“Praaannnggg!!!” dan botol kaca itupun terhempas dan berkecai di lantai. Wajah kecil itu memucat dan perlahan memandang keatas, ke wajah seseorang yang amat dikenalinya. Menunggu respons.. menerima nasib. Anak kecil itu memandang ibunya, setelah secara tidak sengaja, tangannya menyenggol sebuah pot kaca dan memecahkannya. Respons yang dia tunggu..? Teriakan, Marah, Kecewa sekaligus rentetan nasihat. Ia mempersiapkan dirinya. Mentalnya. Ia tahu ia salah.
Lalu, ibu itu mencoba meredam keterkejutannya, belajar perlahan menghadirkan senyum, dan berkata dengan perlahan : Ngak papa nak, ngak sengaja kan?
Anak kecil itu tergamam. Bukan ini respons yang diharapkannya, ia terkejut. Kenapa mamanya tiba-tiba berubah? Padahal ia sedang mempersiapkan diri menghadapi murkanya.
Lalu perlahan wajah kecil itu mulai sedikit demi sedikit berubah santai, masih mencoba mencerna, apa yang membuat ibunya berubah. Drastis! 360 derajat!.
Ibu itu lagi dengan sigap mengangkat anak kecil itu dari tempatnya berdiri, memindahkannya ke tempat yang lebih aman, dan menyuruhnya menjauh. Ia pun perlahan lahan mulai membersihkan serpihan kaca yang bertabur radius 100 meter dari tempat awal pot kaca itu berada.
Si anak mencoba memahami, apa yang sedang terjadi. Kemana ibunya yang suka emosi, mudah marah dan teriak itu pergi. Ia masih belum bisa percaya.
Kejadian diatas terdengar familiar?
Mungkin bagi orang tua yang masih memiliki balita, iya. Namun respons ibunya? Apakah anda seperti itu juga?
Seringkali kita bertidak reaksional, responsive, pada kejadian disekitar kita. Tanpa terlebih dahulu memberikan otak semenit dua untuk mencoba lebih memahami keadaan dan berfikir bagaimana bereaksi atasnya?
Padahal, satu dua menit itulah yang justru SANGAT KRUSIAL dan PENTING yang akan SANGAT membedakan bagaimana kita kelak bereaksi. Tanpa harus menyesalinya kemudian.
Masalah pecah/rusaknya suatu benda di rumah, memang sangat mudah untuk memancing ibu-ibu untuk beremosi. Padahal, jauh di lubuk hati, kita tahu.. semua ada waktunya. Ada waktunya untuk semua benda rusak/diganti, bahkan ada waktunya untuk kita juga pergi, selama-lamanya.
Terkadang waktu suatu benda untuk tetap utuh, ada yang lama, ada juga yang baru saja sampai di rumah, langsung tiada. Belum rezeki namanya. Namun lucunya, jika benda tersebut dirusak/dipecahkan oleh orang lain atau tamu, mendadak kita bisa bereaksi sopan dan memaafkan sambil mengatakan “Ah, ngak papa kok, namanya juga anak kecil”, “Ini murah kok”, “Besok bisa beli lagi”, “Lagian ini juga udah tua”, dan ribuan alasan lainnya untuk mengurangi rasa tidak enak sang tamu yang telah melakukan kesalahan tersebut.
Tapi, kenapa kita tidak bisa melakukannya pada anak?
Apa karena anak sengaja memecahkan / merusak benda tersebut? Ngak juga kan? Terkadang, tangannya licin, motorik kasarnya belum sempurna, terkadang gengamannya belum kuat, dlsb. Tapi, kita memilih untuk menepikan semua itu, dan marah pada anak.
Jika anak saya menumpahkan makanan yang baru saja kami pesan atau beli, dan bahkan belum sempat kami cicipi, saya berusaha “menggeser paradigma” dalam melihat hal ini. Saya akan tersenyum pada anak yang merasa bersalah, dan mengatakan “Mungkin ada sesuatu yang kurang baik yang ada di makanan itu, yang Allah ngak mau kita makan. Ya sudah, ngak papa.. kita beli aja lagi”.
Mengajarkan bahwa mungkin ada hal hal yang diluar sepengetahuan kita yang terjadi, adalah cara memandang sesuatu agar bisa lebih menerima keadaan. Toh, memang ada Allah yang maha mengatur segala, dan tidak ada yang tidak sengaja bagi Allah. Semua dalam perhitunganNYA secara tepat dan detail.
