Rabu, 26 Desember 2018

(Inilah BAHAYA dari) Ayah "Bisu"

Oleh :  Budi Ashari Lc (parenting nabawiyah)

Para ayah yang baik, kita pasti sepakat bahwa al-Qur’an adalah sumber utama bagi setiap muslim di setiap lini kehidupannya. Sayang ya yah, kalau pernyataan ini hanya tinggal pernyataan tanpa aplikasi. Buktinya…, siapa yang hari ini bicara tentang parenting dengan merujuk langsung ke al-Qur’an. A big question!

Nah ayah, mulai tulisan ini hingga beberapa tulisan ke depan, kita akan belajar bersama langsung dari al-Qur’an. Menggali sedalam-dalamnya. Untuk mendapatkan mata air terjernih. Panduan untuk setiap ayah.

Sebuah tulisan ilmiah akan menjadi inspirasi kajian kita dalam tema ini. Tulisan ilmiah tersebut karya Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri, untuk meraih gelar magister di Universitas Umm al-Quro, Mekah, Fakultas Pendidikan, Konsentrasi Pendidikan Islam dan Perbandingan.

Judul tulisan ilmiah tersebut adalah:

حِوَارُ اْلآباَءِ مَعَ اْلأبْناَءِ فيِ اْلقُرْآنِ اْلكَرِيْمِ وَتَطْبِيْقَاتُهُ التَّرْبَوِيَّةِ

“Dialog orangtua dengan anak dalam al-Qur’an al-Karim dan aplikasi pendidikannya”

Dari judulnya saja, sudah luar biasa. Dan memang luar biasa isinya. Menarik ya yah….
Sudah gak sabar nih untuk baca bersama….

Menurut tulisan ilmiah tersebut, terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam al-Qur’an yang tersebar dalam 9 Surat.

Ke-17 dialog tersebut dengan rincian sebagai berikut:
• Dialog antara ayah dengan anaknya (14 kali)
• Dialog antara ibu dan anaknya (2 kali)
• Dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya (1 kali)

Lihatlah ayah, subhanallah…
Ternyata al-Qur’an ingin memberikan pelajaran. Bahwa untuk melahirkan generasi istimewa seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya, harus dengan komposisi seperti di atas.

Jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya, lebih banyak daripada dialog antara ibu dengan anaknya. Jauh lebih banyak. Lebih sering. 14 banding 2!

Kalau hari ini banyak muncul ayah ‘bisu’ dalam rumah, inilah salah satu yang menyebabkan munculnya banyak masalah dalam pendidikan generasi. Sebagian ayah seringkali kehabisan tema pembicaraan dengan anak-anaknya. Sebagian lagi hanya mampu bicara dengan tarik urat alias ngamuk, eh maaf…marah. Ada lagi yang diaaamm saja, hampir tidak bisa dibedakan saat sedang sariawan atau memang tidak bisa bicara. Sementara sebagian lagi, irit energi; bicara seperlunya. Ada juga seorang ayah yang saat dia belum selesai bicara sang anak bisa menyela, “Cukup yah, saya bisa lanjutkan pembicaraan ayah.” Saking rutinitas yang hanya basa basi dan itu-itu saja.

Jika begitu keadaan para ayah, maka pantas hasil generasi ini jauh dari yang diharapkan oleh peradaban Islam yang akan datang. Para ayah selayaknya segera memaksakan diri untuk membuka mulutnya, menggerakkan lisannya, terus menyampaikan pesannya, kisahnya dan dialognya.

Ayah, kembali ke al-Qur’an..
Dialog lengkap, utuh dan panjang lebar di dalam al-Qur’an, hanya dialog ayah kepada anaknya. Bukan dialog ibu dengan anaknya. Yaitu dialog Luqman dengan anaknya. Sebuah nasehat yang lebih berharga bagi seorang anak dari semua fasilitas dan tabungan yang diberikan kepadanya.

