai petunjuk dan mediator yg mempertemukan aku dgn dia Aisyah.. Perjalanan yg panjang membuat aku dan sang Ustadz ingin beristirahat sejenak..
Mampirlah kami disalah satu mesjid di tempat itu.. Dada ku bergemuruh, perasaanku tak menentu, aku jd ketakutan manakala anak anak ku tdk mau melihatku apalagi menerima ku.. terus ku yakinkan hatiku..

Tiba-tiba lamunanku hilang oleh merdunya suara adzan, airmata ku menetes menghayati kalimat sang mu'adzin.. Saat itu waktu magrib.. Aku dan Ustad memutuskan bermalam dimesjid tersebut.
Allahu Akbar... Suara imam menggema aku tenggelam dalam sholat oleh tartil nya bacaan imam.. Menunjukkan sangat fasih dlm melafalkan Al Quran.. Setelah selesai sholat sang imam memberikan tausyiah singkat tentang hargailah orang yg selalu bersama Kita.. Lisan sang imam benar-benar mengiris hatiku...

Keesokan hari dikala subuh menjelang aku berdoa ya ALLAH pertemukan aku dgn Aisyah dan anak-anak ku... Adzan subuhpun berkumandang.. Sebelum sholat sang ustadz berkata insyaallah pagi ini kau akan bertemu dengan putra pertamamu...
Semakin bergemuruh hatiku ditambah lg suara sang imam membuat para jama'ah memecahkan tangisan.. Sungguh desa dan tempat yg dipilih Aisyah benar-benar sangat damai dari kebisingan dunia.

Benar lah pagi itu aku bertemu dengan putra sulungku Ghozy yg tiada lain adalah imam yang dari tadi malam membuat jemaah menangis karena tartilnya membaca Quran... Hatiku bergemuruh..
Dalam usia yang sangat mudah ia telah memiliki ilmu setara gurunya.. Hatiku kembali bergemuruh mana kala melihat nya tumbuh menjadi penghafal Quran... Menetes air mata ku kepeluk di erat sekali kutanyakn kabar ibu dan adik adik nya..... Dgn gaya bahasa yang sangat sopan Ghozy menceritakan perjalanan ibunya menanggung ketiga anaknya tanpa ada sosok ayah.. Ghozy telah di dewasakan oleh ilmunya walau ia baru berumur 14 tahun... Kisah perjalanan istrinya di dengar dgn airmata tak terbendung...
Hati Abdullah semakin merinding kala Ghozy mengatakan bahwa adiknya Ghassan yg usia beda setahun dg Ghozy telah berangkat ke madinah krn prestasinya..
Disisi lain Balqis yg berusia sembilan tahun telah selesai mengikuti program kelas tahfidz.. Ghozy dgn tegas mengatakan kami semua bs seperti yg abi dengar karena sosok ibu yang telah abi tinggalkan..
Umi membesarkan dan mendidik kami untuk lebih mencintai Allah..
Umi memberi kami makan dr hasil kerjanya sebagai orang yang mencuci piring di dapur pondok ini.. Abi..
Umi tak pernah mengajari kami untuk membencimu tp ketahuilah kau adalah ayah kami,tp kau tak layak jd suami dr ibuku.. Kalimat itu terdengar bagai petir..
Dunia terasa gelap.. Wajah ku menunduk.. Aku tak tahu harus berbuat apa.

Untuk mu yang sedang membaca tulisan ku.. Jgn kau berbuat seperti ku..
Seseorang yg ada disamping mu sekarang adalah orang terbaik yg di pilih Allah untukmu maka jangan sia sia kan...
Aku tak bs melanjutkan tulisanku ini karena airmata ku menghalangi pandangan ku....
Untukmu istri ku Aisyah..
Walau aku tak layak untukmu... Kini kau bukti kan bahwa sikapmu adalah cerminan dari namamu..
Hal terindah dalam hidupku kau telah menjadikan anak anak ku sebagai jundi jundi sejati....

Untukmu istri ku Aisyah.. Dikala Allah mempertanyakan diriku tentang anak anak ku.. Apa yg menjadi hujjah ku...?

Untukmu istriku Aisyah... Aku telah membuang berlianku..sungguh anak anak kita tumbuh menjadi anak anak mutthaqiin.. Satu hal yang ku mohon pd Allah.. Aku diberi kesempatan untuk berkumpul dan menembus dosa dan kesalahan dgn kalian.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
IBROH YG BISA DIAMBIL DARI KISAH INI, BAHWA BERSYUKUR SELALU KPD ALLAAH DGN ORG² TERDEKAT SAAT INI,

LENGKAPI KEKURANGANNYA,
TUTUPI CACATNYA,
PUJILAH ALLAH SELALU ATAS KEBAIKANNYA✏๐Ÿ“š๐ŸŒน๐Ÿƒ

Copas dr WAG

Minggu, 25 November 2018

KAU MARAH DAN MEMBENTAK ANAKMU?