Memang, bisa juga hal tersebut terjadi karena keteledoran anak. Tapi yakinlah, tidak ada anak yang dengan sengaja menjatuhkan makanan yang baru dipesan dan atau memecahkan sebuah benda kaca agar dimarahi oleh orang tuanya.
Cara orang tua, terutama ibu, jika ia adalah pengasuh utama anaknya, menghadapi dan berespons terhadap kejadian kejadian ‘kecelakaan’ seperti ini, jauh dan lama efeknya.
Anak akan sempat melihat kedalam dirinya, menyadari kesalahannya, dan mungkin bahkan lebih berhati hati kedepannya. Dibandingkan dengan mereka yang di marahi, dibentak, disalahkan dll.. mereka akan lebih sibuk untuk menyelamatkan perasaanya, merasa semakin bersalah, dan yang terpenting.. menyimpan semua itu dalam memorinya, dan kelak bereaksi yang sama ketika ada yang melakukan hal seperti itu juga.
Orang tua itu contoh. Tidak bisa tidak. Tidak bisa lebih ditekankan lagi. Maka setiap gerak geriknya akan dicontoh. Tidak terkecuali, reaksinya ketika kaget dana atau kesal/marah.
Mencoba mengajak anak bernalar, bahwa mungkin ada hikmah dibalik kejadian ini, akan berakibat panjang dan lama pada anak. Sehingga, ketika ia menemukan kesulitan dan kesusahan dalam hidupnya kelak, ia sudah terbiasa “menggeser paradgima”, dan mencoba melihat segala sesuatunya dari sisi lain. Mungkin yang maha kuasa ingin menyelamatkan kita daripada suatu keburukan. Mungkin Allah akan gantikan dengan yang lebih baik. Mungkin ada hikmah dibelakang semua ini.
Mereka akan lebih mudah menerima suatu kesusahan, dan tidak reaksional terhadapnya.
Bukankah ini yang kita harapkan nantinya? Agar mereka bisa lebih bijaksana dalam melihat suatu kejadian yang tidak pas dengan harapan dan usahanya?
Sudahkah kita mencontohkannya? Terutama pada kejadian kecil sehari-harinya?
Kalau bukan sekarang, mulainya kapan?
Kalau ngak terus belajar, betulnya kapan?
Wallahu a’lam bis shawab.
Wina Risman
18 September 2018
Kuala Lumpur
Jumat, 25 Januari 2019
TANTANGAN YANG BERBEDA
Untuk sebagian orang tua, lewat sudah masanya untuk memunguti mainan, mengelap susu tumpah, mengucek baju yang kena saos dan hal hal yang berkaitan dengan anak balita dan seusianya. Kini mereka memasuki fase berikutnya, yaitu fase anak sekolah.
Biasanya orang tua di tahap ini direpotkan dengan membangunkan anak untuk sholat subuh dan bersiap agar tidak terlambat, persiapan makan pagi dan bekal hingga ke urusan mengerjakan PR dan tugas tugas sekolah yang harus dikumpulkan segera.
Kesibukan, ibu terutamanya, agak bergeser sedikit, dari memandikan, bersih bersih rumah, ke antar jemput sekolah , jajan, sholat, mengaji dan sebagainya.
Anak usia sekolah, terutama SD cenderung lebih mudah ditangani. Paling paling tatangan utamanya adalah, lelet, terlambat, malas dan lain sebagainya. Tapi pada dasarnya lebih mudah dan ok, karena struktur dan jadwal sudah ada.
Adapun orang tua-orang tua yang anaknya menginjak usia remaja, pra-baligh, kelas 6 SD keatas, maka ia akan mulai mengalami tantangan yang berbeda.
Dengan bertaburnya hormon, tekanan teman usia sebaya
(peer pressure), banyaknya beban akademis yang semakin menggila, anak semakin menjadi jadi sikap dan perilakunya. Ada yang kemudian berubah dari yang biasanya ceriwis dan ceria, menjadi pendiam seribu bahasa. Ada yang mulai males ngomong, ada yang mengunci diri selalu dikamarnya , ntah sedang berbuat apa.
Ada yang kemudian menjadi judes dan super bete, ada yang rewel minta ini itu, ada yang mulai dilamun cinta, merubah gaya berpakaian dan mengemas diri. 1001 macamlah pokoknya.