Dengan kajian di atas, kita terhindar dari kesalahan pemahaman. Salah, jika ada yang memahami bahwa dialog ibu tidak penting. Jelas sangat penting sekali dialog seorang ibu dengan anaknya. Pemahaman yang benar adalah, al-Qur’an seakan ingin menyeru kepada semua ayah: ayah, kalian harus rajin berdialog dengan anak. Lebih sering dibanding ibu yang sehari-hari bersama buah hati kalian.

Dan…
Jangan jadi ayah bisu

Senin, 24 Desember 2018

Kenapa Berkisah?

"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan dimintai  pertanggung jawaban" (QS. Al Isra : 35)

"dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran,  penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur" (QS.  Al Mu'minun : 78)

Pada ayat-ayat suci ini, akan terlihat  bahwa kata "pendengaran"  disebut sebelum kata "penglihatan" TANPA KECUALI.

Pada janin, dibulan kelima usia kehamilan telinga sudah berfungsi sebagai indra pendengaran, sementara mata, hingga usia kehamilan 7 bulan belum mampu melihat apapun  karena kelopak masih tertutup dan mereka tenggelam dalam tiga lapis kegelapan.

Seorang bayi akan memahami kata yang dia dengar lebih cepat daripada  memahami gambar dan tulisan yang dia lihat.


Fungsi pendengaran juga lebih penting dalam belajar mengajar  serta lebih tertanam  dalam ingatan seorang anak.

Mari melihat sejarah generasi salaf dimana Al Qur'an diturunkan, ayat-ayat diperdengarkan dan dihafalkan kemudian disebarkan.

Maka, sungguh...ayah bunda...berkisahlah.

Kisahkan pada ananda kisah-kisah teladan Nabi dan Rasul, kisahkan pada mereka sosok yang mencintai mereka, jauh sebelum mereka terlahir ke dunia, kisahkan mereka Iman Islam sebagai bekalan menghadapi fitnah dunia yang semakin menyesakkan ini.

#catatanEmakTricilZAM
#berkisah
#manfaatberkisah

‼ *Boikot Buku Tulis SiDu/ Sinar Dunia, APP/ Asia Pulp & Paper, Tjiwi Kimia, Sinar Mas Grup

Sebentar lagi akan memasuki tahun ajaran baru. Biasanya ortu akan membelikan buku tulis merk SiDu/ Sinar Dunia, APP/ Asia Pulp & Paper, Tjiwi Kimia, Sinar Mas Grup

Mulai saat ini, mari *Boikot* produk tersebut. Kita semua tahu Sinar Mas Grup / Eka Tjipta Widjaya adalah salah satu dari sembilan naga yg merongrong negeri ini

Mari kita beralih ke  *KIKY* buku tulis milik muslim / Rio Haryanto pembalap F1 Indonesia

Rio Haryanto adalah seorang muslim yang taat.

Setelah Ummat Islam sukses memboikot Sari Roti. Saatnya kita *Boikot* SiDu/ APP/ Tjiwi Kimia/ Sinar Mas Grup
⏺⏺⏺⏺⏺⏺⏺⏺⏺⏺⏺⏺

Minggu, 23 Desember 2018

untukmu ayah : para pendidik peradaban

Dua belas tahun silam aku tercenung : seorang ibu tetiba membunuh tiga orang anaknya. Dalam nanarnya ia berbagi alasan kepadaku :

"Di era jahiliyah modern ini, tak sanggup rasanya aku mendidik anak shaleh sendirian, ketika ayahnya tak terlibat. Daripada kelak ia menjadi ahli neraka, lebih baik aku bunuh mereka kala masih menjadi bocah. Biarlah ibunya ini  yang masuk neraka"

Aku terhenyak bertanya dalam hati : Perlukah ayah mendidik anaknya ? Bukankah Ia telah begitu disibukkan dengan berbagai ikhtiar tak kenal lelah untuk mencari nafkah, tak kurang dari 8 jam sehari, 40 jam sekali dan 2.000 jam setahun ? Bukankah itu adalah tanggung jawab bundanya ?

