Jumat, 25 Januari 2019

Batang Kurma Saja Rindu kepada Nabi; Bagaimana denganmu?

Masjid Nabawi pada mula berdirinya, hanyalah sebuah bangunan sederhana. Atapnya terbuat dari pelepah kurma yang disanggah oleh beberapa batang kurma. Setiap khotbah Jumat, Nabi saw. biasa berpegangan atau bersandar pada sebatang pohon kurma yang menjadi salah satu pilar masjid.

Suatu hari seorang sahabat menawarkan kepada Nabi untuk membuat mimbar dari kayu. Nabi pun mempersilakannya. Mimbar itu akhirnya selesai dibuat dan para sahabat menunggu saat-saat Nabi akan berkhotbah menggunakan mimbar itu.

Pada saat hari itu tiba, ketika Nabi hendak berkhotbah menggunakan mimbar itu, tiba-tiba terdengar suara ratap tangis yang memilukan. Para sahabat saling pandang, mencari tahu, siapakah yang menangis.

Nabi yang ada di atas mimbar kemudian turun dan menyambangi sebuah batang kurma yang menjadi salah satu pilar di Masjid Nabawi. Nabi kemudian menyentuh dan memeluknya, hingga suara ratap tangis itu hilang.

Kemudian Nabi saw. bersabda, “Pohon ini meratap karena rindu kepada zikir yang dahulu biasa didengarnya!” Kemudian Nabi memberinya pilihan,apakah hendak dikembalikan fungsinya sebagai tempat bersandar atau berpegangan,ataukah dikubur dan menjadi pohon yang buahnya dimakan oleh para nabi serta orang-orang saleh di taman surgawi? Maka ia pun memilih yang terakhir.

Duhai Sahabat iman, sebatang pohon kurma saja rindu kepada Nabi saw…. Rindu dengan sentuhannya, rindu dengan kalimat-kalimat zikirnya….

Bagaimana denganmu?

Adakah kerinduan dalam dirimu kepada sosok yang mulia ini? Adakah keinginan kuat dalam dirimu untuk berkumpul bersamanya kelak nanti di surga?

Jika kau merindukan beliau, mana bukti cintamu kepadanya?

Sudahkah kau mengenal sosok yang agung ini? Sudahkah kau membaca riwayat hidupnya? Membaca sirahnya? Membaca nasihat-nasihatnya yang tersebar dalam hadits? Sudahkah kau mengamalkan sunnah-sunnahnya?

Jika kau sudah melakukan semua itu, alhamdulillah. Akan tetapi, Sahabat iman, tugasmu sebagai umat Muhammad, bukanlah mempelajari sosoknya untuk dirimu sendiri. Ada beban di pundakmu untuk mengenalkan sosok agung ini kepada orang lain. Kepada anak dan istrimu, kepada karib kerabatmu, kepada masyaratkatmu, juga kepada seluruh manusia.

Sudahkah kau lakukan itu, wahai Sahabat iman?

Jika kau rindu kepadanya, kenalkanlah sosok agung ini, dan itu dimulai dari keluargamu terlebih dahulu.

-Dendi Irfan abu Zaidan-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bukan Untuk Bermain, Aku Diciptakan

Jelas sekali, ada hasil yang luar biasa dari ketidakbermainan Yahya di usia kecilnya untuk mendapatkan sejak awal: pemahaman, ilmu, kesunggu...