Hal ini, membuat para orang tua yang baru pertama kali memasuki fase ini menjadi sangat terkejut dengan semua perubahan mendadak dan sangat berbeda ini. Banyak diantara mereka, tergamam, tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa. Ada juga yang reaksional, yang justru lebih “bete” dan marah marah sama anaknya, meminta anaknya juga untuk mengerti keletihannya dan menghormatinya sebagai orangtua.
Hal inilah yang saya maksudkan dengan “Tantangan yang Berbeda”.
Untuk menghadapi ini, orang tua perlu :
1. Bekerjasama
2. Memiliki ilmu
3. Memperlakukan anak seperti teman
4. Memberi batasan yang jelas
5. Mendiskusikian segala sesuatunya.
Bekerjasama
Bekerjasama adalah poin paling penting dalam hal pengasuhan, bukan saja pada usia-usia genting seperti ini, namun sejak anak baru dilahirkan. Pentingnya orang tua punya satu suara, akan menentukan arah tumbuh kembang anak dan juga rasa percaya diri nantinya.
Apakah pesan yang diterima oleh anak, jika ayahnya melarang sesuatu, namun ibunya membolehkannya? Atau kebalikannya. Apakah hal yang ia minta ini sebenarnya penting atau tidak? Bahaya atau tidak? Boleh atau tidak?. Kenapa ayah melarang dan menjelaskan tentang segala konsekuensinya sementara, ibu membolehkan dan men-gampang-kannya?. Bagaimana kelak anak akan memutuskan yang terbaik untuk dirinya, jika dalam pengasuhannya saja tidak pernah ada kepastian tentang suatu hal.
Ini mungkin kelihatan sepele, tapi sesungguhnya ini adalah sumber masalah, jika tidak diselesaikan di awal.
Ada baiknya, sebelum berbicara dengan anak, orang tua selesai dulu membicarakannya di dalam kamar yang tertutup. Sehingga, ketika orang tua berbicara dengan anak, mereka sudah berada pada frekuensi yang sama. Bekerjasamalah demi buah hati anda berdua, bincangkan dengan baik segala sesuatunya, hasilkan keputusan bersama. Jika anda bisa meeting berjam-jam untuk mengolkan dan menyatukan persepsi pada suatu proyek di tempat kerja anda, maka seharusnya anda juga bisa menyempatkan berbicara dari hati ke hati dengan pasangan anda, untuk urusan maha penting ini yang menyangkut keberlangsungan masa depan anda hingga di bawah tanah nanti.
Memiliki Ilmu
Tidak bisa dipungkiri, tanpa ilmu, sesuatu tidak akan terjadi dengan baik. Bayangkan saja, kita sekolah 12 tahun, tambah 4-5 tahun hanya untuk mempelajari satu bidang ilmu, agar kita bisa menguasainya. Namun, ketika kita berhadapan pada titipan tuhan yang dimintai pertanggung jawaban seumur hidup kita, kita minim ilmu. Mencari sekadarnya dari sana-sini, mencarinya sambil melakukannya. Trial and error. Bayangkan jika pilot yang menerbangkan suatu pesawat, memperlajari tehnik menerbangkan pesawat, ketika ia sudah ribuan meter diatas permukaan bumi. Apakah anda mau naik pesawat yang diterbangkannya?
Atau seorang insinyur ketika membangun atau menciptakan sesuatu, baru mulai membaca beberapa buku pertama tentang hal yang ia bangun tersebut? Akan kan sesuatu yang diciptakannya menjadi maha karya?
Namun pada kenyataannya, begitulah degan kita para orang tua. Kita hanya memiliki ilmu “ke-orang-tua-an” yang diturunkan dari bagaimana cara orang tua kita membesarkan kita. Padahal, zaman sudah jauh berubah, buku dan tekhnologi ada updatenya, bahkan telefon gengam anda secara berkala pasti meng-update diri. Namun bagaimana dengan kita dan ilmu pengasuhan? Cukupkah? Pantaskah? Bisa kah?