Aku limbung dan bertanya kepadaNya melalui kitabNya :

"Rabb,  siapakah sebenarnya sang pendidik anak itu"

Aku membuka kitabNya helai demi helai. Lalu ku dapati nama Luqmanul Hakim. Ia adalah seorang pendidik anak teladan, dan ternyata Ia adalah seorang lelaki... Lalu ku cari nama lain, muncullah nama Ibrahim as. Ia pun seorang pendidik anak fenomenal,  dan ia pun seorang lelaki... Lalu kutemukan nama lain, yaitu Imran. Ia adalah seorang pendidik anak, dan ternyata iapun adalah seorang lelaki... Lalu aku pun menemukan nama Ya'qub, Zakaria dan ternyata semuanya adalah lelaki...

Ah, ternyata aku keliru selama ini. Ternyata sang pendidik anak itu adalah ayah, karena dia adalah sang pemimpin,  sosok yang ucapannya didengarkan, perilakunya diikuti dan bahkan isi dompetnya dapat membuat seisi rumah taat kepadanya. Ia tak banyak bicara, tapi lebih banyak didengar.

Lalu aku dengar pula ada 17 ayat dalam Al-Qur'an tentang pendidikan anak. Ternyata 14 diantaranya dilakoni oleh para ayah, hanya 3 yang dilakoni oleh bunda atau keduanya. Aku sadar sekarang, kenapa dalam Al-Qur'an seorang manusia ditanya di neraka tentang penyebab kedurhakaannya, lalu ia berkata : "aku hanya ikuti ayahku", sehingga Allah murka :

"Apakah engkau tetap akan ikuti ayahmu walau ia tak berakal dan tak berpengetahuan ?"

Ayah didiklah anakmu karena engkaulah yang kelak akan mampu menjadikannya Yahudi, Nasrani, Majusi atau Muslim.... Ayah, didiklah anakmu, karena kelak engkaulah ya akan ditanyai kenapa anak gadismu keluar tak menutup aurat...

Dan ayah, banggalah dengan mandatmu karena lewat pendidikanmu engkau tak hanya menghasilkan anak-anak shaleh dan shalehah, tapi engkau akan membentuk kader-kader peradaban. Bukan hanya melahirkan anak-anak, tapi bahkan keturunan yang akan menjadi pelanjut dinastimu, melalui visi dan misi yang akan kau bangun dalam keluargamu. Karena engkau adalah ayah, dan oleh karenanya engkau adalah pendidik peradaban

Percayalah ayah, tak ada yang sebaik anda dalam mendidik iman, visi,  individualitas, tanggung jawab, nyali,  daya juang, jiwa tarung, kepemimpinan, kemandirian, negosiasi, pola pikir atau ketangguhan. Karena kita dapatkan itu semua dari kantor, pasar, gunung, rimba, jalan, bahkan dari perkelahian yang kita lakukan. Dan anak-anak kita menantikan itu semua untuk menaklukkan masa depannya.

Ayah, tadinya aku hanya ingin menulis dan menulis. Tak terpikir untuk menjadikannya buku. Namun komunitas HEbAT ternyata bersusah payah untuk merangkumnya dan menjahitnya menjadi sebuah buku. Buku ini untukmu ayah :  para pendidik peradaban

-Ust. Adriano Rusfi-

Self reminder

Sabtu, 15 Desember 2018

Ambil Raport ? Yuk jaga sikap dan lebih berhati hati

Pekan pekan ini banyak moment ambil raport anak anak..
Kok hati hati? Hati hati apanya?