Ketika ia minta ditemani tidur, padahal tubuhmu sudah lelah, dan engkau tau bahwa ia bisa tidur sendiri. Lalu, rengekkannya menaikan emosi, maka tanpa terkontrol lagi, keluarlah suara tinggi, membentak, dan atau sikap yang tidak menyenangkan lainnya.

Ia pun terdiam. Kaget. Tapi, sebetulnya lebih dari itu, hati kecilnya terluka.

Ia lalu dengan patuhnya naik sendiri ke atas tempat tidur, memeluk guling, menghadap dinding, dan berusaha menenangkan hati yang terluka dan meminimalisir rasa sedih.

Sebetulnya, ia hanya ingin bersamamu. Hanya tidak tahu bagaimana memintanya dengan cara menyenangkan. Ia hanya ingin dekat denganmu, karena hanya bau tubuhmu yang memberikannya kenyamanan. Sayangnya, otak kecilnya belum cukup bersambungan untuk mengerti, bahwa.. engkau sudah letih,lelah, capek... dengan segala aktifitasmu yang dimulai bahkan sebelum matahari menunjukkan dirinya. Ia belum paham.

Maka dalam sedihnya, menghadap dinding, ia pun perlahan terlelap.

Perlahan tapi pasti, rasa sedih dan menyesal itu menyelinap perlahan kedalam hatimu. Engkau sadar, reaksimu tadi berlebihan. Teriak tadi terlalu kencang, atau apapun itu, yang membuat hati kecil buah hatimu terluka, sebetulnya tidak perlu segitunya.

Lalu, dengan dada yang penuh sesak dengan penyesalan.. engkau berbalik dan memandang tubuh dan wajah kecilnya yang sudah terlelap karena sedih tadi. Engkau ciumi wajah itu, terkadang menetes airmata tanpa terasa. Kau ciumi tangan mungil itu. Memohon maaf padanya, saat ia tidak sadar akan kehadiranmu disitu.

Sudah berapa kali seperti ini?

Akan berapa kali lagi?

Kenapa emosi susah sekali dikontrol, terutama ketika sedang letih atau mengantuk yang luar biasa? Atau ketika melihat rumah yang tak kunjung rapi? Daftar kerjaan yang seakan tidak berkurang sejak pagi?

Lalu menyesal dan mengulangi lagi.

Mungkin esok bukan milik kita lagi.
Mahluk kecil itu milik Ilahi, yang dititipkan ke tanganmu, untuk kau jaga sementara waktu. Diciptakan oleh NYA, agar ia sepenuhnya bergantung padamu diusianya yang sekecil
ini. Mengapa sulit untuk dimengerti ketika lelah melanda, bahwa ia tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu, kecuali rasa CINTA.

Yang masih ia pelajari cara untuk mengungkapkannya dengan segala sikap, suara, bentuk dan rasa. Ia hanya ingin dekat denganmu, itu saja! Setiap waktu. Selalu.

Oleh sebab itu, jika semua perasaan lelah, letih, putus asa, ngantuk, kesel  sedang melandamu, lalu ia datang padamu dengan keinginan tubuh kecilnya yang sebetulnya tidak seberapa itu... tarik nafas, istighfar, senyum dan menunduk lah. Tatap matanya dan perhatikan keinginannya. Jika engkau belum bisa memenuhinya sekarang, senyum.. jawab baik-baik.

Insha Allah perlahan ia akan mengerti, bahwa penolakanmu bukan berarti kau tidak mencintainya, hanya penundaan sementara. Perlahan ia akan mengerti dan belajar untuk melakukan itu sendiri, tanpa bantuanmu dan pendampingamu lagi.

Perlahan.. ia akan melepaskan genggamanmu.. dan kuat bangun dan berjalan sendiri.

Perlahan..

Sabarlah wahai bunda, ingatlah rengekannya hanyalah ungkapan sayangnya padamu. Betapa ia tidak bosan mengharapmu senantiasa disisi. Sabarlah mama... ada waktunya nanti, tidur mama tidak terganggu lagi, rumah akan senantiasa bersih.

Tapi untuk sekarang mama, hadapilah tangisan, rengekkan dengan : tarikan nafas, senyum, dan merendahkan tubuhmu setara dengan pandangan matanya.. senyum dan pandanglah ia. Buah hatimu tidak akan sekecil itu selamanya.

Smile mama.. those little angels, they only have ❤️ for you.

#WinaRisman
#copas
#SelfReminder

Bukan Untuk Bermain, Aku Diciptakan

Jelas sekali, ada hasil yang luar biasa dari ketidakbermainan Yahya di usia kecilnya untuk mendapatkan sejak awal: pemahaman, ilmu, kesunggu...