Oleh sebab itu, jangan berhenti menuntut ilmu. Jangan malas. Perbaik terus diri, tingkatkan ilmu kita dalam hal pengasuhan. Sudahlah kita terlambat dalam memiliki ilmunya, mencari sambil mengerjakan, trial and error pula, ditambah malas. Lalu, kebingungan jika ternyata anak menjadi jauh dari apa yang diharapkan? Mari terus menimba ilmu, membaca buku, artikel, menghadiri kajian, seminar, workshop, webinar dlsb. Tapi yang paling penting dari itu semua; APLIKASIKAN ilmu yang anda dapatkan tersebut. Jangan hanya berupa ‘jiping’ alias ngaji kuping. Setelah selesai membaca, menghadiri seminar, berkumpul berdiskusi, ketika masuk ke rumah, mulai seperti sediakala lagi.
Untuk hal menuntut ilmu ini, saya ada satu tips: carilah guru dan ilmu yang menurut anda paling pas dengan tujuan pengasuhan anda. Jika anda belajar dari terlalu banyak sumber dan guru, yang ada malah kebingungan tiada henti. Akhirnya bingung mau yang mana yang diaplikasikan. Cari satu guru, satu pemahaman ilmu yang cocok, ikuti secara continue, Insha Allah anda akan lihat perubahannya.
Memperlakukan anak sebagai teman.
Menghadapi anak pra remaja ini ngeri ngeri sedap. Karena tingkah mereka bermacam-macam dan tidak mudah ditebak. Tidak mudah ditebak apa penyebabnya, mengapa begitu reaksinya dan bagaimana cara paling ampuh untuk menyelesaikannya dengan bijaksana. Oleh karena itu, pertama tama, kita harus pahami dulu bahwa “tekanan” yang dialami oleh anak seusia ini, luar biasa untuk mereka. Tekanan dari pertemanan dan anak sepantarannya, beban kurikulum yang semakin menggila, ekspektasi orang tua yang banyak dan cukup tinggi, belum lagi kalau mereka adalah kakak/abang yang diharapkan jadi contoh atau tauladan. Mari kita sedikit melihat lebih dalam tentang hal ini. Jika tekanan itu datang dari segi akademis saja, kita bisa bayangkan beban anak sekolah zaman sekarang. Kurikulum yang semakin hari semakin berat, membuat kita juga kewalahan mendampingi mereka belajar. Hal hal yang dulu kita pelajari dibangku SMA, sekarang mereka pelajari di bangku SD! Entah apa tujuannya. Jumlah test dan jumlah soal yang terkadang tidak masuk akal, belum lagi pe-er dan tugas project mata pelajaran. Bagi mereka yang di tingkat terakhir disekolahnya, hal ini ditambah dengan beban ujian akhir nasional dan atau try outs yang tiada henti!.
Ok segitu dulu.. nulisnya aja sudah capek.. apalagi melakoni.
Sementara, dalam hidup anak yang masih pra remaja/pra baligh ini , bukan itu saja yang ditanggungkannya… tapi buanyak sekaliiiiii. Belum lagi terkadang ejekan teman yang membuat sakit hati, jerawat yang mendadak timbul di tempat yang tidak diingini edebra edebra.
Oleh karena itu menghadapi remaja remaja ini, harus dengan kepala dingin dan kesabaran seluas samudra! Semua diajarkan diselesaikan melalui diskusi. Orang tua harus satu suara, sudah memikirkan matang-matang apa yang akan disampaikan / dibicarakan, cari waktu yang baik, dan mulai mengajak diskusi.Diskusi tentang apapun yang dirasa penting oleh orang tua ini, harus dilakukan dengan;
a. Tenang
b. Santai
c. Cari waktu dan tempat yang enak
d. Menggunakan suara diskusi bukan argumentasi
e. Jelaskan pada anak tujuan diskusi dana apa yang
diharapkan daripadanya.
Jika dalam melakukan hal ini, emosi terpancing, suara meningkat naik dan masing-masing jadi tensi.. sebaiknya diskusi dihentikan dan dilanjutkan lain waktu.
Pada anak usia ini, egonya sedang tinggi-tingginya dan tidak mau kalah. Semua dijawab dan ada argumentasinya, ini yang sedikit banyaknya menyusahkan orang tua-orang tua yang tidak memeberikan aturan aturan dan dasar-dasar jelas pada anak di usia mudanya. Sehingga mereka kewalahan ketika hal ini terjadi. Akhirnya yang ada adalah, otoriterisasi. Menggunakan kekuasaan mereka sebagai orang tua. Bukan tidak boleh, perlu malah, pada hal hal tertentu. Cuma di fase ini, kita ingin mengajarkan bahwa karena anak menjelang dewasa, kita ingin menghargai mereka dengan mendengarkan pendapatnya dan mengikut sertakan mereka dalam membuat keputusan-keputusan yang menyangkut hidupnya. Hal ini diharapkan menjadi fondasi bagi anak dimasa depannya untuk mampu mengambil keputusan penting dalam hidupnya dan membiasakan berdiskusi dan bermusyarawah dengan orang yang tepat sebelum melakukannya.