Hmm, gini ayah bunda..
Biasanya, kita suka iseng ngomentarin raport mereka.
"kok matematikanya cuma 6 de?"
"ini bahasa inggris kenapa lebih kecil dari hasil mid semester?"
"ah kamu malu maluin aja. Dulu waktu sekolah bunda selalu ranking 1 lho.."
Atau komentar iseng lainnya termasuk senyum senyum nyinyir gimanaaaaa gitu.. 🙈

Kalau kita yang digituin, kira kira nyaman ngga ya?
Nah, anak anak kita juga sama. Mereka udah berjuang lho.. Berangkat pagi pulang sore, bermacet macet di jalan, ngerjain tugas ini itu, belum lagi ditambah ngerasa takut dimarahin emak nya kalo nilainya kecil. Tambah menciut lah mereka apalagi kalo kadang berangkat ngga sempet disiapin sarapan atau bekel makan siang.. Ah, lengkap sudah..

Tenang ya mak emak., menurut saya, anak kita ngga harus punya nilai gede di semua mata pelajaran kok. Mereka juga perlu spesialisasi. Kalo nilai matematikanya kecil tapi bahasa inggrisnya 10, misalnya, berarti kita bisa push anak kita untuk ngejar di bahasa Inggris. Kalo kita push matematikanya, ujung ujungnya mungkin naik dikit, tapi bisa bisa bahasa inggrisnya malah turun karena dia jadi tambah beban di matematika. Dan sebaliknya.
Anak anak udah cukup stress dengan berbagai hal yang dia lalui. Ngga usah ditambah stress karena omelan kita yang panjang lebar kali tinggi.. 😁 Mereka punya kelebihan masing masing. Setiap anak itu cerdas.. 😘

Jadi, janji yaaa.. Pas nerima raport. Senyumin itu nilai yang di raport, terus peluk anak anak sambil bilang "great job sayang.. Makasih ya nak.. Kamu pasti udah berusaha keras untuk dapetin ini.."
Kayaknya lebih enak dan adem..😍 Semoga anak anak kita kemudian berjanji dalam hati mereka, "ah, bunda baik banget.. Semester depan aku harus lebih baik lagi.."




#raport #terimaraport #hatihatiterimaraport #setiapanakcerdas #anakkitamasadepankita #bundaary_parenting

*🔲 APAPUN SEKOLAHNYA, YANG PENTING ORANG TUANYA!*

Sebagus atau semahal apapun sekolah anak-anak kita, sama sekali bukan jaminan untuk menghasilkan anak yang sholih dan sholihah, anak yang berakhlaqul karimah.

Saya berkata ini karena sudah hampir 5 tahun berinteraksi dengan banyak stakeholder pendidikan, bergaul dengan dari berbagai kalangan dari dunia pendidikan...

Sehingga saya bisa mengambil sebuah kesimpulan, bahwa *SEKOLAH TERBAIK ADALAH KELUARGA,* terutama untuk anak-anak sampai dengan usia SD.

Adalah sebuah _kemustahilan jika kita mengharapkan anak-anak kita "berakhlaq baik"_ sedangkan di rumah orang tuanya :

● *sering bertengkar*
● *sering marah-marah*
● *sering berkata kasar*
● *cuek pada anak2nya.*

Juga menjadi *"Mission (almost) Impossible"* jika mengharapkan anak-anaknya menjadi anak yang taqwa, rajin sholat (berjamaah di Masjid bagi yang pria), mampu menghafal Qur'an dengan baik, semangat dalam menuntut ilmu terutama Ilmu Agama

Jika orangtuanya :

● *Cuek terhadap agama.*
● *Ayahnya malas sholat berjamaah di Masjid.*
● *Bunda juga seringkali sholat tidak di awal waktu.*
● *Ayah Bunda malas menuntut Ilmu Agama, menghadiri Kajian-kajian Ilmiah keislaman.*
● *Ayah Bunda jarang berinteraksi dengan Al-Qur'an,dsb dsb.*

Perlu bapak/ibu sahabat semua ketahui,
*"Panutan anak-anak adalah orangtuanya, bukan gurunya"*

Sebagian anak-anak bahkan bercita-cita ingin seperti orangtuanya.
Ayah bagi seorang anak laki-laki adalah role model, sedang bagi anak perempuan _Ayah adalah "first love" mereka_.