Perbanyak menegur anak dengan sapaan ringan, sering sering ajak dating makan diluar atau menonton film yang sesuai untuk usianya, berdua saja. Buat mereka merasa berharga, beri aturan yang disepakati dan dimengerti bersama. Perbanyak pelukan dan ucapan cinta. Ini usia dimana mereka SANGAT TERAMAT membutuhkannya!
Memberi batasan yang jelas.
Memberi batasan yang jelas adalah hal yang mustahak, atau incredibly penting dan memudahkan orang tua dalam menjalankan tugasnya. Memberi batasan yang jelas, harus dibarengi dengan penjelasan apa dan kenapanya. Memberi batasan yang jelas, juga harus mempunyai konsekuensi, karena seperti setiap hal dalam kehidupan ini, semua ada konsekuensi. Lalu mengapa tidak dengan batasan/aturan yang orang tua berikan pada anak?
Contoh memberi batasan yang jelas: Ketika anak sudah sangat amat membutuhkan gadget atau smart phone untuk urusan sekolahnya, maka sebaiknya orang tua memberi perjanjian tertulis tetang waktu pemakaian, non-password, hp dikembalikan jam tertentu, mengingatkan bahwa Allah senantiasa melihat apa yang dibuka dan dibacanya dst,dst. Kesepakatan ini sebaiknya ditanda tangani kedua belah pihak, ditempel di tempat yang terlihat jelas, dan DILAKSANAKAN. Dalam kertas perjanjian tersebut juga jelas dituliskan apa apa saja konsekuensi jika perjanjian tersebut dilanggar.
Semua hal ini tidak akan mudah. Tidak akan mulus mulus saja. Pasti ada ujiannya, cobaannya, tantangannya. Karena mendidik dan membesarkan anak adalah tugas seumur hidup yang tiada hentinya. Begitu pula dengan balasan yang dijanjikan oleh NYA, tidak lebih dan tidak kurang dari : SYURGA!. Jika hal ini begitu mudah, tentu bukan syurga imbalannya.. tapi kipas angin atau piring dan mangkok cantik!
Semangat,para ayah bunda!!!
Ini adalah tahapan yang paling susah, sebelum akhirnya kita melepas mereka ke duniannya dan kemudian memiliki dunia sendiri dengan keluarga kecilnya kelak. Bagaimana kita menangani mereka diusia inilah yang sangat kritikal dan mereka menilai serta mencontohnya untuk menjadi bekal mereka menghadapi hidup kedepannya.
Ingat, jika anda diberikan ujian dan anugerah ini, berarti Allah merasa anda mampu melewatinya!
Bismillah…
Wina Risman
Awal September 2018.
*silahkan dishare jika dirasa bermanfaat
Batang Kurma Saja Rindu kepada Nabi; Bagaimana denganmu?
Masjid Nabawi pada mula berdirinya, hanyalah sebuah bangunan sederhana. Atapnya terbuat dari pelepah kurma yang disanggah oleh beberapa batang kurma. Setiap khotbah Jumat, Nabi saw. biasa berpegangan atau bersandar pada sebatang pohon kurma yang menjadi salah satu pilar masjid.
Suatu hari seorang sahabat menawarkan kepada Nabi untuk membuat mimbar dari kayu. Nabi pun mempersilakannya. Mimbar itu akhirnya selesai dibuat dan para sahabat menunggu saat-saat Nabi akan berkhotbah menggunakan mimbar itu.
Pada saat hari itu tiba, ketika Nabi hendak berkhotbah menggunakan mimbar itu, tiba-tiba terdengar suara ratap tangis yang memilukan. Para sahabat saling pandang, mencari tahu, siapakah yang menangis.
Nabi yang ada di atas mimbar kemudian turun dan menyambangi sebuah batang kurma yang menjadi salah satu pilar di Masjid Nabawi. Nabi kemudian menyentuh dan memeluknya, hingga suara ratap tangis itu hilang.
Kemudian Nabi saw. bersabda, “Pohon ini meratap karena rindu kepada zikir yang dahulu biasa didengarnya!” Kemudian Nabi memberinya pilihan,apakah hendak dikembalikan fungsinya sebagai tempat bersandar atau berpegangan,ataukah dikubur dan menjadi pohon yang buahnya dimakan oleh para nabi serta orang-orang saleh di taman surgawi? Maka ia pun memilih yang terakhir.
Duhai Sahabat iman, sebatang pohon kurma saja rindu kepada Nabi saw…. Rindu dengan sentuhannya, rindu dengan kalimat-kalimat zikirnya….
Bagaimana denganmu?
Adakah kerinduan dalam dirimu kepada sosok yang mulia ini? Adakah keinginan kuat dalam dirimu untuk berkumpul bersamanya kelak nanti di surga?
Jika kau merindukan beliau, mana bukti cintamu kepadanya?
Sudahkah kau mengenal sosok yang agung ini? Sudahkah kau membaca riwayat hidupnya? Membaca sirahnya? Membaca nasihat-nasihatnya yang tersebar dalam hadits? Sudahkah kau mengamalkan sunnah-sunnahnya?
Jika kau sudah melakukan semua itu, alhamdulillah. Akan tetapi, Sahabat iman, tugasmu sebagai umat Muhammad, bukanlah mempelajari sosoknya untuk dirimu sendiri. Ada beban di pundakmu untuk mengenalkan sosok agung ini kepada orang lain. Kepada anak dan istrimu, kepada karib kerabatmu, kepada masyaratkatmu, juga kepada seluruh manusia.
Sudahkah kau lakukan itu, wahai Sahabat iman?
Jika kau rindu kepadanya, kenalkanlah sosok agung ini, dan itu dimulai dari keluargamu terlebih dahulu.
-Dendi Irfan abu Zaidan-
Suatu hari seorang sahabat menawarkan kepada Nabi untuk membuat mimbar dari kayu. Nabi pun mempersilakannya. Mimbar itu akhirnya selesai dibuat dan para sahabat menunggu saat-saat Nabi akan berkhotbah menggunakan mimbar itu.
Pada saat hari itu tiba, ketika Nabi hendak berkhotbah menggunakan mimbar itu, tiba-tiba terdengar suara ratap tangis yang memilukan. Para sahabat saling pandang, mencari tahu, siapakah yang menangis.
Nabi yang ada di atas mimbar kemudian turun dan menyambangi sebuah batang kurma yang menjadi salah satu pilar di Masjid Nabawi. Nabi kemudian menyentuh dan memeluknya, hingga suara ratap tangis itu hilang.
Kemudian Nabi saw. bersabda, “Pohon ini meratap karena rindu kepada zikir yang dahulu biasa didengarnya!” Kemudian Nabi memberinya pilihan,apakah hendak dikembalikan fungsinya sebagai tempat bersandar atau berpegangan,ataukah dikubur dan menjadi pohon yang buahnya dimakan oleh para nabi serta orang-orang saleh di taman surgawi? Maka ia pun memilih yang terakhir.
Duhai Sahabat iman, sebatang pohon kurma saja rindu kepada Nabi saw…. Rindu dengan sentuhannya, rindu dengan kalimat-kalimat zikirnya….
Bagaimana denganmu?
Adakah kerinduan dalam dirimu kepada sosok yang mulia ini? Adakah keinginan kuat dalam dirimu untuk berkumpul bersamanya kelak nanti di surga?
Jika kau merindukan beliau, mana bukti cintamu kepadanya?
Sudahkah kau mengenal sosok yang agung ini? Sudahkah kau membaca riwayat hidupnya? Membaca sirahnya? Membaca nasihat-nasihatnya yang tersebar dalam hadits? Sudahkah kau mengamalkan sunnah-sunnahnya?
Jika kau sudah melakukan semua itu, alhamdulillah. Akan tetapi, Sahabat iman, tugasmu sebagai umat Muhammad, bukanlah mempelajari sosoknya untuk dirimu sendiri. Ada beban di pundakmu untuk mengenalkan sosok agung ini kepada orang lain. Kepada anak dan istrimu, kepada karib kerabatmu, kepada masyaratkatmu, juga kepada seluruh manusia.