Bunda... Terlebih seorang Bunda, baik anak laki-laki dan perempuan banyak yang menjadikan sosok _bundanya sebagai "malaikat pelindung"_.

Satu rahasia kecil, para ulama dan orang bijak terdahulu jika mendapati anaknya berbuat kurang baik, berkata tidak jujur, sulit diatur... *maka mereka pertama akan menyalahkan diri mereka sendiri*, bahkan menghukum diri mereka sendiri...

kenapa anak-anak saya bisa seperti ini?

*Apakah saya telah berbuat dosa?*

*Apakah ada makanan haram yang saya berikan untuk anak-anak saya?*

Itulah sejatinya orangtua yang baik.

Setiap ada kejadian yang kurang mengenakkan tentang buah hati, *mereka langsung bermuhasabah, bukan menyalahkan si anak*, bukan menyalahkan orang lain, bukan mengkambinghitamkan sekolah dan lingkungan, walau secara keseluruhan ada juga faktor-faktor pemicu kenakalan anak-anak kita, namun _"Faktor terbesar adalah kelalaian orangtuanya"_

Jadi, memang baik mencari Sekolah yang terbaik untuk buah hati kita, namun lebih dari itu semua...

*"Mari kita sebagai orangtua belajar menjadi guru kehidupan buat anak-anak kita."*

Guru yang akan terus dikenang baik dan buruknya oleh anak-anak kita. Guru yang tidak hanya mengantarkan anak-anak ke gerbang wisuda, tapi lebih jauh *mengantarkan mereka masuk ke gerbang Surga.*

❤❤❤

Maha benar firman Allah Ta'ala dalam QS At-tahrim (66) : 6.
"Wahai orang-orang yang beriman!, Peliharalah dirimu dan *keluargamu* dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; ...."

*Jadi kunci utama pendidik anak itu ORANG TUA.* baik buruknya bersumber dari keluarga.
Semoga para orang tua menyadarinya.

*Muhasabah terkhusus untuk diri saya sendiri....*

 💜Semoga bermanfaat💜

✍ _*Budiansyah Abu Nizar*_

==============

Catatan : Penulis adalah Guru Besar Ilmu Nahwu di LIPIA Jakarta.

Tips dari Ust. Budi untuk para pendidik di rumah

1. Ayah dan ibu harus mempunyai amal salih pilihan yang rutin. Baca Alquran, di depan anak, qiyamul lail (sering berdoa titipkan anak kepada Allah, dengan penjagaanNya insyaAllah kita akan tenteram), berinfak di jalan Allah. Harus ada amal yang menjadi unggulan kita

2. Ayah dan ibu boleh memilih amal unggulan. Ibu membacakan kisah para sahabat, ayah mengajak anak-anak ke masjid. Ayah hebat dalam amal tertentu, ibu hebat di amal yang lain.

3. Berdoalah dengan menyebut amal tersebut sebagai tawassul agar Allah menjaga anak-anak kita.

4. Kalau syahwat mendesak-desak untuk mengambil harta yang *tidak halal* , maka ingatlah anak-anak. Harta tidak halal hanya melahirkan *anak-anak yang rusak*.

Untuk melahirkan generasi yang salih dan hebat harus dengan *harta yang halal*!

Sumber bacaan : Inspirasi dari Rumah Cahaya

Bukan Untuk Bermain, Aku Diciptakan

Jelas sekali, ada hasil yang luar biasa dari ketidakbermainan Yahya di usia kecilnya untuk mendapatkan sejak awal: pemahaman, ilmu, kesunggu...