Sudahkah kau lakukan itu, wahai Sahabat iman?
Jika kau rindu kepadanya, kenalkanlah sosok agung ini, dan itu dimulai dari keluargamu terlebih dahulu.
-Dendi Irfan abu Zaidan-
Rabu, 23 Januari 2019
Benarlah orangtua itu contoh bagi anak2nya
Seorang ibu, sedang menjelaskan pada anaknya yang menjelang baligh, bagaimana istimewanya orang-orang yang menjaga sholat sunnah rawatibnya. Ibunya secara perlahan menjelaskan apa-apa saja yang dijanjikan oleh Allah swt bagi hamba-hambaNYA yang ‘hobi’ melakukan sholat sunnah rawatib.
Si ibu berbagi ini, walau ia belum rapi melakukan semua sholat sunnah itu. Ia mengharapkan, dengan mengajarkan hal tersebut pada anaknya, ia akan termotivasi untuk menjadi teladan terlebih dahulu.
Jauh di dalam lubuk hati sang ibu, ia ingin sekali menularkan dan berbagi segala kebaikan yang ia tahu, pada semua buah hatinya selalu. Ia takut, umurnya tak akan sampai, jika ia menunda-nunda mengajarkan kebaikan pada ananda, walau belum tentu semua ia sanggup laksanakan semuanya pada saat itu.
Sang ibu sadar betul, bahwa, amalnya yang akan mengalir lama dan terus menerus ketika kelak ia di dalam tanah, adalah hasil didikan kebaikan yang ia tanamkan pada anak-anaknya.
Si ibu ternyata salah menilai sang anak. Ia mengira, anaknya akan mendengarkan dahulu, melihat contoh, baru melakukannya. Ternyata, si anak langsung mempraktekkan semua yang ibunya barusan jelaskan.
Ia sholat sunnah sebelum shubuh. Empat rakaat sebelum dan setelah dhuhur. Dua rakaat setelah maghrib dan empat rakaat sebelum dan setelah isha.
Ibunya tergamam.
Ia bahkan belum mampu melakukan itu semua secara rutin dan rapi.
Ternyata si anak memperhatikan ibunya untuk beberapa hari setelah ia mulai rajin melakukan sholat sunnahnya. Mengetahui bahwa si ibu belum se-rajin’ dirinya, selepas sholat sunnah maghrib, ia pun mendekati ibunya seraya berkata : ibu, ibu jelaskan berbagai pahala bagi mereka yang rajin sholat sunnahnya, tapi saya memperhatikan beberapa kali, ibu tidak sholat sunnah. Apakah ibu tidak tertarik pada pahala yang sudah dijanjikan Allah pada orang yang rajin melakukan sunnah rawatibnya?
Si ibu terdiam dan berkata pelan: iya ibu tahu, ibu sangat tertarik, dan ibu akan selalu berusaha untuk melakukan semuanya itu, dari sekarang.
Si anak pun tersenyum senang sambil berkata “ayolah bu, semua itu tidak sesusah yang ibu bayangkan kok, coba saja satu dulu.”
Jika anda adalah sang ibu, apakah yang akan anda katakan saat itu?
Akankah anda berhenti mengajarkan kebaikan untuk sementara waktu?
Apakah anda akan mencambuk diri sendiri
untuk mencontohkan dulu sebelum menyuruh? Atau kata kata yang cukup bijaksana yang seperti apakah yang pantas anda katakan pada ananda saat itu?
#diambildarikisahnyata
#ceritahikmah
Menjelang pertengahan desember 2018,
Wina Risman
Si ibu berbagi ini, walau ia belum rapi melakukan semua sholat sunnah itu. Ia mengharapkan, dengan mengajarkan hal tersebut pada anaknya, ia akan termotivasi untuk menjadi teladan terlebih dahulu.
Jauh di dalam lubuk hati sang ibu, ia ingin sekali menularkan dan berbagi segala kebaikan yang ia tahu, pada semua buah hatinya selalu. Ia takut, umurnya tak akan sampai, jika ia menunda-nunda mengajarkan kebaikan pada ananda, walau belum tentu semua ia sanggup laksanakan semuanya pada saat itu.
Sang ibu sadar betul, bahwa, amalnya yang akan mengalir lama dan terus menerus ketika kelak ia di dalam tanah, adalah hasil didikan kebaikan yang ia tanamkan pada anak-anaknya.
Si ibu ternyata salah menilai sang anak. Ia mengira, anaknya akan mendengarkan dahulu, melihat contoh, baru melakukannya. Ternyata, si anak langsung mempraktekkan semua yang ibunya barusan jelaskan.
Ia sholat sunnah sebelum shubuh. Empat rakaat sebelum dan setelah dhuhur. Dua rakaat setelah maghrib dan empat rakaat sebelum dan setelah isha.
Ibunya tergamam.
Ia bahkan belum mampu melakukan itu semua secara rutin dan rapi.
Ternyata si anak memperhatikan ibunya untuk beberapa hari setelah ia mulai rajin melakukan sholat sunnahnya. Mengetahui bahwa si ibu belum se-rajin’ dirinya, selepas sholat sunnah maghrib, ia pun mendekati ibunya seraya berkata : ibu, ibu jelaskan berbagai pahala bagi mereka yang rajin sholat sunnahnya, tapi saya memperhatikan beberapa kali, ibu tidak sholat sunnah. Apakah ibu tidak tertarik pada pahala yang sudah dijanjikan Allah pada orang yang rajin melakukan sunnah rawatibnya?
Si ibu terdiam dan berkata pelan: iya ibu tahu, ibu sangat tertarik, dan ibu akan selalu berusaha untuk melakukan semuanya itu, dari sekarang.
Si anak pun tersenyum senang sambil berkata “ayolah bu, semua itu tidak sesusah yang ibu bayangkan kok, coba saja satu dulu.”
Jika anda adalah sang ibu, apakah yang akan anda katakan saat itu?
Akankah anda berhenti mengajarkan kebaikan untuk sementara waktu?
Apakah anda akan mencambuk diri sendiri
untuk mencontohkan dulu sebelum menyuruh? Atau kata kata yang cukup bijaksana yang seperti apakah yang pantas anda katakan pada ananda saat itu?
#diambildarikisahnyata
#ceritahikmah
Menjelang pertengahan desember 2018,
Wina Risman
PARENTING SERIES ( Sarra Risman )
Membiasakan anak dengan dan ke masjid itu sepaket dg pengajaran adanya. Tidak terpisah2. Masjid itu rumah Allah. Bertamu ke rmh manusia sj ada sopan santunnya..apalagi ke rumah Sang Pencipta. Kalau bayi, okelah, org maklum. Kl sdh di atas 3th masih lari2an, mgkn hrs di latih utk tenang ketika shalat di rmh dulu.
Membiasakan anak ke masjid itu baik, tp mengajarkan mereka bahwa smua ada tempat dan waktunya jg tidak kalah pentingnya. Namanya juga anak2? Ngaco. Kl ga di latih dr anak2, smakin gede smakin susah lah. Otomatis bisa sndiri? Mana ada. Kemampuan utk bs tenang itu ketrampilan yg di latih. Ga otomatis di dapatkan dr lahir. Yg otomatis itu mengedip, menelan, menangis, menghisap, dan tidur.
BOLEH berteriak, bermain, berlari2.. tp BUKAN di masjid, terutama BUKAN di waktu shalat wajib berjama'ah. Kalau anak sy yg 2th bisa, kenapa anak lain tidak? Kan sama2 manusia.
Membiasakan anak dengan dan ke masjid itu penting. Mengajarkan adab tidak kalah pentingnya.
Adab dulu, adab dulu..
Membiasakannya, setelah itu.
#sarrarisman
Langganan:
Komentar (Atom)
Bukan Untuk Bermain, Aku Diciptakan
Jelas sekali, ada hasil yang luar biasa dari ketidakbermainan Yahya di usia kecilnya untuk mendapatkan sejak awal: pemahaman, ilmu, kesunggu...
-
//Musuh Terbesar Orangtua dalam Mendidik Anak// Oleh : Nay Beiskara _Musuh terbesar dalam mendidik anak-anak, bukanlah internet, televis...
-
.. 💐Itu udah bener mba. Mgkin jadwal anak2 kami ketika usia 0-7 thn bisa jadi masukan: 04.30 Bangun dan mandi.Anak2 sudah wangi siap d...
-
Fatwa Syaikh Ibrahim bin Amir Ar Ruhaili hafizahullah (Guru pasca sarjana jurusan Akidah di Universitas Islam Madinah dan pengajar teta...